
Terpampang di netra Lauryn, rumah kaca yang sudah porak-poranda. Serpihan kaca dimana-mana, teko serta cangkir teh yang sudah tak berbentuk, cemilan nikmat yang telah hancur terinjak. Ella terlihat sedih, karena melihat nasib teh dan cemilan yang enak itu.
Sebelum ini semua terjadi, Ella dan Lauryn sedang bercerita tentang betapa bodohnya Vartan ketika belajar mengaplikasikan wujud Erebos ke dunia luar. Yah, setelah sang Dewa Naga disegel dan menyatu dengan jiwa Vartan. Ia belajar untuk bisa memakai kekuatannya, karena ia bertekad untuk melindungi sang Tuan Putri.
“Wah? Benarkah itu Kak Ryn?” tanya Ella dengan penasaran, Lauryn mengangguk dan kembali bercerita.
Memang itu adalah latihan 'rahasia' katanya, dia tidak mau orang lain tau bahwa ia melakukan hal tersebut. Oleh karena itu, Vartan meminta tolong kepada Ferdinand untuk membantu latihannya tersebut.
Karena berurusan dengan Ferdinand, jadi Vartan yang saat itu masih seorang Briallan tidak bisa menghalangi Lauryn untuk mengikuti lelakinya.
Walau sampai sekarang pun tetap belum bisa mengalahkan ataupun membuat Lauryn menyerah sih.
Ella mendengarkan setiap apa yang dikatakan oleh perempuan berambut orange gold itu, Lauryn berkata, saat suaminya melatih Vartan. Dirinya hanya menyaksikan mereka sembari melakukan hal lain. Seperti meminum teh serta makan cemilan buatan Ferdinand atau merawat senjata-senjata yang ia miliki. Terkadang pula ia melakukan kegiatan menyulam, yang menurutnya membosankan. Ditatapnya bulu mata tipis namun terlihat cantik karena kelentikannya itu. Membuat sang gadis kecil memandang dengan tatapan kagum.
Ella tertawa kecil, saat melihat ekspresi Lauryn ketika mendengus kesal.
“Nah, ini yang lucu sayang.”
Wanita tersebut mengatakan, saat pertama kali berhasil membuat aura navy di sekeliling tubuhnya dan mulai berkonsentrasi untuk mengaplikasikan wujud Erebos. Vartan malah mengeluarkan angin dari belakang.
Ella tertawa terbahak-bahak, saat Lauryn memeragakan ekspresi Briallan waktu itu. Dan kembali melanjutkan ceritanya.
Saat Briallan sudah berhasil mengaplikasikan wujud Erebos ke dunia luar, tapi yang ia bayangkan itu ....
“Apa Lily tahu? Yang dibayangkan oleh Allan saat memunculkan Erebos?” tanya Lauryn dengan antusias, Ella berpikir sejenak.
“Hm .... kadal, Kak?” jawab Ella dengan riang.
Lauryn menyilangkan kedua tangannya, pertanda salah.
“Uhm ... lalu apa, Kak?” tanya sang gadis kecil dengan penasaran.
“Erebos muncul dengan wujud Ayam jantan. Dan segera sang Naga mematuki kepala Allan sembari mengatakan kalau dia tidak becus.”
Jawaban Lauryn membuat Ella semakin terbahak-bahak, hingga keluar air mata di pelupuknya. Karena menahan sakit di perut, sebab ia terlalu banyak tertawa.
Namun tawa mereka mendadak berhenti, saat wanita berambut orange gold itu memasang wajah serius dan mengarahkan telapak tangannya ke depan sembari mengacungkan jari telunjuk ke depan mulutnya, meminta Ella untuk diam.
Seketika terdengar suara kaca yang pecah, serpihan melayang menghujani mereka berdua. Ella yang ingin melindungi dirinya dan Lauryn, secara refleks mengaktifkan sebuah pelindung yang menyelubungi mereka.
Ketika pecahan kaca sudah berhenti, Lauryn segera mendekati pada Ella dan melindungisnya.
“Simpan tenagamu sayang, karena kita pasti akan memerlukannya nanti.” pinta wanita berambut orange gold pada gadis bermanik merah tersebut.
Dengan segera Ella menghilangkan pelindungnya dan berlindung di balik punggung Lauryn.
Seketika salah satu orang yang terlihat memakai jubah hitam itu menerjang ke arah mereka. Lauryn dengan sigap melempar meja yang mereka gunakan untuk tes time tadi padanya. Hingga terpental bersama meja.
Ella sejenak termenung ketika mengenang nasib teh serta cemilan itu beberapa menit yang lalu. Nampak raut wajah yang sedih saat menatap mereka.
“Sudahlah Lily. Nanti kita minta buatkan cookies dan teh yang baru pada Aim ya,” ucap Lauryn, mencoba menenangkan Ella.
“Iya, Kak!” seru sang gadis kecil dengan riang.
“Nah! Sekarang kita bereskan mereka terlebih dahulu,” tatapan tajam dengan niatan membunuh, Lauryn pancarkan pada para penyerang.
***
Erebos berhasil menumbangkan tiga dari delapan orang yang mengepungnya. Ia nampak kewalahan, menangkis dan bertahan dari setiap serangan yang datang.
“Apa Sang Dewa Naga sudah sangat karatan, hingga menghadapi segelintir manusia saja kewalahan?” sindir Vartan yang daritadi menyaksikan pertarungan Erebos.
“Diamlah bocah! Mereka saja yang terlalu licin dan kesana kemari menghindari setiap serangan.” Ucapnya dengan kesal.
“Ya ya ya. Semangat!”
Erebos kembali meninju musuh yang menerjang ke arah dirinya.
***
Ferdinand telah berhasil menumbangkan dua orang musuh dan tersisa dua orang lagi. Lawan yang sudah tumbang telah menjadi santapan ular Micropechis ikaheka raksasa berwarna putih dengan manik silver yang di beri nama Tempestade de Neve . Ular tersebut adalah Fammiliar milik snag lelaki yang sedang menyenandungkan sebuah lagu bernada lembut, namun memiliki arti yang mematikan.
“Good girl.”
Ferdinand mengusap kepala Fammiliar-nya dengan gemas, ditatapnya dua orang musuh yang tersisa. Sang Fammiliar menggerakkan ekornya dengan gembira.
“Bermainlah dengan mereka.”
Sang ular dengan senang hati langsung menyerang dan menjatuhkan musuh tersebut satu persatu.
***
Rios duduk di hadapan dua werewolf muda itu, menatap dengan tatapan mata yang tajam. Serigala tersebut mengetuk-ngetuk permukaan meja di depannya menggunakan kuku telunjuknya.
“Jadi, jika target asli kalian Nona Noxita. Kenapa kalian jadi mengejar adiknya?” ditatapnya kedua werewolf muda itu satu persatu.
Healey melirik Valdis, seolah menyuruhnya untuk menjelaskan hal tersebut. Rios masih menunggu jawaban sembari tetap mengetuk permukaan meja itu.
“Karena kami merasakan bola sihir kami ada di gadis kecil tersebut Yang Mulia Kurios.” jelas Valdis yang sudah merasa sangat bersalah.
“Hm ... kalian sampai menggunakan bola sihir milik Klan kalian?” tanya Rios tak percaya. Mereka berdua hanya mengangguk.
***
Nea yang terlalu fokus memerhatikan Ares, tak menyadarinya jika ada sekelompok orang yang menyelinap masuk ke ruangan tersebut. Saat ia menyadari ada orang lain di kamar itu, semua terlambat. Karena musuh sudah di belakangnya dan mengarahkan belati untuk menusuk sang gadis.
“Seperti Allen,” gumam Nea sembari menatap permata biru yang ada dalam gelang tersebut.
Iapun mengingat apa yang dikatakan oleh Ares ketika dia memberikan gelang itu padanya.
“Jangan lepaskan ini dari tanganmu Xita. Karena aku juga mengenakan gelang yang sama. Dengan ini, aku bisa selalu menjagamu.”
Nea tersenyum dan mengangguk, setelah Ares selesai memasangkan gelang itu pada pergelangan tangan kanannya.
“Lebih baik aku memanggil Rios. Rios! Kemarilah! Aku butuh bantuanmu!” batin Nea yang kemudian memanggil Fammiliar-nya dengan telepati.
Namun tiada jawaban atau kedatangannya di sini.
Nea bingung ketika ia melihat salah satu penyusup hendak menyerang Ares. Dengan segera ia menggenggam tangan pemuda itu, hingga pelindung menyelubungi mereka berdua.
“Tapi kurasa pelindung ini takkan bertahan lama, jika terus diserang oleh banyak orang seperti ini.”
Nea pun mencoba memanggil Rios kembali. Namun tetap nihil ....
“Kau kenapa Rios?” batin Nea dengan panik, saat terlihat pelindung transparan tersebut mulai retak.
***
Lauryn yang sudah mulai terpojokkan karena melawan enam orang musuh, sekaligus melindungi Ella. Sedang kebingungan, karena senjatanya terhempas jauh dari tempatnya berada.
“Ukh?” eluh Ella kesakitan.
Lauryn langsung mengalihkan perhatiannya dan melihat keadaan sang gadis kecil.
“Ella kenapa?” tanyanya dengan khawatir.
Terlihat darah mengalir di pelipis kanan Ella akibat dari serpihan kaca yang terkena tendangan saat mereka saling melancarkan serangan.
“Kak Ryn, Awas!” seru Ella memperingatkan. Namun terlambat, tengkuk wanita tersebut sudah dipukul hingga ia tak sadarkan diri.
Lauryn yang sudah kelelahan dan perhatiannya teralihkan, tak mengetahui serangan tersebut.
Dalam pandangannya yang mulai mengabur, ia melihat Ella ditangkap serta disihir supaya tidur dan tidak membuat perlawanan. Sang gadis kecil dibawa, ketika kelopak mata wanita itu sudah sangat berat.
***
“Ryn?!” Ferdinand tersentak, ketika merasakan kesadaran Istrinya hilang.
Lelaki itu bergegas ke tempat Lauryn berada, menggunakan sihir teleportasi. Ia sudah sampai di rumah kaca yang sudah tak berwujud lagi.
***
“Pyar!?”
Suara pelindung yang hancur menggema di ruangan tersebut. Seperti yang dikhawatirkan oleh Nea, jika pelindung tersebut tak akan bertahan lama. Seketika itu juga, Ares terbatuk-batuk. Hingga mengeluarkan darah.
“Allen?!”
~ ☽ ☾ ~
Huufft. 😤
🐳 : Marhaban ya Ramadhan, selamat puasa bagi yang menjalankan. Semangat ya puasanya. o(^O^)o
Na : "Kakak ...."
VR. : "Hum? Ada apa Na sayang?"
*gendong Na
Na : "Aku nggak boleh puasa sama Ferdinand."
VR. : "Hm ... Na kan kondisi tubuhnya belum fit, jadi kalau puasa penuh. Belum bisa sayang."
Na : "Yaaaa ... h"
VR. : "Kalau mau puasa juga. Na buka pas Dhuhur saja."
Na : "Uhm? Bolehkah aku puasa Kak?"
VR. : "Asal janji. Untuk tidak memaksakan diri."
Na : "Baik Kakak. Yeee ...."
All : "Jangan lupa like, comment, vote, share
Follow juga @rirymocha1 untuk segalanya"
Na : "Sampai jumpa di pasar Ramadhan." 🤣
VR. : "Chapter selanjutnya, Sayang ...."
Na : "Ehe ...."
...VR. Stylo
...