When The Night Come

When The Night Come
Menghilang



Vartan mendekati pohon dengan ranting yang menarik perhatiannya itu, mulai merasa mencium aroma mawar yang manis. Sesampainya di dekat ranting itu, dia menemukan sobekan kain berwarna pink dengan noda merah beraroma mawar yang manis.


“?!” Vartan terkesiap dan menggenggam erat kain tersebut dengan geram.


“Kan kuselamatkan kau, Tuan Putriku!” serunya yang kemudian menghilang.


***


“Kenapa kalian bodoh sekali sih?!” bentak Rios, frustasi.


Dua pemuda dari klan Neoma itu hanya bisa mojok seraya ketakutan. Melihat orang yang dipujanya marah pada mereka.


“Hissh!” gerutu sang serigala sembari mengacak rambutnya sendiri.


“Kalian berdua kan calon Pemimpin Klan Neoma dan sudah diberi segala ajaran oleh Ketua Klan yang sekarang. Yaitu Ayah kalian! Kenapa kalian masih saja percaya dengan orang yang nggak jelas dan tiba-tiba muncul?” ucap Rios mencecar dua werewolf muda itu, hingga mereka memojokkan diri.


Ditatapnya tajam kedua pemuda yang sedang meringkuk ketakutan di pojokan sana, iapun memalingkan pandangannya dan menengok ke arah pintu.


“Berapa lama aku ada di sini?!” ucap Rios dengan shock.


“Sekitar 3-4 jam Tuan,” jawab si Healey dengan memberanikan diri.


“Aku mendapatkan feeling yang tidak mengenakkan.” gumam Rios yang kemudian mengangkat kedua pemuda itu bagaikan mengangkat anak anjing.


Rios yang sadar, jika dirinya sudah terlalu lama bersama dua orang werewolf muda itu. Akhirnya ingat akan Nonanya. Dengan Valdis yang berada di tangan kanan dan sedangkan Healey di tangan kiri, segera ia berteleportasi ke tempat nonanya berada.


***


Lauryn yang terbaring di tempat tidur, perlahan membuka kedua matanya. Dipandanginya langit-langit ruangan tersebut yang berwarna putih, dengan beberapa dekorasi yang menghiasinya.


“Ah! Anda sudah bangun, Nyonya.”


Terdengar suara lembut seorang perempuan menyapanya, ditengoknya asal suara tersebut. Dan nampak di netra Lauryn, Neve yang masuk ke ruangan sembari membawa secangkir minuman di atas nampan.


“Lily?!” teriak wanita berambut orange gold itu sembari bangun dengan mendadak, yang membuatnya merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


Dengan sigap Neve menghampiri dan memegangi tubuh Lauryn, setelah ia meletakkan cangkir berisi minuman itu di atas meja.


“Jangan memaksakan diri untuk bangun, Nyonya. Kondisi Anda belum memungkinkan untuk melakukan hal-hal berat.” ucap Neve sembari membantu istri sang Master untuk menyandarkan tubuhnya di headboard.


“Minum ini Nyonya, ini bisa membantu untuk memulihkan kondisi Anda.”


Lauryn menerima cangkir yang dibawa oleh Neve tadi, dilihatnya cairan merah yang kental. Tercium aroma favoritnya dari minuman tersebut, dengan segera Lauryn menghabiskannya dalam sekali teguk.


“Sekarang Nyonya istirahatlah kembali.”


Ucapan Neve bagaikan mantra, mata Lauryn seketika terasa pedih. Kedua kelopak matanya berat, seakan meminta untuk segera ditutup dan terlelap dalam buaian mimpi.


Neve menyelimuti tubuh Lauryn dan menjaganya, sesuai yang diperintahkan oleh master-nya.


***


Ferdinand mengejar para penyusup yang membawa Ella, akhirnya sampai di sebuah hutan. Ia mendarat di tanah, sekelilingnya penuh dengan pepohonan.


“Sinar matahari sama sekali tidak masuk ke dalam hutan ini, hingga membuatnya menjadi gelap. Walau sudah pagi,” gumam lelaki berambut abu-abu keperakan itu sembari mengedarkan pandangannya.


Ia fokus kembali dan langsung menuju suatu arah.


***


Suatu tempat yang ada jauh dalam Darkwood, nampak sebuah kastil besar yang sangat menakutkan nan seram. Di sekelilingnya terlihat pepohonan yang kering, tak bernyawa.


Dalam kastil, beberapa orang bertudung hitam sembari membawa seorang gadis berambut hitam bercahaya yang tak sadarkan diri, sedang menghadap sebuah bola kristal raksasa.


Orang-orang bertudung hitam itu mengaktifkan bola tersebut dengan mengalirkan kekuatan sihir ke dalamnya. Setelah aktif, tampak dalam sana ada seorang yang mengenakan jubah hitam panjang. Memiliki manik merah pekat dengan rambut berwarna hitam sepekat malam tak berbintang.


Menatap tajam pada mereka yang menghubunginya.


“Bagaimana misi kalian?” suara dingin nan parau terdengar menggema di ruangan itu.


“Ka–kami berhasil, Tuan. Ini gadis yang Anda suruh untuk kami culik.”


Dengan sedikit gemetaran, ia menunjukkan gadis kecil yang mereka culik.


“Bodoh! Dia bukan gadis yang kumaksud!” bentak lelaki yang ada di bola kristal raksasa itu.


“Ta–tapi Tuan. Bola sihir yang diberikan oleh werewolf itu, menunjukkan bahwa dialah yang membawanya.” jawabnya sembari menunjukkan bola berwarna putih kecil yang ia temukan di kantong coat pink yang dikenakan oleh Ella.


“Masukkan saja dia ke ruang tahanan. Dan tunggu sampai mereka datang kemari, pasti gadis itu akan datang untuk menyelamatkan gadis kecil ini.” Ucap lelaki bermata merah dengan kilatan tajam yang penuh kekejaman itu.


“Baik, Tuan. Akan kami laksanakan,” ucap para penyusup itu segera membawa Ella ke salah satu ruang tahanan yang ada di bagian bawah kastil tersebut, setelah terputusnya sambungan komunikasi.


***


Ferdinand yang masuk lebih jauh menuju pelosok hutan, sembari menghabisi setiap makhluk kegelapan yang menghadangnya.


“Semakin aku masuk lebih dalam, semakin banyak makhluk yang menyerang.” gerutunya sembari mengelap wajahnya dengan saputangan, seolah berkeringat.


Ia menjadi waspada dan siaga, saat semak-semak di hadapannya itu bergerak dan bergemerisik. Seperti akan ada sesuatu yang muncul dan melompat dari sana.


Surai hitam kebiruan menyembul keluar dari semak-semak dan nampaklah rupa ayam yang butek.


“Ah? Ferdinand!” seru Vartan sembari melompat, hendak memeluk lelaki berambut abu-abu keperakan itu.


“Aduh!?” eluhnya saat merasakan tanah.


“Kejamnya kau Dinand ....” rengek ayam diabaikan oleh Ferdinand yang kembali berjalan ke jantung hutan.


“Eh? Tunggu aku!” seru Vartan sembari mengekor di belakang Ferdinand.


***


Nea memandang wajah Ares yang tenang. Dengan perlahan dirinya beranjak dari tempat tidur, tanpa membangunkan pemuda yang sedang terlelap itu.


Sang gadis kembali memakai pakaiannya. Namun urung, karena pakaian itu terlihat compang-camping. Iapun bergegas menuju ruang pakaian milik Ares dan mengambil baju serta beberapa hal yang ia butuhkan, dari ruang ganti tersebut.


“–ta ... Xita ....” terdengar suara lirih Ares memanggil namanya.


Nea pun menghampiri pemuda itu, setelah mengenakan pakaian. Didekatinya wajah Ares, dengan perlahan ia mengusap kening sang kekasih.


“Tenanglah sayang, aku di sini. Tidurlah lagi,” ucap Nea dengan lembut, seraya membelai rambut hitam keunguan itu.


Ares pun menutup matanya kembali dan terlelap dalam buaian mimpi. Seutas senyum tipis menghiasi wajahnya.


***


“?!” Rios yang keluar dari ruangan tempatnya menginterogasi dua werewolf muda itu, terkaget saat nampak di hadapannya. Pemandangan Mansion yang sudah porak-poranda.


“Apa yang telah terjadi di sini?” gumam Rios tak percaya.


“Dan kenapa aku tidak bisa mendarat di tempat yang kuinginkan?” imbuhnya dicampur gerutuan.


“Sepertinya dia benar-benar melaksanakan rencana itu.” celetuk Healey yang kemudian menutup mulutnya.


Rios yang mendengar perkataan itu, segera menurunkan Healey dan menatapnya tajam, menuntut sebuah penjelasan.


“Kami dengar, bahwa dia akan melakukan penculikan kedua. Jika kami gagal melakukannya.” jelas Valdis yang masih ada di tangan kanan Rios.


Pemuda bersurai gold itupun dijatuhkan oleh Rios dari tangannya juga. Valdis dan Healey yang sedang meringis kesakitan, akibat dijatuhkan. Merasakan hawa ingin membunuh yang menusuk ke arah mereka berdua.


“?!” ditatapnya dengan ketakutan, Rios yang menatap tajam.


Dengan geram serigala tersebut bergegas menuju tempat ia merasakan nonanya berada, yaitu kamar Ares. Tak butuh waktu lama, iapun sampai di depan ruangan tersebut.


“Nona!?” seru Rios yang dengan kasar membuka pintu kamar Ares.


Rios yang terengah-engah melihat Ares yang sedang duduk di atas tempat tidur, bertelanjang dada. Ia menatap tajam jendela yang terbuka lebar, menghembuskan udara dingin pagi hari.


“Dimana Nona?!” bentak Rios pada Ares.


Dengan tatapan kosong, Ares terus menatap ke arah jendela itu.


“?!”


... ~ ☽ ☾ ~


...


Hai hai hai~


Gimana ibadahnya?


Lancar kan? Syukurlah kalau lancar


Wah. Allen kenapa tuh? Xita kemana? 🤔


Ini kenapa culak-culik aja sih? -w-


Heran


All : *lirik tajam si paus biru


VR. : *keringat dingin bercucuran


Y–yaaa bagaimana pendapat kalian tentang Chapter kali ini?


Menurut kalian siapa dalang penculikan mereka? 🤔


Penasaran? 😏


Yaaa. Ikuti kelanjutan kisah mereka hanya di When The Night Comes.


°^°/


Lauryn : Jangan lupa like, comment, vote dan share


Na : Sampai jumpa di chapter selanjutnya, nya~


VR. : Hm? O.O


Na : Ehehe ....


...VR. Stylo


...