TWENTY

TWENTY
Lomba Mancing



Jam menunjukkan pukul dua siang. Sinar matahari sudah tidak sepanas tadi siang. Sabtu sore yang lumayan santai kuhabiskan dengan rebahan di kamar dengan sebuah novel bergenre romansa. Untuk lebih mendukung suasana, aku meminjam mp3 punyanya Rendi untuk kugunakan memutar lagu-lagu Korea bertema melow. Ini juga di kamar lagi sepi. Entah ke mana juga keberadaan tiga penghuni lain, untuk sekarang aku tidak peduli. Malah senang jadi enggak ada yang ganggu.


Sempurna!


Brakk!


"Allohu Akbar!!!" Aku terlonjak kaget sambil mengelus dadaku dengan kesal. Menatap objek yang menjadi sumber kekesalanku.


"Ada apa sih Tik? Pakai banting pintu segala? Untung ya aku enggak punya riwayat penyakit jantung" ketusku.


"Boooooooseeeennnn!" Katanya mendramatisir.


Tanpa rasa bersalah dia malah ngemil keripik singkong punyaku yang sengaja kubuka untuk menemani aktivitas membaca novel.


"Cabutin rumput depan sana biar enggak bosen!"


"Nala jahat ih! Kan capek kalau ngerjain itu" dia yang memang kelihatannya gabut tingkat akut kini beralih dengan mp3 milik Rendi.


Mengganti laguku dengan seenak jidatnya, malah dijadikan mainan lagi. Diputar, dimatikan, diputar, dimatikan, lalu ganti lagu. Terus saja begitu sampai membuatku kesal sendiri. Langsung kurebut mp3 itu dan mematikannya. Menyimpan dalam lemariku agar dia tidak memainkannya lagi.


"Aha! Aku punya ide!" Palingan ngajak jalan-jalan.


"Gimana kalau kita jalan-jalan keliling desa? Seru tahu! Belum pernah kan kita keliling desa?" Benar kan!


Isi otaknya sangat mudah sekali ditebak.


"Enggak mau. Lagi mager" tolakku tanpa basa-basi.


"Please! Kan baca novelnya bisa dilanjut nanti malam. Ya? Ya?" Mulai deh! Akting sok melas itu paling kubenci. Kan enggak bisa nolak kalau begini.


"Iya deh iya. Mau ke mana?" Tanyaku sambil membereskan tempat tidur.


"Ke sungai yuk! Sambil nyuci baju. Tiap pagi kita sering lihat kan ibu-ibu yang pergi ke sungai buat cuci baju? Nanti kita tanya aja tempatnya kalau enggak tahu" hmmm... lumayan bagus idenya. Lagian baju kotorku juga sudah menumpuk seperti gunung.


"Oke deh. Ngajak yang lain sekalian biar rame" kataku semangat.


Pertama-tama kita menyiapkan timba untuk wadah pakaian. Ketika di dapur aku melihat Salma juga Astri yang tengah menyiapkan bahan-bahan untuk dimasak nanti sore.


"Salma, Astri. Mau ikut kita enggak?" Tawarku.


"Ke mana?"


"Ke sungai Sal. Jalan-jalan sekalian nyuci baju" ujar Tika setelah menemukan timba di kamar mandi.


"Kayanya enggak bisa deh. Mau nyiapin makanan buat nanti sore" hmm.. sudah kuduga.


"Kalau kamu As? Mau ikut kita apa bantuin Salma masak?" Tawarku untuk yang kedua kalinya.


"Bantu Salma masak aja deh"


"Oohh oke-oke. Kita duluan ya!" Pamitku pada mereka berdua.


Di ruang tamu ada Rere yang tengah mengetik sesuatu di laptopnya. Melihatku dan Tika yang membawa timba lengkap dengan setumpuk baju rupanya mengundang penasarannya.


"Mau ke mana nih?"


"Ke sungai Re, jalan-jalan sekalian nyuci baju?" Kata Tika persis dengan yang di dapur tadi.


"Ikut-ikut!!!. Bosen juga lama-lama natap laptop"


"Iya-iya" aku mengiyakan. Dan dia langsung bergegas ke kamarnya. Mencari baju kotor untuk dicuci.


Keadaan rumah sekarang memang sepi. Yang lain masih menjalan program kerja mereka. Mungkin masih satu jam lagi untuk pulang.


Di depan teras rumah cowok ternyata mereka sedang berkumpul ria. Membentuk sebuah band dadakan. Rangga dengan gitarnya, lalu Alif, Abdul, Wahyu, dan Bayu sebagai vokalis. Di tengah-tengah lingkaran mereka terdapat kucing berwarna oren milik tetangga yang sekarang sering main ke sini. Kita bertiga berjalan menghampiri mereka. Lebih tepatnya ke Alif, untuk izin tentunya.


"Mau ke mana?" Belum juga izin sudah ditanya.


"Ke sungai Lif. Jalan-jalan sekalian nyuci baju" fiks deh! Tika sudah seperti kaset rusak. Dari tadi jawabnya itu mulu.


"Wihh seru tuh! Ikut-ikut!" Abdul latah nih.


"Enggak-enggak! Ini tuh girls time! Cowok-cowok gak boleh ikut!" Ada benerna juga sih kata Rere. Lagian kalau rame-rame malah kaya mau tawuran.


"Udah ya Lif, kit duluan. Bye everybody!" Aku dari tadi belum ngomong sepatah kata punĀ  hanya bisa pasrah ketika tanganku ditarik Rere.


Setelah berjalan lima belas menit dengan bermodal tanya warga sana-sini, akhirnya kita sampai di sungai tempat ibu-ibu biasanya mencuci baju.


Senyum terus terukir di bibirku. Kagum akan ciptaan tuhan yang begitu indah. Dalam hati aku bersyukur dengan keindahan ini. Semakin aku tahu bagian desa ini, semakin cinta tumbuh dan berkembang di hati.


Sungai yang berarus tidak terlalu deras mengalir di antara bebatuan besar. Di sepanjang kiri dan kanan terdapat sawah warga yang begitu luas, hijau membentang. Kata warga, sungai ini adalah terusan atau hilir dari air terjun yang kemarin kita kunjungi.


"Dingin airnya!" Kata Rere dengan semangat. Aku pun mengikutinya turun dengan perlahan-lahan.


"Iyalah dingin. Kalau panas di sumber mata air panas sana" Tika kalau ngomong selalu pengen ngajak debat ya. Lihat saja Rere yang sudah bersungut-sungut bibirnya.


"Kita nyuci di sini ya?" Tanyaku. Sengaja untuk meredam perang yang akan dimulai. Aku menunjuk pada bebatuan yang berada di pinggir sungai.


"Iya. Kalau terlalu ke tengah arusnya agak kencang. Nanti bisa hanyut pakaian kita"


"Terus ditemuin sama Jaka Tarub" Tika menyambung ucapan Rere.


"Jaka Tarub itu bukannya nyuri selendang ya Tik? Bukan nemu pakaian yang hanyut"


"Iya in aja Na. Kalau lagi pelajaran Bahasa Indonesia malah tidur ya begini jadinya" Rere kayanya masih dendam sama Tika. Tapi jawabannya masuk akal juga.


"Udah-udah! Malah bahas Jaka Tarub lagi. Nyuci-nyuci!" Kata Tika yang mulai kesal.


Masih beberapa menit kita mencuci pakaian, suara keributan terdengar dari atas. Tanpa aba-aba kita bertiga menengok ke sumber suara.


"Loh!" Kita kompak kaget melihat anak-anak cowok tadi ikut nyusul ke sini.


"Dibilang enggak boleh ikut masih ngeyel juga!" Sabar Re, sabar!


"Eitts! Tenang-tenang! Kita enggak mau ganggu kok. Cuma mau mancing aja" Kata Wahyu sambil memperlihatkan alat pancing di tangannya.


Iya juga sih. Mereka juga pegang alat pancing lengkap dengan umpannya. Dapat dari mana juga itu semua?


"Alif kok ikut? Emang udah sembuh total?" Kan Alif pulangnya baru kemarin. Masa sekarang udah mau kegiatan.


"Enggak apa-apa kok Na. Kalau di rumah terus malah tambah sakit" iya deh. Aku percaya kalau gitu.


Mereka berjalan menyebrangi sungai. Memilih spot memancing terbaik untuk mendapatkan ikan yang banyak. Ya semoga saja. Kan lumayan buat tambahan lauk nanti.


"Kalau lihat air seger kaumya gini, bawaannya pengen nyebur terus"


"Tinggal nyebur apa susahnya Re?" Tanyaku.


"Lagi dapet nih"


"Ooohhh" aku dan Tika ber "oh" ria.


Selesai mencuci baju, aku dan Tika bermain air. Karena waktu berangkat kita sudah menyiapkan baju ganti. Aku cuma nyebur di air yang sebatas lutut, sedangkan Tika sudah berenang sana berenang sini.


"Tadi siapa ya yang ngotot enggak mau ada anak cowok?" Aku menyindir keras Rere yang kemakan omongannya.


"Hehehe.. kan tadi. Kalau sekarang sudah beda cerita" terserahmu lah Re!


"Tik! Tika!!!" Dasar Tika! Kalau lihat air bawaannya pengen ketemu sama saudaranya. Dari tadi betah banget berenang. Enggak ngerasa kedinginan ya itu anak?


"Apaan?" Dia berenang mendekati kami.


"Ke anak cowok yuk!" Ajakku.


"Yuk lah! Ganggu merek kayanya seru juga" hmm.. jiwa keusilannya bergejolak nih.


"Udah dapat berapa ton ikannya?" Ledek Rere. Karena dalam timba mereka hanya ada dua ikan saja.


"Berapa ton gundulmu! Ngejek ya?" Abdul enggak terima.


"Ya iya lah! Jiahahhahh" kita serempak menertawai mereka.


"Kalian bisa mancing enggak sih? Dari tadi dapatnya cuma dua" tanya Rere sekali lagi.


"Belum sih. Cuma lihat di tv" jujur Bayu.


"Ohh belum bisa. Tapi gayanya udah sok-sok an kaya pemancing profesional" sindir Tika.


"Yaudah coba kalian sendiri yang mancing, bisa enggak?" Eittss!


Nantangin nih Abdul. Belum ngerti dia kalau seorang Nala pintar memancing. Memancing emosi maksudnya. Hehehe.


"Oke. Kita tanding aja gimana? Banyak-banyakan dapat ikan, dan yang kalah ada hukumannya. Deal?" Tantangku. Berbekal dari hobi nemenin bapak mancing di empang, membuat kepercayaan diriku bertingkat. Secara, mereka kan tahunya cuma di tv.


"Oke" Abdul menjabat tanganku sebagai tanda persetujuan.


"Siapa yang mau tanding nih?" Berhubung alat pancingnya cuma dua, jadi satu lawan satu.


"Rangga dong!" Mereka kompak mengajukan Rangga yang dari tadi cuma diam. Dan si Rangga nurut-nurut aja gitu mereka kadalin.


Pertandingan pun dimulai. Lima menit pertama masih belum ada kail yang disambar ikan. Salah satu manfaat memancing ya ini, melatih kesabaran. Tapi tidak berselang lama, senar pancingku bergerak-gerak. Wuihh, alamat dapat ikan dah ini.


"Ayo Na! Semangat!"


"Ikannya besar tuh kayanya. Tarik terus jangan kasih kendor!" Teman-temanku dengan semangat bersorak-sorai untukku. Serasa pertandingan beneran kalau kaya gini.


"Dek Nala yang semangat! Abang bantu doa dari belakang!"


"Yeee! Dasar!" Tika dan Rere sudah mewakili perasaanku dengan memukul lengannya Wahyu.


Dih, abang sama adek katanya. Sejak kapan aku saudaraan sama dia? Ikan-ikan kalau seumpama bisa dengar mungkin akan muntah dengar omongannya Wahyu.


Ngomong-ngomong soal ikan, ikan yang nyangkut di kailku kayanya niat banget mau kabur. Dari tadi sulit banget buat muncul di permukaan. Tapi aku enggak akan nyerah gitu aja.


Dan.. strike!!


Seekor ikan nila berukuran sedang aku dapatkan. Senyum penuh mengejek menghiasi wajah Rere dan Tika. Padahal yang bertanding aku, tapi yang semangat 45 mereka ya?


Sepertinya pertandingan ini berjalan sengit. Pasalnya beberapa menit setelah aku strike, umpan Rangga juga dimakan. Malah kelihatannya dapat ikan yang lebih besar. Dan gantian juga, para cowok enggak kalah semangat menyoraki Rangga.


"Tarik terus Ga!"


"Gede tuh ikannya. Lebih gede dari punyanya tetangga sebelah!" Kok kaya ngajak adu mulut ya mereka?


"Hiu tuh hiu! Eh enggak-enggak! Dapat paus itu kayanya!"


"Heh pinter! Paus sama hiu di laut kali. Mana ada di sungai ikan paus sama hiu!"


"Ada. Tadi udah aku telpon"


"Ish Tika, Abdul! Diam!" Eh? Suasana mendadak hening. Kok aku sama Alif barengan gini sih ngomongnya. Kan jadi ge-er nih.


Lihat, yang lain udah pada krasak-krusuk enggak jelas gitu. Mau cie-cie lah pastinya.


"Kalau kalian rame terus nanti ikannya takut!" Kataku supaya mereka diam tidak melanjutkan kegaduhannya.


"Dapat! Saringannya mana?! Cepat!"


Dengan sigap Wahyu maju menyaring ikan agar tidak bisa lolos lagi.


Wehh.. ikannya Rangga besar banget ya. Dua kali lipat lebih besar dari punyaku tuh.


Oke. Jadi sekarang kita seri. Masing-masing sudah dapat satu. Berhubung ini pertandingan banyak-banyakan ikan, bukan berat-beratan. Jadi prinsipku adalah, enggak apa-apa dapat ikan kecil-kecil yang penting banyak. Aku menggerak-gerakkan anggota badanku, pemanasan untuk pertandingan lebih panas tentunya.


Satu jam telah berlalu, dan pertandingan diakhiri. Benar dugaanku, kebanyakan ikan yang diperoleh oleh Rangga berukuran besar-besar sehingga timbanya tampak penuh. Sedangkan punyaku lumayan kecil dengan hanya setengah timba. Tapi setelah dihitung, punyaku ada enam belas sedangkan punya Rangga cuma ada sepuluh.


"Yey menang!" Kita bertiga bersorak gembira.


"Huu curang! Jelas-jelas punyanya Alif satu timba penuh"


"Kan tadi Nala bilangnya banyak-banyakan ikan Abdul Dudul bukannya siapa yang timbanya penuh" alright! Bener banget Re.


"Udah-udah! Yang kalah sekarang dapat hukumannya" kataku.


"Iya-iya, apa hukumannya" mereka kaya pasrah gitu. Dalam hati aku sudah ketawa puas.


Aku, Tika, dan Rere melingkar membelakangi mereka. Sok-sok an diskusi lama padahal hukumannya sudah tahu dari tadi.


"Hmm.. berhubung hasilnya selisih tipis, dan kita juga enggak tega mau hukum kalian terlalu berat. Jadi hukumannya adalah........." Aku kalau buat orang penasaran jago banget ya?


Lucu tahu lihat muka penasaran mereka mungkin dalam hat sudah ketar-ketir duluan, takut kalau kita minta yang aneh-aneh.


"Bawain cucian kita...!" Kata kita kompak. Muka mereka yang pertama tegang jadi berubah santai.


"Kirain apa, kalau cuma itu gampang. Mana sini cuciannya Dek Nala biar Abang bawakan"


"Yu, ngomong kaya gitu sekali lagi aku sumpal pakai ikan nih ya?!" Ancamku pada Wahyu.


Bukannya apa, geli banget kupingku kalau dengar Wahyu ngomong gitu. Entar kalau ada orang lain dengar dan salah paham, bisa-bisa dikira aku ada punya hubungan sama ini anak.


"Iya deh" dih. Jijik deh Yu mukanya dijadiin sok ngambek gitu!


"Nih! Mending bawain punyaku aja" Rere dengan inisiatifnya sendiri menggenggamkan timba miliknya di tangan Wahyu. Biar tahu rasa tuh anak, kan cuciannya Rere paling banyak di antara kita bertiga.


Hari sudah mulai petang, dan kita bergegas untuk pulang. Wahyu yang membawa cuciannya Rere, Abdul yang membawa cuciannya Tika, sedangkan cucianku dibawa oleh Bayu. Dan ikannya dibawa oleh Rangga dan Alif.


"Eh guys! Aku juga dapat ikan loh!" Ucapan Tika membuat langkah kita berhenti.


Lalu menoleh ke belakang, dan mendapati dia yang memegang kresek bening penuh air dengan sesuatu di dalamnya. Kita mendekat, mengamati ikan apa yang didapat Tika. Ikannya kecil-kecil. Mungkin bayi ikan.


Eh bentar! Kok ada kakinya?


Hmm.. dasar!


"ITU KECEBONG TIKA!!!"