
Ares yang murka, memancarkan energi sihirnya. Dengan serentak sekelilingnya seketika membeku, iapun membekukan dua orang yang menjaga tempat Ella berada. Namun hal itu juga membuat suara ledakan keras di gerbong belakang.
"Boom!!"
Kekuatan sihir yang Ares pancarkan juga menjadi pemicu pengaktifan bom anti sihir yang telah dipasang oleh anggota berjubah hitam tersebut.
"?!"
Ares dan Rios tersentak. Gerbong paling depan terasa berguncang.
"Kenapa ini?!"
"Akupun kurang tau."
Ares dan Rios bingung dengan situasi yang terjadi. Hingga seseorang berucap.
"Hahaha … sekarang kalian akan menjadi persembahan untuk kebangkitan sang Penguasa kegelapan." ujar si gendut yang kepala tidak membeku.
"Kau telah mengaktifkan bom anti sihir dengan tanganmu sendiri, terima kasih karena sudah sukarela untuk menjadi tum–." imbuhnya yang terhentikan karena ia telah dibekukan sepenuhnya oleh Ares.
Ares terdiam, ia bingung dengan apa yang harus dilakukan sekarang. Namun Rios menyadarkannya.
"Sekarang kita harus segera membawa Adik Nona Xita dan bergegas keluar dari sini!"
"Ah iya. Kau benar."
Ares segera menghampiri Ella, dilihatnya kondisi adik kesayangannya itu yang sangat memprihatinkan. Namun ketika dirinya hendak mengangkat tubuh gadis itu, sebuah petir menyambarnya. Tanpa persiapan, serangan tersebut berhasil mengenai pemuda bersurai hitam keunguan itu.
"Allen?!"
Rios menghampirinya dan berdiri di hadapan Ares yang ambruk. Sang serigala mengamati sekitar, sampai ia menemukan Liz berdiri di ujung gerbong bersama dengan Ellard yang terlihat aneh.
"Liz … Ellard …?"
Rios menatap mereka, nampak wajahnya yang kebingungan.
"Kenapa kalian ada disini? Bukankah Lauryn membawa kalian ke tempat yang aman?"
Rios bertanya dengan masih bingung. Tak lama kemudian, ia melihat aura hitam menguar dari tubuh mereka dan menyelimuti si kembar. Dengan sekali hentakan mereka berdua melesat ke arah sang serigala.
"La fire!" ucap si kembar bersamaan sembari mengeluarkan serangan bola api yang diarahkan ke Rios.
"Anak-anak … kalian kenapa?"
Pertanyaan Rios hanya direspon wajah datar dengan tatapan mata yang kosong dari si kembar. Setelah dia mengaktifkan mata serigalanya, iapun melihat benang-benang transparan menempel pada tubuh Liz dan Ellard. Layaknya boneka, mereka berdua sedang dikendalikan.
"Ukh?!"
Rios tak bisa banyak bertindak, karena pasti nanti perlawanannya akan melukai si kembar. Ia memasang pelindung sihir di sekitar Ares dan Ella. Ketika selesai, ia mulai menghindari tiap bola api dari mereka berdua. Dengan gerakan kilat, Rios melompat ke atas si kembar dan menyabetkan cakar yang diselimuti cahaya putih pada area ia melihat benang-benang transparan tadi. Lalu ia menampakkan kakinya di belakang mereka.
Seketika Ellard terjatuh dan dengan gerakan kilatnya, Rios segera mengamankan Ellard dan membawanya ke dalam sisi pelindung sihir.
Guncangan hebat terasa kembali, gerbong 4 dan 3 sudah hancur seketika. Bongkahan-bongkahannya berjatuhan menghantam dasar air terjun.
Ya, mereka sekarang sedang menyusuri air terjun. Lintasan kereta yang tidak nampak, membuat mereka tak tahu kemana arah yang dituju lokomotif ini. Karena Ares dan Rios hanya fokus pada tujuan mereka, yaitu menyelamatkan Nea. Pada awalnya ….
Namun sekarang mereka fokus untuk menyelamatkan adik-adik Nea.
"Ukh?!" eluh Ares yang nampak tersadar kembali.
"Akhirnya kau sadar lagi!"
"Yaa … maaf sudah membuatmu kerepotan."
"Tak masalah, daripada aku nanti dicuekin oleh Nonaku."
"Baiklah … terima kasih Rios."
Ares lalu bangkit dan berdiri dengan terhuyung. Rios yang melihatnya merasa agak khawatir, tapi Ares hanya menolak untuk dibantu.
Liz kembali melancarkan serangannya, ekspresi datarnya menjadi nampak bengis. Ares tersentak sedetik kemudian tenang kembali.
"Ternyata itu kau ya … laba-laba busuk. Kembalikan Lizzie!" teriak Ares yang kemudian membuat energi sihirnya menguasai tempat tersebut. Dan ….
Booom!
Guncangan hebat terasa, gerbong belakang terlihat hancur. Sisa gerbong tempat mereka berpijak sekarang.
Rios melongo, Ares pun menghentikan dominasi energi sihirnya. Sang serigala langsung memukul kepala pemuda tersebut, membuatnya tersentak kaget.
"Hey?!" protes sang pemuda.
Rios hanya memasang wajah 'tak peduli' miliknya.
"Kau bodoh atau gimana sih? Sudah tahu ada bom anti sihir, tapi malah buat makin ribet." ucap Rios sambil bersungut-sungut.
"Mengetahui pelaku yang membuat si kembar begini adalah wanita itu. Membuatku jadi ingin mencabik-cabiknya." jawab Ares yang tidak bisa berpikir tenang.
"Haissh …." Rios jadi pusing.
"Tapi nggak pakai energi sihir juga, Llen!" imbuhnya.
"Terus? Dia aja pakai energi sihir." protes Ares sambil menunjuk ke arah Liz.
"Aku kan sempat pingsan tadi."
"Oh iya. Pokoknya energi sihir dia sama sekali tidak mempengaruhi bom anti sihir yang ada!"
"...."
Ares terdiam, sejenak ia berpikir. Mengingat ketika ia datang di kereta, dirinya sama sekali belum memakai sihir. Kecuali saat melihat Ella yang penuh luka dan nampak pucat itu di mata sang pemuda. Ia langsung marah dan mulai mengaktifkan peledak anti sihir.
"Benar juga ya. Tapi gimana sekarang caranya kita menyelamatkan Lizzie?"
"Kukira kau bisa melihatnya, tapi ternyata tidak ya …."
"Hm?"
Ares masuk ke mode Vampire-nya. Matanya seketika berubah menjadi abu-abu dan nampaklah di penglihatannya. Benang-benang transparan menempel di tubuh Liz.
"Sial! Laba-laba busuk itu menjadikan Lizzie bonekanya!?" ucap Ares dengan geram.
Sang pemuda lalu mengambil kembali pedang hitamnya, kekuatan auror kembali ia gunakan. Tanpa pikir panjang, Ares langsung menyerbu ke arah Lizzie.
Gadis kecil itu tersentak, ia lalu melancarkan serangan bola api beruntun ke Ares. Namun ia berhasil menghindar dan mengelak semua serangan tersebut. Wajah Lizzie terlihat panik, tapi itu semua hanya akting.
Setelah Ares sampai di hadapan Lizzie. Seringai nampak menghiasi wajah gadis kecil itu. Tapi dia tak menghiraukannya dan langsung menebaskan pedangnya ke benang-benang transparan itu berada. Liz yang tumbang, ditangkap oleh Ares sebelum ia jatuh.
Guncangan kembali mereka rasakan. Hingga sebuah suara terdengar ….
"Abang?!"
Terlihat Vartan yang masuk melalui pintu belakang gerbong dengan Sylph di pundaknya dan Ferdinand Lauryn di belakangnya.
"Cepat kalian bawa Lily dan Ellard. Aku yang akan membawa Liz!" ucap Ares yang dirinya lemas.
"Tapi Bang …."
"Cepat! Guncangannya semakin besar!"
Vartan langsung mengangkat Ella, sedangkan Ferdinand ia mengangkat Ellard. Dan merekapun segera keluar.
"Ayo kita segera keluar juga, Llen!" ajak Rios.
"Kau duluan saja, sekalian bawa Lizzie ya." jawabnya sambil tersenyum.
Rios tersentak, melihat pemuda yang jarang– malah hampir tidak pernah tersenyum itu. Sekarang sedang tersenyum. Sang serigala langsung keluar, setelah menggendong Liz di tangannya.
"Kau bilang kalau energi sihir yang memicu pengaktifannya. Namun bukan begitu caranya." ucap Ares.
"Sang pengguna sihir juga harus berada di dalam ruang lingkup peledak anti sihir itu." celoteh pemuda itu sembari berjalan menuju pintu.
"Seperti ini." ucapnya sembari mengaktifkan sihir dan segera bersiap untuk melompat.
Belum sempat Ares melompat, ia terkena serangan entah dari mana. Membuatnya tidak sadarkan diri lagi.
"Abang!?"
Vartan berteriak, tapi ia tak bisa berbuat banyak. Dirinya sedang membawa Ella dan Ferdinand serta Lauryn sibuk mengobati yang terluka.
Ella membuka matanya perlahan …. Byuurrr!
"Abang!?"
...~☾※~...
Hai hai ~
>
Bagaimana kabar kalian? 👻😱
Semoga para pembaca WTNC sehat selalu dan dijaga oleh Allah. 🤗
Terima kasih atas dukungan kalian semua
:'
Saya tak bisa berkata-kata. 🤧
Nikmati saja deh, Chapter selama
😅
Mohon Like, Comment, Fave, share nya
>
Bubye
°∆°//
...VR.Stylo♪...