
Dalam kesepian ini
Ku sendirian ditelan sepi
Dalam sunyi malam
Teringat senyum indahmu yang menawan
Ratusan tahun telah berlalu
Hati ini telah membeku
Bersama segala kenangan tentangmu
Yang terpatri abadi
Bersama jiwa terkutuk ini
Terlihat sesosok laki-laki yang sedang duduk menghadap setumpuk dokumen di atas meja kerjanya.
Hm...
Rutinitas yang sama setiap hari. Membaca berkas, memeriksa laporan, mengawasi setiap perusahaan dan banyak lainnya. Kalau sudah melakukan ini sejak lama, bosan rasanya.
Pandanganku beralih ke benda disampingnya. Kupandangi gelas wine di atas meja yang berisi cairan merah itu. Aroma menyengat, membuat rasanya tak enak. Tapi semua rasanya begitu.
“Menjijikkan seperti biasa. Yaa... Rasa terenak sudah menghilang berabad lalu.” Batinku seraya membuang cairan merah itu ke wastafel.
“Kok dibuang, Bang? Sayang banget.” Ucap seorang lelaki yang sedari tadi duduk di sofa sambil menghadap laptop. Kupandang sinis dirinya.
“Kenapa ribut? Urus semua dokumen dengan benar. Jangan main game mulu kerjaanmu.” Dia hanya nyengir sambil tetap memainkan laptopnya.
“Beres, Bang. Tenang aja.” Jawabnya sambil nyengir.
Kulanjutkan memeriksa setiap laporan. Hingga pandanganku terpaku pada satu laporan. Yang mana mengingatkanku pada suatu kenangan. Kenangan indah saat pertama bertemu dengannya.
“Istana Aelius...” Gumamku sambil membalik tiap halaman dan membacanya dengan seksama.
“Apa, bro?” Cowok tadi mendongak dan melihat ke arahku.
“Nggak ada. Selesaikan kerjaanmu, Vartan.” Balasku seraya memberikan senyuman termanis.
“Ampun Bang. Iya, Bang. Aku selesaiin.” Timpalnya dan dia kembali fokus ke layar laptopnya, jari jemarinya menari kesana kemari mengurai dan menyusun setiap kata.
“Bagus.” Akupun kembali membaca laporan tadi.
“Permintaan dana untuk perawatan Istana? Sepertinya harus dicek. Bener nggak nya.” Gumamku sambil berpikir.
“Lebih baik aku pergi sendiri saja. Daripada menyuruh Vartan yang harus menyelesaikan pekerjaannya.” Aku pun langsung beranjak dari tempat duduk dan pergi keluar.
“Eh? Mau kemana, bro?” Tanya Adikku.
“Keluar. Mau mengunjungi tempat kenangan.” Balasku.
“Eeeh? Ikut bro.” Rengeknya.
“Hm..?” Aku memberikan dia senyuman termanisku.
“Ng..Nggak Bang. Aku mau menyelesaikan kerjaan aja.” Ucapnya dengan ciut.
“Anak pintar.” Aku yang sudah sampai tempat parkir, segera menuju mobilku berada.
Mobilku melaju menuju ke Istana Aelius yang berada di Eropa Selatan itu. Tempat bersejarah sekaligus tempat yang penuh kenangan, jika menyingkirkan kenangan buruk.
Pukul 3.15 sore, aku sudah sampai di Istana Aelius. Istana megah nan mewah yang dibangun di atas tanah dengan luas 30.000 meter ini memiliki sejarah yang panjang. Yah... Itu menurut sejarawan.
Aku pergi ke kantor pengawas Istana Aelius. Kantornya berada tepat di samping Istana. Aku langsung masuk dan menemui kepala pengawas. Dan menanyakan yang ada di berkas pengajuan itu.
“Pak CEO, selamat datang.” Pengawas menyapaku.
“Hm..” Jawabku yang bosan. Aku langsung menuju ke ruangan Pengawas.
“Pak CEO Rosura. Mendadak sekali Anda datang kesini. Silakan duduk Pak.” Ucap kepala pengawas mempersilakanku.
“Pak pengawas. Apa berkas pengajuan ini benar?” Tanyaku langsung tanpa basa-basi pada kepala pengawas.
“I.. Iya Pak. Beberapa bagian Istana ini harus dirawat karena mulai usang.” Jawabnya dengan takut.
“Sebutkan bagian mana yang harus dirawat?” Aku mulai mendengarkan penjelasannya. Yaa. Sebenarnya semua itu ada di berkas pengajuan sih.
“Okay. Tunjukkan semua bagian itu.” Ucapku yang sudah beranjak dari tempat dudukku.
“Baik Pak. Mari saya antar.” Jawabnya sembari menunjukkan jalan.
Kami mulai memasuki Istana Aelius pada pukul 5 sore. Istana megah yang dihiasi dengan lampu-lampu indah. Ya... Dulu kupikir Istana ini yang terindah. Tapi setelah berkeliling dunia, masih ada dan banyak Istana indah lainnya.
“Eh? Lihat tuh. Itu kan Pak CEO.” Ucap seorang pegawai wanita ke salah satu temannya, saat aku melewati mereka.
“Pemuda yang tampan ya. Rambut hitam sepekat malam, mata berwarna biru saphire, wajahnya tampan, badan tegap dan gagah. Di usianya yang 23 tahun ini dia sudah menjadi seorang CEO. Namun kudengar sifatnya dingin. Sudah banyak wanita yang mendekatinya, tapi ia abaikan. Serta, dia dikenal sebagai orang yang menyeramkan.”
“Dan beliau juga memiliki seorang adik, bernama Vartan.” Imbuhnya dan temannya hanya bisa memandang takjub dan takut padaku yang sudah jauh dari tempat mereka.
Yah. Itulah aku. Bagaimanapun tak ada yang bisa menggantikannya. Perempuan yang sudah berhasil membawa pergi hatiku untuk selamanya.
Satu persatu bagian Istana yang harus dirawat dan diperbaiki diperlihatkannya padaku. Akupun mengamati segalanya dengan seksama. Dan terkadang perhatianku teralihkan karena sekelebat kenangan lalu.
Dinginnya lantai marmer yang kulalui. Menambah hening yang menguasai hati. Lukisan-lukisan yang menghiasi tiap lorong, menatapku tajam seolah mengolok diri ini. Mencaci dengan tatapan mereka yang penuh kepalsuan...
“Dan ini yang terakhir Pak.” Iapun menunjukkan sebuah ruangan yang merupakan tempat istirahat raja.
“Okay. Semua akan saya urus. Terima kasih sudah menunjukkannya.” Ucapku pada Alex.
“Sekarang Anda bisa kembali ke ruangan Anda.” Imbuhku.
“Baik Pak. Saya permisi dulu.” Diapun pergi membiarkan aku sendiri.
Kulihat jam tanganku, pukul 7.30 malam. Hm... Tak terasa malam telah datang. Aku beranjak dari ruangan ini dan menyusuri lorong Istana ini lagi. Aku berkeliling sembari mengenang kenangan kala itu.
Tak peduli kaki membawaku kemana, aku terus menikmati setiap sudut kenangan yang ada di Istana ini. Hingga aku sampai di sebuah ruangan yang hanya diterangi oleh cahaya bulan.
“Hm?” Aku memasuki ruangan tersebut, hingga ke jendela yang menampakkan sang Dewi malam.
“Bulan yang indah...” Kupandangi ia, hingga terkenang masa itu.
Saat ku melihatmu, kau cantik bagaikan sekuntum mawar putih yang berada direngkuhan pekat malam. Mata merahmu yang indah, berbinar layaknya langit malam yang dihiasi bintang. Suaramu yang lembut, membuatku terpanah saat kau berbicara. Tak kusangka, hatiku telah dicuri saat purnama bergelayut di langit malam itu...
Kesedihan tiba-tiba menguasai hatiku. Kesepian ini menyiksa. Tanpa kusadari, rambutku berubah warna. Ah... Jiwa terkutuk ini..
“Permisi.” Sebuah suara yang lembut mengagetkanku. Suara yang sangat kurindukan. Namun...
“Maaf Nona. Nona sedang apa disini.” Seorang penjaga Istana menegur perempuan itu. Seketika itu juga aku menghilang, keluar dari ruangan itu dengan cepat. Aku tak mau jati diriku terungkap.
Namun aku penasaran, suara yang kudengar tadi. Seperti suaranya. Saat aku memikirkan hal itu. Aku mendengar teriakannya. Dengan refleks, tubuhku bergerak sendiri ke tempatnya berada.
Aku berhenti agak jauh dari tempatnya berada. Aku lihat keadaannya. Dia sedang dipaksa oleh seorang laki-laki. Dia dengan kasar menarik dan mencengkeram erat pergelangan tangannya.
Aku yang merasa marah, dengan cepat membuat cowok itu terpental dan jatuh tersungkur di tanah tak sadarkan diri. Saat aku sadar, tanganku menggenggam tangan perempuan itu.
“Terima kasih telah menolong saya, Tuan.” Ucapnya sembari memandang dengan wajah yang kurindukan. Senyumnya yang menawan, membuatku terbelalak, tak percaya dengan apa yang kulihat ini. Tiba-tiba perasaan kalut menyelimuti hatiku. Dia meneteskan air mata, membuatku tersadar dari lamunanku.
“Maaf, Tuan? Terima kasih telah menolong saya.” Ucapnya sekali lagi dengan suara lembut. Aku melepaskan tangannya dan berkata...
“Ah?! Maafkan aku. Ya. Sama-sama. Lain kali hati-hati.” Aku beranjak dari tempat itu. Sebelum aku melakukan hal yang bisa melanggar hukum, karena telah memeluk seorang gadis.
Kulihat dia yang sudah naik ke dalam mobilnya dan segera melaju ke jalanan. Kuhampiri lagi tempat tadi. Dan saat mendekat, aku menemukan kartu tanda mahasiswa.
“Aku akan melindungimu Alba-ku.” Ucapku seraya membawa kartu tadi. Aku langsung menuju mobilku berada dan segera melajukannya di jalanan malam.
Sesampainya di rumah, aku melihat Vartan yang masih bangun dan fokus main game di laptopnya. Akupun hanya melewatinya dan segera duduk di kursi meja kerjaku. Aku langsung memasukkan nomor ID mahasiswi nya.
“Nea Rozenweits...” Gumamku.
“Heh? Apa Bang?” Sahut Vartan.
“Aku nggak ngajak kau ngobrol, Tan.” Jawabku yang kemudian mengerjakan sesuatu di laptop ku.
“Iya deh iya, bro.” Vartan menjawab sambil cemberut.
“Hm... Udah beres kerjaannya?” Imbuhku seraya menatap Vartan.
“Be...lum.. Tinggal dikit kok Bang.” Ucapnya agak takut.
“Segera selesaikan.” Balasku yang kembali berkutat dengan laptop.
“Siap Boss.” Balasnya yang kemudian serius mengerjakan pekerjaannya.
Sebuah kenangan terngiang di pikiranku.
Di sebuah taman di Istana Aelius, terlihat sesosok gadis yang sedang duduk di kursi taman mengamati bulan. Rambut hitam panjang keunguan. Mata berwarna merah besar berbinar seperti dipenuhi bintang. Sifatnya yang anggun nan lembut. Suaranya yang merdu.
Saat itu aku begitu canggung. Andai saat itu aku tak seperti keledai. Pasti aku bisa mengenalmu lebih awal. Sayang, waktu tak bisa diputar ulang. Namun, aku tak akan membiarkan waktu itu terulang kembali.
Selamanya
Hanya dirimu yang kan selalu aku tunggu
Tanpamu
Diri ini tak bernyawa
Karena kau adalah jiwaku
Hati ini
T'lah membeku saat kepergianmu
Namun kini
Telah kutemukan jiwaku yang hilang
Kan kupastikan
Dirimu bahagia, tanpa harus merasakan penderitaan lagi
~♪~