When The Night Come

When The Night Come
Mata



Briallen yang terbangun merasa jika lengan kirinya kesemutan dan terasa berat. Serta ia merasakan ada sesuatu yang hangat melingkari badannya. Seketika sang pemuda sadar jika dirinya sedang dipeluk juga memeluk. Dilihatnya seseorang yang tidur nyenyak dalam pelukannya.


“Xita?” ucap Briallen dengan perlahan.


Iapun mengingat kejadian sebelum dirinya pingsan. Dan seketika dia merasakan panas di seluruh wajahnya.


“Apakah ... aku dan Xita melakukan hal itu?” gumamnya yang segera mendapat headchop tepat di kepalanya dari Lauryn.


“Apa yang kau pikirkan hm?” tanya Lauryn dengan datar. “Tidak ada kok,” sanggah Briallen seraya memegangi kepalanya.


“Oh iya, siapa kalian berdua? Terutama dia. Apa hubunganmu dengan Xita?” tanya Briallen dengan pandangan menelisik tajam, sedangkan Ferdinand hanya duduk santai meminum secangkir teh hangat.


“Hm?” sahut Ferdinand tak merasa.


“Iya, kamu. Kamu yang terlihat dekat sama Noxita,” ucap Briallen dengan bersungut-sungut, walhasil ia mendapat headchop lagi.


“Hey?” protes Briallen seraya memegangi kepalanya.


“Anda, bukan kamu,” ucap datar Lauryn.


“Baiklah. Apa hubungan Anda dengan Xita?” ucap Briallen mengoreksi kata kamu.


“Kami hanyalah seorang dokter yang mengajari dia untuk tenang dan dia menganggap kami seperti Kakaknya sendiri,” jelas Ferdinand dengan tenang.


“Apa yang diderita oleh Xita? Apa itu sejenis penyakit? Apa ia bisa sembuh?” tanya Briallen secara beruntun.


“Itu semua bukan hak kami untuk menceritakannya, tunggu sampai Xita bercerita padamu sendiri.” Sahut Ferdinand sambil meletakkan cangkirnya.


“Saya harap Anda akan menerima segalanya dan tak meninggalkannya.” Ferdinand menatap Briallen.


Saat Briallen hendak berkata lagi, ia berhenti. Karena merasakan gerakan dari orang yang berada dalam pelukannya.


“Xita. Selamat pagi, Sayang.” Sapa sang pemuda pada gadis yang baru saja membuka kedua kelopak matanya.


Noxita mengerjapkan matanya dengan cepat, air mata langsung keluar saat ia sadar siapa yang dia lihat. Gadis itu langsung menghamburkan diri dan memeluk erat Briallen lagi. Mengabaikan dua pasang mata yang melihat mereka berdua.


“Xita, Sayang. Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Briallen dengan lembut. Tak ada respon yang diberikan oleh sang gadis, karena dia membenamkan wajahnya di dada sang pemuda.


Seolah takut kehilangan, Noxita memeluk erat kekasihnya yang sekarang sedang kebingungan oleh tingkahnya.


“Xita ... Aku tak apa, Sayang. Aku sekarang ada di hadapanmu kan. Dan aku baik-baik saja,” ucap Briallen mencoba untuk menenangkan Noxita.


Noxita mendongakkan kepalanya dan menatap manik biru saphire yang terlihat cerah itu. Briallen membalas tatapannya dan kemudian mengecup kening sang gadis, tangannya mengusap air mata yang ada di ujung matanya.


“Syukurlah ... syukurlah Allen masih hidup,” ucap Noxita seraya tersenyum penuh syukur. Sang pemuda hanya tersenyum lembut, dengan pandangan teduh menatap sang gadis.


“Ingin rasanya aku bantai para Fay,” batin Briallen penuh kesal.


“Aku kan selalu bersama Xita selamanya,” ucap Briallen dengan kasih.


“Ehem?” dehem Ferdinand yang tersedak cookies.


“Eh? Kak Dinand ....” ucap Noxita dengan pipi memerah, sembari melepaskan pelukannya.


“Bagaimana keadaanmu sekarang, Xita?” tanya Ferdinand dengan tenang. Noxita dengan pipi yang masih memerah pun menjawab.


“Sudah lebih baik daripada tadi Kak.”


“Baguslah, sekarang mari kembali mencari Lily lagi.” ajak Ferdinand seraya berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Lauryn berdiri.


“Baik Kak,” Noxita yang hendak berdiri langsung digendong oleh Briallen.


“Akh?!” pekik Noxita yang terkejut.


“Turunkan aku, Allen! Aku bisa berjalan sendiri.” ucapnya dengan wajah yang makin memerah. Briallen tertawa kecil dan menurunkan Noxita.


“Huuh!” protes Noxita dengan menggembungkan pipinya. Briallen yang gemas, mencubit hidung Noxita.


“....” tatapan tajam Lauryn, membuat Briallen berhenti menggoda Noxita.


Mereka berlima mulai berjalan mencari keberadaan Lily dan Briallan, tiap-tiap ruangan mereka periksa. Namun tiada tanda keberadaan sang adik. Hingga mereka tiba di sebuah tempat yang sangat indah, dengan danau di tengah-tengahnya.


Pemandangan danau yang indah disertai dengan pepohonan hijau yang rindang, membuat hati dan pikiran menjadi tenang. Noxita yang mengedarkan pandangan ke sekeliling, melihat ada sesuatu yang melayang di tengah danau itu.


“Allen, Kak Dinand, Kak Laury, Rios. Lihat!” seru Noxita sambil menunjuk ke arah tengah danau.


“Terlihat seperti bocah laki-laki. Ah! Bukan baby Lily,” ucap Ferdinand dengan nada kecewa, yang mendapat respon kecewa oleh Lauryn. Noxita hanya tertawa canggung dengan sebutir keringat di pipinya.


“Bocah laki-laki? Allan!” seru Briallen dengan semangat, seperti mendapat secercah harapan.


“Ah! Benar itu Allan,” sahut Noxita, setelah menajamkan penglihatannya untuk melihat lebih jelas.


“Bagaimana cara kita untuk menyelamatkannya dari sana? Tapi tidak ada perahu atau sesuatu yang bisa dinaiki untuk ke tengah danau,” ucap Noxita dengan bingung.


“Aku akan segera menyelamatkan Allan dari sana.” Briallen hendak mendekati danau, namun ia dihentikan oleh Lauryn.


“Hentikan tindakanmu yang tidak berpikir panjang itu!” hardik Ferdinand yang nampak sedang mengurut keningnya.


“Lalu aku harus menunggu? Hanya melihat adikku melayang dalam kristal penuh dengan air, dan kehabisan nafas?!” teriaknya putus asa serta kebingungan, Noxita memeluknya untuk menenangkan sang pemuda.


“Tenang sayang. Mari kita pikirkan bersama caranya,” ucap Noxita dengan lembut, pelukannya membuat Briallen tenang kembali.


“Baiklah Xita,” Briallen yang sudah tenang, melepas pelukan Noxita dan beralih menggenggam tangan sang gadis. Kemudian mengecupnya.


“Allen?!” Noxita yang malu, memukul-mukul dada Briallen. Sang pemuda hanya tertawa.


“Dasar mereka berdua,” gumam Ferdinand yang membuat keduanya bertingkah canggung.


Rios yang sudah biasa melihat pemandangan itu, hanya bisa mengawasi sekitar. Karena merasa diperhatikan oleh seseorang.


“Baiklah, mari kita berpikir sejenak caranya.” Ucap Ferdinand yang ditatap oleh dua orang remaja itu.


“Xita ... Jangan tatap Kakak seperti itu,” ujar Ferdinand yang merasakan tatapan intens dari Noxita dan juga Briallen.


“Hehe ... Maaf Kak. Habisnya kami tidak tahu harus ngapain,” Noxita berujar sembari memainkan kedua jari telunjuknya.


“Kalian bisa makan ini saja,” sahut Lauryn, seraya mengeluarkan satu toples cookies dan memberikannya pada Noxita.


“Waaah. Terima kasih banyak Kak Laury,” ucap Noxita dengan senang sembari menerima toples cookies tersebut. Briallen hanya melongo.


“Allen kenapa?” tanya Noxita yang kemudian menggigit cookies-nya.


“Aku tak apa Xita. Cuma heran saja, dimana dia menyimpan itu?” ucap Briallen penasaran, sambil menunjuk toples cookies yang dipegang kekasihnya.


“Kak Laury sih hebat, bisa membawa banyak makanan dan memberikannya kepada kami. Semua makanan itu masih segar pula, aku pikir Kak Laury punya tas ajaib atau kantong ajaib gitu. Yang mana bisa digunakan untuk menyimpan segala macam barang,” duga Noxita sambil mengunyah cookies-nya.


“Hm ... Bisa jadi umph?” Briallen yang hendak bicara lagi, disumpal cookies oleh Noxita.


“Nikmati saja Allen,” Noxita tertawa kecil. Briallen menganggukkan kepalanya dan ikut tersenyum.


“Danau ini terlalu tenang, seperti tidak ada yang menghuni sama sekali.” ucap Ferdinand yang membuat dua pasang mata remaja itu fokus padanya lagi.


“Danau yang aneh,” sahut Lauryn yang kemudian mengambil sebuah batu kecil dan melemparkannya ke danau.


“Tak ada riak gelombang air yang tercipta,” dengan datar, Lauryn kembali mengambil sebuah batu yang agak besar dan melemparkannya ke danau lagi.


Tiba-tiba permukaan danau yang tadinya tenang, bergejolak bagai terkena guncangan gempa dahsyat.


“Auryn ....” tegur Ferdinand pada sang wanita, namun Lauryn fokus melihat danau.


“Wah, lihat itu!” seru Lauryn sembari menunjuk ke arah danau.


Nampak sebuah kepala menyembul ke permukaan danau, kepala tersebut setengah tenggelam. Dengan sepasang mata yang menatap tajam mereka berlima.


~ ☽ ☾ ~


Halo everybody. °^°/


Apa kabar? 🤣


Gimana keadaan kalian semua? Semoga kalian sehat selalu ya. ^~^


Di tempat VR. Sekarang sedang dingin... 😫


Rasa-rasanya si Allen lagi nge-badai. 👀


Briallen : Hm....


🐳VR. : Halo Bang. OwO/


Lily : *muncul entah dari mana, dan menatap mereka berdua.


🐳VR. : Lily kok di sini? Belum saatnya kamu muncul, Sayang.


*bawa Lily balik


🐼Na: Terima kasih atas dukungan kalian semua


Dukung kami terus ya, dengan cara Like, comment, vote, dan share.


Ferdinand : Follow IG @rirymocha1 untuk bertemu dengan kami.


VR. Stylo