When The Night Come

When The Night Come
Kemunculan



Di suatu tempat yang tinggi berlatarkan sang Dewi malam. Nampak pepohonan menjulang, ingin menantang langit. Di tengah gelapnya hutan, terlihat sepasang mata tajam bersinar. Tampak liar, tak bertuan. Saat Sang Dewi malam berlumuran darah. Sepasang mata itu sadar, ada sesuatu yang telah terjadi ....


“Nonaku ...” Terdengar suara parau yang sangat menyeramkan. Dia merasa ikatan dalam dirinya hidup kembali. Dan ia menghilang dalam gelapnya malam.


Apa yang telah mereka lakukan padamu?


Apa yang telah waktu bebankan padamu?


Allen


Aku sudah kembali


Kembali untuk bersamamu lagi


Di sini


Saat ini


Aku kan menemanimu


Lihatlah dirimu


Allen ku sayang


Kenapa sekarang kau nampak kacau?


Apa waktu sangat menyiksamu?


Maafkan aku


Karena meninggalkanmu sendiri


22 Desember


Rumah Sakit Rozelle sebuah bangunan megah, tempat dimana orang sakit dirawat dan disembuhkan. Rumah sakit yang dibangun dan didanai oleh Rosura Corp itu, mempekerjakan para tenaga medis yang sangat ahli di bidangnya.


“Maafkan aku Nea.” Terdengar sebuah suara pemuda dari suatu ruangan. Nampak sang pemuda sedang memohon ampun pada sang gadis yang sedang marah dan memalingkan wajahnya.


“Ck ck. Seorang CEO bertekuk lutut di hadapan perempuan.” Ejek seorang pemuda yang baru masuk ke ruangan tersebut. Dengan tatapan tajamnya, Ares menatap Vartan.


“Oh .... Slow, bro.” Ucap Vartan saat Ares menatapnya seperti ingin membunuhnya.


“Mau apa kau kesini?” Ares bertanya dengan nada datar.


“Itu bro... Aku mau minta duit.” Jawabnya sembari menunjukkan deretan gigi putihnya.


“Hah?!” Ares hanya cengo mendengar ucapan Vartan.


“Hehehe... Bercanda Bang.” Vartan nyengir sambil keluar ruangan.


“Awas kau.” Ares kembali menatap Nea dan meminta maaf lagi. Dia berhenti memohon ampun, saat nampak kesedihan di raut wajah Nea.


“Nea kenapa?” Ares mendekati Nea perlahan dan duduk di kursi yang ada di samping tempat tidurnya.


“Aku kehilangan para peri mungil saat diserang monster-monster itu.” Suara sedih Nea, membuat Ares tak kuasa untuk tak memeluknya.


“Tenang sayang. Aku bisa memanggil mereka kembali kok.” Ucap Ares seraya menenangkan Nea.


“Benarkah?” Tanya Nea tak percaya.


“Benar sekali!” Seru Ares dengan percaya diri.


“Kalau gitu sekarang, jaga jarak! Sana sana. Aku belum memaafkanmu.” Ucap Nea dengan dingin. Ares hanya bisa membeku dan mematuhi perintah Nea.


“Maafkan aku sayang.” Ucap Ares sekali lagi.


“Maaf kenapa?” Jawab Nea dengan dingin.


“Maaf sudah menggigit dan membuatmu hampir sekarat.” Ares cuma bisa menundukkan kepalanya.


“Jadi bagaimana caranya menghidupkan mereka kembali?” Tanya Nea, mengabaikan perkataan Ares.


“Mereka nggak lenyap kok. Mereka selalu ada di sekitar Nea.” Ucap Ares menjelaskan.


“Di mana?” Nea clingukan mencari.


“Pfft ... Bukan begitu Xita. Tapi sebut nama mereka.” Terdengar Ares yang tertawa kecil. Nea hanya bisa merengut.


“Baiklah ... Baiklah ..., seperti ini ... Sylph.” Saat Ares menengadahkan telapak tangan kanannya ke depan, seketika itu angin lembut berhembus dan menyatu menjadi Peri Angin.


“Ah? Jadi namamu Sylph.” Ucap Nea yang langsung disambut uyelan di pipinya. Ares hanya melihat pemandangan tersebut dengan iri.


“Nah. Selanjutnya Nea sendiri yang coba.” Ucapnya yang membuat Nea menatapnya.


“Aku tak bisa. Aku tak tau nama mereka.” Nea menjawab dengan murung.


“Yang satu ini dari awal memang kupanggil untuk melindungimu sayang. Tapi yang lain bukan aku yang memanggilnya. Tapi kamu sendiri.” Terang Ares sambil menunjuk Sylph.


“Benarkah?” Nea menatap Ares mencari kepastian. Ares hanya mengangguk, mengiyakan.


“Baiklah.” Nea mulai berkonsentrasi. Dan membayangkan air. Di kepalanya terlintas sebuah nama. “Undine.” Ucap Nea yang membuat air di gelas atas meja melayang dan muncullah Peri Air.


“See ... Nea bisa kan.” Ucap Ares saat Nea bertemu kembali dengan Undine.


“Stop sayang ... Jangan memaksakan diri ... Nea panggil lagi kalau sudah keluar Rumah Sakit ya.” Saat Nea akan mencoba lagi, Ares menghentikannya.


“Hum ... Baiklah, Allen.” Nea mengurungkan niatnya dan duduk bersandar di headboard. Ares memberinya potongan buah apel yang sudah dikupas. Nea memakannya dengan senang hati.


“Um ... Oh iya ... Allen sudah bilang ke orang tuaku? Kalau aku dirawat lagi.” Tanya Nea sambil menguyah apel yang ia masukkan ke dalam mulutnya.


“Sudah kok, tenang saja.” Seutas senyuman manis nampak di wajah rupawan Ares. Nea menatapnya tanpa berkedip.


“Kenapa sayang?” Ares terheran melihat Nea menatapnya seperti itu.


“Jangan bagikan senyumanmu kepada yang lain.” Titah Nea.


“Iya sayang ... Hanya untukmu, Alba-ku.” Allen meraih tangan kanan Nea dan mengecup punggung tangannya. Terlihat gambar kuncup bunga mawar di punggung tangan Nea.


Ares tersentak saat melihat simbol kuncup bunga itu. Nea yang melihat Ares tersentak saat mencium tangannya menengok padanya.


“Wah!? Kakakku dilamar pria tampan!” Seru Ella yang berada di pintu bersama kedua orang tuanya serta si Kembar.


“Ti ... tidak ... i ... Ini ... ” Nea yang panik terlihat menggemaskan di mata Ares. Namun ia tak tega membiarkan kekasihnya itu kebingungan. Dengan segera Ares berdiri tegak dan memutar badannya supaya menghadap Keluarga Nea.


“Salam kenal Tuan dan Nyonya Rozenweits, saya Ares Centifolia. Teman sekelas Nea, sekaligus kekasih Nea.” Ucapnya dengan percaya diri. Nathan hanya bisa melongo sedangkan Sarah, ia tersenyum menyambut Ares.


“Jaga Tuan Putri kami baik-baik ya Ares.” Ucap Sarah.


“Dengan segenap jiwa dan raga saya pertaruhkan.” Jawab Ares. Nea hanya bisa menyaksikan itu semua dengan mulut sedikit menganga.


“Putriku akan dibawa lelaki lain...” Nathan menangis. Sarah menarik telinga Nathan.


“Ayah. Putri kita masih kuliah lho. Dibawa lelaki lain gimana coba? Hm?” Sarah memberikan senyuman termanisnya.


“Tapi ... Tapi ... ” Rengek Nathan. Sarah menepuk-nepuk punggung Nathan hingga dia tenang.


“Cinta bisa buat orang jadi bodoh ya.” Ucap si Kembar bersamaan. Nea makin melongo, setelah mendengar perkataan si Kembar.


Ruangan tempat Nea dirawat seketika riuh, karena kedatangan keluarganya. Setelah hampir 30 menit drama, mereka pun akhirnya tenang.


“Kak ... Ruang VIP enak ya.” Celetuk Liz yang sedang memakan cake coklat.


“Kakak hebat deh.” Imbuh Ellard sambil mengacungkan jempol.


“Kalian bisa makan cake dengan manis tidak?” Nea mengeluarkan senyum termanisnya. Ares hanya bisa tersenyum dengan sebutir keringat di pipinya. Mereka pun makan cake dengan tenang.


“Jadi sayang, kenapa kamu dirawat lagi?” Tanya Sarah. Nea melirik Ares yang mana dia berbalik menatap Nea sambil tersenyum. “Berarti Allen tidak bilang alasannya.” Batin Nea.


“Aku pingsan karena kekurangan darah, Mom.” Jawab Nea yang membuat Ares memalingkan wajahnya.


“Oh ... Putriku yang malang, Ayah akan berikan darah Ayah untukmu.” Nathan mulai lagi. Tapi sebelum menjadi, Sarah mencubitnya.


“Ibu kan sudah bilang, istirahat saja. Jangan memaksakan diri juga. Bandel ya.” Ucap Sarah yang membuat Nea menundukkan kepalanya.


“Tapi Bu. Nea harus masuk.” Jawabnya.


“Ya sudahlah. Karena sekarang sudah begini. Istirahat yang benar ya sayang.” Ucap Sarah yang mengecup kening Nea.


“Nah, kami pamit pulang dulu ya. Nea jangan bandel dan istirahat saja.” Imbuh Sarah sambil menyeret tangan Nathan dan Ella serta si Kembar mengekor di belakang mereka. Nea hanya bisa melambaikan tangannya.


Ares yang melihat pemandangan itu, menjadi teringat akan orang tuanya dulu. Ayah yang tegas, namun penyayang. Ibu yang tangguh serta lembut dan perhatian. Ares merindukan mereka. Namun mereka sudah lama tiada. Ares hanya bisa membuat ekspresi sedih.


“Ares kenapa?” Tanya Nea setelah melihat ekspresi wajahnya. Nea pun ikutan berekspresi sedih.


“Aku tidak apa-apa Nea.” Jawab sang pemuda seraya tersenyum. Nea masih berwajah sedih, karena khawatir padanya.


“Aku cuma tiba-tiba ingat mereka, kedua orang tuaku.” Ucap Ares. Nea tertunduk dan terdiam. Kemudian Nea memeluk Ares, yang entah sejak kapan dia duduk di dekatnya.


“Tenang sayang. Aku ada di sini. Jangan sedih. Aku akan menemanimu. Karena aku sudah kembali.” Ucapan Nea menenangkan Ares.


“Terima kasih sudah mau kembali untukku Xita.” Ares mengecup kening Nea. Wajah Nea langsung memerah, karena Nea belum terbiasa dengan hal tersebut.


Malam itu mereka berdua saling menemani dalam diam, hingga Nea tertidur. Ares pun membaringkan Nea di ranjang dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Lalu memberinya sebuah kecupan di kening.


“Mimpi indah Alba-ku.” Bisik Ares padanya yang sudah lelap.


Terlihat samar simbol mawar hitam yang mekar sempurna di leher Ares. Hanya sesaat, namun tak nampak lagi. Ia kemudian berjalan ke jendela dan melihat Bulan yang sedang Penuh. Ares merasakan suatu perasaan aneh, namun ia tepis. Dan berpikir, jika apapun yang datang menyerang. Akan ia hancurkan.


23 Desember


Nea sudah diperbolehkan pulang, ia sangat senang mendengar hal itu. Namun dokter mengingatkan untuk berhati-hati.


“Jadi Ares, jika kau menghisap darahnya seperti kemarin lagi. Bisa-bisa dia meninggal, karena kehabisan darah. Jadi tahan dirimu sendiri.” Terang sang dokter. Ares hanya terdiam dan memasang ekspresi kusut. Nea cuma bisa menatap mereka dan ikut mendengarkan peringatan dokter. Setelah sang dokter pergi, Nea baru bicara dan bertanya.


“Apa dia tau?” Tanya Nea sambil menunjuk dokter yang telah pergi. Ares hanya mengangguk perlahan.


“Ah! Okay.” Ucap Nea yang paham.


Senja telah membentang, membuat lautan berwarna api di langit. Setelah Nea berberes dan pergi. Ia keluar menuju tempat parkir, diikuti oleh Ares. Ares menunjukkan tempat mobilnya berada. Sesampainya di mobil, Ares langsung membukakan pintu untuk Nea.


“Silakan My Lady.” Ares mempersilahkan Nea untuk masuk ke dalam mobil. Nea tersenyum malu-malu, saat Ares memperlakukannya seperti itu.


Namun ketika Nea hendak masuk ke dalam mobil. Tiba-tiba Ares langsung memeluk dan melindungi Nea, sambil bersiaga.


“BUM!” Suara dentuman sesuatu menghantam tanah terdengar menggema. Debu pun berterbangan di area sekitar Ares dan Nea. Ares semakin waspada akan kemunculan sesuatu.


“Tetaplah di belakangku Nea.” Ucap Ares. Nea yang berada di belakang Ares mencoba untuk mengintip sedikit apa yang ada di hadapan mereka.


Nampak siluet seperti anjing besar yang terlihat di balik kepulan asap. Nea yang melihat pemandangan itu, dengan segera menyembunyikan dirinya di punggung Ares.


“Tenang Nea. Aku akan melindungimu.” Bisik Ares yang membuat Nea agak tenang.


Saat debu-debu yang berterbangan hilang. Terlihat sesosok pemuda, berbadan tinggi besar, memiliki rambut berwarna putih sedang menutup matanya. Ares tetap waspada, tidak mau jika dia tiba-tiba menyerang kekasihnya.


Terlihat bola mata berwarna merah, saat pemuda itu membuka matanya. Tatapan tajam bersinar, menatap ke arah Ares. Seketika itu Ares langsung dalam mode Vampire. Rambut hitamnya berubah menjadi Silver dan manik birunya, berubah menjadi abu-abu.


Manik merah dan manik abu-abu saling memandang tanpa berkedip.


~ ☽ ☾ ~


Wah!....


Siapakah pemuda yang baru muncul itu? Apakah dia datang untuk membunuh Nea?


Atau ....


Hm... Saya juga penasaran.


Okay, jangan lupa like, Komen, share, dan juga vote ya. ><


Maaf baru menyapa, setelah beberapa Chapter. Saya harap kalian suka dengan Ares dan Nea.


Jika ingin melihat wujud Allen, Xita, Allan dan yang lain, kunjungi saja IG saya @rirymocha1


Mohon dukungannya


VR.Stylo