
Terlihat si amber memberikan Nea pada sosok satunya, sang gadis nampak tak sadarkan diri. Ares makin geram dan menggertakkan giginya. Vartan di samping dengan mode bertempurnya.
Rambutnya berubah menjadi navy sepenuhnya, pupil matanya pun berubah menjadi biru gelap.
“Kembalikan dia!” seru Ares yang membuat dua sosok yang dihadapinya itu menatap padanya.
“Maaf. Tidak bisa,” ucap surai perak dengan datar.
Ares seketika muncul di depan cowok bermata hijau itu. Saat hendak mengambil Nea kembali, ia dihadang oleh sosok bersurai gold yang menyerangnya dengan cakaran.
Pemuda bersurai abu-abu tersebut langsung mengambil jarak dan tetap bersiaga. Nampak dalam tatapan Ares, sosok lawannya yang dalam wujud manusia serigala.
Tubuhnya dipenuhi rambut, dengan kaki dan tangan yang memiliki kuku-kuku panjang nan tajam. Telinga runcing serta moncong khas serigala.
“Ah ... pantas saja aku merasa ada makhluk lain selain kami, ternyata itu kalian. Anjing hutan,” ujar Ares melirik sinis pada mereka berdua.
Si surai gold menghentikan cowok di belakangnya yang hendak melabrak Ares. Ia lalu menatap tajam pada pemuda berambut abu-abu itu.
“Tenanglah Aley. Tugasmu adalah untuk menjaga gadis itu, supaya tidak direbut kembali oleh mereka.” ucap manik amber dengan tenang.
“Baiklah.”
Lelaki bersurai silver itupun menjaga Nea yang sedang tidak sadarkan diri sembari tetap bersiaga. Ia menatap tajam dan mengawasi duo kakak adik yang menjadi lawannya itu.
“Apa yang akan kalian lakukan pada Nea?” Ares yang sedari tadi mengawasi gerak-gerik mereka, akhirnya kembali berucap.
“Nea? Oh, maksudmu gadis ini? Urusan kami dengan dia, sangatlah penting. Karena ini menyangkut masalah kebebasan hidup,” ujar si gold, sang silver hanya menganggukkan kepalanya. Menandakan jika ia setuju.
“Hah? Memang apa yang sudah dilakukan oleh Nea?” protes Ares yang tak terima kekasihnya seperti menjadi pelaku suatu kejadian yang lawannya alami.
“Karena ada dia. Yang Mulia Kurios meninggalkan kami!” seru cowok gold tersebut.
“Tenanglah Val. Jangan terlalu terbawa emosi,” cowok perak mencoba menenangkan kawannya.
Ares hanya bisa melongo mendengar penjelasan mereka, Vartan pun sama.
“Kurios? Maksudmu Rios si Serigala?” tanya lelaki bermanik abu-abu itu, dia hanya bisa menduga.
“Benar sekali! Dan jangan memanggil beliau sembarangan seperti itu!” bentak cowok yang dipanggil Val oleh si perak tadi.
“Ya ya ya ... terserah,” celetuk Vartan.
Suasana yang intens terasa menyeruak, saat Ares mendadak menyerang Val dengan pedang berwarna hitam miliknya. Namun lelaki bersurai gold tersebut tidak tinggal diam, ia menahan sekaligus menangkis serangan Ares dengan tepat.
Pemuda berambut abu-abu itu mengumpat dan menyerang Val sekali lagi, dengan gerakan cepat mereka bertarung. Karena mereka menggunakan gerakan super cepat, maka mata manusia biasa takkan bisa mengikuti arah serangan demi serangan yang saling dilancarkan serta ditangkis oleh mereka berdua.
Erebos yang sekarang menguasai kendali tubuh
Vartan, melihat pertarungan Ares dengan bosan. Dia menguap, hingga keluar air mata di ujung pelupuk.
“Fokus wey Kadal!” seru Vartan di dalam pikiran.
“Ternyata ini membosankan.” Gerutu Erebos.
Aley si silver menatap Erebos dengan tajam, hingga mengeluarkan hawa ingin membunuh.
“Hm ... ada apa puppy?” sindir sang naga sembari menyeringai.
Aley yang tak terima dengan sindiran yang dilontarkan olehnya, menyerang Erebos dengan tangan bercakar yang penuh bulu. Setelah meletakkan Nea dengan posisi duduk bersandar pada pohon besar di belakangnya itu. Sang naga hanya menghindari setiap serangan.
“Kenapa kau hanya menghindar? Takut heh?” olok pemuda berambut perak tersebut.
Erebos menyeringai dan dengan sekali gerakan tangannya, ia menangkap lengan kiri Aley. Sang pemuda serigala kesal dan melancarkan serangan tendangan ke arah perut naga tersebut. Namun, lelaki yang diserangnya tidak tinggal diam. Dengan sigap kaki si perak ditangkap juga olehnya.
Di sisi lain, Ares terlihat sedikit terengah-engah. Kepulan uap putih, nampak keluar dari mulut serta hidungnya. Sang pemuda menatap tajam lawan yang ada di hadapannya, di sekitar mereka terlihat beberapa serpihan es.
Val yang sudah tersulut semangat bertarungnya, meladeni setiap serangan Ares dengan bertahan, menangkis ataupun membalikkan setiap serangan yang mengarah padanya.
Ia tersenyum senang ketika membalas gempuran es yang dikeluarkan oleh Ares dan bertahan saat lawannya memberikan tebasan pedang padanya.
“Boleh juga kau Vampire,” Val menyeringai sambil mengatur nafasnya, ia bersiaga sembari mengepalkan kedua tangannya.
Mereka berdua memang tak memakai senjata ataupun sihir, seperti Ares atau yang lain. Mereka yakin bahwa kekuatan sejati adalah kekuatan fisik.
***
Nea yang tersadar merasakan jika kepalanya sangat sakit, ia sedang terduduk dan menyaksikan pertikaian di hadapannya dengan wajah khawatir.
“Allen!” seruan Nea membuat fokus sang pemuda teralihkan padanya, ia menatap sang gadis dengan tatapan lega karena dia nampak baik-baik saja.
Namun, hal tersebut dimanfaatkan oleh Val untuk melancarkan serangan pada Ares. Nea yang melihat hal itu, hendak berteriak memberikan peringatan pada sang pemuda. Akan tetapi, sebuah cakaran telah mendarat di dadanya.
Baju putih Ares seketika menjadi merah, karena luka yang ia terima. Val menendang perut pemuda yang tak berkutik karena lukanya itu.
Nea berteriak dan menangis, ia merasa dirinya hanya menjadi beban. Seketika sekelilingnya menjadi gelap, sebuah ruangan yang nampak klasik dengan furnitur mode lama. Nampak di pandangannya.
Terlihat Noxita sedang duduk di depan meja rias yang memiliki sebuah cermin besar. Nea mendekatinya, disentuhnya rambut gadis di hadapannya itu.
“Lembut ....” gumam Nea yang membuat Noxita menyunggingkan sebuah senyuman.
“Maukah kau menata rambutku?” pintanya pada Nea.
“Aku mau!” seru Nea yang dengan semangat mengambil sebuah sisir dan mulai menyisir rambut Noxita.
Nea menata rambut Noxita dengan hati-hati, ia takut merusak rambut hitam keunguan yang sangat halus itu.
“Apa kau melupakan sesuatu?” tanya Noxita tiba-tiba.
“Hm ... kurasa tidak,” jawab Nea setelah berpikir sejenak.
“Selesai!” Nea berseru setelah berhasil membuat rambut halus itu menjadi digerai panjang dengan dua kepangan kecil di tiap sisi yang kemudian dijadikan satu dan disatukan oleh hiasan rambut berbentuk bunga mawar hitam.
“Ah?! Allen?!” Nea yang melihat hiasan bunga tersebut seketika mengingat pemuda yang terkena serangan tadi.
“Akhirnya kau ingat lagi. Apa kau mau kekuatan?” Noxita bertanya pada Nea.
Sang gadis modern tersebut menganggukkan kepalanya, setetes air mata nampak di ujung pelupuk kanannya.
Noxita mengeluarkan sebuah gelas berisi cairan berwarna merah pekat dan memberikannya pada Nea.
“Minumlah seteguk saja,” ucap Noxita. Namun Nea sudah meminumnya setengah.
Noxita hanya bisa menatapnya dengan datar dan menjentikkan jarinya.
“Ingatlah. Untuk jangan sampai lupa diri dan membunuhnya dia.” Pesan Noxita yang terdengar sayup oleh Nea.
... ~ ☽ ☾ ~
...
Huwaaa. 😭😭😭
Na ... Tolong jangan siksa Kakak ... 😭😭😭
Na : Apa Kak? (´・_・`)
*wajah tanpa dosa
VR. : Jadwal up balik kan? 😭
Na : Hum ... maybe?.
*mengalihkan pandangan
VR. : Naaaa .... 😭
*pundung
Na : Pfft ..., baiklah mulai senin depan jadwal update kembali ke Senin, kamis, dan sabtu ^-^)/
*Balik main, Om lios ayo main sini aku lempar bolanya, om lios tangkap yak
Rios :*pasrah sambil bergumam "memangnya aku puppy rumahan diajak main lempar tangkap bola?"
Nea : sabar, Na panda masih baby 😅
Rios: huft...
All : Happy weekend dan jangan lupa like jempolnya VR.
Comment, vote, share juga
Ferdinand : Cek percobaan saya yang lain di @rirymocha1
Na : Sampai jumpa di chapter selanjutnya
VR. : Bubye. 😭😭😭
...VR.Stylo
...