
Sesaat setelah ia mendengar namanya dipanggil oleh suara yang familiar, Noxita langsung menoleh dan melihat lelaki tersebut.
“Kak Salvatore?” ucap Noxita saat melihat kakak laki-lakinya bersama seorang pria berambut panjang sebahu berwarna abu-abu dan seorang perempuan berambut panjang berwarna oranye gold yang indah.
“Kalian sedang apa?” tanya Salvatore pada Noxita.
“Kami sedang memilih aksesoris untuk dibeli Kak,” jawabnya.
“Aksesorisnya bagus-bagus semua!” seru Lily. Noxita hanya bisa tersenyum.
“Ooh ... Ya sudah. Kakak duluan ya. Kalian bertiga jangan jauh-jauh dari Xita!” perintahnya pada Lily, Diego dan Lizzie. Salvatore beranjak bersama dua orang yang belum mereka kenal itu.
Noxita dan adik-adiknya kembali melihat serta memilih aksesoris. Ada sebuah aksesoris yang menarik perhatiannya, dilihatnya bros dengan permata hitam yang mengkilat itu. Segera ia ambil dan berikan ke pedagang yang berjualan. Noxita kembali menunggu adik-adiknya memilih.
“Kak. Saya mau yang ini,” ucap Lily sambil memegang hiasan rambut berbentuk bunga dengan permata hijau menghiasinya. Noxita mengangguk.
“Si Kembar mau apa?” tanya kakaknya dengan lembut. Mereka hanya menggelengkan kepalanya dan berkata.
“Kami mau kue saja Kak.”
Noxita yang mendengar hal tersebut, seketika tersenyum dan berkata.
“Baiklah, Akan Kakak belikan kue untuk kalian semua,” ucap Noxita sembari membayar aksesoris yang ia dan Lily pilih.
Merekapun kembali berkeliling dan menemukan sebuah toko kue, Noxita mengajak adik-adiknya untuk masuk ke dalam toko tersebut. Setelah memesan kue-kue yang ingin mereka makan, Noxita beserta adik-adiknya duduk di salah satu meja untuk menunggu pesanan mereka.
“Ini pesanannya Nona-nona dan tuan muda,” ucap seorang pelayan yang membawakan pesanan mereka dan meletakkannya di tengah meja.
“Waaaah ...” ucap si Kembar dengan takjub. Noxita pun mulai mengambilkan kue yang dipesan oleh adik-adiknya dari tempat kue bertingkat tiga itu.
“Ini choco cake Diego, ini strawberry shortcake Lizzie dan ini cheesecake Lily.”
Diego, Lizzie dan Lily menerima kue yang diambilkan kakaknya dengan gembira dan berucap.
“Terima kasih banyak Kakak.”
Noxita pun tersenyum bahagia, melihat adik-adiknya yang senang. Merekapun mulai memakan kuenya masing-masing. Diego dan Lizzie makan dengan lahap, hingga krim kue menghiasi bibir mereka. Noxita hanya tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya.
“Pelan-pelan sayang. Nggak ada yang minta cake kalian kok,” ucap Noxita sambil membersihkan krim coklat di bibir Diego menggunakan saputangan.
“Lizzie sayang. Makan dengan anggun lah,” kata Lily sambil membersihkan krim yang ada di bibir Lizzie. Noxita tersenyum dan kemudian membersihkan krim yang nampak di bibir Lily.
“Hihi ... Sudah, nikmati saja kuenya. ” Noxita tertawa kecil sambil melihat adik-adiknya yang mulai menyantap kuenya kembali.
Setelah menghabiskan kue-kuenya, mereka pun meminum black tea yang juga tadi dipesan. Untuk menetralkan kembali lidah dari rasa manis yang berasal dari kue-kue tadi.
“Ukh ...” keluh si Kembar yang tak terlalu suka rasa black tea. Noxita yang mengetahui hal tersebut, langsung menambahkan susu di cangkir si Kembar dan mengaduknya.
“Sudah sayang,” Noxita tersenyum saat melihat mata si Kembar berbinar. Mereka berdua langsung meminum milk tea tersebut dengan gembira. Noxita pun merasa lega, saat menyaksikan wajah bahagia adik-adiknya.
Selesai makan dan meletakkan beberapa Coin emas di meja, Noxita mengajak adik-adiknya untuk kembali ke tempat ayah dan ibu mereka.
“Ayo sayang. Kita kembali ke tempat Ayah dan Ibu,” ucap Noxita yang melihat matahari sudah berada di atas kepala mereka. Noxita yang tidak mau jika sampai adik-adiknya kelelahan, memutuskan untuk segera kembali. Terutama Lily yang terlahir dengan stamina lemah.
Sinar matahari yang terasa sedikit menyengat di kulit, membuat Noxita memberikan sihir pelindung di sekeliling dirinya dan juga adik-adiknya. Namun Lily merasa tak suka, karena ia menganggap kakaknya berpikir kalau ia lemah dan butuh perlindungan darinya.
“Kakak! Saya nggak suka kalau diberi perlindungan seperti ini!” bentaknya seraya berlari meninggalkan Noxita dan si Kembar. Noxita pun memanggil-manggil adiknya, agar tak pergi.
“Lily? Lily!”
Namun sang gadis bergaun biru muda itu sudah tenggelam di kerumunan warga yang berlalu lalang dalam festival ini. Noxita yang bingung segera menggandeng tangan Diego dan Lizzie, kemudian bergegas ke balai kota untuk menemui Ayah Ibunya. Tak menyadari, jika mahkota bunganya terjatuh.
Lily yang berlari tak tentu arah tiba-tiba berhenti, karena menyadari jika ia sampai di kawasan yang terlihat jarang dilalui oleh warga biasa. Saat ia hendak berbalik dan kembali. Sang gadis melihat dua orang lelaki, yang satu berbadan gempal dengan kepala plontos. Sedangkan satunya berbadan kurus dan tinggi. Mereka tersenyum dan menyapa Lily dengan nada baik.
“Nona kenapa sampai di sini?” sapa si gempal dengan ramah.
“Apa Nona tersesat?” tanya si tinggi. Mereka melihat sang gadis yang mengambil jarak dan mulai mewaspadai mereka.
“Nona tenanglah, kami tidak berniat jahat kok. Nona terlihat lelah,” ucap si tinggi dengan ekspresi cemas.
“Apa Nona mau istirahat dulu di dalam gubuk kami? Tapi maaf, gubuk kami tidak seperti Mansion Nona. Namun jika hanya untuk beristirahat sejenak. Saya rasa sudah cukup Nona,” rayu si gempal dengan lembut dan tersenyum ramah.
Lily yang memang merasa jika tubuhnya sangat lelah dan kapanpun bisa tumbang, berpikir jika ia menerima saja tawaran tersebut.
“Baiklah. Aku mau menerima tawaran kalian,” ucapnya dengan tegas. Dua pria tersebut tersenyum lebar setelah mendengar gadis Bangsawan di hadapan mereka menerima tawaran mereka.
Dengan segera si gempal dan si tinggi mempersilakan Lily untuk masuk ke dalam gubuk mereka. Setelah sang gadis masuk, ia mengedarkan pandangannya. Dilihatnya sebuah ruangan yang terlihat cukup bersih dan tertata, iapun langsung duduk di tempat yang ditunjukkan oleh si gempal.
“Silakan diminum Nona. Anda pasti haus,” ucap si tinggi seraya menyuguhkan secangkir teh hangat di hadapan Lily.
Sang gadis yang berpikir jika mereka orang baik, meminum teh tersebut tanpa curiga. Seraya memperhatikan sekelilingnya. Lily tiba-tiba merasa kepalanya sedikit pusing dan mengantuk.
“Nona? Nona kenapa? Kenapa wajah Nona begitu? Apa obatnya sudah bekerja Nona?” ucap si gempal dengan nada cemas, seolah mengolok sang gadis.
“Anda ini terlalu bodoh Nona. Bisa percaya dan ikut orang asing dengan mudahnya,” sahut si tinggi yang kemudian tertawa mengejek.
Lily yang kesal tak kuasa lagi untuk menahan kelopak matanya yang terasa sangat berat. Iapun limbung dan tertidur, terkena obat tidur yang telah dibubuhkan pada teh tersebut.
“Hahaha ... Tangkapan besar ini!” sorak si gempal seraya mengangkat tubuh Lily. Si tinggi pun ikut tertawa.
Mereka kemudian membawa Lily ke dalam kereta barang yang diberi penutup sekelilingnya, dengan tumpukan barang di bagian tepi belakang. Membuat bagian dalam tak terlihat. Merekapun mengikat tangan dan kaki Lily serta menyumpal mulut Lily dengan kain yang diikat ke bagian belakang kepalanya.
Si gempal dan si tinggi bersorak dan merasa tenang dengan samaran mereka itu, setelah mereka mengenakan jubah panjang dengan penutup kepala. Mereka segera mengendarai kereta barangnya dengan santai, menuju gerbang kota.
Merekapun berpura-pura sebagai pedagang keliling yang hendak pergi dari kota. Setelah melewati penjaga gerbang dan keluar dari kota, mereka segera melajukan kudanya dengan kencang. Hingga hampir bertabrakan dengan kereta kencana yang berhias simbol dua buah pedang yang saling bersilangan dengan bunga mawar mengelilinginya.
“Hah?!” pekik seseorang di dalam kereta kencana tersebut. Iapun bertanya kepada kusirnya.
“Maaf Tuan Muda, baru saja ada kereta pedagang yang berkendara ugal-ugalan. Jika saya tidak berhenti saat jarak kami masih jauh. Kita pasti akan bertabrakan,” jawab sang kusir dengan agak takut.
“Hm ... Baiklah, tak apa. Lanjutkan perjalanan kita!” seru sang pemuda yang kemudian dipatuhi oleh kusir. Segera ia mengendalikan kudanya untuk berangkat kembali.
Terlihat pemuda berambut hitam berusia sekitar 9 tahun menatap kereta barang yang melewati mereka dengan pemasaran, namun ia abaikan rasa penasarannya. Karena kereta kencana mereka sudah memasuki gerbang kota Blood Rosaceae.
Noxita yang sudah sampai di balai kota, segera mencari kedua orang tuanya dengan panik. Saat ia melihat keberadaan Ayah dan Ibunya, Noxita dengan cepat menuju ke arah mereka. Deaf dan Kaila yang melihat anak gadisnya berlari dengan panik pun terheran-heran.
“Xita? Kenapa kamu?” ucap Kaila dengan cemas, ia melihat si Kembar menangis. Karena berlari dengan setengah diseret oleh kakaknya.
“Lihatlah! Si Kembar sampai menangis. Apa yang sudah kamu lakukan?” tegur sang Ibu sambil menenangkan si Kembar.
“Maaf Ibu. Tapi ini hal yang gawat!” seru Noxita yang tak mau kalah. Deaf dan Kaila pun menatap putri tertuanya itu dengan perasaan yang tak enak, seolah ada sebuah dugaan. Namun dengan cepat mereka tepis.
“Apa yang gawat? Mana Adikmu Lily?” tanya Deaf dengan nada khawatir, namun tegas.
“Lily ... Dia menghilang Ayah, Ibu!” ucap Noxita yang terlihat hendak menangis, namun ia tahan.
“Kenapa bisa?” tanya sang Ayah kembali. Noxita pun menceritakan kejadian saat sebelum Lily berlari dan menghilang dengan singkat.
“Winston! Cepat kerahkan para prajurit serta penjaga untuk mencari Lily!” perintah Dead pada kepala ksatria Keluarga Rosaceae itu. Sang pria berambut cokelat itu mengangguk dan segera melaksanakan perintah Deaf.
“Xita istirahat dulu ya. Tenangkan diri dan minum dulu,” ucap sang Ibu sambil memberikan segelas air dingin pada putrinya. Noxita menerima gelas pemberian Ibunya dan segera meminumnya perlahan. Nampak setitik air mata menetes dan membuat jejak di pipi putih sang gadis.
“Maafkan saya Ibu, saya tidak bisa menjaga Lily dengan baik. Ka ... kalau sampai terjadi apa-apa pada Lily, itu semua salah saya,” ucap Noxita dengan terisak. Kaila pun memeluk putrinya itu dan mencoba untuk menenangkannya.
“Tenanglah sayang, Lily pasti baik-baik saja ... Kita pasti akan segera menemukannya. Jangan khawatir ya ...,” ucap sang Ibu dengan lembut, berusaha untuk menyembunyikan suaranya yang agak gemetar.
“Pasti Bu. Saya pasti akan menemukan Lily kembali!” seru Noxita yang kembali percaya diri.
Kaila tersenyum saat putrinya sudah kembali bersemangat.
“Ada apa ini?” terdengar suara bass yang bertanya, mereka menoleh serempak untuk melihat Salvatore yang berdiri. Menatap mereka dengan heran.
“Lily hilang Kak,” jawab Noxita dengan cepat. Salvatore segera mendekati adiknya itu dan kembali bertanya.
“Hilang dimana dia?”
“Kami kehilangan Lily di dekat jalan menuju bar kucing,” ucap Lizzie dengan polos. Mereka yang mengesampingkan darimana gadis kecil itu mengetahui kata tersebut, segera menuju dan memeriksa daerah tersebut.
“Dan ini pasti milikmu Xita,” terdengar suara lembut seorang lelaki. Noxita mendongakkan kepalanya dan menatap seorang pria berambut panjang berwarna abu-abu keperakan itu menyodorkan sebuah mahkota bunga.
“Ah?” Noxita langsung meraba rambutnya dan sadar jika mahkota bunganya hilang. Ia lalu menerimanya dan berkata.
“Terima kasih banyak Kak Dinand.”
Ferdinand tersenyum lembut dan menatap Noxita, manik abu-abu sang pria terlihat dalam dan dingin. Saat mereka saling berpandangan, terdengar suara yang memanggil.
“Xita?!”
~ ☽ ☾ ~
Hai ... hai ... hai ....
saya selaku VR & NA minta maaf karena telat upload lewat dari hari yang sudah ditentukan
( ;゚³゚)
Briallen: Tidak apa-apa NA kamu memang sedang sakit serahkan semua pada VR.
VR: ('-')ª
Hm... 🤔
Suka amat sih orang-orang manggil Xita? ‘3’)/
Sekali-kali kek, saya yang dipanggil. 👀
Briallen, Briallan, Rios : VR....
*memanggil dengan nada lembut yang menakutkan
VR. : Apa salah hamba? 😭
Ampun. 😭
Lauryn : Yuk ikut saya VR.
*memberikan senyuman termanisnya
VR. : Ampun. Huweee. 😭
Jangan lupa tinggalkan jejak kehidupan kalian di like, comment serta vote
OwO/
*diseret Lauryn
Briallan: Cek IG @rirymocha1 untuk bertemu dengan saya.
Diego & Lizzie : Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
(^O^)/
VR. Stylo