
Ares dan Nea menikmati guyuran salju bersama. Lantunan lembut butiran putih yang turun dengan anggun, membuat mereka merasa bahagia. Dalam suasana itu, tiba-tiba sebuah kenangan terlintas di benak Ares.
Eropa 24 Desember 1847
Deretan awan berwarna jingga yang berpadu dengan pink, menghiasi langit dikala senja. Terlihat lalu lalang warga yang mendekap kantong coklat yang berisi belanjaan mereka. Ada juga yang buru-buru pulang setelah bekerja dan lain sebagainya. Beberapa kereta kencana pun hilir mudik lewat bergantian.
Jalanan yang dihiasi dengan tumpukan butiran putih dingin, tak menyurutkan keinginan Briallen dan Noxita untuk keluar menikmati suasana kota disaat malam Natal. Noxita yang memakai gaun berwarna pink cerah, dengan mantel hangat terbuat dari bulu domba berwarna putih dengan topi putih. Merangkul lengan kekasihnya.
Briallen yang mengenakan setelan jas berwarna putih dengan sedikit ornamen berwarna emas di tepian jas yang ia kenakan. Bros yang terukir lambang Keluarga Duke Vangelis menghiasi bagian depan dadanya yang tegap. Sebuah pemandangan yang bisa membuat siapapun kagum atas keserasian pasangan tersebut.
Mereka berjalan bergandengan tangan sambil menikmati suasana yang dihadirkan di Vangelis Duchy ini. Wilayah yang makmur, dimana penghasilan utamanya berasal dari pertambangan batu permata. Tanzanite namanya. Sebuah kota yang berada dalam lingkup Vangelis Duchy.
Selain hasil pertambangan batu permata, wilayah Vangelis juga memiliki tanah yang subur. Hingga sektor agriculture mereka pun maju dan melimpah. Dan membuat persediaan untuk musim dingin pun tercukupi.
Itulah Kota Tanzanite, kota yang dihiasi dengan deretan pegunungan yang menjulang di sekitar wilayah. Tempat lahirnya ‘Mawar Hitam Kehancuran'.
Mereka berdua berjalan menyusuri hiruk pikuk ramainya jalanan kota. Berulang kali Xita hampir ditabrak ataupun disenggol pejalan kaki yang lain, namun dengan sigap Allen mengamankan dan melindungi Xita.
“Kita mau kemana Allen?” tanya Noxita dengan penasaran.
“Ke Panti asuhan sayang,” Briallen menjawab dengan lembut.
“Panti asuhan? Tapi aku tidak menyiapkan sesuatu untuk mereka,” dengan sedih Noxita menundukkan kepalanya. Briallen yang melihat kekasihnya murung, mengatakan.
“Tenang Xita, segalanya sudah aku siapkan.”
“Tapi tetap aku tidak bawa apa-apa,” Noxita menjawab dengan sedih. Briallen melihat sekitar dan menemukan plakat toko kue itu, mendapatkan sebuah ide.
“Jangan sedih sayang! Bagaimana kalau kita beli beberapa cake di toko kue depan itu,” usul Briallen seraya menunjukkan sebuah toko kue yang ada di depan mereka.
“Baiklah! Tapi aku beli sendiri!” pesan Noxita supaya Briallen tidak mengganggunya belanja.
“I–iya sayang. Belilah yang kamu mau,” Briallen hanya mengiyakan, terlihat sebutir keringat menghias keningnya.
“Oke, let’s go!” seru Noxita yang antusias. Dia menyeret kekasihnya agar segera menuju toko kue itu.
Sesampainya di toko kue, Noxita langsung membeli beberapa cake dan juga cookies serta cake-cake kecil lainnya. Briallen hanya bisa membelalakkan matanya, saat melihat belanjaan Noxita. Setelah berpesan untuk segera mengirimkan belanjaannya itu ke Panti asuhan Tanzanite, mereka kembali berjalan bergandengan tangan menuju kesana.
Bagi Briallen dan Noxita, menghabiskan waktu berjalan bersama itu lebih indah. Daripada naik kereta kencana. Lebih membahagiakan saat melangkahkan kaki menyusuri jalanan, sembari menikmati pemandangan yang tersedia.
Panti asuhan Tanzanite adalah sebuah tempat yang menerima, merawat dan mendidik anak-anak terlantar atau yatim piatu. Di sana mereka akan dibimbing untuk bisa mandiri, saat mereka dewasa atau saat mereka diadopsi. Menurut Duke Vangelis, warganya juga harus bisa baca tulis. Maka dari itu, Kendrick dan Cecile de Roosevelt Vangelis. Duke dan Duchess, mewajibkan warganya untuk belajar baca tulis.
Sesampainya di Panti, Briallen langsung mengajak Noxita untuk masuk. Mereka berdua disambut oleh anak-anak yang berlarian, memainkan permainan, bayi yang menangis. Terlihat seperti sebuah kekacauan. Seorang wanita paruh baya yang melihat kedatangan mereka, langsung menyuruh anak-anak untuk tenang.
“Anak-anak!” perintahnya. Anak-anak langsung patuh dan tenang. Mereka berbaris rapi dan memberi salam pada Briallen dan Noxita.
“Selamat datang Tuan dan Nona,” ucap mereka serempak. Noxita yang menyaksikan itu semua, merasakan sebuah kejanggalan. Saat ia hendak melihat dengan seksama, tangisan bayi makin terdengar kencang. Noxita segera menghampiri bayi itu.
“Ada apa ini?” tanya Noxita saat sampai di tempat sang bayi. Dilihatnya bayi tersebut, Noxita langsung terkejut.
“Kenapa dibiarkan saja?! Wajahnya memerah, tangisannya tidak berhenti juga. Badannya juga panas tinggi!?” Noxita mempertanyakan semua itu. Para perawat hanya diam dan tak ada yang berani bicara.
“Allen, cepat panggil dokter kemari!” perintah Noxita setelah ia menggendong bayi tersebut. Bayi kecil tersebut jadi agak tenang, saat didekap oleh Noxita.
“Anak pintar.”
Briallen kembali bersama seorang dokter dan segera memeriksa bayi tersebut. Noxita yang merasa aneh dengan keadaan anak Panti. Beberapa dari mereka ada yang kurang sehat, anak-anak itu juga terlihat memiliki luka pukul saat Noxita melihat dengan seksama.
“Allen ...” Noxita menghampiri Briallen dan memberitahu segala hal yang ia temukan sambil berbisik. Ekspresi Briallen terlihat berubah, ia kaget saat mendengar yang diberitahukan oleh Noxita.
Memang dirinya merasa aneh, saat ia ke Panti asuhan ini. Mereka tidak menyiapkan apa-apa untuk merayakan natal. Bukankah dana yang diberikan oleh Duke banyak? Briallen bingung dan tak menyangka hal ini.
“Baiklah Xita. Serahkan saja semua ini pada kami,” ucap Briallen perlahan. Noxita tersenyum dan mengajak anak-anak Panti untuk memakan cake yang ia beli tadi.
Mereka berdua tak mau menghancurkan malam natal yang diimpikan oleh anak-anak itu. Jadi Briallen hanya memberitahu dan memerintahkan pengawalnya untuk segera melapor pada Duke atas apa yang ia temukan. Supaya cepat diinvestigasi.
“Nah, silakan dinikmati cake nya!” seluruh anak Panti duduk manis di kursi meja makan dengan cake yang ada dihadapan mereka. Anak-anak itu menatap cake dengan mata berbinar.
“Terima kasih Nona Rosaceae!” seru mereka serempak dan mulai memakan cake mereka. Noxita merasa puas, melihat senyum bahagia mereka.
Noxita kembali menengok keadaan bayi tadi. Diapun menghela nafas lega, saat panas sang bayi sudah turun dan dia sudah tenang.
“Syukurlah.”
Briallen tersenyum melihat kekasihnya. Ia merasa bahwa Noxita adalah wanita yang memiliki sisi keibuan yang sangat terlihat. Dan itu adalah salah satu hal yang disukainya dari sang gadis pemilik hatinya itu.
Noxita melihat ke arah Briallen, dan sang pemuda membalas tatapannya dengan senyuman lembut. Membuat pipi Noxita bersemu merah dan membuang mukanya. Kenyataan bahwa Noxita masih tersipu malu ketika menatapnya, membuat Briallen heran. Namun hal itu justru dinikmati oleh sang pemuda dengan senang hati.
“Pfft ...”
Setelah anak-anak selesai memakan cake mereka, dengan rapi dan teratur mereka membuat barisan di hadapan Tuan Muda keluarga Vangelis itu. Satu persatu mereka menerima hadiah yang telah Briallen persiapkan. Dengan senyum bahagia, mereka membawa hadiah itu ditangannya. Noxita berada disampingnya, seraya membantu membagikan hadiah-hadiah itu. Seluruh penghuni Panti mendapatkan hadiah dari Briallen.
Senyum bahagia dan tulus terpancar dari wajah seluruh anak Panti. Mereka mengucapkan terima kasih banyak pada Tuan dan Nona muda tersebut. Briallen dan Noxita merasa puas melihat kebahagiaan yang anak-anak Panti perlihatkan.
“Tidak masalah, demi senyuman bahagia mereka. Kami dengan sukarela dan senang hati untuk berbagi,” ucap Noxita saat menggendong bayi yang demamnya sudah sembuh itu. Ibu perawat tersenyum lembut, matanya yang terlihat lelah membuat Noxita agak sedih.
Setelah mereka mendapatkan ucapan terima kasih dan senyum ceria anak-anak. Briallen dan Noxita pamit undur diri. Waktu menunjukkan pukul 7 malam, mereka menyusuri jalanan. Lalu Briallen mengajak Noxita masuk ke sebuah restoran mewah. Mereka duduk di meja yang sudah dipesan Briallen sebelumnya.
Setelah hidangan pesanannya datang, mereka makan dengan sesekali memandang satu sama lain. Dalam hati, mereka merasa sangat bersyukur. Karena bertemu dan memiliki kekasih seperti dirinya. Selesai makan malam, Briallen kembali mengajak kekasihnya ke suatu tempat.
Terdengar alunan musik dan canda tawa saat mereka mendekati tempat tersebut. Alun-alun kota nampak ramai oleh warga yang merayakan dan menikmati perayaan malam Natal. Pemandangan tersebut membuat mata Noxita berbinar dan senyum lebar mengembang di bibirnya.
Tak beda jauh dari perayaan lainnya, perayaan di Vangelis Duchy juga penuh dengan berbagai pernak-pernik khas festival. Ada yang berjualan makanan, aksesoris, permainan, hingga pertunjukan juga hadir di sana. Briallen dan Noxita mencoba satu persatu setiap makanan yang dijual. Tak lupa juga membeli aksesoris yang menarik perhatiannya.
“Xita. Ini untukmu,” sebuah gelang berhias batu permata berwarna pink, Briallen berikan padanya. Noxita menerimanya dengan senang hati.
“Terima kasih Allen,” rona merah terlihat saat Noxita tersenyum bahagia.
Noxita hendak segera memakainya, namun ia terlihat kesulitan untuk memasang gelang tersebut. Akhirnya Briallen mengajukan diri untuk membantu memasang gelangnya. Sambil berkata dalam hati.
“Xita ku tak akan mau merepotkan orang lain untuk hal kecil, walau dia sampai kesulitan sekalipun.”
“Sudah sayang,” ucap Briallen saat selesai memasangkan gelang di pergelangan tangan Noxita. Sang gadis lalu memberikan kecupan di pipi putih sang pemuda. Briallen sejenak tertegun saat merasakan bibir lembut Noxita di pipinya.
Saat tersadar, tangannya ditarik oleh Noxita menuju ke Piano yang diletakkan di dekat air mancur. Noxita menatap wajah Briallen dan berkata.
“Allen. Mainkan sebuah lagu untukku,” pinta sang gadis dengan mata berkaca-kaca. Tak kuasa melihat tatapan berkaca-kaca milik kekasihnya, ia langsung duduk dan mulai memainkan tuts-tuts piano itu.
Semua orang gembira mendengar alunan musik dari piano yang Briallen mainkan, mereka mulai berdansa dan bersorak riang. Tak luput dari pandangan Briallen, Noxita yang menikmati alunan lembut dari sang kekasih. Jari jemarinya menari di atas tuts-tuts hitam putih berjajar rapi itu. Ketika permainan selesai, Briallen mendapatkan tepukan tangan yang meriah dari seluruh warga yang menyaksikan pertunjukannya.
“Bagaimana Nona?” goda Briallen saat menghampiri Noxita. Noxita member 2 jempol ke atas pada sang pemuda. Pemilik manik biru saphire itu hanya bisa tersenyum lembut menatap gadis pujaannya.
Malam semakin larut, jam menunjukkan pukul 10 malam. Semarak perayaan semakin ramai. Briallen dan Noxita sedang berdansa diiringi musik yang dimainkan oleh para warga. Mereka berdansa dengan indah, melihatnya seperti sedang melihat sebuah karya seni agung.
Briallen yang rupawan, serta Noxita yang jelita. Pasangan serasi, yang terlihat layaknya ditakdirkan untuk satu sama lain. Membuat siapapun yang melihat mereka, seperti sedang disucikan dari segala keburukan.
“Allen ...” Noxita memanggil dengan suara yang lembut, membuat sang pemilik nama menatapnya dengan tatapan penuh cinta.
“Apa sayang?” sahutnya.
“Aku merasa sangat bahagia!” seru Noxita dengan senyum riangnya.
“Akupun juga merasakannya Xita,” ucap Briallen saat melakukan gerakan terakhir dansa dan menerima tepukan tangan yang meriah lagi.
Setelah berdansa, mereka berdua menuju ke sebuah kursi taman. Sambil membawa semangkuk sup hangat yang mereka beli sebelumnya. Menikmati kemeriahan perayaan malam Natal, Noxita jadi penasaran.
“Allen, kenapa di Tanzanite ada perayaan malam Natal yang seperti Festival ini?”
“Hum ... Karena ini adalah tradisi turun temurun dari kakek buyut ku sayang,” jawabnya. Noxita melihat sekeliling.
“Karena seluruh warga Tanzanite adalah keluarga dan malam Natal identik dengan merayakan bersama keluarga dong,” imbuhnya sembari menghabiskan supnya. Tepat saat itu sup milik Noxita juga telah habis.
“Mari Nona,” Briallen mengulurkan tangannya pada Noxita, diraihnya tangan sang pemuda oleh Noxita. Dan diajaklah dia ke suatu tempat.
~ ☽ ☾ ~
Haiyoo
Kembali lagi bersama saya
Hehe....
Wah! Xita mau diajak kemana tuh?
Kelihatannya mencurigakan nih.
Briallen: Hm ...
VR. : Ups! Ampun Bang.
Yaaa ... Tunggu saja di Chapter selanjutnya, karena Briallen serem. 😭
Saya mau kabur dulu. >
Briallen: •••••
Noxita: Jangan lupa tinggalkan like, comments, and vote sekalian share ya~ ♥
Intip IG @rirymocha1 untuk bertemu dengan kami.
...VR. Stylo
...