TWENTY

TWENTY
SEASON DUA ~ Dia Sudah Pergi



Suasana di Pulau Sempu sangatlah indah dan menyejukkan. Sebelum sampai di laguna yang merupakan tujuan utama, kita sudah disuguhkan hijaunya pepohonan yang asri karena pulau ini termasuk dalam kawasan cagar alam. Ketika sampai kita sudah disambut dengan telaga berwarna biru yang mendapatkan pasokan air dari Samudera Hindia melalui celah tebing berlubang di dekatnya. Laguna tak berombak yang sangat tenang ini membuat siapa saja ingin masuk ke dalamnya. Entah untuk berenang atau snorkling. Hanya saja, aku tidak bisa berenang. Lagi-lagi hanya bisa menikmati keindahan alam ini dari atas perahu. Sedangkan Mas Alif sedang bersiap dengan baju menyelamnya yang habis dia sewa tadi.


"Hati-hati Mas!" kataku ketika Mas Alif sudah mengambil posisi.


Byurr!!


Mas Alif dan beberapa penyelam yang lain sudah meluncur dalam telaga. Mereka sekarang pasti tengah asyik mengamati keindahan biota laut di dalamnya. Membuatku iri saja. Andai aku dulu memperhatikan dengan betul ketika guru olahraga mempratikkan renanh atau pun materinya, pasti sekarang aku sudah di bawah sana bersama Mas Alif. Tapi itu hanya andai. Kenyataannya aku hanya bisa melihat keindahan biota bawah laut itu melalui potret foto yang dia ambil dengan kamera.


Jujur saja. Sebenarnya suara deburan ombak yang menerjang dinding tebing pulau membuatku agak ngeri. Bayangan yang tidak-tidak memenuhi pikiranku. Tapi lupakan, ombak itu tidak akan berhasil menembus kokohnya dinding tebing. Akunya saja yang suka melebih-lebihkan dan berakhir dengan berpikiran macam-macam. Dasar aku!


Di tengah-tengah kedamain ini tiba-tiba sebuah tangan yang dingin menggenggam tanganku. Sontak saja aku menoleh ke samping, mencari siapa pelakunya.


"Loh Mas? Udah selesai." Mas Alif ternyata sudah duduk di sampingku. Masing lengkap mengenakan baju dan alat menyelam.


"Iya. Kamu kenapa melamun gitu?"


"Eh? Siapa yang melamun? Aku cumi menikmati suasana damai ini," kataku sambil bergaya merentangkan tangan dan menghirup udara dalam-dalam.


Jam ditanganku sudah menunjukkan pukul dua siang, membuat kita akhirnya memutuskan untuk pulang. Satu-satunya akses menuju Pulau Sempu adalah menyebrang dari Pantai Sendang Biru. Alhasil ketika kita akan kembali pun akan menyebrang ke sana. Setelah Mas Alif menelpon bapak pemilik perahu yang mengantar kami tadi, kita hanya perlu menunggu bebarapa saat. Dan perahu yang kita sudah sewa tadi perlahan mulai menampakkan diri dan menghampiri kita.


Sebelum pulang, aku dan Mas Alif memutuskan untuk makan dulu di salah satu warung yang berjejer di Pantai Sendang Biru ini. Rupanya banyak juga pengunjung yang bersantai dengan bakaran ikan, atau pun makan bersama di warung-warung. Setelah pesanan datang, aku dan Mas Alif menyantapnya dengan lahap.


Pemandangan pantai ini jujur agak kurang menarik karena tempat untuk bersandarnya kapal-kapal nelayan. Jadi pemandangan pantainya akan terhalangi oleh banyak perahu. Tapi meskipun begitu, jika ingin mendapatkan suasana hangatnya kekeluargaan bisa ke sini karena banyak tempat yang tersedia untuk kumpul-kumpul sekadar untuk bakar ikan atau pun melepaskan penat. Di dekat sini juga ada tempat pelelangan ikan. Surganya ikan dengan harga murah dibandingkan dengan di kota. Alhasil aku membeli beberapa ikan di sini untuk kubawa pulang. Sangat menghemat perbelanjaan kalau begini.


"Gimana hari ini? Seneng gak?" tanya Mas Alif dengan tangan kiri yang masih setia menggenggamku dan tangan kanannya yang membawa sekantong penuh ikan.


"Seneeeeeeeeeeng banget!" ucapku hiperbola dan bergelayut manja di pundak Mas Alif. "Makasih ya Mas!"


"Iya. Sekali-kali bagus juga liburan bareng gini." Mas Alif mengecup jemariku sekilas.


"Hmm. Sama jangan lupa juga janjinya ke Bali."


"Iyaa." Dia mengacak-acak pucuk jilbabku seperti biasa kalau gemas.


Perjalanan pulang menempuh waktu sekitar dua jam. Melewati rindangnya pepohonan di tepi jalan. Dalam mobil aku fokus dengan ponselku. Melihat-lihat foto dan video. Lalu menemukan sebuah foto yang bagus. Yaitu potret ketika aku tersenyum ke arah kamera dan menggandeng tangan Mas Alif yang juga sebagai juru foto. Jadi hanya lengannya saja tertangkap lensa kamera sambil kugenggam.  Laguna Anakan di Pulau Sempu dengan air berwarna biru jernih dan gugusan bukit hijau menjadi latar belakang yang sempurna. Jadi aku memilih foto ini untuk kuunggah di media sosial.  Dengan caption "Thanks for the time my hubby❤" itu langsung dibanjiri komentar teman-temanku yang lain.


yusufff.12 Wazeekk! Habis liburan nih.


Salma_mahardya Yahh! Nala jahat banget sih. Gak ajak-ajak!


M.Rendi27 Tenang Honey @salma_mahardya, enggak usah pengen sama mereka. Nanti kita liburan sendiri ke luar kota. Santai aja.


Ireneiren Uuuhh! Co cwiittt!


Wahyu.ilahi Hati abang potek neng!


Sitadwii Inget Na! Masih hamil muda. Jangan honeymoon dulu. Ampun deh!


Obatpeninggi.badan Mau tubuh tinggi dengan cepat? Yuk kakak bisa kunjungi aku kami!


Aku tertawa geli melihat komentar teman-temanku itu. Ada Salma dan Rendi yang romantis-romantisan di lapakku. Terus Wahyu dengan setia masih menggombaliku. Dan juga agen penjual obat peninggi badan yang tiba-tiba muncul di kolom komentar. Mas Alif yang fokus menyetir di samping jadi gagal fokus karena aku yang tertawa geli sendiri.


"Sayang, ngetawain apa sih?"


"Ini loh, temen-temen lagi rame ngomentarin postinganku," jawabku sambil terus menggulir komentar-komentar mereka dan membalasnya.


"Ooh. Kirain ada apa kamu tiba-tiba ketawa gitu." Mas Alif kembali fokus menyetir.


Mungkin karena sibuk fokus dengan ponsel di beberapa kilometer terakhir, membuatku tidak menyadari jika mobil sudah memasuki komplek. Sadar-sadar Mas Alif sudah menepikan mobilnya di samping gerbang rumahnya Astri dan Rangga. Kita ke rumah mereka dulu untuk menjemput Jimmy yang aku titipkan ke mereka kemarin. Tidak mungkin kan aku mau liburan sambil mengajak Jimmy? Atau bahkan meninggalkannya sendirian di rumah. Pastilah jalan satu-satunya dengan menitipkannya. Berhubung Lia suka banget dengan Jimmy, jadi aku menitipkannya di sini.


Kedataganku sudah di sambut oleh Astri yang sedang menyiram tanamannya di halaman. Dia langsung mematikan kerannya dan menghampiriku.


"Kalian sudah pulang rupanya." Seperti kebiasaan, kita berpelukan sebentar lalu cipika cipiki.


"Iya As. Maaf ya kalau ngerepotin."


"Enggak apa-apa kok. Lagian Lia suka banget sama kucing kamu, jadi sekalian buat nyenengin hatinya dia," ujar Astri.


"Oh ya, Rangga mana?" Mas Alif celigak-celinguk mencari keberadaan Rangga. Biasanya kan di mana ada Astri di situ ada Rangga.


"Lagi main sama Lia di dalam."


"Ooh gitu." Aku dan Mas Alif kompak menanggapi.


"Ya udah, ayo ke dalam!" Astri mempersilakan kita untuk masuk. Dengan dia berjalan masuk ke lebih dahulu, aku dan Mas Alif mengikuti dari belakang.


Baru saja kita masuk dan sampai di ruang tamu, sudah terdengar suara Lia berteriak lalu disusul dengan tangis kencangnya. Ibarat insting seorang ibu, Astri langsung berlari menghampiri anaknya. Aku dan Mas Alif juga ikut bergegas ingin tahu apa yang terjadi.


Di ruang bermain aku melihat Lia tengah menangis sesenggukan. Dia sendiri, dikelilingi oleh banyak mainan boneka. Tidak ada Rangga di sampingnya seperti apa yang Astri katakan tadi.


"Cup! Cup! Cup! Sayang! Anaknya Bunda yang manis, yang cantik, diam ya!" Astri berusaha menimang Lia dengan memangkunya agar Lia bisa diam.


"Miong! Miong! Huaa! Miong!" Lia bukannya diam malah tambah histeris. Tubuhnya memberontak dan tangannya menunjuk ke satu arah.


Eh. Bentar-bentar!


Aku langsung mengikuti ke mana arah telunjuk Lia.


"Ya Allah!" Aku langsung menutup mulutku tak percaya.


Segera aku beranjak dan menuju ke kolam renang yang berada tepat di samping ruang bermain Lia. Hanya dipisahkan oleh partisi kaca.


"Ya Allah! Jimmy! Kamu kenapa bisa di situ?!!" Aku berteriak tidak kalah histeris dari Lia ketika mataku melihat Jimmy berada tepat di tengah kolam dan kewalahan menahan dirinya agar tidak tenggelam. Kepalanya sudah hampir tenggelam!


Mas Alif yang melihatku histeris langsung menghampiriku. Tanpa banyak bertanya dia langsung menceburkan diri untuk menyelamatkan kucing kesayanganku itu.


"Ayo Mas! Bawa Jimmy ke sini!" Aku terengah-engah karena habis berteriak-teriak dan menangis.


Dari ekor mataku aku dapat melihat Rangga datang tergesa-gesa. Menghampiri Astri yang menenangkan Lia. "Kamu ke mana aja sih Mas?"


"Aku habis ke toilet bentar tadi," kata Rangga. Melihat Mas Alif ada di kolam renang rumahnya membuat dia terkejut dan berdiri di sampingku.


Beberapa saat kemudian Mas Alif sudah kembali dari dalam air sambil membawa Jimmy. Tubuh Jimmy sudah terkulai lemas ketika Mas Alif meletakkannya di lantai. Tangisku langsung pecah ketika Jimmy tidak segera membuka matanya.


"Jimmy! Ayo bangun! Bangun dong! Jangan tidur terus!" Aku terus menggoyang-goyangkan tubuhnya. Berharap agar dia bergerak walau sedikit pun.


"Mas! Ayo bawa ke dokter hewan!" Aku hendak menggendong Jimmy, tapi tangan Mas Alif malah mencekalku dengan lembut.


Dari sorot matanya aku tahu apa yang dia sampaikan. Dari gelengan kepalanya aku tahu apa yang dia maksudkan. TAPI AKU TIDAK BISA MENERIMA KENYATAAN INI!!!


Jimmy sudah kuaangap sebagai bagian dari diriku sendiri. Aku tidak bisa terima jika tiba-tiba dia pergi begitu saja. Aku terduduk lemas sambil mengelus tubuh Jimmy yang basah kuyup. Air mataku tidak bisa berhenti turun. Dan Mas Alif berjongkok di sampingku lalu mendekapku erat. Sedangkan Rangga hanya bisa berdiri melihatku iba, dan Astri yang berposisi sama dengan Mas Alif, menenangkan tangis seseorang.


Angin sore yang berhembus sepoi-sepoi mengiringi pemakaman Jimmy. Daun-daun dari pohon yang tumbuh di belakang rumah jatuh berguguran, seakan ikut berduka cita atas kepergian Jimmy yang sudah terkubur di bawah sana. 


Bukan hanya Mas Alif yang menenangkanku, tapi juga ada Rendi dan Salma. Rendi setelah mengetahui kematian Jimmy dari Mas Alif langsung meluncur ke sini bersama istrinya. Sebagai sahabat, dia pasti sudah tahu betapa sedihnya aku kehilangan kucing kesayanganku ini. Apalagi dia adalah saksi hidup di mana aku menemukan Jimny yang waktu itu habis tertabrak mobil, bagaimanaaku merawatnya, dan bagaimana aku selalu menyayanginya.


Sambil masih terisak aku menaburkan bunga di atas kuburannya. Jangan pikir aku lebay! Setidaknya Jimmy sudah setia menemaniku selama enam tahun, setia menghiburku, dan juga setia mendengarkan curhatanku. Jadi semua ini aku anggap sebagai bentuk penghormatan terakhir untuknya.


Seiring dengan langit yang mulai menggelap, dan burung-burung yang kembali dari perduannya, kita semua memilih untuk kembali lagi ke dalam. Rendi ikut Mas Alif untuk pergi ke masjid menunaikan ibadah sholat maghrib. Sedangkan Salma sibuk di dapur untuk memasak makan malam.


Bukannya aku tidak mau membantu. Tapi dengan kondisiku sekarang pastilah akan sulit untuk berkonsentrasi ketika memasak. Daripada melukai diri sendiri, aku akhirnya berada di kamar. Pun itu juga atas permintaan Salma sendiri, dan juga atas permintaan Mas Alif dan Rendi.


Lama terisak di tempat tidur, pintu kamar terbuka dan menampilkan Mas Alif yang masih memakai sarung dan peci membawa senampan makanan. Diletakkannya itu di nakas.


"Makan ya Sayang!"


"Iya nanti," jawabku lalu memeluk Palila dan berbalik badan, berbaring dengan memunggungi Mas Alif.


"Jangan begitu lah Sayang! Sedih boleh, tapi jangan abaikan kesehatan juga."


"Enggak nafsu," kataku singkat.


"Kalau benar kamu enggak nafsu, apa kamu juga melupakan dedeknya? Dia kan juga butuh asupan makanan. Masa kamu tega sih biarin dedeknya kelaparan di dalam sana?"


Haishh!


Mas Alif ini pintar sekali kalau urusan merayuku.


"Iya deh, iya. Ini mau makan." Aku beranjak dari tidurku, mengambil makanan yang dimasak Salma. Rupanya sop ayam.


Mas Alif sudah kembali dari kamar mandi dan sudah mengenakan pakaian santainya. Dengan mengambil duduk di depanku, dia juga mengambik alih sendok dari tanganku. Ingin menyuapiku.


"Aaa!?" Suapan demi suapan sudah masuk di mulutku. Sampai aku tidak menyadari kalau mangkok itu sudah bersih dan hanya menyisakan kuahnya saja. Masakan Salma dari dulu memang enggak berubah, tetak enak!


"Kamu yang sabar ya! Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Lagian Jimmy juga sudah tua, jadi meski pun tidak ada kecelakaan seperti tadi pun lambat laun dia juga pergi."


"Kenapa kamu bilang gitu Mas?! Jadi kamu pikir Jimmy sudah pantas mati? IYA?!!"


Melihat tandukku yang mulai keluar, Mas Alif kelabakan sendiri. "Eh! Bukan begitu maksudku Sayang! Semua di dunia ini kan tidak ada yang abadi, jadi ketika sampai pada masanya pasti akan pergi juga." Dia mencoba menjelaskan sehalus mungkin padaku.


Tapi aku sudah terlanjur kesal. "Tetep aja! Kata-kata Mas Alif tadi tuh aku enggak suka!!"


Mungkin karena mendengar kegaduhan di kamar ini, jadi Salma menghampiriku. "Kenapa kamu Na?" tanya Salma yang berada di ambang pintu.


"Lagi kesel!" jawabku ketus.


Kemudian aku berdiri dan berjalan menuju Salma. Lalu kutarik tangannya untuk masuk lebih dalam.


"Malam ini kamu tidur di sini ya Sal? Sama aku," pintaku ke Salma dengan nada yang lebih seperti pemaksaan.


"Loh? Kalau Salma tidur di sini, terus aku tidur di mana dong Sayang?" tanya Mas Alif.


Kudorong saja tubuhnya ke luar kamar. "Tidur di kamar tamu bareng Rendi!"


Brakk!


Pintu pun kututup kasar. Menimbulkan suara keras yang memekakkan telinga. Biar Mas Alif tahu kalau aku benar-benar kesal.