When The Night Come

When The Night Come
Dunia Peri



Ella yang berlari sambil memejamkan matanya, mendadak jatuh tersungkur karena tersandung sesuatu. Sembari meringis kesakitan, sang gadis kecil sadar jika ia berada di suatu tempat yang menurutnya sangat asing. Namun entah kenapa berkesan dalam ingatannya.


“Di mana ini?” gumam Ella melihat sekeliling dengan takjub.


Ia memandangi taman bunga yang terlihat sangat ajaib, dengan berbagai jenis bunga yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Ada juga sesuatu yang berkilauan, terbang kesana kemari meninggalkan jejak debu berkilau di sepanjang yang ia lalui.


Ella tak henti-hentinya mengedarkan pandangannya, hingga sesuatu yang kecil menabrak hidungnya. Dengan hati-hati ia menangkap itu karena terjatuh setelah menabrak hidung sang gadis kecil. Diangkatnya kedua telapak tangan yang menopang tubuh makhluk kecil itu, diamati seksama oleh Ella. Ia yang sedang memegangi kepalanya, karena pusing akibat tabrakan tadi.


Setelah sadar jika dirinya sedang ditatap dengan lekat, makhluk itu memundurkan tubuhnya hingga terpojok di jari telunjuk kiri sang gadis kecil. Makhluk kecil tersebut nampak sedikit gemetaran.


Ella dengan perlahan mendekatkan telunjuk kanannya, makhluk kecil gemetaran dan menutup kedua matanya dengan ketakutan. Ia membayangkan jika dirinya akan dipencet sekuat tenaga menggunakan telunjuk raksasa yang mengarah padanya.


Makhluk tersebut tersentak ketika telunjuk sang gadis kecil sudah berada di atas kepalanya, ia memejamkan matanya dengan erat. Namun ternyata dirinya merasakan belaian lembut pada kepalanya, hingga dia merasa nyaman.


Dia membuka matanya dan melihat Ella yang tersenyum manis padanya. Tanpa sadar dirinya sudah tidak takut lagi pada gadis tersebut.


“Hai kecil. Kamu ini apa? Apakah kamu peri?” tanya Ella melihat makhluk tersebut, membuat ingatannya kembali pada cerita dongeng tentang peri-peri kecil.


Makhluk tersebut menganggukkan kepalanya dan kemudian terbang dengan sayap kecilnya di hadapan Ella, sembari membusungkan dadanya dan berkacak pinggang. Sang gadis kecil terkekeh geli menyaksikan tingkah peri tersebut.


“Di manakah ini Peri kecil?” tanyanya kembali. Namun sang peri hanya menggaruk kepalanya dengan bingung.


“Hm ... apakah di sini ada yang tahu banyak hal dan bisa ditanyai?” pertanyaan Ella membuat peri tersebut sedikit berpikir. Namun kemudian ia teringat sesuatu dan mencoba menarik tangan raksasa Ella.


“Ah? Baik, baik. Aku akan mengikutimu.” ucap Ella yang kemudian membuat peri tersebut senang.


Ketika sang gadis kecil bingung saat ingin memanggil peri tersebut, ia hanya memanggilnya 'hei'.


“Hei, namamu siapa?” tanya Ella sembari tetap mengikuti arah kemana perginya peri itu.


Peri tersebut langsung berhenti dan berpikir, ia kemudian mengeluarkan cahaya yang terlihat menyilaukan. Hingga Ella dengan segera menutup kedua matanya.


“Uhm ... cahaya ya?” ucap Ella setelah membuka matanya, yang mendapat anggukan kepala penuh semangat dari peri tersebut.


“Apa namamu Aine?” pertanyaan Ella dijawab gelengan olehnya dan malah menunjuk-nunjuk pada sang gadis kecil.


“Huh? Aku? Namaku Ella. Baiklah, kalau begitu aku akan memanggilmu Ai. Dari kata Aine, yang berarti cahaya.” ucap sang gadis kecil dengan senyuman manisnya. Peri tersebut hanya bisa pasrah, membiarkan Ella memanggilnya begitu.


Mereka berdua kembali menyusuri jalanan yang dikelilingi oleh bunga-bunga cantik, serta beraroma harum. Hingga tiba di jalanan yang dikelilingi oleh bunga Matahari, khas musim panas. Begitupun yang mereka rasakan, suasana musim panas. Namun tidak sepanas biasanya.


Ella malah merasa segar, saat ia bermandikan cahaya matahari yang memenuhi tempat ia berada. Sang gadis merasakan jika dirinya menjadi sangat kuat dan penuh kekuatan.


Saat hampir sampai di ujung jalan, terlihat sebuah bangunan megah nan indah yang terasa sangat ajaib di mata manusia biasa. Ella merasa sedikit takjub melihat itu, karena entah kenapa dia merasa jika dirinya pernah melihat istana tersebut.


Istana yang bangunannya berwarna putih dengan ornamen berbagai macam batu permata yang berwarna kuning, menghiasi beberapa tempat di dinding serta pintu. Mata Ella berbinar-binar melihat permata tersebut.


“Kemarilah.”


Ella mendengar suara yang sebelumnya memanggil dirinya. Sang gadis kecil berjalan sembari melihat sekeliling, nampak beberapa penjaga yang berlutut pada satu kaki sambil memegang tombaknya. Ketika ia berjalan melewati mereka.


Peri kecil yang bersama Ella, tersenyum bangga. Sang gadis kecil hanya bingung melihat mereka.


Saat tiba di depan pintu megah yang besar, Ella tersentak karena pintu tersebut langsung terbuka dengan perlahan.


Nampak sebuah aula besar yang lengang dan hanya terlihat beberapa penjaga seperti saat diluar tadi. Mereka berlutut pada satu kaki sembari memegang tombaknya dan menundukkan kepala.


Tampak di hadapan sang gadis kecil, seorang perempuan yang cantik jelita. Dengan rambut emas yang berkilau, bola mata berwarna gold serta kulit putih berkilau. Hati Ella dipenuhi rasa kagum melihatnya.


“Selamat datang kembali, Aine.”


Ella mendengar suara yang tadi memanggilnya, sekarang ada di hadapannya. Ia menatap perempuan itu dengan seksama. Sang gadis merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Namun ia lupa.


Ucapannya disambut dengan kursi yang tiba-tiba ada di belakang Ella, seorang penjaga segera undur diri. Setelah meletakkan kursi tersebut.


Sang gadis kecil segera duduk dan mengambil posisi yang nyaman baginya. Sebuah kursi dengan dudukan serta sandaran yang terasa sangat nyaman itu, tidak membuat Ella lama untuk mendapatkan posisi enak.


“Terima kasih atas kursinya dan juga karena telah menyelamatkanku tadi.” ucap Ella menatap pupil emas jernih tersebut.


“Tidak masalah. Karena dirimu memang harus diselamatkan,” perempuan tersebut berbicara dengan santai.


“Kalau boleh tau, tempat apa ini?” celetuk Ella dengan eskpresi bingung.


“Di sini adalah dunia para peri. Dan selamat datang kembali, Ratu kami. Ratu Aine.”


Ella semakin bingung, karena daritadi perempuan yang ada di hadapannya memanggil dirinya Aine dan juga Ratu. “Maaf. Siapa Aine?” tanya Ella dengan bingung. “Kaulah Aine. Ratu kami.”


Ella yang tidak mengerti apa yang diucapkan oleh perempuan tersebut, hanya memberikan sebuah ekspresi seperti sedang menatap hal aneh. “Maaf. Namaku Ella dan bukan Aine seperti yang Anda omongkan,” sang gadis kecil menjelaskan. Namun dia mendapatkan sebuah lirikan mata tajam dari perempuan tersebut.


“Lagi-lagi kau mengambil wujud manusia, Aine.”


Sebuah ekspresi muak terlihat pada wajah lawan bicaranya, Ella makin tak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan oleh perempuan itu.


“Yah. Susah kalau hanya lewat ucapan saja, karena Aine selalu keras kepala,” eluh perempuan tersebut, dengan tenang dia mengeluarkan sebuah cahaya dan mengarahkannya pada Ella.


Sang gadis kecil menutup matanya dan merasa cahaya tersebut sangat hangat dan nyaman. Ella yang merasakan kenyamanan, tiba-tiba melihat suatu kejadian di pikirannya.


“Apa ini?” batin Ella yang menyaksikan sebuah tempat yang menurutnya familiar dan sangat berkesan untuknya.


Terlihat sebuah mansion mewah yang besar nan megah. Melewati gerbang utama, ia disuguhkan dengan pemandangan air mancur serta tanaman bunga mawar merah yang menghiasi halaman depannya.


Memasuki mansion, nampak beberapa furniture mewah mengisi aula tersebut, Ella memandang hal itu dengan wajah takjub. Serta perasaan rindu menyeruak dalam hatinya.


Masuk lebih dalam, naik ke lantai atas. Dan memasuki salah satu kamar yang ada. Nampak seorang gadis yang sedang terbatuk-batuk sembari menggenggam sebuah saputangan. Setelah batuknya berhenti, ia lihat saputangannya.


“Muntah darah lagi ....”


...~ ☽ ☾ ~


...


Huwee


😭


Maafkan, karena up nggak pas harinya. 😭😭😭


Kemarin ada sedikit masalah besar. 😭😭😭


Na : • • •


Allan: -_-)/ jangan lupa komen, shere, like, dan votnya supaya aku bisa ketemu lily lagi ...


Dinand: jangan lupa chek ig @rirymocha... *lupa


Rios: sehat-sehat my panda *menjilat panda yang sedang terbaring kelelahan


...VR.Stylo


...