
Makhluk bersisik navy itupun menerjang ke arah Briallan berada, dengan keempat kakinya ia berlari. Namun sebelum dia bisa menerkam sang bocah, seorang wanita berambut orange gold panjang muncul di hadapannya dan menahan serangan cakar makhluk tersebut dengan sebuah sabit yang memiliki pegangan panjang.
“Haaah ... Hah?!” Briallan shock, karena hampir diserang oleh makhluk itu. Nafasnya memburu, matanya bergetar saat ia melihat sorot mata yang tajam nan bengis tersebut menatap dirinya dengan lekat dari jarak yang lumayan dekat.
“!?” Briallan merasa jika tenggorokannya tercekat hingga tak bisa bersuara, ia hanya terlihat seperti sedang megap-megap.
“Hm ....?” ekspresi datar wanita tersebut terlihat, ketika ia melirik sang bocah sekilas. Sembari tetap menahan kekuatan makhluk itu.
“Pergilah ke tempat yang aman sana bocah!” ucap datar sang wanita sambil mementalkan cakar makhluk yang ia tahan sedari tadi.
“Aku bukan bocah! Dasar kepala wortel,” protes Briallan sembari mengolok wanita tersebut.
“Yaa ... Terserah jika dirimu mau jadi santapan dia,” ucap sang wanita dengan datar namun terdengar kesal. Ia kembali menghalau serangan demi serangan dengan tenang.
“Ba–baik,” Briallan yang merasa jika wanita tersebut menakutkan, segera bangkit dan menggendong Lily lagi. Menuju ke tempat yang dia rasa aman.
“Dan ingat. Namaku Lauryn de Vladmir Regatta,” sang wanita berujar sembari memberikan senyuman termanisnya pada Briallan.
“Maafkan saya ....” teriak sang bocah saat ia sampai di tempat yang ia rasa aman.
Lauryn menanggapi serangan demi serangan yang dilancarkan oleh makhluk tersebut, sesekali ia juga mengeluarkan serangan sihir padanya.
Mereka berdua saling menangkis, menghalau, menyerang dan juga membalas setiap serangan.
“Allan?” suara seorang pemuda yang familiar terdengar di telinga Briallan, iapun segera menoleh dan menatap wajah kakaknya yang tepat di belakangnya. Sang bocah seketika menangis, saat melihat Briallen datang.
“Kakak kenapa lama? Aku hampir mati tenggelam, hampir dimakan makhluk itu, aku ... Aku ....” sang bocah pun menangis terisak.
“Maaf Kakak lama Allan. Syukurlah Adikku baik-baik saja,” ucap Briallen seraya memeriksa kondisi adiknya.
“Aku kan kuat,” ujar sang bocah, dengan sok tangguh. Briallen tersenyum dan menepuk perlahan kepala adiknya itu.
“Adikku memang hebat,” Briallen mengacak-acak rambut Briallan. Sang adik hanya bisa protes dengan apa yang dilakukan oleh kakaknya itu.
“Allan? Syukurlah kau selamat,” ucap Noxita yang tiba-tiba muncul dengan menunggangi Rios. Dilihatnya samping Briallan, iapun segera turun dan bergegas menuju Lily.
“Lily ....” dipeluknya tubuh sang adik yang tak merespon. Noxita tertegun, ia mulai panik. Karena sang adik yang terasa dingin.
“Lily?!” teriak Noxita dengan frustasi dan ketakutan.
Diperiksanya denyut nadi Lily, begitu lemah. Hingga tak berasa. Noxita semakin takut, ia menangis dan membuat Briallen kebingungan.
“Xita ....” panggil sang pemuda dengan perlahan, Briallen duduk di samping sang gadis. Dan mencoba untuk menenangkannya.
“Kak Dinand!” Noxita berteriak memanggil sang lelaki berambut abu-abu keperakan panjang tersebut. Seketika itu juga Ferdinand muncul di hadapan mereka.
“My Baby Lily,” ucap Ferdinand dengan sedih, ketika melihat keadaan sang gadis kecil.
Kulitnya yang putih bersih, sekarang terlihat sangat pucat. Ferdinand dengan cepat memeriksa kondisi Lily. Dibaringkannya tubuh sang gadis kecil dengan perlahan, ia mulai memeriksa denyut nadi, bola mata, segala yang ia perlukan untuk menentukan diagnosa.
Saat ia memeriksa mata Lily, Ferdinand terkejut karena warna matanya yang berbeda dari semula. Yang ia lihat bola mata sang gadis kecil berwarna emas berkilau, padahal warna aslinya merah ruby. Iapun kemudian bertanya pada Briallan, tentang apa yang terjadi.
“Apa yang terjadi dengan Lily?” tanya Ferdinand pada Briallan.
“Aku tak tau. Yang aku tahu Ratu para Fay melakukan suatu pengobatan padanya,” jawab sang bocah dengan lugas.
“Tiana! Apa yang kau lakukan pada My Baby Lily?!” seru Ferdinand dengan nada tinggi.
“Maksudmu gadis itu? Aku hanya menghilangkan kelemahannya,” Tiana menjawab dengan tenang.
“Apa maksudmu itu?” Ferdinand yang biasanya tenang, sekarang terlihat murka.
“Kelemahannya karena terlahir sebagai manusia,” ucap Tiana dengan entengnya.
Seketika itu juga Ferdinand mencengkeram leher sang Ratu dengan erat, tak menghiraukan para pengawal yang mulai beralih hendak menyerangnya.
“Kau ... Seenaknya saja ... Cepat batalkan apa yang kau lakukan tadi!” perintah Ferdinand dengan geram dan penuh amarah.
“Sayangnya aku tak bisa membatalkan ritual yang sudah berjalan,” ucap Tiana sembari dengan sesak.
“Lily!? Lily?!” teriakan Noxita terdengar putus asa, saat sang gadis kecil kehilangan denyut nadinya.
“Sialan!” umpat Ferdinand yang kemudian melepaskan cengkeramannya hingga membuat Tiana jatuh tersungkur.
Dengan segera sang laki-laki bermanik abu-abu itu kembali ke samping Lily dan melakukan segala sesuatu untuk mengembalikan detak jantungnya.
“Baby Lily ... Jangan tinggalkan kami,” ucap Ferdinand yang terus melakukan upaya untuk mengembalikan detak jantung Lily.
Lauryn yang sedari tadi melawan makhluk bersisik navy itu, akhirnya bisa menumbangkannya. Setelah ratusan serangan ia kerahkan, juga ia tangkis. Makhluk tersebut sekarang sudah tak berdaya. Lauryn pun segera menuju ke tempat Ferdinand berada.
“Aim?” ucapnya dengan nada lemas dan cemas.
Dilihatnya Ferdinand terus mengerahkan kekuatan sihirnya, untuk menghidupkan kembali jantung Lily. Namun semua tak berhasil, Lauryn pun memegang lengan Ferdinand. Ditatapnya wajah Ferdinand, ekspresi sedih diberikan oleh Lauryn. Ferdinand akhirnya berhenti dan terduduk lemas.
“Lily ....” Isak Ferdinand yang tak percaya dengan apa yang sedang terjadi.
“Ritual berhasil. Sekarang gadis itu akan menjadi sang terpilih yang sempurna,” ucap Tiana dengan bangga.
“Kembalikan adikku!” seru Noxita yang bersiap menyerang dengan Rios dalam posisi siaga, menunggu arahan sang Master.
“Seperti yang aku bilang sebelumnya. Sayangnya apa yang sudah dilakukan, tak bisa dibatalkan. Apalagi dikembalikan,” Tiana berujar dan kemudian melenggang pergi.
Saat ia hendak beranjak dari tempat itu, tiba-tiba terdengar raungan keras yang menyeramkan berasal dari makhluk bersisik navy tersebut. Sontak, semua yang berada di situ langsung menoleh dan melihat ke sumber suara.
Terlihat onggokan tubuh makhluk raksasa bersisik navy, dengan Briallan yang berdiri setengah membungkuk. Nampak dirinya yang seperti tak sadarkan diri.
“Allan? Kau kenapa?” tanya Briallen yang heran, sejak kapan adiknya berada di dekat mayat makhluk tersebut.
“Diam kau manusia! Kalian makhluk lemah, berani-beraninya menghajar aku?!” Briallan berucap namun dengan suara yang menyeramkan.
“?!” semua orang tercekat mendengar suara Briallan yang kejam nan dingin itu.
“Sekarang aku sudah menemukan tubuh yang cocok. Ha ha ha!” ucapnya lagi dengan congkaknya.
“Heh?! Berdiri sendiri saja kau tidak sanggup. Pakai coba-coba memerintahku? Ha ha ha.
Diamlah kau penghisap darah!” dengan angkuhnya makhluk yang merasuki tubuh Briallan berucap.
Dengan sekali kebasan tangan, Briallan menciptakan angin kencang yang membuat semua orang terpental. Kecuali Lily, yang tidak terbelai angin sedikitpun. Sesaat setelah terpental, Briallen dengan sigap, menangkap tubuh Noxita dan memeluknya.
“Ingatlah ini para manusia, Aku adalah Dewa Naga Erebos. Tunduklah padaku! Ha ha ha? Uhuk?! Uhuk!?” tawa jahatnya terganggu karena ia tersedak.
“Diamlah bocah! Tubuhmu sudah menjadi milikku,” Erebos berbicara pada dirinya sendiri. Briallan yang masih berada di dalam tubuhnya, meronta-ronta. Mencoba untuk mengambil alih dirinya lagi.
Sesaat setelah detak jantung Lily hilang
“Bagaimana ini? Gadis itu meninggal? Apa yang bisa kulakukan? Ini semua karena aku yang tidak memiliki kekuatan. Aku ... Andaikan aku lebih kuat ... Tuhan, tolong kembalikan dia. Siapapun. Tolong,” batin Briallan berkecamuk bercampur dengan kegelisahan serta putus asa.
“Aku bisa membantu serta memberimu kekuatan,” sebuah suara menggema di kepala sang bocah. Iapun celingukan, melihat ke kanan dan kiri. Tiada siapapun yang nampak.
“Aku bicara lewat telepati, hei bocah!” suara tersebut terdengar kembali. Briallan ketakutan sendiri.
“Aku bukan hantu. Aku adalah Dewa Naga dan aku bisa mengabulkan permintaanmu,” ucapnya lagi.
“Bagaimana caranya?” Briallan yang merasa mendapat secercah harapan untuk mengembalikan sang gadis kecil pun percaya dengan suara tersebut.
“Kau harus pergi mendekati kenyataan di sini,” jelas suara tersebut.
“Di sini?” Briallan bertanya.
“Iya. Di dekat mayat itu,” terangnya lagi.
“Tapi ....” Briallan bergidik saat mengingat makhluk bersisik navy itu hendak menerkamnya.
“Aku berada di dekat makhluk itu. Kenapa kau ragu? Katanya kau ingin bisa membawa kembali gadis itu. Apa niatanmu itu sudah sirna?” suara tersebut bertanya, Briallan menggelengkan kepalanya.
“Jadi kemarilah. Maka kau akan mendapatkan kekuatan,” rayunya yang membuat Briallan beranjak dan mendekati mayat makhluk bersisik navy itu.
Kembali ke saat ini ....
Briallan yang sedang dirasuki, berjalan mendekati Lily yang sudah tak bernafas. Ia berjongkok dengan satu kaki dan melihat wajah sang gadis.
“Sayang sekali. Dia sudah tidak bisa diselamatkan,” ucap sang Dewa Naga.
“Jangan bicara sembarangan kau!” sahut Ferdinand, Noxita hanya bisa menangis di pelukan Briallen.
“Aku tidak bohong dan lebih baik dia menjadi santapanku,” ucap Erebos yang mendapat respon amarah dari Ferdinand dan Lauryn.
“Ha ha ha ....” tawanya menggelegar.
“Diam kau, kadal jelek!” tiba-tiba suara Briallan kembali terdengar lewat mulutnya.
“Tidak bisa. Tubuh ini sudah menjadi milikku,”
“Keluar kau! Kembalikan tubuhku!”
“Ha ha ha ....”
Suara Briallan terdengar berganti-ganti.
Mendadak suara sang bocah tak terdengar lagi.
“Ha ha ha ... Aku menang, tubuh ini sepenuhnya milikku,”
Semua orang menatap tajam Briallan yang dirasuki oleh Erebos.
... ~ ☽ ☾ ~
...
Yuhuu~ ><)/
Kembali lagi dengan ....
WTNC tercinta. 😜
Yo yo
Gimana kabar para pembaca tercinta? :3
Bagaimana menurut kalian tentang Chapter baru ini? °^°
Yaa ... Kalian bisa berceloteh di kolom komentar. 🤗
Briallen : ....
VR. : Yeee. Yang adiknya dimakan Naga. 🤣
Briallan : ....
*seret VR.
VR. : Heleeeppp Dx
Noxita : Jika kalian ingin berjumpa dengan kami, Follow IG @rirymocha1
Na: Terima kasih atas dukungan kalian semua
Mohon dukungannya selalu ♥
...VR.Stylo
...