
Ada sepuluh Noxita yang terkurung dalam sepuluh kristal seukuran manusia. Briallen melihat mereka satu persatu, ia menjadi bingung dan panik. Manakah Noxita yang asli? Mana yang harus diselamatkan?
“Xita? Mana dirimu yang asli?” ucapnya yang dibalas dengan seruan serta tangisan keputus asaan memanggil-manggil Briallen.
“Aku yang asli Allen!”
“Tidak! Aku yang asli!”
“Aku disini Allen.”
“Aku yang asli Allen.”
“Aku! Aku!”
Para Noxita berteriak dan menggedor-gedor dinding kristal miliknya dengan putus asa, seolah nyawa mereka terancam jika berada di dalam situ lebih lama. Membuat Allen semakin bingung dan cemas dengan apa yang akan terjadi setelah ini.
Terasa hawa keberadaan sosok lain selain mereka, juga berada di situ. Tiba-tiba dari suatu sudut, nampak sesosok manusia yang berparas indah dan tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Ia menyeringai saat pandangannya sampai pada Briallen.
“Hai anak manusia, aku suka padamu. Maukah kau jadi milikku?” ucapnya dengan suara yang sangat merdu. Makhluk tersebut berdiri di hadapan Briallen dengan jarak sepuluh meter dan mereka berdua dikelilingi oleh kristal-kristal berisi Noxita yang menangis, menggedor dinding kristal dan memanggil-manggil nama sang pemuda.
“Siapa kau? Lepaskan Xita!” seru Briallen dengan tetap waspada.
“Janganlah kau terlalu waspada begitu. Marilah kita bermain terlebih dahulu,” jawabnya dengan tenang, namun meremehkan seraya menyeringai diapun menunjuk satu kristal dan kristal tersebut langsung hancur.
Briallen shock, melihat apa yang baru saja ia saksikan. Jantungnya memburu, keringat dingin mengucur menghiasi wajahnya. Kakinya terasa lemas, tapi ia paksakan untuk bertahan berdiri.
“Kenapa? Apa kau sudah mau menjadi milikku?” tanyanya lagi seraya menjentikkan jari, ia membuat dua kristal hancur dan lenyap.
Saat kristal hancur, Noxita yang ada di dalam sana berteriak dengan penuh keputusasaan. Hingga membuat Briallen tak sanggup untuk mendengarnya lagi.
“Lepaskan Xita! Kau makhluk tak punya hati,” ucap Briallen dengan suara bergetar. Makhluk itu hanya tertawa terbahak-bahak, melihat respon pemuda di hadapannya.
“Oh, ayolah. Kalau kau menjadi milikku, dia pasti akan selamat.”
Makhluk tersebut berputar sembari meregangkan kedua tangannya, membuat kristal-kristal itu ikut berputar. Hingga dua kristal saling bertubrukan dan hancur seketika. Menyisakan lima kristal.
Briallen semakin terperanjat dan terduduk, setelah menyaksikan hal tersebut.
“Apa maumu, hei penyihir?!” teriak Briallen yang terdengar menderita. Makhluk itu semakin tertawa kencang.
“Apa mauku? Apa mauku? Kan aku sudah bilang daritadi, aku mau kau jadi milikku. Dan ingat satu hal, aku bukanlah penyihir. Jangan samakan diriku dengan mereka!”
“Hah?!” Briallen mencibir seolah mengatakan, bahwa dia tak ada bedanya dengan penyihir yang jahat.
“Jika aku mau, apa yang akan kau lakukan?” tanya Briallen menantang. Makhluk tersebut menyeringai, merasa dirinya sudah menang.
“Aku akan membebaskan gadis itu dan menjadikanmu milikku selamanya,” ucap makhluk itu seraya mendekatkan dirinya ke Briallen.
“Sayang sekali. Aku tidak akan bisa jadi milikmu!” seru Briallen seraya menusukkan sebuah belati yang terbuat dari besi ke dada makhluk tersebut.
“Aaaarrhhh??!!” makhluk itu berteriak saat dirinya mulai hancur karena serangan Briallen.
Briallen bangkit dan menatapnya dengan pandangan mata seolah memandang sebuah kotoran. Saat makhluk itu sudah lenyap, kristal-kristal yang tersisa juga lenyap. Bagaikan ilusi, semua yang Briallen alami tadi hanyalah tipuan makhluk itu.
Sesaat Briallen terduduk tadi, telapak tangannya tergores serpihan kristal tajam. Namun tak merasakan sakit, walaupun berdarah. Jadi ia menyadari, jika semua ini hanya ilusi. Briallen menatap tangannya yang sudah kembali tanpa luka sedikitpun.
“Xita ku tak akan seperti itu. Asal kau tahu!” seru Briallen yang berlalu meninggalkan tempat itu menuju ke ujung yang bercahaya.
Di sebuah tempat yang lain....
Rios tersadar di suatu tempat, dilihatnya sekeliling. Nampak suasana yang tak asing baginya. Pepohonan menjulang tinggi, temperatur sekitar yang membuatnya betah dan ingin berubah dalam mode serigalanya. Suasana hutan yang mana mengingatkannya akan tempat asalnya yang sudah lama ia tinggalkan, iapun berbaring di bawah pohon favoritnya.
Hutan mistis tempat segala macam makhluk mitologi berlindung, hutan yang tak bisa dijamah oleh manusia. Karena berada di dimensi yang berbeda dengan dunia manusia, walau terkadang ada kondisi tertentu dan membuat seorang manusia tersesat hingga memasuki hutan tersebut.
“Wahai kau yang berkuasa di hutan ini, kenapa kau meninggalkan kami?” ucap seekor Unicom yang muncul dari balik pohon.
“Apa kau sudah melupakan tanggung jawabmu?” tanya seekor Centaur yang berjalan perlahan mendekati Rios dari depan.
“Tahukah kau. Apa yang terjadi dengan kami di sini sejak kau menghilang?” Harpy turun dari langit.
Rios bangkit dan berdiri, menatap sekelilingnya yang dipenuhi oleh berbagai makhluk mitologi. Mereka semua terlihat terluka dan berdarah-darah. Suasana hutan yang tenang, mendadak menjadi gersang dan hancur.
Sang serigala pun tersentak dan kebingungan. Nampak di netra Rios, rupa setiap makhluk yang terlihat menderita. Namun ia cuma menguap tanda bahwa dirinya bosan.
“Tunjukkan dirimu Fay!” seru Rios seraya merubah wujudnya ke mode manusia. Hembusan angin tiba-tiba muncul dan berputar di hadapan sang serigala.
“Ah. Benar-benar susah untuk menipu makhluk pilihan,” ucap makhluk yang menyerupai manusia, namun mempunyai rupa yang melebihi manusia.
“Huh?!” dengus Rios menatap tajam sosok di hadapannya itu.
“Kenapa kau meninggalkan wilayah tanggung jawabmu? Dan kenapa kau jadi bermain-main dengan anak manusia itu? Apa sebegitu menariknya anak manusia itu?” makhluk tersebut mencoba untuk memancing amarah Rios, namun ia hanya mengawasi gerak-geriknya saja.
“Coba saja kalau berani,” ucap Rios tanpa takut, jika makhluk itu sampai berani nekat.
“Oh ayolah Kirios. Biarkan aku bermain dengannya,” godanya yang membuat tali kesabaran Rios putus, hingga Fay tersebut menciut melihat Serigala yang murka.
“Ampuni saya Tuan Kirios, saya hanya bercanda. Saya sama sekali tidak serius untuk menyentuh Nona Anda sehelai rambut pun,” ucapnya sambil memohon-mohon.
“Sayangnya aku sama sekali tidak percaya ucapan Faerie sepertimu.” Rios pun menebaskan cakar kanannya pada Fay tersebut dan membuatnya lenyap seketika. Dan pemandangan hutan mistis pun hilang, menyisakan ruangan biasa yang tak berisi.
“Pantas saja dari awal aku merasa tak nyaman dengan hutan ini. Huh!? Baiklah, saatnya kembali pada Nona.”
Rios kembali ke wujud serigalanya dan pergi meninggalkan tempat itu, menuju ke arah pintu keluar. Sang serigala berjalan menggunakan instingnya, ia merasa kalau ia akan segera bertemu dengan Nonanya. Iapun segera berlari dengan cepat melalui berbagai ruangan yang ada, hingga ketika ia hampir sampai di pertigaan.
“Bruk?!”
Terdengar bunyi benturan yang keras. Rios merasa dirinya menabrak sesuatu, atau mungkin bisa jadi seseorang. Dilihatnya sesuatu yang ditabraknya tadi, dia menembus dinding dan tak sadarkan diri. Rios sadar, jika yang ditabraknya itu Briallen.
“Eh? Gawat ini. Bisa-bisa Nonaku sedih, melihat kekasihnya seperti ini dan memarahiku.”
Rios pun menggoyangkan tubuh Briallen menggunakan moncongnya, tak ada respon. Tak mau berpikir panjang dan lama, Rios pun melemparkan Briallen ke atas punggungnya secara melintang.
“Dah. Aku harus segera berada di samping Nona,” ujar Rios yang segera berlari dengan Briallen yang tak sadarkan diri di atas punggungnya.
Di tempat Noxita berada
Noxita yang membuka matanya melihat sekitarnya yang kacau, Noxita terperanjat. Saat ia melihat mayat tergeletak dimana-mana, ada Ayah, Ibu, Kakak serta adik-adiknya tak bernyawa bersimbah darah. Hingga netranya sampai di satu sosok yang terbujur kaku di sana.
Sosok yang sangat ia cintai, iapun terduduk lemas di hadapan tubuh tak bertuan itu. Direngkuhnya kepala sang pemuda, terasa ringan. Digenggamnya tangan dingin yang membuat merinding. Noxita menangis dan berteriak memanggil-manggil nama sang kekasih.
“Allen?! Allen!? Jangan tinggalkan aku sendiri!” ucap gadis itu memohon dengan nada pilu.
Muncul sesosok makhluk yang terlihat seperti manusia di belakang Noxita. Ia mendekati sang gadis dan mulai berkata.
“Lihatlah. Apa yang telah kau lakukan padanya? Kau membuat dia kehilangan nyawanya, kau yang telah membuat mereka mati.”
“Tidak! Tidak! Bukan aku!” ucap Noxita yang tak mempercayai ucapan makhluk itu.
“Oh ayolah. Kau yang mempunyai takdir terkutuk ini, berani bilang tidak?”
“Aku tidak seperti yang kau ucapkan!” Noxita makin menjadi. Ia membaringkan tubuh Briallen dengan perlahan.
Amarah sudah menguasainya, rambutnya yang hitam keunguan berubah menjadi silver. Matanya yang merah semerah ruby, berubah menjadi abu-abu keperakan. Taringnya mencuat.
Kuku-kuku jari tangannya pun meruncing.
“Kembalikan Allen ku!” suara yang sebelumnya lembut, sekarang terdengar parau dan menyeramkan.
Noxita yang dikuasai oleh amarah, bergerak dengan cepat menerjang makhluk itu dan mencengkeram erat lehernya. Mengangkat tubuh sang peri berwujud manusia itu ke atas, hingga membuatnya tercekik dan meronta-ronta. Dalam sekali hentakan genggaman tangan Noxita, makhluk tersebut hancur dan lenyap tak bersisa. Begitu juga dengan pemandangan di sekitar sang gadis.
Namun Noxita yang sudah mengamuk tidak bisa tenang, hingga ia mengeluarkan ledakan dengan sihir angin, api dalam satu serangan. Dan membuat dinding-dinding yang ada hancur berkeping-keping. Suara ledakannya membangunkan Briallen yang tadi tak sadarkan diri.
“Apa?!” teriaknya hampir jatuh dari punggung Rios.
“Diam kau Briallen!” seru Rios yang membuat Briallen seketika diam.
“Tapi itu Xita. Serigala bodo,” protes sang pemuda yang kemudian membuat Rios sadar dan berlari menuju arah asal ledakan.
~ ☽ ☾ ~
Yuhuuu
>o
Weekend nih (~’3’)~
Waduh Xita kenapa tuh? 😱
Allen juga kelamaan. 😒
Briallen : *menatap tajam VR. dan memberikan hawa membunuh
VR. : Sa ... Saatnya pergi. >
*Paus ngibrit
Briallan : Cek IG @rirymocha1 untuk bertemu dengan saya~
Na: Terima kasih atas semua dukungan kalian.
Mohon dukung kami terus ya
Jangan lupa like, comment, vote~ ♥
VR. Stylo