
Terdengar suara laki-laki yang sangat dikenalnya, memanggil nama Noxita. Nampak suara yang sedikit bergetar, sampai di telinga sang gadis. Noxita menoleh dan melihat Briallen berdiri terpaku, menyaksikan pemandangan di hadapannya.
“Allen ...?” ucap Noxita yang tak percaya, bahwa kekasihnya ada di sana.
Dengan cepat Briallen menarik Noxita ke dalam pelukannya, seraya memberikan tatapan mata tajam pada pria berambut abu-abu keperakan panjang itu. Ferdinand hanya bisa tersenyum tipis dengan sebutir keringat di pipinya.
“Baiklah, sudah cukup kok yang saya lihat. Mari Auryn dear, kita ikut mencari Baby Lily kita,” ajaknya pada seorang wanita berambut orange gold panjang yang memiliki tatapan membunuh itu.
“Baiklah Aim,” sang wanita pun beranjak mengikuti Ferdinand. Briallen hanya melongo, melihat mereka dan segera tersadar ketika namanya dipanggil.
“... Llen? ... Allen?”
Dilihatnya sang gadis dalam pelukannya yang sedang cemberut dan terlihat ada jejak air mata di pipinya.
“Xita kenapa? Apa lelaki tadi berbuat jahat ke Xita?” tanya Briallen dengan bertubi-tubi seraya menatap tajam ke arah perginya Ferdinand tadi.
Noxita yang agak kesal pun memegang kedua pipi Briallen dengan agak keras dan menariknya supaya menatap dirinya.
“Allen, kamu salah paham. Dia itu Kak Ferdinand de Aim Victoria, orang yang sudah kuanggap seperti Kakakku sendiri. Dan dia juga yang membantuku untuk mengenal diriku,” ucap Noxita dengan suara perlahan.
Briallen melepaskan pelukannya dan mengusap air mata sang gadis dengan punggung jari telunjuknya. Pemuda bersurai hitam yang sekarang sudah tenang, bertanya sekali lagi.
“Xita kenapa menangis? Ada apa sayang?” ucapnya dengan lembut bercampur nada khawatir.
“Lily ... Lily adikku hilang,” ucap Noxita yang mulai menitikkan air mata lagi. Briallen pun mencoba untuk menenangkannya.
“Sudah Xita sudah. Ayo kita cari Lily bersama,” ucap Briallen menenangkan sang gadis. Noxita pun merasa agak tenang dan mengangguk.
“Ehem?” terdengar suara seorang anak kecil yang sedari awal di belakang Briallen. Dia menatap tajam Briallen karena merasa tak dianggap keberadaannya.
“Ah? Oh iya. Dia adikku yang sering kuceritakan Xita,” terang Briallen seraya menunjuk pada bocah lelaki itu.
“Perkenalkan Kak Noxita. Nama saya Briallan de Roosevelt Vangelis, Kakak bisa memanggil saya Allan. Daripada bingung nanti,” ucap Briallan sembari memperkenalkan dirinya.
“Allan pintar ya,” puji Noxita yang membuat sang bocah tersipu malu.
“Mari kita mencari Lily lagi Xita,” ajak Briallen yang membuat Noxita kembali ingat dengan masalahnya. Noxita menganggukkan kepalanya, tanda setuju dan ia melakukan sesuatu.
“Rios”
Seketika angin berhembus kencang dan muncul pusaran angin di hadapan Noxita, nampak sesosok serigala besar saat pusaran angin tersebut menghilang. Serigala dengan bulu berwarna putih seputih salju dan manik merah, menatap Noxita.
“Xita?!” pekik Briallen ketika melihat serigala tersebut. Noxita hanya tersenyum, seolah berkata tak apa pada kekasihnya itu.
“Rios, bantu aku untuk mencari Adikku Lily!” ucap Noxita seraya mengusap kepala serigala tersebut. Rios mengangguk dan membiarkan Noxita naik di punggungnya.
“Allen, saya akan coba ke tempat dimana Lily menghilang tadi,” ucap Noxita sembari berlalu bersama Rios.
Sesampainya di tempat menghilangnya Lily, Noxita turun dan menyuruh Rios untuk memakai wujud manusianya. Sang gadis bertanya pada setiap warga yang berada di sekitar situ, tentang keberadaan adiknya Lily. Bersama Rios yang menjaga dan menjadi pengawalnya.
Namun tiada warga yang tau, apalagi melihat keberadaan Lily. Hingga Rios melihat sesuatu yang berkilauan di atas tanah, iapun langsung mendekatinya dan memungut benda itu. Noxita yang melihat Fammiliar-nya memungut sesuatu, langsung mendekatinya.
“Ini aksesoris yang dibeli Lily tadi!” pekiknya saat melihat hiasan rambut berbentuk bunga dengan permata hijau berada di tangan Rios. Sang Fammiliar segera memberikan hiasan rambut itu pada majikannya.
“Rios bisa melacak keberadaan Lily?” tanya Noxita pada pemuda berambut putih itu. Ia hanya menjawab dengan anggukan dan segera berubah ke wujud serigalanya kembali.
“Naiklah Nona,” suara Rios terdengar di kepala Noxita. Belum sempat sang gadis naik ke punggung Fammiliar-nya, terdengar sebuah suara yang memanggilnya.
“Xita!?”
Sang gadis pun menoleh dan melihat surai hitam yang bergegas ke arahnya. Noxita pun menunggunya.
“Ada apa Allen?” tanya Noxita saat sang pemuda sampai di hadapannya. Sang pemuda berhenti dan mengatur nafasnya sebentar.
“Aku mau ikut untuk mencari Lily,” jawabnya dengan sedikit terengah.
“Apakah boleh Rios?” tanya Noxita pada Fammiliar-nya. Serigala tersebut menghela nafas dan menatap tajam Briallen. Rios hanya pasrah dan membiarkan Briallen ikut naik.
Briallen pun naik setelah Noxita, namun....
“Kakaaakkk!?” seru seorang bocah yang berlari sekuat tenaganya.
“Jangan tinggalkan aku. Aku mau ikut,” imbuhnya.
Rios makin kesal dan terpaksa membawa 3 anak manusia di atas punggungnya. Mereka pun kembali menanyai warga sekitar, hingga ada seorang anak perempuan berusia sekitar 10 tahun yang mendekati mereka dan berkata.
“Maaf Nona. Saya tadi melihat Nona Lily mengikuti dua orang lelaki. Yang satu bertubuh gempal dan satunya berbadan tinggi,” jelasnya.
Noxita terkesiap mendengar perkataan gadis itu.
“Kemana mereka pergi?” tanya Noxita.
“Ke rumah itu. Tapi sekarang rumah itu kosong. Karena mereka sudah pergi daritadi Nona,” ucapnya yang membuat Noxita kembali menangis. Briallen segera memeluk dan menenangkan kekasihnya itu.
“Dan apa yang terjadi? Kenapa mereka sudah tidak ada di sana lagi sekarang?” Briallen bertanya menggantikan Noxita.
“Kereta barang yang hampir menabrak kendaraan kita tadi Kak! Saya yakin itu mereka,” sahut sang adik yang diberi anggukan oleh kakaknya. Noxita melepaskan pelukan Briallan dan berkata pada gadis tersebut.
“Terima kasih, karena sudah membantu kami dengan memberi informasi. Ini sebagai imbalannya,” ujar Noxita seraya memberikan sebuah kantong, yang penuh berisi Coin emas padanya.
“Ah? Terima kasih Nona,” ucap gadis tersebut sambil tersenyum.
Mereka segera naik ke punggung Rios lagi dan menuju ke arah kemana kereta itu terakhir dilihat Briallan. Sesampainya di sana, merekapun menyusuri jalanan hingga menemukan kereta barang yang sudah hancur. Terlihat dua orang lelaki yang memiliki ciri-ciri sesuai dengan anak gadis tadi sebutkan, tergeletak tak bernyawa.
“Xita jangan lihat, di sini saja!” perintah Briallen saat ia turun untuk memeriksa. Noxita mengangguk perlahan seraya melihat kekasihnya mendekati kereta barang tersebut.
Diperiksanya dengan seksama, namun tak ditemukan sosok Lily di onggokan kereta barang itu. Briallen kembali dan menggelengkan kepalanya perlahan.
“Tak ada Lily di situ. Sepertinya dia menyelamatkan dirinya ke suatu tempat di hutan ini,” ucap Briallen. Noxita bingung dan heran.
“Tapi kenapa kereta barang ini bisa hancur seperti ini?” tanya Noxita dengan heran. Briallen hanya mengangkat bahunya, pertanda tidak tahu.
“Baiklah. Lebih baik kita mencari di sekitar sini,” usul Briallen yang tak mau kekasihnya sedih.
“Baik Allen,” Noxita tersenyum dan mulai mencari dengan semangat.
Mereka berpencar menjadi dua kelompok, Noxita bersama Fammiliar-nya Rios. Sedangkan Briallen bersama adiknya Briallan. Mereka pergi ke arah yang berlawanan.
“Lily! Lily?” Noxita berteriak dan memanggil-manggil nama adiknya, ia melihat sekeliling hutan dari atas.
Langit berubah warna, kegelapan merajai. Membuat hutan menjadi gelap dan mulai terdengar suara lolongan serigala di sudut telinga.
“Allen sudah menemukan Lily?” tanya Noxita pada Briallen menggunakan telepati.
“Belum Xita, dan keadaan menjadi gelap sekarang. Sepertinya kita harus kembali dan memberitahu keluarga Xita,” usul Briallen.
Dengan berat hati, Noxita menyetujui usulan sang pemuda. Iapun segera kembali dan berniat untuk menjemput kekasihnya.
“Allan, kita kembali dulu!” ucap Briallen pada adiknya, namun tiada jawaban dari sang adik.
“Allan? Allan!” Briallen pun berteriak memanggil-manggil nama adiknya, namun hanya desir angin yang menjawabnya.
Di suatu tempat....
Briallan yang terkejut saat membuka matanya, melihat jika tempatnya berpijak sekarang bukanlah hutan tempatnya ia berada tadi.
Sekelilingnya penuh cahaya, sebuah hutan yang indah. Kelap-kelip ajaib menghiasi rupa hutan tersebut. Terlihat sangat ajaib dan penuh misteri.
“Tempat apa ini?” ucap sang bocah seraya menelusuri jalan yang ada di celah-celah pepohonan.
Nampak di hadapannya sebuah danau dengan air yang terlihat jernih dan sangat tenang. Ia sangat terkejut, ketika dia melihat ada sesosok orang melayang di atas danau.
“?!” suara Briallan serasa tercekat, hingga tak bisa berkata-kata.
...~ ☽ ☾ ~...
VR. : Halo ...., ||^°)/
Saya kembali dengan membawa chapter baru pada kalian. OwO)/
Okay, di sini saya akan memperkenalkan Avatar saya. 🤣
Saya VR. Stylo akan menggunakan Avatar Paus kecil yang Gemoy. >w<
Sedangkan adik saya si NI.光 yang biasa saya panggil Na, menggunakan Avatar Panda kecil nan imut yang sedang bobo’ di atasnya. 😂
Mohon bantuan dan dukungannya semua. >w<)/
Briallen, Rios : *menatap VR.
VR.: Jangan berisik, adikku sedang tidur. 😒
Briallan : Jangan lupa like, comment, vote.
VR. : Yang belum like chapter sebelumnya, di like juga dong. >
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
*paus ijin undur diri bersama panda
Lauryn : Jangan lihat wajah Aim di IG @rirymocha1.
Awas saja kalau sampai kalian lihat. ^^
VR. Stylo