When The Night Come

When The Night Come
Fay



Noxita yang sudah menemukan keberadaan Briallen, terkejut saat sang pemuda kebingungan mencari adiknya. Briallan juga ikut menghilang, wajahnya terlihat agak panik saat melihat kesana kemari. Namun saat Noxita datang, Briallen bisa sedikit tenang.


“Allen kenapa? Kok terlihat bingung seperti itu?” tanya Noxita dengan cemas.


“Aku tidak apa-apa Xita. Aku cuma bingung, kemana Allan pergi?” jawab Briallen dengan sedikit berat.


“Allan hilang juga?!” pekik Noxita yang terkejut. Sang pemuda hanya bisa menganggukkan kepalanya perlahan dengan lesu.


“Lebih baik kita segera melaporkan semua yang kita temukan pada orang tuaku sayang. Agar segera dikerahkan pencarian di hutan ini,” ucap Noxita mengingatkan usul Briallen tadi.


“Baiklah, ayo!” Briallen kembali bersemangat dan segera membantu Noxita untuk naik ke punggung Rios, disusul dirinya.


Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di wilayah Blood Rosaceae. Ketika tiba di balai kota. Terlihat Duke dan Duchess Rosaceae yang menuju ke arah mereka, saat Briallen dan Noxita turun dari punggung Rios.


“Xita sayang. Kamu dari mana saja? Ayah dan Ibu khawatir,” ucap Kaila saat melihat Noxita kembali dan bersyukur karena putrinya dalam keadaan baik-baik saja.


“Saya dari tempat menghilangnya Lily dan mencari keberadaannya Bu,” jawab Noxita.


“Jadi bagaimana Xita? Mana Adikmu? Apa dia sudah ditemukan?” tanya Deaf tergesa-gesa, seraya menatap putrinya itu dengan serius. Noxita menghela nafas panjang dan berkata.


“Belum ketemu Ayah. Tapi kami mau melaporkan temuan kami.”


Noxita pun menceritakan apa saja yang ia temukan, pengakuan sang gadis di tempat hilangnya Lily. Serta kereta barang yang hancur karena menabrak batu besar. Dan juga Briallan yang menghilang saat mereka melakukan pencarian.


“Astaga! Briallan juga menghilang?” ucap Deaf tak percaya, Kaila pun ikut terkejut.


“Kumpulkan semua ksatria. Kita akan melakukan penyisiran di hutan Emerald!” perintah Deaf pada komandan ksatria-nya. Sang komandan hanya menganggukkan kepala dan segera melaksanakan perintah sang Duke.


Hutan Emerald, sebuah hutan yang konon dihuni oleh makhluk mistis nan ajaib. Pernah terdengar rumor, jika ada seorang pedagang yang melihat unicorn. Saat ia melintasi jalanan di bagian dalam hutan tersebut. Dan ada juga yang mengatakan, jika ada yang pernah bertemu dengan Elf. Tapi semua itu hanya rumor, karena yang menghuni hutan Emerald sebenarnya adalah....


Selepas persiapan rampung, Deaf segera berangkat ke hutan Emerald bersama para ksatria-nya. Kaila menunggu di Mansion bersama si Kembar. Noxita yang tak bisa tinggal diam, pergi bersama Briallen menunggangi Rios.


“Nona,” ucap Rios yang menarik perhatian Noxita.


“Apa Rios?” sahut Noxita, Briallen hanya mendengarkan.


“Sepertinya keadaan hutan itu berbeda dengan terakhir kita meninggalkannya,” terangnya. Noxita memandang sekilas hutan Emerald.


“Benar katamu Rios.”


Noxita menatap hutan Emerald yang nampak terusik. Terlihat seperti ada kubah transparan yang melingkupi seluruh hutan, para ksatria serta Deaf yang sudah sampai terlebih dahulu. Tak bisa memasuki hutan. Noxita lalu menyuruh Rios untuk bergegas, menuju ke tempat ayahnya.


“Ayah?” panggil sang gadis, sesampainya di dekat ayahnya. Deaf langsung menoleh dan melihat anaknya turun dari punggung serigalanya, diikuti oleh Briallen.


“Xita,” ucap sang ayah.


“Kenapa Ayah berhenti di sini?” tanya Noxita dengan heran.


“Kami tidak bisa memasuki area hutan Emerald, seperti ada sesuatu yang menghalangi kami untuk masuk.”


Deaf menundukkan kepalanya, merasa badannya lemas seketika. Karena ia tak bisa segera mencari putrinya. Noxita yang melihat ayahnya merasa suntuk itupun mencoba untuk memberi semangat padanya.


“Ayah jangan menyerah, kita belum boleh putus asa. Ayo Ayah, semangat!” ucap Noxita sembari menggerakkan tangannya ke atas dan bawah, mencoba memberikan semangat.


Deaf terperanjat ketika melihat tangan Noxita yang menembus pelindung transparan tersebut. Noxita terheran saat ayahnya menatapnya seperti itu, dan mengikuti arah yang ditatap oleh ayahnya. Ia akhirnya melihat apa yang dilihat oleh ayahnya. Tangan Noxita berada di bagian dalam sekat pelindung hutan Emerald.


“Xita?” ucap sang ayah serta pemuda bersurai hitam secara bersamaan. Noxita pun juga bingung dengan apa yang terjadi.


Salah seorang ksatria yang menyaksikan hal tersebut, segera mencoba untuk masuk lewat sekat pelindung yang ditembus oleh tangan Noxita. Namun tak berhasil, merekapun jadi bingung. Tapi saat Briallen mencoba memegang sekat pelindung itu, tangannya juga menembus seperti tangan sang gadis. Begitupun Rios yang mencoba menembus sekat dengan moncongnya.


“Sepertinya hanya kita bertiga yang bisa menembus sekat pelindung ini,” ujar Briallen seraya melempar sebuah batu, yang ternyata memantul kembali dan mengenai kepala salah satu ksatria hingga ia tak sadarkan diri.


“Um ... Sepertinya kita bertiga saja yang masuk dan mencari mereka,” usul Briallen.


Noxita mengangguk, namun ayahnya memegang tangannya. Sang gadis hanya menggenggam tangan Deaf dengan lembut, dan menatap wajahnya seolah berkata. 'Tenang Ayah, semua akan baik-baik saja.’


Deaf pun balas menggenggam tangan putri tertuanya itu dan memberikan tatapan penuh percaya. Dilepaskannya tangan sang putri dengan agak berat.


“Tenang saja Tuan Duke. Saya berjanji akan melindungi Xita dengan segenap jiwa dan raga,” ucap Briallen menenangkan ayah kekasihnya itu.


Iapun menyaksikan putrinya masuk menembus sekat pelindung itu bersama Briallen dan Rios dengan lancar. Deaf pun kembali berdiri dan memberi komando pada anak buahnya untuk bersiaga dan menjaga di luar sekat pelindung.


“Semua ksatria siaga! Jaga jangan sampai ada suatu hal yang tak diinginkan!” seru Deaf dengan lantang. Para ksatria pun menjaga dengan patuh.


Di suatu tempat


Briallan yang sampai di tepi sebuah danau yang airnya sangat jernih, terkesiap sekaligus takjub saat melihat sesosok makhluk melayang di atas permukaan danau.


Sang bocah terperangah dan terhipnotis oleh wajah makhluk yang rupawan itu, hingga ia mencoba untuk mendekatinya. Wajah makhluk tersebut tak bisa dilukiskan dengan kata-kata, karena ia bagaikan sebuah fiksi. Imajinasi makhluk terindah.


Briallan menapakkan kakinya di atas permukaan danau tersebut, ia bisa menapakinya. Namun seperti terhipnotis, Briallan tak sadar jika ia menuju hingga tengah danau. Sesampainya di tengah danau....


“Byur!” Briallan kehilangan pijakan dan tenggelam dalam air danau yang jernih tersebut. Iapun tersadar dan mulai panik, saat dirinya disambut oleh air yang dingin bagaikan es.


Noxita, Briallen serta Rios yang sudah masuk, menjadi bingung. Karena mereka berada di suatu tempat yang sangat berbeda dengan hutan yang sebelumnya mereka datangi. Bagaikan di dimensi yang berbeda, hutan tersebut tidaklah gelap. Padahal waktu mereka kembali ke sana, adalah malam hari.


Suasana hutan yang terlihat seperti saat siang hari, membuat Noxita dan Briallen takjub. Pepohonan dihiasi oleh butiran putih yang menumpuk, membuat mereka lebih heran lagi. Karena di luar sana sedang merayakan datangnya musim semi. Hutan tersebut terasa sepi, hingga mereka bisa mendengarkan langkah kaki serta detak jantung mereka sendiri.


“Dimana ini?” celetuk Briallen yang terheran.


“Akupun sendiri kurang tahu Allen,” sahut Noxita.


“Tetap waspada Nona dan juga Briallen, karena ini adalah hutan yang dihuni oleh Fay atau biasa disebut Faerie,” ucap Rios dengan melihat sekitar.


“Fay?” Briallen dan Noxita bertanya serentak.


“Iya, mereka sejenis peri. Namun bentuk mereka menyerupai manusia, merekapun ada yang baik dan ada yang jahat. Seelie dan Unseelie, si baik dan si jahat. Tapi tetap saja mereka sangat ....” terang Rios yang terpotong akibat dia mendadak menggeram, karena ada kabut menyelubungi mereka dengan cepat. Dan mereka merasa tubuhnya tertarik.


“Xita?!” Briallen berteriak dan mencoba untuk menggapai tangan sang gadis, Noxita juga melakukan hal yang sama. Namun semua itu sia-sia, karena dengan cepat mereka disekap oleh kabut putih itu.


“Allen!? Rios?!” “Nona?!” teriakan mereka terdengar memanggil satu sama lain, sebelum mereka menghilang bersama kabut putih tersebut.


Briallen yang tak bisa melihat karena cahaya menyilaukan muncul saat dirinya diselimuti kabut putih, sekarang membuka matanya ketika ia merasa tak ada cahaya lagi. Dia mulai membuka kedua kelopak matanya, namun hanya kegelapan yang mengelilinginya.


“?!” Briallen tersentak ketika melihat sekelilingnya yang gelap gulita. Samar-samar ia mendengar namanya dipanggil.


“–Llen ... Allen....”


“Xita?”


Sang pemuda mendengar suara kekasihnya, Briallen memejamkan kedua matanya lagi serta menajamkan pendengarannya dan mencoba mencari asal suara tersebut. Tetapi ia tak bisa menentukan dimana asal suara tersebut, karena dia mendengar suara itu dari segala arah.


Saat Briallen membuka matanya, ia terkejut karena dikelilingi oleh Noxita yang terkurung dalam sebuah kristal. Menggedor-gedor dan memanggil-manggil nama sang pemuda, memohon untuk diselamatkan.


“Xita?!”


~ ☽ ☾ ~


VR. : Wuush...


Saya datang kembali. >w


Wah wah.


Allan kenapa?


Xita terkurung?


Allen selamatkan Xita!!


Rios ilang.


Lily belum nampak lagi


Dx


Dasar author suka nyulik Chara nya


😤


*diseret Na


Na : Kakak berisik


*tidur dan jadiin VR kasur lagi


😶


Ferdinand : Jangan lupa like, comment, vote. Supaya VR. Semangat untuk ngetik naskah.


Lauryn : Kalian nggak ngelihat Aim di IG @rirymocha1 kan?


Dah. Mending nggak usah lihat! Awas aja kalian.


VR. : 😒


*lirik tajam Lauryn


Terima kasih atas dukungan kalian semua, dan dukung terus kami ya. 🤗


VR. Stylo