
Ella yang dibekap meronta-ronta, berusaha untuk melepaskan dirinya. Iapun menggigit tangan yang membekap mulutnya itu, ketika bekapannya agak longgar.
“Cih!?” terdengar suara seorang cowok yang berat sedang mengumpat karena tangannya digigit.
Ella segera melarikan diri dan berlari tak tentu arah. Ketika dia hendak ke roof top, jalan masuk menuju kesana dihadang oleh seseorang yang terlihat seperti komplotan orang yang membekapnya tadi.
Karena panik, ia malah masuk ke dalam lift dan turun ke lantai dasar gedung berlantai empat tersebut.
Setelah sampai di lantai bawah, sang gadis segera berlari keluar gedung dan entah kemana. Ia terus berlari, hingga tak sadar jika bonekanya sudah lepas dari rengkuhannya. Entah sejak kapan. Karena dia sudah tidak peduli.
Karena baginya, menyelamatkan dirinya lebih utama. Apalagi orang-orang tadi terlihat sangat menakutkan.
“Apa dia juga dari klan Serigala?” celetuk cowok bermata hijau sambil tertawa, karena melihat temannya digigit oleh gadis kecil tersebut.
“Entahlah. Yang pasti gigitannya lumayan sakit,” jawab temannya yang memiliki pupil amber.
Merekapun segera mengejar sang gadis, dengan hendak keluar dari jendela gedung itu. Namun urung, karena banyak orang berkerumun di sekitar tempat tersebut. Akibat kembang api yang akan diluncurkan.
Benar saja, karena saat itu waktu menunjukkan pukul 11.55 p.m. Banyak orang sudah menunggu saat ini, begitupun mereka. Yang hendak membawa gadis yang mereka incar.
Dengan segera mereka menuruni tangga hingga ke lantai satu, sesampainya di sana mereka langsung menuju pintu keluar.
Kedua cowok misterius tersebut mengedarkan pandangannya dan mengambil sebuah arah, membelah kerumunan orang. Mereka mengejar Ella.
Nea yang merasa jika adiknya menghabiskan waktu yang lama untuk ke toilet pun, merasakan kegelisahan. Karena sang gadis kecil tak kunjung kembali. Ares yang tidak suka jika melihat kekasihnya murung dan gelisah seperti itu, akhirnya bertanya.
“Xita kenapa?” tanya Ares dengan khawatir.
“Ella. Dia belum juga kembali dari toilet, apalagi sudah hampir waktunya untuk peluncuran kembang api yang dia nantikan,” ucap Nea, terdengar agak panik.
“Mari kita cek di toilet,” usul Ares yang mendapat anggukan lemah dari Nea.
Mereka berdua turun ke bawah, saat hendak menuju pintu. Vartan bertanya.
“Mau kemana Bang?”
Pertanyaan pemuda bersurai hitam kebiruan itu hanya mendapat lirikan tajam, yang berarti ‘urusi saja urusanmu sendiri'.
“Iya Bang iya. Jangan lupa pakai pengaman!” seru Vartan yang sudah tak terdengar oleh Nea.
Ares hanya meredam emosinya, karena dia fokus untuk membuat Nea tenang. Ia berpikir akan memberikan hadiah pada Vartan, sekembalinya dari memeriksa keadaan adik sang kekasih.
Sesampainya di toilet, mereka hanya menemukan bilik-bilik yang kosong. Nea terlihat semakin bingung, cemas dan kalut.
“Tenang sayang, kita pasti akan menemukan adikmu.” Ucap Ares mencoba untuk menenangkan sang gadis yang ada di hadapannya itu.
“Ayo kita cari dia!” seru Nea dengan suara yang menahan tangis.
Hati Ares terasa sakit, saat mendengar suara sang gadis yang bergetar. Karena menahan tangis. Sang pemuda bertekad untuk menemukan adik Nea, apapun yang dibutuhkan. Akan ia kerahkan.
“Tenang sayang, kita pasti akan menemukan adikmu.”
Mendengar ucapan sang pemuda, gadis berpupil merah muda itu tersenyum menatap sang kekasih penuh harap. Ares mengusap air bening nan hangat, yang berada di tepi pelupuk mata Nea.
“Akan kulakukan apapun untuk menemukannya.” ucap Ares yang membuat Nea sedikit tenang. Dan saat dia melihat ke wajah sang pemuda, ia menemukan sebuah kamera cctv berada di pojok langit-langit mengarah ke bagian depan pintu toilet.
“Ares, lihat!” seru Nea menunjuk kamera tersebut, sang pemuda seketika melihat ke arah yang ditunjuk oleh sang gadis.
“Aku akan menghubungi Vartan. Supaya dia mengurus perihal kamera cctv, kita akan mencoba untuk mencarinya di luar.” Ucap Ares seraya mengeluarkan handphone-nya dan menghubungi nomor sang adik.
“Halo Bang. Ada apa? Apa Abang lupa pengaman?” tanya Vartan bertubi-tubi yang membuat Ares semakin ingin memukul pemuda bersurai hitam kebiruan itu.
“Bisakah kau mengakses cctv yang ada di gedung ini?” ucap Ares dengan nada yang terdengar menyeramkan serta penuh penekanan.
“A–ah .... Ba–baik Bang,” jawab Vartan yang langsung mematikan sambungan teleponnya.
Terdengar Ares yang mendecak kesal dengan raut wajah jengkel. Nea hanya bisa menatap dengan bingung, sambil memiringkan kepalanya.
Ella yang terus berlari, tiba-tiba mendengar suara yang memanggil-manggilnya. Ia berhenti sejenak dan melihat sekeliling, nampak sebuah taman dengan berbagai macam bunga yang mekar. Walau masih musim dingin.
Sang gadis kecil yang heran harus menepis rasa penasarannya, ketika ia kembali mendengar suara yang memanggil-manggilnya.
“Kemarilah, di sini aman. Kau tidak akan ditangkap oleh mereka.”
Ella melihat sekeliling dan sebuah jalan yang terang dengan banyak kilauan bubuk kelap-kelip. Sang gadis kecil merasa takjub, melihat keajaiban yang terpampang di hadapannya. Namun ia seketika kembali pada kenyataan, bahwa tempat itu terlihat mencurigakan.
Ketika ia mendengar suara derap langkah kaki yang berlari dan menengok untuk melihat dua orang cowok misterius yang sebelumnya ingin menculik dirinya terlihat di kejauhan. Iapun segera mengikuti arah suara itu berasal.
Masuk ke dalam jalur yang dikelilingi oleh pepohonan dengan jalan yang terang bermandikan Kilauan kelap-kelip. Namun bukan kunang-kunang.
“Hah?! Kemana gadis itu pergi?” ucap cowok bermata amber dengan bingung.
“Tadi dia di sini kok,” si pupil hijau celingukan mencari keberadaan sang gadis kecil.
“Cari terus! Gunakan itu untuk melacaknya.” sahut si cowok bersurai gold itu.
“Iya. Ini juga lagi kulakukan,” gerutu cowok satunya yang memiliki rambut perak tersebut.
Mereka berdua mencari. Namun tak terlihat sehelai rambut dari sang gadis kecil pun.
“Aah .... sudahlah, dia sudah menghilang.” ucap si amber bersurai gold itu.
“Sepertinya lebih baik kita kembali saja,” cowok bersurai silver itu melirik cowok amber dengan mata hijaunya.
“Ya. Ayo!” jawab si pupil amber, mereka berdua seketika menghilang dari tempat tersebut.
***
Nea yang fokus mencari sosok Ella di tengah keramaian orang yang menanti pergantian tahun, terus membelah kerumunan sembari bilang permisi dan maaf.
Hingga ia hampir menabrak tiang lampu ketika membelah kerumunan. Namun Ares yang setia mengikuti di belakang Nea, menghentikannya sebelum terjadi tabrakan.
“Hati-hati sayang! Hampir saja kau juga celaka,” tegur sang pemuda yang memegang lengan sang gadis untuk menghentikannya.
“Ah?! Terima kasih Allen,” Nea yang terkesiap karena hampir menabrak tiang lampu, merasa beruntung karena Ares mengikutinya.
“Tring tring!”
...~ ☽ ☾ ~
...
Hayoo~
(*-*)/
Back to my channel. (~’3’)~
Tapi sekarang biar Na yang ngisi. (*-*)/
Silakan Na. ( *-*)/
*arahkan sorotan kamera ke Na
NA: (///) H-Hai ..., kembali lagi sama aku.
um....
Xita: "Rios Apa yang terjadi dengan bulumu? Mengapa semuanya jadi warna pink?"
*menahan tawa
Rios: ・・・*Melirik Ferdinand sambil menggerang
Lily: Apa yang terjadi dengan kalian? Hai Rios, ada apa denganmu? 😆, imut sekali"
Briallen: *tiba-tiba datang dan melihat xita menahan tawa "Xita kamu kenapa me..."
Xita: *menunjuk rios
Briallen: *melihat kearah yang ditunjuk dan... "pffft, kamu ngapain Mewarnai dirimu dengan warna pink begitu?"
Mereka semua tertawa dengan apa yang terjadi oleh Rios. Disisi lain Na melirik Dinand dan memerintahkan rios menggigitnya.
Na: "Paman serigala akan kuberikan 12kg Daging jika kamu dapat menggigit Ferdinand."
Rios: "Baiklah, pas sekali aku juga sangat kesal dengan ulahnya."
NA: "Serbuuuw"
Rios: *Auuuuuuu~
Ferdinand: *Kaboooor~
All: *Menonton Dinand dikejar Na dan Rios
VR. : *Hadeeh memutar sorotan kamera ke arah VR., "Ingat! Jangan lupa like, komen, share, and vote ya!"