
Setelah Ella mendapatkan eskrim yang diinginkannya, mereka berdua menuju ke salah satu bangku yang ada di dekat situ.
Ketika hendak sampai bangku, Ella disenggol oleh seorang cowok, hingga eskrim yang dipegangnya jatuh. Sang gadis hanya bisa meratapi nasib kudapan dingin nan dingin miliknya itu.
Cowok yang menyenggol Ella hanya berlalu, seperti tak merasa menyenggol gadis tersebut dan tertawa karena asyik mengobrol dengan temannya.
Vartan memegang pundaknya dan menghentikan cowok tersebut, diapun menoleh dan mendelik serta membentak pemuda yang menghentikannya.
“Apa maumu?!”
“Hei! Kalau nyenggol seseorang tuh minta maaf!” ucap Vartan dengan kasar.
“Heh?!”
“Aku bilang untuk segera minta maaf!” terdengar suara parau yang menyeramkan keluar dari mulut Vartan, serta aura intimidasi kuat menguar darinya.
Seketika cowok tersebut segera minta maaf dan kabur meninggalkan Ella dan Vartan. Si gadis hanya bisa bengong, dengan apa yang terjadi.
“Sudahlah. Ayo, kubelikan eskrim lagi,” ajak Vartan yang membuat senyum merekah di wajah sang gadis.
“Dasar bocah. Seenaknya saja pakai kekuatanku,” gerutu Erebos yang diabaikan oleh Vartan.
Mereka kembali ke tempat penjual eskrim dan memesan berbagai macam rasa, seperti sebelumnya. Ketika Ella sudah mendapatkan eskrim yang dipesannya, terdengar suara lembut sang kakak berseru.
“Itu dia mereka!”
Terlihat Nea, Ares beserta Rios dan si Kembar menuju ke tempat Vartan Ella berada.
Sesampainya di sana, Ellard dan Liz menatap eskrim dengan mata berbinar.
“Ellard dan Liz mau rasa apa?” tanya Nea yang membuat kedua adiknya itu bersorak senang.
“Ellard mau coklat!”
“Liz mau strawberry!”
Si Kembar berseru dengan riang, sembari menyebutkan rasa yang mereka sukai. Nea memesan eskrim tersebut, tak lama dua cone dengan masing-masing satu scoop besar Eskrim beserta topping berada di tangan sang kakak.
“Ini sayang,” ucapnya seraya memberikan eskrim tersebut pada Ellard dan Liz, sesuai dengan yang mereka pesan.
“Dan ini untuk Xita,” sahut Ares yang memberikan semangkuk eskrim pada Nea. Sang gadis terkejut, karena dibelikan sebanyak itu.
“Allen harus bantu aku untuk menghabiskan ini! Karena ini kebanyakan untukku,” protes Nea sambil menggembungkan pipinya, Ares tertawa kecil dan berkata.
“Aku kira Xita bisa menghabiskan sebanyak itu.”
“Aku tidak bisa sayang. Karena aku bukan Ella, kalau dia seember eskrim pun bisa dihabiskan sendiri,” ucap Nea perlahan dan hanya didengar oleh Ares, Vartan dan Rios.
Rios sih tak peduli. Tapi Vartan yang mendengar hal tersebut, hanya bisa menatap Ella dengan takjub.
Ares menahan gelak tawanya, Nea mencubit lengan sang pemuda yang membuatnya kembali berwajah datar.
Ella hanya kebingungan memandang mereka sembari memakan eskrim-nya. Mereka bertujuh pun duduk di sebuah bangku dan mulai memakan eskrim-nya. Kecuali Vartan, ia meminum cola.
Tentu saja, Nea dibantu Ares untuk menghabiskan eskrim mereka.
Setelah habis, mereka kembali berjalan mencoba berbagai wahana. Serta mampir di toko suvenir.
Setelah membeli beberapa aksesoris, mereka memakainya dan keluar dari toko.
Ares Nea membeli sepasang gelang dengan kristal biru yang menghiasinya. Ellard memakai topi berhias telinga koala, sedangkan Liz sebuah bando dengan telinga kelinci sebagai hiasannya.
Rios memakai bando dengan telinga serigala, Vartan mengenakan topi bergambar kepala anak ayam.
“Ella beneran mau itu sayang?” tanya sang kakak pada adik perempuan tertuanya itu, sang gadis kecil menganggukkan kepalanya dengan mantap.
“Baiklah. Lagipula sudah dibeli juga,” celetuk Nea yang mendapatkan sebuah guliran sepasang mata, tanda malas dari Ella.
Sang gadis kecil berjalan sembari memeluk boneka paus biru dan juga panda, icon dari taman hiburan Delphinidin.
Dia terlihat kesulitan membawa dua boneka tersebut sekaligus, karena ukuran paus biru yang besar. Hingga cocok untuk dijadikan sebagai guling.
“Banyak amat belinya?” sindir Vartan.
“Suka-suka aku. Lagipula mereka berdua lucu,” sahut Ella sambil melenggang pergi.
Sang gadis hampir terjatuh karena tersandung kakinya sendiri, beruntung Vartan menahan tubuhnya dan membuatnya selamat.
“Hati-hati kalau jalan! Hampir saja kau mematahkan tanganmu.” Tegur Vartan dengan sedikit khawatir.
“Aku tak apa, terima kasih banyak,” ucap Ella yang hendak berjalan kembali, setelah dibantu berdiri oleh pemuda bersurai hitam kebiruan itu.
“Haissh ....” eluh Vartan yang kemudian merebut boneka paus biru dari rengkuhan kecil Ella.
“Hei!?” serunya tak terima bonekanya diambil.
“Biar kubawakan yang ini,” Vartan pun kembali berjalan menyusul yang lain, begitupun Ella. Dengan pipi yang bersemu merah.
Waktu menunjukkan pukul 11.30 malam, si Kembar menguap lebar. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menahan kantuknya. Ellard dan Liz bilang, bahwa mereka ingin melihat kembang api tahun baru.
Berkat usaha, koneksi serta apa yang sudah dikeluarkan oleh Ares. Mereka mendapatkan tempat dengan view terbaik untuk melihat kembang api tahun baru.
“Tidak kok. Kan pemilik bilang, kalau dia meminjamkan tempat ini pada kita.”
“Oh ....” ujar Nea yang berpikir, mungkin benar begitu.
Ares yang tiba-tiba merasa gemas karena melihat sang gadis di hadapannya itu, mencubit perlahan kedua pipi Nea.
“Allen?!” protes Nea yang mendapatkan gelak tawa dari Ares. Vartan seperti melihat pemandangan langka, ketika abangnya tertawa seperti itu.
Yaaa, terakhir melihat abangnya tertawa bahagia adalah dua abad lalu. Ketika dia selesai mengikrarkan sumpah setia di altar, kepada kakak iparnya itu.
Setelah Noxita tiada, abangnya sering hanya mengurung dirinya di kamar. Sembari meratapi kepergian kekasihnya dan betapa lemah dirinya waktu itu ....
Vartan menepis kenangan kelam lalu dan memandang Ella yang berdiri di hadapannya, sembari menunggu waktu hitung mundur yang kurang 25 menit lagi.
Namun Ella mendekati kakaknya dan berbisik padanya.
“Kak. Aku mau ke toilet sebentar ya,” bisik Ella pada Nea.
“Kakak temani?” usul Nea, yang mendapat gelengan kepala dari adiknya.
“Aku bisa sendiri Kak,” ucap sang gadis kecil dengan yakin.
“Baiklah, hati-hati ya sayang. Segera kembali, jika sudah selesai,” ujar Nea dengan agak khawatir, karena dia merasakan suatu firasat yang tak mengenakkan. Namun anggukan serta senyuman dari Ella, membuat Nea menepis firasat tersebut.
Ella beranjak dan pergi menuju tangga yang mengarah ke bawah. Turun satu tingkat dan mulai mencari letak toilet.
Mereka sekarang berada di rooftop salah satu gedung yang ada di taman hiburan Delphinidin. Dan toilet ada di dalam gedung tersebut.
Setelah bertanya pada salah satu Staff yang kebetulan ia temui, Ella segera memasuki ruangan dengan tanda toilet perempuan itu. Sang gadis lupa meninggalkan panda-nya dan tetap membawanya ke toilet.
Sebelum memasuki bilik toilet, boneka tersebut ia letakkan di dekat wastafel. Ella pun menunaikan urusannya. Setelah selesai ia segera kembali sambil membawa panda-nya.
Namun saat ia keluar toilet, ada sepasang tangan besar yang membekapnya.
“Umph?!”
... ~ ☽ ☾ ~
...
Hae~ '-')/
Back to my channel
Oke, setelah kemarin saya menghukum anak-anak.
Sekarang enaknya ngapain ya? *mikir
Na: Kakak~
VR. : Iya sayang?
Na : Ferdinand membuat percobaan aneh lagi ....
VR. : Hm?
Apa itu?
Boom!?
*terdengar suara ledakan dan kemudian tempat
VR. berada penuh dengan asap
VR.Na: Uhuk uhuk?!
*muncul bunga di atas kepala VR.Na
Na : Cantik sekali Kakak
VR. : Heh?
*melihat ke cermin dan seketika memegangi kepala dengan histeris
Dinaaaannnnddddd???!!!!
*kejar Ferdinand
All : Jangan lupa like, comment, vote dan share
Ikuti perkembangan WTNC di @rirymocha1
*tumbuh bunga di atas kepala semua orang
Rios : *sekujur tubuh jadi berwarna pink
...VR.Stylo
...