
Vartan yang tersadar akan kebodohannya tadi, segera menuju tempat Ferdinand dan Lauryn merawat Sylph. Nampak sang peri yang sudah tersadar, tapi masih tidak berdaya. Ia langsung
bersembunyi di belakang istri Ferdinand.
“Ferdi, Lauryn! Bagaimana keadaan Sylph?” teriak Vartan sambil mengatur nafasnya.
“Apa pedulimu?” sahut Ferdinand dengan dingin.
Nampak badai salju turun dengan deras di belakang Ferdinand dalam penglihatan pemuda bersurai hitam kebiruan itu. Diapun hanya bisa bergidik, merasakan
aura membunuh dari laki-laki itu. Dalam hati ia membatin.
"Dah mirip Abang aja."
Namun dengan cepat Vartan mengabaikan hal tersebut dan mencari Sylph. Peri kecil tersebut mengintip dan mata mereka bertemu, sang peri tersebut ketakutan dan bersembunyi di belakang Lauryn.
“Sylph ... tolong maafkan aku.” pinta Vartan dengan nada memelas.
Sylph hanya gemetaran ketakutan di belakang Lauryn, ia menolak untuk menampakkan dirinya.
Hingga ....
“Kruuuk!”
Suara besar perut yang keroncongan memecahkan keheningan hutan. Sylph semakin tidak mau menampakkan dirinya, karena malu.
“Ah? Kamu lapar Sylph? Hm ....”
Vartan tiba-tiba membelakangi mereka semua dan melakukan sesuatu. Mereka bertiga mencoba melongok, penasaran dengan apa yang dilakukan oleh pemuda itu. Ketika Vartan mendadak membalikkan badannya dan menghadap pada tiga orang tersebut. Ferdinand dan Lauryn hanya menatap datar. Namun Sylph terkejut dan spontan bersembunyi di belakang Ferdinand sekarang.
"Tadaaa!" seru pemuda itu dengan manik biru yang berbinar.
"Kue untuk Sylph!" serunya lagi dengan suara yang diserak-serakkan.
Pasangan suami istri itu masih tetap menatapnya datar, tetapi berbeda dengan sang peri angin tersebut. Ia masih menempel di belakang Ferdinand. Mendadak Sylph merasakan hawa membunuh yang sangat kuat, dengan perlahan ia melirik ke arah asal aura tersebut.
"?!"
Dengan ketakutan, Sylph terbang pergi menjauh dari mereka bertiga. Vartan yang memegang kue, tergagap karena peri kecil tersebut terbang menjauh dan masuk ke hutan. Mereka bertiga pun mengejar si peri angin tersebut.
***
Nea sedang bersembunyi di dalam celah yang ada di tebing. Lengannya terluka. Nea mengingat ketika dirinya hendak pergi ke arah Ares terasa, beberapa anak panah melesat ke arahnya. Makhluk yang ditungganginya berhasil menghindari anak panah tersebut. Namun tidak dengan satu itu, panah yang terlihat mengeluarkan aura hitam tersebut. Melesat dengan cepat dan menggores lengan kanannya, hingga berdarah.
Dilihatnya para monster yang tampak aneh itu, mereka diselimuti oleh aura hitam yang tidak mengenakkan.
"Ukh?!" Nea mengerang kesakitan.
Tanpa ia sadari, sesuatu merasuk ke dalam dirinya dengan perlahan. Nea yang waspada, melihat sekitar. Sedangkan makhluk berwarna biru langit itu berdiri di belakang Nea, sambil menghajar monster yang mendekat ke arahnya.
Hingga makhluk itu menyemburkan hawa dingin dan menciptakan dinding es yang menjulang. Monster-monster itu memukuli dan menghantam dinding es dengan senjata yang dibawanya, maupun tangan kosong.
"Ukh?! Kenapa mereka tiba-tiba menyerang?" gerutu Nea sambil menahan rasa sakit.
"Dih!"
Nea yang masih merasa tak bertenaga, sama sekali tidak bisa mengeluarkan sihir untuk menyerang ataupun melindungi dirinya.
Hingga dinding es yang melindungi mereka berdua hancur berkeping-keping, dengan segera para monster menyerbu ke arah Nea dan makhluk yang sedari tadi di belakang gadis itu.
Makhluk berwarna biru laut itu dengan cepat memeluk Nea berniat untuk melindunginya menggunakan tubuhnya dan melingkarkan sayapnya ke sekeliling tubuhnya.
Hingga si biru menggeram kesakitan, akibat serangan para monster. Nea menjadi sangat khawatir pada makhluk itu. Ia terus-menerus menyuruh si Biru untuk melepaskannya dan melindungi dirinya sendiri. Tapi dia sama sekali tidak mendengarkan Nea.
"Hey! Lepaskan saja aku! Lebih baik kau lindungi dirimu!"
Nea menyaksikan makhluk yang melindunginya itu terluka serius. Diapun panik, bingung juga kecewa.
Kenapa aku selemah ini? Apa yang bisa kulakukan? Aku pikir aku hanya bisa merepotkan orang di sekitarku saja. Dulu pun juga begitu. Hanya bisa membuat malu nama keluarga ….
Nea yang frustasi malah memikirkan yang tidak-tidak. Hingga ia mendengar sebuah suara.
Suara yang sangat kurindukan serta membuatku getir dalam waktu yang sama, tapi Allen tidak pernah mengatakan itu. Siapa? Suara siapa itu?
Perasaan Nea tiba-tiba berkecamuk, ia bingung. Mendadak dirinya merasa frustasi, kepalanya ia pegangi. Nampak banyak kenangan yang berkelebat dalam ingatannya. Tapi ia tidak tau, ingatan siapa itu.
Nea pun merasakan sakit kepala yang luar biasa. Hingga ia hendak menjambak rambutnya.
Di sisi lain Ares juga merasakan sakit kepala. Namun ia tetap harus melawan para lelaki berjubah hitam yang menghambur pada dirinya.
"Cih! Mereka tidak ada habisnya!?" gerutu Ares.
"Tetap fokus!" sahut Rios.
Nea yang merasakan sakit kepala hebat akibat ingatan yang ia merasa tidak dimilikinya, tiba-tiba ada sepasang tangan lembut memegang kedua pipinya dari atas.
"Tenanglah, belum saatnya kamu mengingatnya …."
Sayup-sayup terdengar suara lembut nan jernih membuat Nea tenang. Disaat ucapan itu berakhir, saat itu juga rasa sakit yang dirasakannya menghilang. Ia merasa dirinya sudah bertenaga lagi.
Dengan cepat Nea memusatkan mananya dan seketika mengarahkannya pada semua monster yang menyerang dirinya dan si biru.
Setelah mereka tersapu oleh sihir yang dilancarkan oleh gadis itu, para monster kembali pada diri mereka masing-masing. Aura hitam yang menyelimuti mereka pun hilang. Setelah mereka melihat makhluk biru besar yang ada di hadapannya, dengan segera para monster itu melarikan diri. Dan tak terlihat lagi.
Melihat tingkah para monster, Nea dan si biru saling menatap. Mereka bernafas lega. Namun dengan segera kembali sadar akan tujuan.
"Hai Biru. Aku tak tau kamu makhluk apa. Tapi … terima kasih atas tumpangannya. Dan … apa kamu mau mengantar dan membantuku?" tanya Nea dengan serius. Dia segera tertawa, saat tersadar jika makhluk tersebut tidak memahami apa yang dikatakan oleh dirinya.
Dengan semangat, makhluk itu kembali menaikkan Nea di punggungnya. Mereka pun kembali terbang.
***
3 hari telah berlalu, Ares masih melawan mereka tanpa henti. Dari gerbong belakang hingga mencapai gerbong tengah. Tiga dari lima gerbong telah dilewati Ares dan Rios. Namun mereka belum juga menemukan Nea dan juga Ella.
"Huh?! Mereka tak ada habisnya!" celetuk Rios.
"Kita terus maju!"
"Aku tahu."
"Bola sihir ini menunjuk ke depan sana. Jadi kita masih harus maju!"
Ares menjelaskan dan menerima anggukan dari Rios. Mereka berdua terus menerjang setiap yang menghalanginya.
Saat Ares sampai di gerbong kedua, hidungnya mencium bau darah yang menyeruak dari gerbong di depan. Dengan geram, Ares terus menyabetkan pedangnya pada setiap dari anggota berjubah hitam itu.
Ia merasa murka, hingga tak bisa berpikir dengan tenang. Ia sudah sedekat ini dengan Nea. Jadi ia tak mau berlama-lama lagi. Ia kerahkan energi auror pada pedang yang ia genggam itu dan langsung ia belah angin secara vertikal, hingga menyapu bersih anggota berjubah hitam itu.
"Nea!?"
Ares bergegas untuk ke gerbong dua. Betapa terkejutnya dia, saat menemukan Ella yang terkapar tidak sadarkan diri dengan darah yang hampir mengering.
"Apa yang sudah kalian lakukan pada Lily?!" tanya Ares dengan geram.
Boom!
...~ ☽ ☾ ~...
Hai semua ….
Maaf ya, saya sempat menghilang
Tapi jangan khawatir, saya akan berusaha untuk upload banyak.
Dukung selalu, vote, like, favorit. Komentar juga diperbolehkan kok
Oke, sampai jumpa
...VR.Stylo♪...