
Ares yang tak sadarkan diri, terjun bebas menuju dasar air terjun. Saat Vartan hendak menyelamatkan abangnya itu, ia mendapatkan serangan entah darimana.
"Cih?! Woy kau! Jangan sembunyi! Keluar sini lawan aku!" seru Vartan yang kebingungan antara menyelamatkan abangnya atau mengamankan Ella.
Serangan demi serangan dilancarkan dan menargetkan Vartan. Hingga sebuah serangan menancap di kaki kirinya. Ferdinand tersentak, ia khawatir pemuda itu akan menjatuhkan Ella karena kakinya terkena serangan.
"Ukh?!"
Vartan menahan erangan kesakitannya, karena ia takut membangunkan gadis yang ada di gendongannya itu. Diliriknya sesuatu yang menancap di kakinya itu.
"Anak panah?"
Spontan dirinya mengaktifkan pelindung aura naga ke sekelilingnya. Dan saat ia hendak menitipkan Ella pada Rios. Sekelebat bayangan dengan cepat melewatinya.
"Huh?!"
Ia melihat Nea yang menunggangi makhluk berwarna biru laut itu melesat terbang dengan cepat ke arah abangnya.
"Allen!?" teriak Nea yang kemudian mengeluarkan sayapnya dan melesat cepat ke Ares.
"Ukh?!"
Dirinya tak sempat lagi untuk membawa pemuda itu terbang, akhirnya memutuskan untuk memeluknya erat dan mengarahkan sayapnya pada sekeliling mereka. Pelindung berwarna emas menyelimuti mereka berdua.
Byuurrr!?
Ella kembali terkulai tak sadarkan diri, Vartan yang menyaksikan gadis itu mengerahkan kekuatan sihir terakhirnya. Hanya bisa melongo tidak melakukan apapun.
"Ah? Abang! Kakak Ipar?!" pekik Vartan yang kembali tersadar.
Hanya gemuruh air terjun yang menjawabnya. Vartan langsung panik dan menitipkan Ella pada Rios. Ia lalu pergi mendekati air sungai sekitar air terjun itu.
Dengan diikuti oleh makhluk besar berwarna biru laut tadi, ia menyusuri sungai Aurya, sembari melihat ke kanan dan kiri. Sungai Aurya, sungai ini berada di bagian terdalam hutan kegelapan. Memiliki air terjun yang konon bisa membawamu ke dunia bawah.
Bukannya menemukan Ares dan Nea, ia malah menemukan sosok yang menyerangnya tadi. Dia sedang mengarahkan busur panahnya ke arah Vartan serta dengan cepat melesatkannya.
"Hei?!" bentak Vartan saat dia menepis serangan itu dengan mengeraskan lengannya.
Vartan yang memiliki jiwa naga, bisa menggunakan kemampuan naga tersebut. Seperti sisik kerasnya, yang merupakan perlindungan terkuat selain pelindung kuat lainnya. Termasuk juga kemampuannya untuk melayang, walau tidak memiliki sayap.
Vartan langsung menghampiri sosok tersebut, tanpa pikir panjang. Ia lalu menangkapnya.
"Lepaskan aku makhluk hina!" umpatnya pada pemuda tersebut.
"Hoooo … apa kau peri?" tanya Vartan dengan bingung.
Respon yang pemuda itu dapatkan hanyalah tatapan sinis dari sosok tersebut. Matanya yang berwarna hijau zamrud, berkilau dengan ekspresi marah. Sylph menghampiri dan menghentikannya.
"Jangan kau serang dia, dia adalah orang kesayangan sang Ratu." ucap Sylph sembari menjelaskan bahwa dia diutus ratu untuk mencari pemuda ini. Agar diselamatkan olehnya.
"Baiklah baik. Aku percaya, karena Sylph tidak pernah berbohong. Walau dia nampak tak bisa dipercaya, apalagi diandalkan." ucap ketus peri yang berwujud seperti manusia itu.
"Ara …." ujar Sylph memperingatkan.
Dia yang dipanggil Ara, langsung tenang dan menghadap arah lain. Vartan memandang mereka dengan bingung.
"Dia Ara, salah satu peri penjaga di hutan ini. Dia memang jarang pulang ke kerajaan, karena dia menjunjung tinggi tugasnya. Mungkin itu penyebab dia tak tahu, kalau kau dekat dengan Ratu kami." jelas Sylph pada Vartan.
"Hoooo …."
Vartan mengangguk dan melirik Ara. Dilihatnya rambut pirang panjang nan lembut yang tertiup angin. Membuatnya lupa akan tujuannya kemari.
Sylph melihat Vartan yang bengong dan dengan cepat ia menendang hidung pemuda tersebut.
"Auch?! Apa sih Sylph?" protesnya pada peri kecil tersebut.
Sylph berekspresi marah sambil menunjuk ke sungai. Vartan pun mengingat abang dan juga kakak iparnya yang menghilang ke sungai.
"Aaa?!"
"Sudah ya. Terima kasih atas anak panahnya, kakiku masih berkedut rasanya." sindir Vartan setelah si biru pergi.
"Maaf, aku kira kau mau mencelakai sang Ratu."
"Baiklah, mari kita lupakan. Selamat tinggal." ucap pemuda tersebut sembari melayang dan menyusul si biru. Sylph juga mengikutinya, setelah melambaikan tangan pada Laila.
Diapun bergegas menyusuri sungai lagi. Hingga akhirnya ia menemukan mereka berdua di tepian sungai, setelah mencari selama satu jam. Vartan mendekati mereka berdua, begitu juga dengan makhluk besar berwarna biru laut itu. Dia mendarat di dekat mereka.
"Kau?!" ucap Vartan yang tersentak, melihat makhluk besar itu.
Sudahlah, nanti saja. Lebih baik selamatkan Abang dan Kakak Ipar.
Vartan berpikir dan segera mengangkat Ares dan meletakkannya di punggung si biru, begitu juga Nea.
"Beres. Sekarang kamu bawa mereka ke sana ya." ucap Vartan sembari menunjuk ke arah Ferdinand dan Lauryn berada.
Dengusan hawa dingin disemburkan ke arah Vartan, sebagai jawaban. Sebenarnya makhluk itu kurang suka dengan pemuda tersebut. Namun berhubung ini menyangkut Ares dan Nea, dia jadi melakukan apa yang dibilang olehnya.
Dengan hati-hati ia mulai melayang dan mengepakkan sayapnya secara perlahan. Seraya menjaga keseimbangannya dengan terbang lurus, ia pergi menuju arah dua dokter itu berada.
***
Mereka segera menuju ruang perawatan. Ares, Nea, Ella, Liz dan Ellard dibaringkan ke tempat tidur. Ferdinand serta Lauryn sibuk memeriksa kondisi mereka. Vartan hanya diam, tidak ada kerjaan yang bisa ia lakukan.
"Hei Ferdi! Aku juga terluka nih. Apa aku nggak dapat perawatan?" celetuk Vartan yang gabut.
"Apa Llan?" lirik Ferdinand sembari memegang scalpel, terlihat senyuman termanis miliknya ia tunjukkan pada Vartan.
"N–nggak Ferdi. Aku bisa mengobati ini sendiri kok …." ucap Vartan seraya mencabut anak panah yang sedari tadi masih menancap di kakinya.
"Tuh lihat!" imbuhnya sambil menunjukkan anak panah berlumuran darah.
Ferdinand tersenyum manis dan kembali memeriksa Ares. Namun pemuda yang ia periksa menolak dan berkata.
"Periksalah Lily terlebih dahulu, keadaannya sangat gawat." ucapnya dengan suara lirih.
"Kau sudah sadar lagi, Llen? Tenang saja, Baby Lily sudah dalam penanganan Auryn sekarang. Jadi tenanglah dan biarkan aku merawatmu." ucap lelaki berambut panjang keperakan itu dengan geram.
"Ba~ik …." jawab Ares yang mulai tenang.
"Xita gimana?" ucapnya ketika teringat dengan kekasihnya itu.
"Tidak nampak luka serius, kecuali beberapa luka yang terbuka. Akibat serangan yang ia terima."
"Obati Xita dulu saja!"
"Bisakah kamu tenang?" ucap sang dokter sembari menekan pundak Ares dengan kuat, supaya tetap berbaring.
"Baik …."
"Allan, bersihkan lukamu dengan disinfektan itu. Walau kau abadi, tapi luka tetaplah luka. Tidak akan membuatmu mati sih, tapi setidaknya nggak buat Baby Lily menangis atau jijik lihatnya membusuk." ejek Ferdinand ketika melihat Vartan acuh pada lukanya.
"Ah?! Oke." jawabnya segala mengambil disinfektan, kapas dan juga perban.
"Haissh …."
Selesai memeriksa dan merawat Ares, Ferdinand melirik simbol mawar putih dengan dua kelopaknya yang membuka di area dada Ares.
"Kalian melakukan penyatuan, ya?" tanya Ferdinand dengan wajah serius.
"Hum?" jawab Ares dengan ekspresi bingung.
"Tak apa. Aku akan merawat Xita sekarang."
Ares masih menatap rambut perak yang berlalu pergi itu dengan bingung. Disaat yang sama, ia merasa lega. Nea sudah kembali padanya dan adik-adiknya kembali dengan selamat juga. Walau beberapa luka-luka harus mereka dapatkan.
Pemuda bersurai hitam keunguan itu mengepalkan tangannya, ia marah. Pada mereka yang melukai Nea dan adik-adiknya. Dirinya bertekad untuk menemukan, menangkap serta membasmi mereka.
"Ukh?!"
...~ ☽ ☾ ~...
Hei hoooo. ><)/
Saya datang, membawa uang(?)
Eh? Cerita sih. 🤣 *plak
Gimana pendapat kalian WTNC sejauh ini? 🤔
Membosankan? 😭
Menarik? 🤔
Me me me yang lain? 😫
Na : Kakak … cepetan selesaiin yang 60. Udah ditungguin kakak-kakak pembaca tuuh!
VR. : Ah … Na … biarkan Kakak bernafas dahulu sebentar …. 🤧
Na : Jadi selama ini Kakak nggak bernafas? Amazing. 😱
VR. : N–nggak. Bukan gitu adikku yang emoy.
Kakak mau istirahat bentar, maksudnya. 😭
Na : Yaaaa. Tapi kakak-kakak pembaca udah nungguin dari 10 abad yang lalu tuh.
VR. : Tidaaaak …. 😱
*dilempar Rios ke para pembaca.
Na : Sampai jumpa di Chapter selanjutnya
Jangan lupa like, fave, share, Comment dan juga gift. Supaya kak VR semangat.
Daaah ….
^~^//
... VR.Stylo...