When The Night Come

When The Night Come
Kristal



“Apa itu?” celetuk Noxita seraya menunjuk ke kepala yang setengah tenggelam itu.


“Hiiiii!?” pekiknya lagi, saat melihat sepasang mata yang menatap mereka.


“Huh?!” mereka terkesiap, ketika kepala tersebut semakin banyak. Hingga hampir memenuhi danau.


“Apa itu Kak?” Noxita bertanya sembari menoleh ke Ferdinand.


“Mereka terlihat seperti Mermaid,” ucap Ferdinand yang melihat penampakan di danau dengan seksama.


“Mermaid Kak?” Noxita memastikannya sekali lagi. Ferdinand hanya mengangguk.


“Tapi kenapa mereka di sini? Di hutan milik para Fay,” sahut Rios.


“Entahlah. Bisa saja ini semua hanya ilusi,” sahut Ferdinand dengan tenang.


Kepala-kepala tersebut berkumpul di tengah danau dan mengelilingi kristal berisi Briallan. Saat para Mermaid sudah berkumpul di tengah danau, kristal tersebut seketika mulai turun mendekati permukaan danau.


“Allan?!” pekik Briallen melihat adiknya berada dalam bahaya. Briallen pun bergegas mendekati tepi danau, namun dihentikan oleh Lauryn.


“Minggir! Aku mau menyelamatkan adikku.” perintah Briallen yang tak digubris oleh wanita berambut orange gold tersebut.


“Tenanglah, Sayang. Lihatlah dalam danau itu, mereka menunggu kita untuk mendekat.” Ucap Noxita seraya menunjuk ke bagian tepi danau yang agak dalam.


Briallen terduduk, merasa kakinya lemas. Noxita pun mendekatinya dan menenangkannya kembali. Sang pemuda hanya bisa memeluk erat gadis tersebut.


Ferdinand mengarahkan tangan kanannya ke depan dan menciptakan sebuah bola sihir berwarna biru. Saat bola sihir tersebut sudah sebesar kepalan tangan, iapun melepaskannya ke danau. Air danau menjadi beku seketika, membuat kristal berisi Briallan berhenti memasuki air yang bening itu.


Melihat hal tersebut, Briallen berdiri lagi dan mencoba untuk mendekati danau. Air danau yang tadinya jernih dan sangat tenang, kini berubah menjadi beku dalam sekejap mata.


“Allen, tunggu!” seru Noxita yang berlari mendekati Briallen.


“Kenapa Xita? Kalau mau menghentikanku, jangan harap aku menurut.” Sahut Briallen yang membelakangi Noxita.


“Bukan begitu, Sayang. Aku mau memberikan semangat untukmu.” Ucap Noxita yang kemudian memberikan kecupan di pipi Briallen.


“Hati-hati ya, Sayang,” senyuman manis sang gadis, membuat Briallen tak mau kalah oleh para Mermaid ataupun Fay. Sang pemuda membalas dengan senyum percaya diri dan sebuah anggukan.


Briallen mulai mencoba menapakkan kakinya di atas permukaan danau yang membeku, perlahan serta agak ragu-ragu. Ia menjejakkan kaki dan berdiri di atas es tersebut. Noxita menyaksikannya dengan wajah cemas.


“Tenang Xita. Semua akan baik-baik saja,” ucap Lauryn mencoba menenangkan Noxita.


“Iya Kak Laury,” jawab Noxita agak ragu.


Briallen yang ragu-ragu melangkah, malah terpleset dan jatuh dengan keras. Noxita hanya bisa khawatir dengan kondisi kekasihnya itu.


“Aku tak apa,” ucap Briallen seraya berdiri kembali. Namun, kakinya ditahan oleh sesuatu.


Dilihatnya kaki kanannya yang digenggam oleh sebuah tangan dari dalam danau. Dengan cepat, tangan tersebut menarik Briallen ke dalam air danau yang dingin itu. Sang pemuda yang tenggelam, melihat rupa makhluk yang disebut Mermaid oleh Ferdinand.


Tak seperti di cerita dongeng, Mermaid ini hanya seperti ikan yang memiliki tangan dengan wajah mengerikan serta gigi-giginya yang runcing.


Matanya yang gelap, membuat korban tidak bisa melihat masa depan lagi.


“Aaaakkhhh?!” teriaknya terkejut karena ditarik.


“Allen?!” Noxita terkesiap mendengar teriakan sang pemuda dan hendak menyelamatkannya. Namun, Lauryn menghentikannya.


“Kak Laury. Allen dalam bahaya,” rengeknya yang berusaha melewati Lauryn, namun sang wanita tak mau melepaskannya.


“Tenang di sini Xita, Aim akan membereskan semuanya.” Lauryn mengajak Noxita untuk duduk di bawah sebuah pohon dan memberinya secangkir teh hangat.


“Minum dulu Xita,” ucap Lauryn dengan datar, namun terasa perhatian.


“Terima kasih Kak Lauryn,” Noxita pun meminum teh yang diberikan oleh Lauryn dengan patuh. Setelah habis setengah cangkir, ia mulai merasa mengantuk.


“Tidurlah, jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja,” terdengar suara sayup-sayup Lauryn yang mulai terasa jauh.


Noxita pun tertidur lelap, Lauryn beranjak setelah menyelimuti tubuh Noxita. Dan mulai menatap tajam ke arah seberang danau.


“Ketemu,” ucap Lauryn dengan senang.


Lauryn dengan cepat menuju seberang danau, dan menerjang ke satu pohon yang paling besar. Pohon tersebut ditebas olehnya, menggunakan belati yang sangat tajam. Dia tidak berhenti sampai situ, ia terus menyayat pohon tersebut hingga tak bersisa.


“Auryn-ku yang paling hebat,” ucap Ferdinand yang membuat pipi sang wanita merona.


Pemandangan indah danau dan sekitarnya pun lenyap beserta kristal yang berisi Briallan. Hanya menyisakan sebuah ruangan kosong dengan mereka berlima serta seonggok Fay yang tak berdaya.


“Sudah kuduga ini ilusi,” ucap Ferdinand yang membuat Rios menatapnya.


“Memang leluhur tidak bisa dianggap remeh,” gumam sang serigala, yang mendapat senyuman termanis dari Lauryn.


Briallen yang tadi sempat tak sadarkan diri, akhirnya membuka matanya dan melihat sekeliling. Ia heran, karena yang ia lihat saat ini adalah sebuah bangunan lagi.


“Sebenarnya kita berada di mana sih?” celetuk Briallen sembari menghampiri Noxita yang masih tertidur dan dijaga oleh Rios.


“Kerajaan para Fay. Bisa dibilang ini istananya,” jawab Ferdinand yang terdengar seperti lelucon bagi Briallen.


“Hey? Yang benar kau, kalau memberi informasi.” Sahut sang pemuda tak percaya.


“Eh? Mana Allan tadi?” tanya Briallen sembari mengangkat Noxita yang tak mau bangun.


“Yang tadi hanyalah ilusi, jadi itu bukan adikmu yang asli. Tenanglah sedikit,” Ferdinand berjalan menuju pintu keluar dengan tenang, meninggalkan Briallen yang menggendong Noxita di belakang sana dan diikuti oleh Rios.


Di tempat lain ....


Briallan yang tenggelam tiba-tiba terjatuh di sebuah tempat yang asing lainnya. Ia terjatuh dengan suara yang cukup keras. Benturan itu membuat ia tersadar, jika dirinya tidak tenggelam lagi.


“Huh!? Dimana ini?” ucapnya sambil bangun dan mengusap kepalanya yang terasa sakit akibat benturan tadi.


Tempat ini terlihat berbeda dari tempat sebelumnya. Pertama kali yang Briallan lihat adalah pepohonan hijau yang membentuk sebuah jalur, menuju ke sebuah tempat. Sang bocah menyusuri jalan yang dikelilingi pepohonan di kanan kirinya, tanpa takut ataupun curiga. Ia terus menyusuri jalanan tersebut.


Walau jalanannya kurang cahaya, karena sinar matahari terhalang oleh pepohonan. Briallan dengan berani mencari ujung jalan itu. Hingga ia melihat cahaya di ujung sana, aroma bunga pun tercium oleh hidungnya.


“Wangi bunga?” ucapnya agak heran, mengingat hutan yang ia masuki ini sedang musim dingin sebelumnya.


Dilanjutkannya langkahnya menuju ujung jalan. Setelah melewati jalan pepohonan, Briallan sampai di sebuah Padang bunga.


“Indah sekali ....” ucapnya dengan kagum.


Briallan mulai menjejakkan kakinya di atas rerumputan hijau, hamparan bunga warna-warni memenuhi pandangan sang pemuda. Kupu-kupu berterbangan kesana kemari, mengikuti desiran angin.


Tak henti ketakjuban Briallan sampai disitu, ia menelusuri jalan berbatu yang terasa nyaman untuk ia pijak.


“Jalanan ini sungguh luar biasa. Rasanya empuk,” ucapnya masih takjub.


Briallan terus berjalan sambil menikmati pemandangan bunga-bunga yang bermekaran dengan indah. Dia berhenti dan mendongakkan kepalanya, menatap langit biru yang cerah. Ia memejamkan mata, sembari dihirupnya udara yang segar nan sejuk.


“Terasa damai sekali di sini,” gumamnya.


Briallan terus berjalan, hingga ia menemukan sebuah tempat yang terlihat ramai. Didekatinya tempat itu secara perlahan, hingga ia bersembunyi di balik pohon yang ada disekitar situ.


Dari balik pohon, Briallan melihat seorang gadis yang terbaring di atas tempat tidur terbuat dari rerumputan dan berbagai macam bunga menghiasinya. Gadis yang kulitnya seputih salju, rambutnya sehitam malam. Bibirnya pink alami, nampak seperti warna bunga sakura. Ia tertidur dengan dikelilingi oleh berbagai makhluk.


“Cantiknya ....” gumam Briallan yang terpesona melihat gadis itu.


Ia terus melihatnya dari kejauhan, hingga seseorang datang menghampiri gadis tersebut. Orang itu nampak sangat indah, seperti orang yang Briallan lihat di atas danau sebelumnya.


“Dia yang tadi di danau itu!” seru Briallan dengan perlahan serta geram.


Briallan masih mengawasi mereka, makhluk itu mengitari sang gadis yang tertidur. Saat dia sampai di samping kepala sang gadis, ia dekatkan wajahnya. Menatap gadis itu dari dekat. Setelah puas menatap dekat wajahnya, ia kembali ke posisi awalnya. Yaitu di atas kepala gadis itu.


Briallan heran, karena tak tau apa yang sedang dilakukan oleh makhluk itu. Hingga makhluk tersebut mengeluarkan sebuah kristal, digenggamnya kristal tersebut dengan kedua tangannya. Iapun mengangkat kristal itu ke atas, dengan cepat makhluk tersebut mengarahkan kristalnya ke dada sang gadis.


“Hentikan!” Briallan yang berteriak karena melihat hal itu, hingga ia keluar dari tempat persembunyiannya.


Dengan cepat ia berlari menuju tempat gadis tersebut tertidur, namun semua itu percuma ....


~ ☽ ☾ ~


VR. : Huufft ....


Selesai deh. Maaf atas keterlambatan uploadnya 😭😭


Na: Selamat Kakak. 🤗


VR. : Na kuuu. (/'^’)/


*peluk Na


Terima kasih banyak atas dukungan kalian semua. ><


Na : Dukung kami terus ya. ^~^/


Briallen : *pergi masih menggendong Noxita


VR. & Na : *melihat tanpa berkomentar


Rios : *mengekor di belakang Briallen


Lauryn : Jangan lupa tinggalkan jejak kehidupan kalian


Atau kalian butuh bantuanku untuk meninggalkan kehidupan kalian di Like, comment, vote? ^^


VR. : Sadisnya kambuh deh ....


*bergumam


Lauryn: Hm? ^^


VR. : Tidak. Tak ada.


*pergi sambil menggendong Na


Fay : Saksikan dunia keajaiban kami, dengan cara Follow IG @rirymocha1


VR. Stylo