
Pergilah dan cari pemuda berkekuatan naga, beritahukan kepadanya lokasiku berada. Karena kau terhubung denganku, kau pasti bisa membimbingnya untuk ke tempatku berada, Sylph ….
"Baiklah Nona Lily, Sylph ini pasti akan menemukan dia dan segera membawanya untuk menyelamatkan Anda!"
Setelah mendapat perintah dari Ella, dengan berat hati, Sylph bergegas pergi meninggalkan gerbong. Menuju ventilasi udara, dia dengan yakin akan menemukannya dan segera menyelamatkan ratunya yang sedang tidak berdaya itu.
"Dasar manusia-manusia jahat, rasakan ini!"
Sylph geram dengan para anggota berjubah hitam tersebut, akhirnya menghembuskan angin kencang. Membuat yang ada di tempat itu menjadi kacau balau.
"Rasakan itu! Tunggu saja sampai aku menemukan pemuda yang dimaksud oleh Ratu."
Diakhiri dengan dengusan kesal, Sylph pun pergi meninggalkan tempat dimana lokomotif itu siap untuk berangkat. Iapun memasuki ventilasi udara yang sama sekali tidak memiliki cahaya.
"Gelapnya …."
Sylph bergumam sembari mulai menyusuri lubang tersebut. Ia terbatuk-batuk, akibat debu tebal yang baru saja ia lewati.
"Uhuk uhuk … manusia-manusia pemalas mereka sama sekali tidak membersihkan tempat tinggalnya. Huh!?"
Dengusan Sylph yang menjadi hembusan angin kencang, membuat debu berterbangan dan membuatnya terselimuti debu. Hingga dia terbatuk-batuk lagi.
"Manusia jorok!"
Gerutu sang peri kecil dalam hatinya.
Ia kembali menyusuri ventilasi tersebut, sampai ia tiba di pertigaan, diapun melihat ke kanan dan kiri. Sambil berpikir dan memiringkan kepalanya.
"Kanan … atau kiri …?"
Setelah lama berpikir, ia dikejutkan oleh sebuah suara gemuruh yang berasal dari ventilasi sebelah kiri. Sylph langsung waspada, terhadap apa yang akan datang ke arahnya.
"?!"
Nampak segerombolan tikus yang sedang mengejar seekor tupai kecil. Tupai tersebut terlihat ketakutan, dia panik karena tikus-tikus itu mengejarnya.
"Menunduk!"
Tupai tersebut langsung berhenti seraya menunduk dan dengan sekali hentakan, Sylph menyemburkan debu dengan bantuan angin ke arah para tikus. Mereka pun tidak bisa melihat dan segera mundur, seraya saling bertabrakan satu sama lain.
Sylph melipat kedua tangannya dan melihat mereka dengan ekspresi yang seolah berkata 'rasakan itu!'. Dia kemudian mendekati tupai yang tampak sedang gemetar ketakutan sembari tetap menunduk. Sang peri kecil mengulurkan tangannya perlahan, menyentuh kepala sang tupai.
Tupai tersebut tersentak ketika tangan Sylph menyentuhnya. Ia masih belum berani untuk menatap penyelamatnya itu. Karena takut, jika peri kecil tersebut adalah makhluk jahat.
Namun usapan lembut tangan mungil itu membuyarkan prasangkanya. Perlahan tupai itu mendongakkan kepalanya dan menatap wajah sang penyelamatnya. Nampak bola mata bening seperti angin dan putih selembut awan di hari yang cerah.
Tupai kecil yang nampak jauh dari tempatnya tinggal, mendadak menangis dengan deras. Sylph panik, ia bingung. Kenapa tupai kecil ini menangis. Dengan cepat ia memeluk tupai tersebut. Tupai yang sempat tersentak karena pelukan mendadak, seketika memasang wajah masam.
Diliriknya Sylph yang menangis lebih kencang darinya itu. Tupai kecil itu langsung menenangkan peri kecil yang tangisannya bisa membuat gendang telinga pecah itu.
Setelah tenang, mereka berdua saling bercerita. Tupai bercerita pada Sylph, jika dirinya tersesat ketika bermain di dalam lubang ini. Waktu dia mencari jalan keluar, ia malah bertemu dengan gerombolan tikus tadi.
Tupai kecil mulai menangis lagi, ia ingin pulang. Kembali pada ibunya.
"Tenanglah. Mari kita cari jalan keluarnya! Aku akan mengantarmu pulang pada Ibumu."
Ucapan Sylph yang bagaikan semilir angin, menyejukkan hati si tupai kecil dan menenangkannya. Dia kemudian menyeka air matanya sendiri, kemudian mengangguk dan mulai bersemangat kembali.
Mereka berdua menyusuri ventilasi sebelah kanan, karena para tikus tadi kabur ke sebelah kiri. Sylph dan tupai kecil saling berjalan berdampingan. Disaat ada persimpangan jalan. Mereka saling berpikir dan memutuskan, Sylph dan tupai akan menyusuri jalan yang sudah disepakati.
"Baiklah. Kita telusuri jalan yang kiri ya."
Sang peri angin dengan yakin mengatakan dan tupai juga mengiyakan. Karena menurut Sylph di sebelah sana tidak terasa ada keberadaan yang membahayakan. Merekapun menyusurinya. Sampai ….
"Aaah … maafkan aku tupai kecil, aku tidak merasakan jika ada laba-laba besar itu."
Sylph berlari di belakang tupai kecil, mereka berusaha kabur dari kejaran laba-laba besar berwarna hitam dengan mata merah itu. Mereka berlari kembali ke jalan sebelumnya. Sang peri yang melihat ke belakang, tiba-tiba tersandung dan jatuh. Tupai kecil berhenti, tapi tak berani untuk menyelamatkan peri kecil itu.
Makhluk besar itupun berhenti di hadapan peri kecil, hendak menyerangnya. Namun dengan cepat Sylph mengeluarkan tas kecilnya dan mengambil sebuah botol kaca berisi cairan berwarna biru.
Segera ia lemparkan botol tersebut ke depan laba-laba, saat botolnya pecah seketika cairan lengket menyebar dan menjebak makhluk berkaki delapan yang hendak menjadikan peri kecil dan tupai kecil sebagai menu makan malamnya.
Sylph menghela nafas lega, dalam hati ia berterima kasih pada Undine yang telah memberinya botol tadi.
Tupai kecil mendekati Sylph perlahan, ia merasa malu untuk berjalan bersama peri tersebut. Karena ia tidak membantu ataupun menyelamatkannya, saat ia memerlukan bantuan.
Tupai kecil tersebut langsung berlari tanpa arah, Sylph terkejut dan segera terbang mengejarnya.
"Tunggu!"
Sylph yang sampai di belakang tupai, segera memegang ekornya dan menahannya. Si tupai berteriak kesakitan, refleks Sylph melepaskan genggamannya pada ekor tupai. Si tupai langsung jatuh terguling-guling ke depan.
Si tupai menoleh ke belakang, melihat apa yang sedang dilihat oleh peri kecil tersebut. Seketika wajahnya bahagia, mereka berdua sudah menemukan jalan keluar. Pemandangan hutan di malam hari yang indah, jamur-jamur yang bercahaya dalam kegelapan membuat gelapnya hutan tak lagi terasa.
Nampak seekor tupai yang mirip dengan tupai kecil, hanya terlihat agak besar. Sedang menoleh ke kanan dan kiri, melihat sekitar. Seolah mencari sesuatu.
Tupai kecil yang sedari tadi berdiri di samping Sylph, mendadak berlari menuju tupai besar itu. Dihamburkan tubuhnya pada tupai besar, membuat si besar terkaget dan seketika tenang. Namun tak berselang, ia marah dan menceramahi si kecil.
Sylph hanya menyaksikan hal tersebut sambil sedikit memiringkan kepalanya. Nampak si kecil bercerita tentang sesuatu dan menoleh ke tempat peri kecil itu berdiri. Sylph yang merasa agak canggung, hanya melambaikan tangannya sebentar.
Tupai besar itu menghampiri sang peri kecil dan menggenggam tangannya, mengucapkan terima kasih atas pertolongannya pada anaknya itu. Setelah menundukkan kepala, sang tupai beserta ibunya kembali ke rumah mereka.
"Hm … saatnya kembali ke misi utama …."
Sylph yang bergumam mengamati sekitar. Hanya gelap sejauh matanya memandang. Ia petik satu jamur yang panjang dengan kubah yang kecil itu. Dibawanya sebagai penerangan untuknya.
Tapi hal itu berarti lain untuk para penghuni hutan ….
Tak lama kemudian, Sylph dikejar oleh burung hantu yang menerjangnya dengan cepat. Namun dia bisa menghindarinya, berkat perubahan gelombang angin yang tiba-tiba ia rasakan itu. Membuatnya bisa tahu arah serangan itu.
Setelah menghindari burung hantu, Sylph bergegas sembunyi di bawah salah satu jamur besar yang menempel di pohon. Sambil menahan nafas, ia memperhatikan sekitar. Nampak sunyi dan ia tak merasakan gelombang angin lagi. Seketika ia menghembuskan nafas beratnya, lega kembali dia rasakan. Kantuk tiba-tiba menyergapnya, iapun tertidur di antara akar jamur yang menempel di pohon.
Pagi tiba ….
Sinar matahari menyeruak, menyilaukan mata sang peri kecil. Tersentak ia bergegas membuka matanya. Berdiri di atas kubah jamur, ia bertekad untuk segera menemukan pemuda yang dimaksud oleh ratunya itu.
"Aku harus segera menemukannya!"
Sylph sangat bersemangat, hingga ia tidak menyadari sebuah ancaman yang menghampirinya dengan secepat kilat. Sang peri kecil membuka matanya, merasakan sakit disekujur tubuhnya. Nampak puncak pepohonan di bawah sana, dirinya tersadar jika dia sekarang berada dalam cengkeraman cakar burung elang.
Berbagai upaya ia lakukan untuk terbebas dari genggaman makhluk penguasa langit itu. Hingga ia teringat akan tas kecil ajaibnya. Dengan perlahan Sylph mengambil tasnya dan mencari sesuatu. Sebuah batu berwarna hitam ia keluarkan. Diapun menempelkan batu tersebut pada kaki elang dan meniupkan angin ke arah batu itu.
Seketika batu itu berubah warna menjadi merah dan membuat elang kesakitan. Karena hawa panas yang dikeluarkan oleh batu tersebut. Sylph terbebas dari cengkeraman cakar elang. Namun ia lupa untuk terbang, akibat terlalu senang telah bebas. Namun iapun juga sedang terjun bebas dan baru sadar saat akan mendarat di tanah.
Dengan panik, Sylph memanggil angin kencang untuk meniupnya. Agar ia selamat. Namun angin yang dipanggil oleh Sylph terlalu kencang, hingga membuat sang peri kecil terhempas jauh.
"Aaaaa …."
Sylph berteriak, hingga ia menabrak sesuatu.
"Terasa empuk, kenyal dan hangat. Aura ini?!"
Sylph membatin sambil masih tetap berpegangan erat pada sesuatu yang empuk itu. Sampai ….
"Plak!?"
"A … a–"
Sebuah tangan menepuknya bagaikan memukul seekor nyamuk.
***
Ketika Sylph sadar, ia ditatap oleh dua pasang mata berwarna abu-abu dan pink kecoklatan.
"Syukurlah kau sudah sadar Sylph." ucap si manik abu-abu dengan senang.
Sang manik pink kecoklatan menganggukkan kepalanya sembari memasang wajah datar. Air mata Sylph langsung mengalir deras, iapun refleks memeluk hidung Ferdinand. Namun dengan cepat ia lepaskan lagi, karena mendadak terasa hawa membunuh dari belakang.
"Ferdi! Lauryn! Gimana keadaan Sylph?" suara pemuda bersurai navy itu menyadarkan peri kecil pada kenyataan.
Pemuda sialan! Kalau saja bukan karena permintaan dari sang Ratu, aku nggak akan mau mencarimu!
Sylph menggerutu dalam hatinya. Melihat dia berdebat dengan Ferdinand, tiba-tiba perutnya berbunyi nyaring. Malu ia rasakan, dia bersembunyi di belakang Ferdinand. Menghindari tatapan semua orang.
"Sylph pasti lapar kan? Sebentar ya."
Sang peri kecil yang tidak tahu apa yang sedang terjadi di sana. Akhirnya ia melongok bersama Ferdinand dan Lauryn pun juga penasaran. Pemuda tersebut membalikkan badannya dengan cepat, membuat sang peri kecil terbang menjauh dari tempat tersebut.
"Tadaa … aku punya kue untuk Sylph …."
Ucapan pemuda itu disambut dengan wajah datar dari Ferdinand dan Lauryn. Vartan spontan terkejut, ketika dia melihat sang peri kecil sudah pergi jauh ke dalam hutan.
"Sylph??!"
...~ ☽ ☾ ~...
Catatan VR.
Sylph adalah peri angin yang memiliki kekuatan untuk mengendalikan angin. Setiap gerakan yang dibuat olehnya bisa membuat angin berhembus.
Berwujud seperti anak kecil, tapi dengan ukuran satu jari telunjuk orang dewasa. Peri yang memiliki rambut ikal sepundak berwarna putih layaknya awan di hari yang cerah dan mata sebening angin sejuk dengan warna yang sama dengan rambutnya. Memakai pakaian dengan rok selutut yang bergelembung lembut bagaikan awan.
Peri kecil satu ini sangat suka berpetualang, ia selalu bepergian kemanapun ia mau. Dia pun tidak enggan untuk dimintai tolong sebagai pengirim pesan (khusus untuk sang Ratu sih. Kalau orang lain yang minta, dia akan meminta imbalan berupa camilan manis).
...VR.Stylo ♪...