TWENTY

TWENTY
SIDE STORY ~ IREN



"Iren, jangan menuhin jalan gini dong!"


"Eh, hati-hati ada badak lewat! Pegangan-pegangan!"


"Enak ya kalau punya pacar kaya Iren, enggak dikasih makan tetep enggak kelihatan."


"Sehari berapa porsi sih Ren?"


"Ayo dong diet Iren! Masa udah besar enggak malu punya badan segede itu?"


Itu semua hanya sebagian kecil tanggapan orang tentang Iren. Dia sampai heran sendiri, kenapa orang-orang suka mengatainya dengan berlindung pada kata-kata "Kan cuma bercanda." Tanpa mereka beritahu juga Iren sadar dengan tubuhnya. Mereka tidak tahu kalau yang mereka sebut bercanda itu juga melukai hati Iren. Dia juga manusia yang punya hati dan bisa merasakan yang namanya tersinggung. Selalu tertawa, menanggapi dengan canda, tersenyum, itu semua bukan berarti dia tidak merasa sakit hati.


Bullying secara verbal begitu sudah biasa Iren dapatkan mulai dari ia duduk di bangku TK. Sampai pada akhirnya ketika Iren mulai dewasa, dia mulai merasa masa bodoh dengan kata-kata orang lain terhadapnya. Sudah tidak lagi merasa sakit hati karena terlalu sering sakit hingga kini dia menjadi terbiasa dan tidak terasa apa-apa.


Tapi itu tidak bertahan lama rupanya. Tepat ketika dia sudah mendapatkan pekerjaan yang baru dia ketahui milik suami sahabatnya, Alif. Slogan yang selalu dia banggakan dan junjung tinggi, yaitu "Gendut tanda bahagia" itu langsung lenyap ketika ia bertemu dengan seorang manager muda nan tampan di divisinya.


"Eh-eh! Pak Alex mau lewat! Pak Alex mau lewat!" ucap seorang karyawati dari luar dan langsung masuk ke kubikelnya sambil menyemprotkan parfum.


Serupa dengannya, sebagian besar karyawati yang lain ikut berdandan membenarkan dirinya, terlebih lagi yang kubikelnya nanti dilewati Alex ketika akan memasuki ruangannya. Ada yang merapikan rambutnya, memoleskan lipstik dan bedaknya, ada juga yang bolak-balik merapikan bajunya padahal sudah rapi.


Di kubikel nomer dua dari depan, tepatnya yang berada di samping tembok. Iren juga ikut memperbaiki dandanannya meski ia tahu tidak akan dilirik. Perempuan-perempuan itu melakukan hal yang serupa tujuannya hanya satu, agar dilirik oleh seorang Alex. Tidak hanya karyawati yang masih muda, janda empat puluh tahun saja juga ikut menyambut manajer primadona itu. Sebesar itu memang pesona si Alex. Dan semua perempuan pasti berpikir akan sangat beruntung jika dapat mendapatkan hati Alex, tak terkecuali Iren.


"Selamat pagi Pak!" Karyawan yang berada dekat dari pintu langsung memulai aksinya.


"Pagi!" balas Alex dengan senyum yang melekat di bibirnya.


"Pagi Pak!"


"Iya, pagi!"


"Bagaimana kabarnya hari ini Pak?"


"Baik," ucap Alex sambil terus berlalu menuju ruangannya.


Iren meskipun tidak ikut mengucapkan tapi ia juga mau melihat senyum menawan atasannya itu. Maka dari itu dia ikut berdiri sambil memasang senyum semanis mungkin, berharap akan dilirik meski kemungkinannya sangat kecil.


Dan sudah seperti kebiasaan, sebelum masuk ruangannya maka Alex akan berhenti sebentar di depan pintu dan menatap seluruh bawahannya sambil tersenyum. "Selamat bekerja semuanya! Semangat!"


Dan hal itu juga yang dinanti-nanti semua orang di sini, hitung-hitung sebagai penyemangat di pagi hari sebelum memulai rutinitas dengan file menumpuk. Di balik kubikel-kubikel itu terdapat banyak orang yang serius mengerjakan tugasnya. Meski ada juga yang tengah bergosip juga bercanda. Sampai jam makan siang tiba, mereka semua bernapas lega dan menuju ke kafetaria atau pun tempat makan di luar perusahaan.


"Ren, makan yuk!" ajak seorang teman yang duduk tepat di samping Iren.


"Bentar, dikit lagi kelar."


"Ditungguin apa nitip aja?" tawar temannya lagi yang diketahui bernama Riri.


"Enggak usah Ri, kamu duluan aja. Entar aku nyusul."


"Oke kalau gitu. Aku duluan ya!"


"Oke!"


Sebenarnya bukan itu alasan utama mengapa Iren tidak langsung menuju kafetaria padahal perutnya sudah memberontak ingin diisi makanan. Tujuannya adalah ingin menemui Alex, karena laki-laki itu tidak langsung keluar meski pun jam istirahat telah tiba. Iren juga memanfaatkan ruangannya yang sedang sepi agar tidak malu.


Benar saja, beberapa menit penantian Iren terbayar karena Alex muncul dari balik pintu ruangannya. Segera Iren berdiri dan menghampiri Alex.


"Pak!" panggilnya agar Alex tidak meneruskan langkah lebarnya meninggalkan ruangan. Meski umur mereka hanya terpaut tiga tahun, tapi Iren tetap menjunjung tinggi etika untuk memanggil atasannya dengan embel-embel "bapak".


"Iya, kenapa Ren?"


Deg.


Baru ditanya balik saja Iren rasanya sudah mau mau pingsan. Dan apa tadi? Iren tidak salah dengar kan? Alex tadi memanggil dengan namanya? Berarti dia dikenali oleh Alex!!!


Sebuah kebahagiaan tersendiri bagi Iren. Padahal Alex tentu hapal dengan seluruh karyawan di divisinya. Tapi Iren saja yang terlewat bahagia dengan hal kecil itu. Lama menunggu jawaban, Alex pun pura-pura batuk agar menarik Iren ke dunia nyata.


"Eh, ini Pak, saya mau ngasih ini." Iren kemudian menyerahkan paper bag berisi sandwich buatannya. Dan Alex langsung menerimanya.


"Apa ini?"


"Cuma sandwich, tapi saya harap bapak suka," ucap Iren malu-malu kucing.


"Oh, terima kasih ya! Saya terima pemberian kamu."


Iren hanya bisa mengangguk dan menunduk. Tidak kuat menatap wajah Alex, yang ada malah membuatnya ingin pingsan saat itu juga. Alex yang merasa tidak ada lagi yang Iren akan sampaikan pun pamit untuk pergi, dan Iren mengiyakannya. Setelah Alex pergi, barulah Iren turun ke kafetaria menyusul Riri yang mungkin sedang menunggunya.


"Ren!" panggil Riri ketika melihat Iren yang sedang celingukan mencari seseorang. Mungkin dirinya.


"Udah pesen makanan?" tanya Iren setelah duduk di depan Riri.


"Udah, bentar lagi juga datang."


"Ya udah, kalau gitu aku pesen dulu." Iren pun berdiri dan memesan makanannya, lalu duduk kembali dan sudah mendapati makanan di meja Riri.


"Liat deh Ren! Enak banget jadi si Maria, bisa lunch bareng Pak Alex." Riri menunjuk pada meja yang berada jauh di depannya. Otomatis Iren melihat ke belakang, dan hatinya langsung remuk. Begini ternyata rasanya cemburu pada orang yang bukan miliknya.


"Maklum lah, Bu Maria kan cantik. Sekretaris lagi."


"Iya ya, Pak Alex mah pasti ngeliriknya yang cantik macam model gitu. Apalah dayaku yang cuma sebutir pasir tak dianggap. Terbang terbawa angin yang entah dibawa ke mana." Riri mencoba sok puitis.


"Hust! Jangan ngerendahin diri kamu sendiri! Pasir kan juga berguna Ri, jadi tempat pup kucing misalnya." Iren langsung tertawa sendiri mendengar kalimatnya. Dan Riri sudah cemberut dibuatnya.


"Kejam banget jadi orang! Enggak bisa dibagusin dikit apa? Kaya jadi campuran buat bangunan bisa kokoh gitu. Lah ini malah buat tempatnya eek kucing." Tidak peduli mereka sedang makan, malah membicarakan hal seperti itu. Tapi merek tidak masalah, tetap napsu makan juga buktinya. Apalagi Iren yang memang tidak pernah ada cerita tidak napsu makan.


Tapi, mendengar ucapan Riri membuat hati kecilnya sedikit tersentil. Mendadak dia insecure setelah rasa itu hilang bertahun-tahun lamanya. Benar juga yang dikatakan temannya itu. Seseorang yang tampak seperti Alex memang sepantasnya bersanding dengan wanita cantik bak model macam Maria. Apalah dirinya yang hanya model galon. Bagai pungguk merindukan bulan. Seperti itu perumpamaan yang pas untuk Iren saat ini.


"Kenapa wajah kamu mendadak asem gitu?"


"Heh?" Iren menatap Riri sekejap. Tahu darimana dia kalau Iren sedang masam hati.


"Kelihatan dari muka kamu. Lagian aku juga tahu kalau kamu juga suka sama Pak Alex. Sekarang lagi cemburu kan?" Tebakan yang tepat Riri lontarkan.


"Apaan sih! Bukannya semua cewek di sini juga suka sama Pak Alex? Bukannya kamu juga gitu?" Iren mencoba membalikkan keadaan.


"Beda cerita itu mah. Aku suka itu karena emang demen liat orang ganteng. Siapa sih di sini yang gak suka liat orang ganteng? Cuma suka kaya gitu doang. Kalau kamu kan beda Ren, kaya udah cinta banget sama tuh orang."


"Emang keliatan banget ya Ri?"


"Kalau aku sih iya, enggak tau kalau yang lain." Iren pun menunduk sambil mengaduk-aduk bubur ayamnya.


"Kenapa? Merasa enggak pantes buat Alex gitu? Merasa iri sama Maria?"


"Ya iyalah. Sudah pasti itu," jawab Iren jujur.


"Gini ya Ren, kalau kamu ngerasa gak pantes bersanding sama Alex, ya usaha dong mantesin diri."


"Maksudnya?"


"Gini loh. Kalau kamu ngerasa gak pantes karena bodi galon, ya diet. Kalau ngerasa gak pantes karena kurang mapan, ya kerja keras. Dan kalau ngerasa gak pantes karena kurang cantik, ya dandan lah!"


"Bener juga ya." Lagi-lagi Iren membenarkan perkataan Riri.


"Gimana? Mau usah sampai dapetin doi apa mau nyerah cuma liatin dia sama cewek lain?"


"Oke. Aku akan usaha."


"Semangat Iren!" Riri mengepalkan kedua tangannya ke udara untuk menyemangati Iren.


"Semangat!" Iren juga melakukan hal yang sama dan tidak kalah semangat.


Mulai hari ini dia bertekad untuk berubah. Merubah tampilan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehnya. Apalagi untuk diet. Satu hal yang dulu sangat mustahil Iren lakukan. Tapi sekarang beda lagi. Demi cinta dia rela berjuang mati-matian untuk mendapatkannya. Ia tahu kalau cinta tidak memandang rupa juga bentuk tubuh. Tapi memilik tubuh ideal dengan wajah cantik bukankah bisa membuka jalannya untuk lebih mudah mendapatkan cinta? Begitu pikir Iren.


Tepat setelah Iren memutuskan untuk berubah, sebuah berita besar seakan menghantam dadanya. Bagaimana tidak? Tiba-tiba Alex dipindahkan ke perusahaan cabang yang ada di Surabaya. Itu semua sudah menghancurkan semangat juga niat Iren. Tapi beruntung, setelah itu Riri mendapat kabar bahwa Alex hanya ditugaskan sementara waktu. Jika di sana sudah ada pengganti maka Alex akan dikembalikan ke perusahaan cabang di Malang lagi. Hal itu sukses membuat semangat Iren kembali membara.


Selama berbulan-bulan Iren sabar menjalani program dietnya juga bersabar menunggu kepulangan Alex. Selama itu juga sudah banyak perubahan yang ia alami. Yang paling jelas terlihat tentulah tubuhnya. Semua baju dan celana sekarang sangat longgar dipakainya. Alhasil dia harus merogoh kocek lebih dalam lagi untuk membeli banyak sandang baru. Tapi berkat penampilan tubuh barunya itu sekarang dia mendapat lebih banyak perhatian. Sekarang banyak karyawan yang mulai menggodanya, kadang juga terang-terangan mengungkapkan perasaannya. Tapi itu semua tidak menggoyahkan hati Iren yang memang sudah terpaut untuk Alex.


"Iren mau makan siang bareng gak?"


"Sorry Do, aku makan siang sama Riri."


"Kalau makan siang sama aku mau gak Ren?"


"Ya ampun Za, kan tadi aku udah bilang mau makan siang sama Riri. Kamu sama Doni aja sana!"


"Haish! Udah-udah! Kalian tuh enggak ada kerjaan apa gimana sih? Heran, tiap ada waktu selalu aja ngerecokin Iren. Kalau dia mau makan sama aku kenapa? Ada masalah?" Riri yang sudah kesal menjadi penonton langsung angkat bicara.


"Ayo Ren kita berangkat!" Riri menarik lengan Iren menjauhi kubikelnya yang sudah banyak dikerumuni laki-laki di divisinya. "Bye!" ucap Riri sebagai salam perpisahan untuk para lelaki yang dicampakkan Iren.


*****


"Iren!"


"Eh! Aish!" Iren memukul keras lengan Riri. "Kebiasaan deh! Suka benget ngagetin orang!"


"Sekarang itu enggak penting! Aku mau ngomong kalau Pak Alex udah balik lagi ke sini!"


"Ah, yang bener kamu?!"


"Beneran Iren! Aku tadi lihat mobilnya."


"Oh my God! Pak Alex makin ganteng aja." Iren mencubit lengan Riri agar tidak banyak bicara dan kembali ke tempatnya.


Bukan hanya Riri dan Iren saja yang terpaku, hampir semua terkejut melihat kedatangan Alex. Lalu seperti kebiasaan lamanya dulu, sebelum memasuki ruangan dia bercengkrama sebentar dan memberitahu bahwa dia sudah ditugaskan kembali di kantor ini. Membuat para karyawati menjerit senang dalam hati.


"Oh ya, selama saya tidak di sini ada pegawai baru ya?" Otomatis semua saling menengok untuk mencari tahu siapa yang dimaksud Alex.


Seolah mengerti para pegawainya bingung, Alex pun menunjuk ke arah kubikel nomer dua dekat dinding. Dan itu tidak lain dan tidak bukan adalah tempat Iren.


"Itu, yang berdiri di depan Riri."


"Dia bukan pegawai baru Pak. Dia Iren. Masa bapak lupa sih? Pangling ya liat Iren bisa kurus?" celetuk Riri yang ditanggapi tawa oleh rekan-rekannya. Membuat Iren hanya bisa menunduk malu karena ditatap intensif oleh Alex.


"Ah iya. Iren. Saya kira tadi siapa. Sekarang sudah tambah cantik saja."


Dan demi apapun!!! Rasanya Iren pengen teriak sambil salto kalau bisa. Dia sangat senang dipuji cantik oleh Alex.


"Ya sudah, kalau gitu kalian mulai kerjanya."


*****


Malam yang panjang bagi Iren dikarenakan lembur yang harus dilakoninya. Jam menunjukkan pukul tujuh malam dan dia baru saja menyelesaikan tugasnya. Segera Iren mematikan komputernya dan merapikan tasnya. Tak dia duga berbarengan dengan ia yang berdiri hendak meninggalkan ruangan, saat itu juga Alex keluar dari ruangannya. Iren kira Alex sudah pulang dari tadi.


"Se-selamat malam Pak!" Iren jadi gugup sendiri hanya berdua saja dengan Alex, malam-malam lagi.


"Malam! Kamu baru mau pulang Ren?"


"Iya Pak."


"Naik apa?"


"Motor Pak. Kenapa?" Dalam hati Iren sudah berharap sangat kalau Alex akan menawarkan tumpangan kepadanya.


"Oh, ya sudah kalau gitu kita pulang bersama."


"Ha? Beneran nih Pak?"


"Iya. Enggak baik kalau kamu pulang sendiri malam-malam begini. Apalagi naik motor."


"Terus motor saya?"


"Biar ditinggal di sini, besok pagi kamu saya jemput." Seakan mendapat durian runtuh, Iren sekarang sangat bahagia. Tidak disangka dia akan pulang bersama Alex, dan besok juga dia akan berangkat bersama.


Ah, rasanya seperti mimpi. Dan kalaupun benar mimpi, maka Iren tak mau dibangunkan. Biar dia menikmati menjadi pemeran utama mimpi ini.


Di dalam mobil suasana agak canggung. Apalagi ini pertama kali mereka berbicara setelah kepergian Alex. Alex pun memilih memutar radio untuk mengisi keheningan. Lagu yang terputar begitu membosankan di telinga Iren maupun Alex. Tak diduga tangan keduanya bertemu saat akan mengganti channel radio. Sejenak keduanya saling bertatapan. Dan tatapan penuh arti keduanya terhenti saat suara klakson menginterupsi mereka. Rupanya lampu sudah berubah warna menjadi hijau.


"Terima kasih ya Pak sudah mengantar saya."


"Iya, sama-sama. Oh ya, saya boleh minta sesuatu gak?"


"Ohh, imbalan maksudnya?" Iren mencoba mengakrabkan diri dengan bercanda dengan Alex.


"Bukan! Bukan lah! Ini permintaan saya yang murni memang saya mau, bukan karena balas budi yang tadi."


"Iya-iya Pak. Saya percaya. Mau minta apa?"


"Besok tolong buatkan sandwich seperti dulu bisa?"


"Bisa Pak. Cuma itu aja?"


"Iya. Tapi kalau bisa sih untuk besok dan seterusnya saya bisa makan siang sama kamu."


"He?" Iren tidak salah dengar kan?


"Apa kamu tidak mau?"


"Mau Pak! Mau!" Akhirnya Iren bisa bagaimana menjadi Maria beberapa bulan lalu. Dan bolehkan Iren berbesar hati karena telah diajak pulang dan berangkat bersama? Dan juga mengajaknya untuk makan siang bersama.


Ahh! Bahagianya!


*****


Seminggu sejak kedekatan mereka, Alex secara resmi menyatakan cintanya ke Iren. Sudah tentu Iren akan menerimanya. Perjuangannya tidak sia-sia untuk mendapatkan Alex. Tapi sayangnya dia tidak bisa membanggakan dirinya di depan rekan kerjanya. Karena Alex meminta agar merahasiakan hubungan mereka. Alasannya sederhana, agar mereka tetap profesional bekerja. Jadi tidak ada yang akan menyangkut pautkan dengan pilih kasih apabila Alex akan memberikan reward untuk Iren nantinya. Hanya dengan Riri saja Iren dapat bercerita.


"Ciiee, yang akhirnya jadian juga. Tau gak Ren? Kamu tuh kaya Cinderella yang akhirnya menemukan pangerannya. Selamat buat kalian berdua pokoknya!" ucap Riri agak lirih. Meski ruangan sedang sepi, tapi masih ada beberapa orang. Jadi mereka berusaha berbicara se-lirih mungkin agar tidak ada yang mendengar.


"Iya, makasih ya Ri!" Iren memeluk Riri sebentar lalu melepaskannya.


Ting!


Sayang, boleh buatkan aku kopi? Aku butuh penyegaran setelah berkutat dengan tugas-tugas ini:(


Iren tersenyum kecil membaca pesan dari kekasih barunya. Selalu saja dia membuatkan kopi atau apa pun yang akan mereka makan ketika jam kantor akan usai. Dengan begitu tidak akan ada yang mengetahui tentang mereka.


"Woy! Kesambet Mbak? Senyum-senyum sendiri udah kaya orang gila!"


"Aish, rese!" Iren memukul bahu Riri yang sudah mengatainya.


"Beda ya? Orang yang lagi kasmaran sama enggak. Bawaannya kaya menang kupon hadiah satu milyar aja. Bahagia banget!"


"Udah lah! Aku pergi dulu, kamu cepet siap-siap pulang sana!" Iren langsung pergi meninggalkan Riri yang tidak henti-hentinya menggodanya.


*****


Hari demi hari Iren lewati dengan bahagia bersama Alex. Meski bisa dibilang backstreet, tapi Iren cukup bahagia menjalaninya. Hingga tak terasa sudah setengah bulan mereka lewati bersama.


"Lihat enggak Ren? Anak baru itu tuh! Songong banget mukanya. Mana suka nempel sama Alex lagi. Kamu enggak cemburu?" cerocos Riri sambil menikmati es campurnya.


"Biasa aja. Kan kita emang nggak niat buat buka hubungan ini. Jadi ya semua berjalan kaya biasa. Dan biasa bagi Alex bukankah memang selalu ditempeli wanita?" jawab Iren dengan santainya. Membuat Riri melotot tidak percaya.


"Yakin nggak cemburu? tanya Riri sekali lagi.


"Enggak. Kan Mas Alex enggak bakal ngelirik wanita lain. Dia menjaga hatinya untukku."


"Ciahh! Percaya diri banget Mbak!"


"Harus dong!" ucap Iren dengan gaya sombongnya sambil mengibaskan rambutnya ke kanan dan ke kiri."


"Ya udah, kalau gitu aku balik ke ruangan dulu yak! Mau liat Mas Alex udah makan belum."


"Haish! Ya udah, pergi sono! Pacaran aja terooss!"


"Yeee, jangan sirik dong Mbak! Makanya cari jodoh sana!"


"Enggak perlu dicari, udah ada kok."


"Masa?"


"Iya. Sekarang dia lagi wamil di Korea."


"Yeuuu! Halu aja terooss! Udah ah, aku mau pergi. Bye tukang halu!"


"Bye bucin!" balas Riri tak kalah sengit.


Sebelum benar-benar menemui Alex, tentu saja Iren pergi berdandan dulu. Dia selalu ingin tampil yang terbaik di depan Alex. Maka dari itu kini dia tengah berada di toilet. Menyisir rambutnya yang berantakan, memoleskan bedak dan lipstik lagi, lalu menyemprotkan parfum ke badannya. Setelah dirasa siap, dia akan pergi. Tapi belum juga ia keluar dari toilet, tiba-tiba panggilan alam datang.


"Haduhh! Malah mau pipis lagi." Karena sudah terlanjur kebelet, dia tidak lagi memikirkan bajunya. Yang penting sekarang dia bisa menuntaskan hajatnya.


Tak lama kemudian ia sudah selesai dengan urusannya. Tapi saat akan keluar dari bilik, samar-samar Iren mendengar suara laki-laki dan perempuan yang akan memasuki toilet. Karena penasaran juga suara mereka yang familiar di telinga Iren, maka dia memutuskan untuk tetap berada dalam bilik toilet. Kakinya ia angkat dan berjongkok di atas closet, jadi orang luar tidak akan tahu kalau ada ia di dalam.


"Ih, honey! Jangan nakal dong!" Bentar, Iren sedang memilah suara siapakah itu.


Lalu suara pintu luar toilet terbuka dan Iren tebak dua orang itu sudah berada dalam toilet. Dalam hatinya tak Heni mengatai dua sejoli yang ingin bermesraan tapi tidak tahu tempat itu.


"Eh, honey! Emang kamu enggak takut kalau nanti ketahuan di sini?" Wah! Iren ingat suara ini. Suara anak baru yang mengisi divisi pemasaran. Si centil yang Riri ceritakan tadi. Iren jadi penasaran siapa pacar si centil itu. Kalau udah punya pacar, kenapa masih centil ke Alex ya?


"Enggak lah. Orang sepi juga di sini."


"Ya udah deh. Sekarang kamu mau apa?"


"Hmm apa ya? Kalau mau kamu boleh?"


Deg.


Bukankah itu suara Alex?


Iren menutup mulutnya tak percaya. Kepercayaan runtuh seketika. Alex yang ia bangga-banggakan akan menjaga hatinya ternyata diam-diam bermain api di belakangnya.


Tak tahan mendengar keromantisan pasangan yang dimabuk asmara itu, Iren langsung mendobrak pintu biliknya. Membuat dua orang di luar itu terkejut. Tanpa basa-basi Iren langsung melangkah menghampiri Alex.


Plak!!!


Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Alex. "AKU MAU PUTUS!" Tiga kata sakral Iren ucapkan tanpa menyesalinya.


Lalu ia berjalan keluar sambil sesekali mengusap air matanya yang jatuh. Dia sadar kalau kisah cintanya tak terjadi seperti di negeri dongeng impiannya. Ia sadar kalau dia hanya terlalu naif menjadi perempuan. Hanya dirayu sedikit dia sudah mau menjadi kekasih. Dan lagi, mencari pasangan karena rupa membuat Iren yakin kalau dia belum dewasa. Maka sekarang dia akan belajar mendewasakan diri juga belajar memperbaiki diri untuk memantaskan dengan jodoh terbaik. Semoga saja keinginan itu terkabul.