
Di pagi yang cerah ini aku sibuk menata keperluan untukku dan Mas Alif yang akan dibawa untuk ke pantai nanti. Seperti kaos, baju ganti, handuk, alat mandi, sunblock, dan beberapa printilan yang lain. Tidak lupa juga aku turun ke dapur untuk menyiapkan beberapa makanan ringan. Sedangkan aku yang sibuk mengurusi segala keperluan, Mas Alif sedang memanasi mesin mobil di garasi.
Rencana liburan ini tidak direncanakan sebenarnya. Tiba-tiba kemarin malam Mas Alif bilang ide itu. Katanya mau nebus kesalahannya gara-gara kejutan ulang tahun yang gagal itu. Padahal aku juga sudah tidak memikirkannya. Tapi mumpung ada kesempatan, liburan juga bukan ide buruk. Awalnya aku ingin liburan ke Bali, tapi Mas Alif langsung melarangku. Aku tahu dia melarangku karena usia kandunganku masih muda. Jadi terlalu berisiko untuk melakukan penerbangan. Akhirnya dengan segala keikhlasan hati aku melerakan Bali. Mungkin lain waktu akan kukunjungi.
Tujuan wisata kita sekarang adalah Pantai Balekambang. Pantai yang sudah terkenal dengan keindahan dan keasriannya. Sebenarnya bukan pantai ini yang kuinginkan. Melainkan pantai Tiga Warna yang memiliki keunikan dan panorama yang tak kalah cantik. Tapi Mas Alif menolaknya karena rutenya sangat jauh dan juga katanya membutuhkan tenaga ekstra untuk sampai ke sana. Mengingat kondisiku sekarang, Mas Alif tidak mau membuatku lelah. Jadilah kita memilih Pantai Balekambang sebagai tujuan wisata kita weekend ini. Rencananya selain berenang dan berjemur, kita juga akan menginap di salah satu home stay di sana. Karena besoknya masih akan mengunjungi Pantai Bajul Mati dan Pulau Sempu yang memang masih berdekatan. Sebenarnya jika diurut jalannya maka kita akan melewati pulau Sempu dulu, tapi kujadikan destinasi wisata itu sebagai penutup wisata akhir pekan ini. Pokoknya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Sudah siap Yang?" Mas Alif tiba-tiba sudah ada di dapur.
"Udah dong. Semua udah siap dalam tas," jawabku sambil menepuk-nepuk tas punggung yang sudah penuh ini.
"Oke kalau gitu. Habis ini kita siap-siap dan berangkat."
"Okee!" Dengan semangat empat lima aku pergi ke kamar untuk bersiap diri. Sedangkan Mas Alif dari bawah sana sibuk meneriaku agar berhati-hati ketika naik tangga.
"Hehehe. Iya Mas! Maaf!" kataku setelah sampai di atas.
Berangkat dari rumah sekitar jam delapan pagi. Perjalanan dari sini ke lokasi memakan waktu dua setengah jam. Jalanannya lumayan bagus, hanya beberapa ruas saja yang masih rusak. Tapi sejauh mata memandang hijaunya pemandangan menyejukkan mata. Jadi tidak terasa kalau sudah sampai.
Sepertu pantai yang sudah populer di Kota Malang, siang ini keadaan Pantai Balekambang juga sudah ramai. Apalagi ini akhir pekan. Pasti banyak yang datang ke sini untuk liburan dan menghapus kepenatan sesaat seperti aku dan Mas Alif saat ini.
Pantai Balekambang ini adalah pantai di daerah Malang selatan, jadi berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Dan seperti ciri khas pantai-pantai di perairan selatan, pasilah berombak besar. Namun hari ini ombak masih belum terlalalu besar, jadi aku mengizinkan Mas Alif untuk berenang di tepian.
Mas Alif sudah siap dengan celana pendek selutut dan kaos untuk berenang. Sengaja tidak kuperbolehkan untuk shirtless, selain aurat aku juga enggak mau lihat badannya Mas Alif jadi santapan gratis tante-tante girang. Membayangkannya saja sudah membuatku jengkel. Berhubung aku tidak bisa berenang, jadilah aku hanya menggelar tikar dan memilih berteduh sambil menikmati pemandangan luas.
"Sayang! Kamu enggak ikut berenang?" tanya Mas Alif.
"Enggak Mas. Aku kan enggak bisa renang. Kamu lupa?"
"Jadi aku renang sendirian enggak apa-apa nih?"
"Iya enggak apa-apa. Udah sana renang! Aku di sini aja jagain tas."
"Oke." Tanpa banyak basa-basi lagi dia sudah berlari menuju bibir pantai. Dalam sekejap mata dia sudah berada di air dan berenang.
Hamparan laut biru nan luas sejauh mata memandang, banyak karang-karang yang memperindah pemandangan, juga angin pantai yang berhembus menerpaku membuat rileksasi tersendiri. Beban-beban rasanya langsung terangkat ketika melihat semua pemandangan indah ini. Sambil nyemil keripik kentang kesukaan, aku sibuk memvideo Mas Alif dari kejauhan.
Tapi pemandangan yang kulihat dari layar ponselku membuatku menggeram kesal. Masa ada cewek-cewek yang bergurumbul ke Mas Alif dan meminta foto bersama. Mentang-mentang mukanya Mas Alif mirip bule Arab, udah disangka turis kali ya. Padahal dia mah produksi lokal. Tak terima, aku pun menghampiri Mas Alif.
"Mister! Mister! Can we take a picture together?" tanya salah seorang di antara mereka yang kelihatannya girang banget.
Padahal Mas Alif udah nolak. Pakai bahasa Indonesia lagi. Kan jelas banget kalau dia bukan bule Mbak! Tapi masih aja ngeyel mau foto bareng. Melihat kedatanganku dengan muka cemberut, dia segera menarik lenganku.
"Boleh kok Mbak foto bareng. Tapi sama istri saya juga ya?" Mas Alif menyunggingkan senyum ke arahku.
Mereka yang melihat kehadiranku di samping Mas Alif langsung pias wajahnya. Apalagi mbak-mbak yang girang banget tadi. Kasihan banget mukanya. Dengan langkah perlahan mereka meninggalkanku dan Mas Alif.
"Maaf ya Kak! Kita kira tadi turis. Hehehe." Mereka langsung berlalu dari hadapanku.
Perasaan Mas Alif udah bilang bukan turis deh. Ngeyel banget jadi orang. Sekarang aja giliran istrisnya datang langsung mengundurkan diri satu per satu. Bahaya juga nih melepaskan Mas Alif di keramaian seperti ini. Lengah sedikit aja udah ada yang dempet-dempet.
Splashh!
"AAAA!!!" Sontak aku langsung berteriak karena tiba-tiba tubuhku terguyur air laut. "Mas!! Nyebelin deh!"
"Salah siapa ngelamun sendiri?" katanya sambil terus mencipratkan air ke tubuhku.
Aku yang tidak terima juga tidak mau kalah membalasanya. Mengambil air sebanyak yang kubisa lalu mengarahkannya ke tubuh Mas Alif. Dan adegan ciprat-cipratan pun dimualai. Seperti anak muda yang tengah kasmaran, bermain air di tepi pantai dengan santai.
Lelah bermain air aku mengajak Mas Alif untuk beristirahat. Duduk-duduk selonjoran sambil menikmati angin pantai.
"Mas. Haus!" rengekku.
"Mau minum apa?" Seperti sudah tahu dengan maksudku untuk membelikan minuman, jadi dia langsung bertanya.
"Es kelapa muda!"
"Oke. Tunggu di sini bentar ya!" Mas Alif menghampiri mobil untuk mengambil dompetnya. Lalu pergi mencari penjual esnya.
Tidak perlu menunggu lama, cukup sepuluh menit Mas Alif sudah datang dengan dua buah kelapa di tangannya. "Nih minum!"
"Makasihh! Tambah sayang deh!" kataku sambil merebut salah satu kelapa dari tangannya.
"Masa sih kamu sayang sama aku?"
"Iya dong! Jelas."
"Kalau sayang dicium dong!"
Aku langsung tersedak mendengar penuturannya. Bukannya mencium seperti kemauannya, aku malah memukul lengannya dengan keras. "Apaan sih Mas! Malu tahu gak!"
"Kenapa malu? Di rumah juga biasanya begitu."
"Kan itu beda cerita. Ini kan ada orang banyak, malu tahu!"
"Berarti kalau sepi enggak malu?" Hmm. Pertanyaan yang semakin memalukan jika dijawab.
"Ya... ya begitu deh." Aku segera mengacuhkannya dan fokus kembali dengan es kelapa muda yang ada di pangkuanku.
"Ya udah. Nanti malem di home stay kan sepi, berarti boleh dong kalau mau-,"
Sebelum Mas Alif menyelesaikan kalimatnya aku sudah mendorong tubuhnya sampai berguling ke samping dan mengenai pasir. Rasain! Siapa suruh suka banget godain aku!
"Biarin!"
Pandanganku terarah ke pantai lagi. Tampak di seberang bibir pantai ada beberapa pulau yang menambah keindahan panorama pantai ini. Pulau-pulau itu seperti mengambang di tengah-tengah air. Pemandangan yang hampir sama dengan Pantai Tanah Lot di Bali. Kata Mas Alif, tidak perlu jauh-jauh ke Bali untuk menikmati pantainya. Di sini aja ada yang mirip-mirip. Lebih hemat waktu dan tenaga tentunya.
Aku membenarkan ucapannya tentang pemandangan indah pantai ini dengan Tanah Lot. Tapi ucapannya yang mengatakan tidak perlu ke Bali itu kutolak mentah-mentah. Enak saja bilang begitu. Aku kan udah lama banget pengen ke situ. Seumur-umur belum pernah ke sana. Maklum anak rumahan. Lagian nama sama papa juga enggak ngebolehin dulu. Tapi kan sekarang sudah beda cerita. Ada Mas Alif di sampingku yang pasti akan selalu menjagaku.
"Mas! Foto ke sana yuk!" Tunjukku pada jembatan yang menghubungkan pengunjung ke pulau-pulaunya.
Belum sah berkunjung di Pantai Balekambang kalau belun foto di jembatan pulaunya. Banyak kulihat di media sosial foto-foto yang berlokasikan di sini. Karena jujur, pemandangannya indah banget! Instagrammable.
Langit biru yang cantik dengan awan-awan putih berarak bersamaan, lalu dibawahnya terbentang perairan berwarna biru kehijauan. Jangan lupa juga dengan latar belakang pulau yang menawan.
Ckrek!
Ckrek!
Sudah banyak sekali foto yang kuambil di sini. Mulai dari foto sendiri sampai wefie dengan Mas Alif.
"Kamu enggak lapar?" tanya Mas Alif sambil memasukkan lagi ponsel ke sakunya.
"Lapar. Makan yuk Mas!"
"Hayuk!" Sambil menggandeng tanganku, kita berjalan kembali ke pantai.
Tapi langkah kita juga terhenti bersamaan dengan dua orang yang hendak berpapasan dengan kita. Pasangan itu juga tampak berhenti mendadak, sama sepertiku dan Mas Alif.
"Kalian?!!!" Kita berempat kompak saling menunjuk.
Jelas saja aku dan Mas Alif terkejut karena dihadapan kita sudah berdiri Abdul dan Tika. Muka mereka juga kaget gitu kaya orang habis ketangkep basah.
"Kalian ngapain ke sini berdua?" tanya Mas Alif yang memang belum mengetahui hubungannya Abdul dan Tika. Aku yang sudah tahu cuma bisa mesem-mesem jahil ke arah Tika.
"Kita mau lihat-lihat lokasi buat pre-wed Lif."
"Ha?!" Bukan cuma Mas Alif yang kaget. Aku juga ikut-ikutan kaget mendengar hal ini.
Akhirnya kita berempat memutuskan untuk jalan bersama menuju warung makan. Sambil jalan dua tersangka utama itu bercerita tentang hubungan mereka yang sudah menjejaki tangga serius. Aku hanya tidak menyangka saja mereka akan menikah secepat ini. Hmm, dalam jarak hitungan bulan setelah Rendi dan Salma menikah.
"Dul!" panggilku.
"Apaan?"
"Kamu enggak buat Tika jadi pelampiasan kan?" Selidikku dengan mengamati raut mukanya.
Tanganku yang menunjuk ke mukanya langsung ditepis olehnya. Malah dia tambah dengan jitakan di jidatku yang sontak saja langsung dipelototi Mas Alif karena berani-beraninya menyakitiku.
"Salah siapa kalau ngomong suka ngawur. Ya enggak lah! Gila apa mau mainin hati anaknya orang."
Aku kenal dengan pribadinya Abdul. Tadi hanya ngetes aja sebenarnya. Melihat reaksinya seperti itu membuatku tambah yakin untuk mempercayakan salah satu sahabatku ke dia.
Langkah kita sampai di warung makan yang sudah berjejeran siap untuk dipilih. Namanya juga di pantai, menu utama pastilah seafood. Jadi kita duduk berempat dan memilih menu. Beberapa saat kemudian berbagai sajian sudah ada di meja kita. Abdul dan tika sama-sama pesan ikan bakar. Sedangkan aku memilih ikan bakar bumbu Bali, udang goreng, cumi asam manis, cumi kepiting saus tiram yang lengkap dengan kerang dan lobster.
"Busett dah Na! Ini buat makan orang sekampung?" Abdul menatapku heran.
"Enggak usah heran. Orang aku aja dulu pernah lihat dia makan mie ayam sam bakso lima porsi," imbuh Tika.
"Maklum, inu hamil ini gede banget nafsu makannya. Sampai persediaan di dapur cepet banget habisnya." Mas Alif malah menimpali Abdul dan Tika. Puas deh mereka menertawaiku.
"Apaan sih kalian! Enggak pernah liat orang cantik makan banyak ya? Sirik aja!"
"Ululululuh!" Et dah. Mereka malah menggodaku. Mas Alif juga ikut-ikutan.
Tapi ya udahlah. Semakin mengelak aku malah tambah digodain. Sepintas ide bagus terlintas di benakku untuk Mas Alif. Sebagai balasan karena dia sudah berani-beraninya bersekongkol dengan Abdul dan Tika untuk menyudutkanku.
Aku mengambil sepering cumi asam manis dan nasi hangat, sedangkan pesananku yang lain semuanya aku geser ke Mas Alif. Tampak kening mereka berkerut.
"Kenapa? Kalian pikir aku pesen segini banyaknya buat aku? Ya enggak lah!"
"Maksud kamu?" Mas Alif bertanya.
"Kamu yang ngabisin Mas!" kataku.
"Loh? Kenapa jadi aku ngabisin Sayang?"
"Udah enggak selera lagi. Lagian kebanyakn menunya pedes, aku enggak mau kalau nanti sakit perut. Jadi kamu aja yang ngabisin daripada mubadzir."
Mas Alif tampak menelan ludahnya kasar. Dengan tatapan iba wajahnya ia arahkan ke aku. "Beneran Yang? Segini banyaknya?"
"Iya. Kamu yang ngabisin. Kan kamu juga habis berenang tadi, pasti butuh asupan tenaga lagi."
Dengan pasrah akhirnya Mas Alif memenuhi keinginanku. Sedangkan Abdul dan Tika? Dua sejoli itu sibuk cengengesan menertawakan kemalangan Mas Alif.
Selesai makan aku mengajak mereka untuk ke arena outbond, salah satu fasilitas dari pantai ini. Rencananya aku mau berkeliling pantai naik ATV, meluncur dengan flying fox, dan bermain ayunan. Tentu saja semua itu akan dibayarkan oleh cowok-cowok. Aku dan Tika tinggal duduk manis di atas ATV sambil mendengarkan instruksi yang diberikan. Setelah semua persiapan selesai, kita berempat pun mulai beraksi. Dari aku yang jalannya biasa saja, Mas Alif yang mengawalku dari belakang, Abdul yang sok-sok an mau ngebut, sampai ATV milik Tika yang terperosok ke pasir yang dalam. Dan ujung-ujungnya juga kita semua bantu dorong.
Huft!
Hari yang melelahkan, tapi juga menyenangkan!.