TWENTY

TWENTY
SEASON DUA ~ Baikan untuk ke Sekian Kali



Aku langsung melihat muka mama berubah pias. Dalam hati aku tertawa puas. "Tapi alhamdulillah hasilnya enggak mengecewakan!" Aku pun memperlihatkan alat tes itu di hadapan mama.


"Garis dua." Mama menutup mulutnya tidak percaya. Kita berdua langsung berpelukan dan menangis haru.


Aku yang tidak menyangka akan menjadi ibu, dan mama yang sudah lama menantikan kehadiran seorang cucu. Papa kemudian terlihat dari ambang pintu. Sudah memakai baju santai untuk pergi memancing.


"Loh? Kalian berdua ternyata di sini. Papa cari ke mana-mana enggak ada lho." Papa berjalan menghampiri kita.


Melihat aku dan mama yang sama-sama berurai air mata membuatnya mengernyitkan dahi. "Kalian kenapa pagi-pagi udah mewek bebek begini? Nala, jadi ikut Papa mancing enggak?"


Mama yang gemas langsung memukul lengan papa. "Kamu itu! Merusak momen aja. Anak kamu udah hamil tuh! Kita mau punya cucu. Sekarang masih kepikiran buat ngajak Nala pergi mancing?" kata mama mengomeli papa.


Reaksi papa agak lama. Mungkin otaknya masih berusaha mencerna pelan-pelan. "Tunggu-tunggu! Jadi Nala hamil?" tanyanya yang diangguki mama.


"Masya Allah!" Papa lalu memelukku erat. Mengusap puncak kepalaku dan menciumnya dengan sayang. "Anak Papa sudah mau jadi ibu."


"Hmm."


Mama yang semula sudah melepaskan pelukanku ikut bergabung dengan aku dan papa. Berbagi hangatnya kebahagiaan. Di tengah-tengah acara pelukan yang mengharu biru, tiba-tiba perut papa berbunyi nyaring. Sangat merusak suasana. Membuat kita bertiga jadi tertawa.


"Papa lapar nih. Turun yuk! Kita sarapan," ajak papa dan berjalan keluar lebih dahulu. Tapi ketika di depan pintu papa menghentikan langkahnya dan berbalik badan, kembali menghadapku. "Oh iya, jangan lupa Alif dikasih tahu. Masa bapaknya sendiri tahunya belakangan."


"Iya Pa," kataku. Membuat papa tersenyum lega lalu melangkah keluar kamar dan disusul oleh mama.


Ponsel yang sedari tadi masih aku charge kini kembali lagi di genggamanku. Menghidupkan daya lalu mencari kontak Mas Alif. "Nah ketemu!" Segera kupencet simbol untuk memanggil.


Terhubung, tapi masih belum diangkat. Kuulangi sekali lagi, dan akhirnya panggilan pun tersambung. "Assalamu'alaikum Mas."


"Wa'alaikumsalam." Baru mendengar satu jawabab salam darinya sudah membuat air mataku kembali menetes. Sebegitu rindunyakah aku dengannya? Apalagi kudengar suaranya sudah tidak sedingin sebelumnya.


"Halo? Nala?"


"Eh. Iya Mas. Aku cuma mau ngomong sesuatu sama kamu. Jadi, hari ini kamu bisa ke rumah enggak?"


"Bisa." Syukurlah. Kupikir dia akan menolak ajakanku kali ini.


"Oke, kalau gitu aku tu-,"


"Tunggu!" Aku langsung menjauhkan ponsel itu dari telingaku, Mas Alif tiba-tiba teriak sih. Kan aku kaget.


"Kenapa Mas?"


"Jangan ditutup dulu telponnya."


"Oh oke. Ada apa?"


"Paket yang aku kirimkan sudah sampai belum?"


"Ha? Paket?"


"Iya."


"Perasaan enggak ada kurir yang datang ke rumah. Emang Mas Alif ngirim apa?"


"Rahasia. Coba sekarang kamu bukain pintu depan. Siapa tahu paketnya sudah sampai." Mas Alif yang sok rahasia ini membuatku penasaran saja.


"Oh iya."


"Ya sudah, kututup telponnya ya! Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumsalam."


Buru-buru aku keluar kamar dan menuruni tangga. Melewati papa yang sedang membaca koran di meja makan, dan mama yang sedang menyiapkan makanan.


"Nala! Kalau turun hati-hati!" Mama memperingatkanku dengan spatula andalannya.


Hampir saja aku lupa. Sekarang sudah ada raga lain di perutku. Jadi mulai sekarang aku tidak boleh memikirkan diriku sendiri, ada si kecil yang membutuh perhatian khusus. "Hehehe. Maaf Ma! Lupa."


"Kamy mau ke mana sih? Buru-buru amat?"


"Ke depan Ma. Bentar!" Tanpa menunggu jawaban mama selanjutnya aku melanjutkan langkah ke ruang tamu. Tapi kali ini berjalan dengan lebih hati-hati.


Cklek!


Ketika kubuka pintu, tampak seorang laki-laki membelakangiku. Mengenakan seragam berwarna oranye khas dari kantor pos. Benar kata Mas Alif, paketnya sudah sampai.


"Ekhm! Permisi?" kataku agar pak kurir ini mengahadapku.


"Dengan Ibu Nala?" tanya pak kurir tapi masih membelakangiku.


"Iya, dengan saya sendiri."


"Ada kiriman untuk Ibu."


Iya, mana paketnya? Si bapak dari tadi ngomong masih membelakangiku. Kalau saja mama yang membukakan pintu, pasti sudah dipukul pakai spatula bapaka ini gara-gara tidak sopan.


"Iya Pak. Sekarang mana paketnya?"


Akhirnya si bapak membalikkan badan dan menghadap sempurna ke arahku. Mukanya tertutup masker, dan tangan kanannya membawa sebuket bunga yang cantik.


"Ini Bu kirimannya. Sepaket bunga lengkap dengan hati saya." Pak kurir itu berkata demikian sambil membuka maskernya. Betapa terkejutnya aku mendapati seseorang yang ada di balik masker hitam itu.


"Mas Alif!" Aku langsung menghamburkan diri ke arahnya dan langsung ia sambut pelukanku.


Masa bodoh dengan acara ngambek yang kurencanakan akan bertahan lama. Dua hari tidak bertemu saja sudah membuatku rindu dan stres memikirkannya terus.


"Ekhm! Kalian berdua. Kalau mau romantis-romantisan masuk dalam rumah sana. Malu nanti dilihat tetangga." Aku dan Mas Alif sontak melepaskan pelukan setelah mendengar perkataan papa yang tiba-tiba datang.


"Ish! Papa!" Aku pura-pura cemberut. Sedangkan Mas Alif menyapa papa dan mencium tangannya.


"Apa kabar Pa?" tanya Mas Alif ketika kita sudah masuk rumah.


"Alhamdulillah baik," jawab papa. Lalu berikutnya menurunkan kacamata bacanya sampai di bawah hidung dan mengamati penampilan Mas Alif.


"Kamu sekarang jadi tukang pos?" Pertanyaan papa membuatnya jadi berhenti melangkah.


"Bukan Pa, ini sengaja buat kejutan ke Nala," kata Mas Alif sambil menyenggol bahuku. Apaan sih?


"Oh begitu. Ya sudah, kamu habis ini langsung ikut sarapan aja. Papa tunggu di ruang makan." Papa kemudian berlalu dari hadapanku dan Mas Alif .


"Oh iya Mas, ngomong-ngomong kamu dapat baju itu dari mana?"


"Dari Pak pos yang tadi enggak sengaja papasan di-, Ya Allah!" Mas Alif tidak melanjutkan kalimatnya, malah menepuk dahinya pelan.


"Aku keluar sebentar ya! Kasihan Pak posnya masih nunggu di depan gerbang!" Mas Alif langsung berlari keluar rumah lagi. Lalu beberapa menit kemudian sudah kembali di hadapanku.


"Kamu tuh Mas! Ada-ada aja." Aku tidak habis pikir dengan tindakannya barusan.


"Ya kan untuk surprise. Gimana? Kamu terkejut enggak?" tanyanya.


"Kamu langsung duduk aja, aku mau ke atas buat naruh bunga ini dulu," kataku setelah kita sampai di ruang makan.


Bersamaan dengan Mas Alif yang bergabung dengan mama dan papa, aku ke kamar untuk meletakkan bunga pemberiannya. Senyum terus mengembang di bibirku. Sampai di kamar bunga itu terus kuciumi. Dengan ini berarti masalahku dan Mas Alif sudah hampir selesai. Leganya hatiku.


*******


"Gimana kabar kamu dua hari ini Mas?" tanyaku.


Kita berdua sudah berada di kamar. Rencanaku untuk pergi memancing dengan Papa gagal mengingat kondisiku sekarang. Jadi papa sudah berangkat duluan, sedangkan mama sudah pergi ke rumah temannya untuk arisan. Aku tahu mereka berdua sengaja memberiku dan Mas Alif ruang lebih untuk berbicara.


"Tidak sebaik ketika kamu di sampingku. Rumah terasa sangat sepi. Tidak ada yang menungguku ketika pulang kerja dengan senyuman, tidak ada yang mengingatkan ketika makan terlambat. Pokoknya makan tidak enak, tidur pun tidak nyenyak."


"Ulululuh! Kasihannya suamiku ini. Enggak ada yang ngurus ya?" godaku sambil memainkan brewok tipis Mas Alif yang mulai tumbuh.


"Hmm. Aku kangen kamu Sayang!" ungkapnya lalu menoel hidungku pelan.


"Iya. Aku juga Mas. Rasanya ada yang kurang kalau enggak ada kamu disampingku."


Mas Alif tidak menyahutiku. Hanya saja, jemariku diraihnya dalam genggamannya. Pandangannya menatap lurus tepat di manik mataku. "Aku sadar, aku sudah terlalu dibutakan cemburu. Sampai-sampai aku tidak mau mendengarkanmu, malah mengabaikan kamu, dan juga membuatmu menitihkan air mata. Maaf ya Sayang!"


Mas Alif menarik tubuhku untuk masuk dalam pelukannya. Di sana kutumpahkan segala rasa yang ada. Rindu, senang, bahagia, semua bercampur jadi satu.


"Aku juga minta maaf! Aku terlalu takut untuk berkata jujur. Aku terlalu banyak memikirkan hal tidak-tidak yang belum tentu kebenarannya. Andai saja aku mau jujur lebih awal, pasti semua akan baik-baik saja," kataku yang masih dalam dekapannya.


Mas Alif mengelus rambut panjangku lalu mengecup puncaj kepalaku lembut. "Iya, di sini kita sama-sama salah. Tapi dengan begitu, kita sama-sama belajar dari masalah ini."


"Hmm." Aku mengangguk.


Tiba-tiba aku teringat oleh hal besar yang membuat keluargaku menangis haru biru tadi pagi. Jika Mas Alif tahu, pasti dia akan sangat bahagia. Memikirkan cara untuk memberitahunya saja sudah membuatku gugup.


"Emm.. mas." Aku mendongak ke wajahnya, dia pun menunduk melihatku yang memanggil namanya.


"Ada apa?"


Aku melepaskan pelukannya. Lalu berjalan ke lemari untuk mengambil sebuah kotak yang sudah kupersiapkan sebelumnya. Jantungku memompa begitu cepat ketika memperlihatkan kotak itu ke Mas Alif, menantikan bagaimana nanti reaksinya.


"Ini Mas, aku punya hadiah buat kamu." Kuberikan kotak itu di tangannya.


Dahi Mas Alif yang mengkerut itu jelas menunjukkan gurat kebingungan. "Aku pikir cuma aku yang akan memberikan hadiah, ternyata kamu juga," katanya sambil tersenyun ke arahku.


"Iya dong. Aku yakin ini akan lebih mengejutkan daripada kejutan kamu ke aku tadi pagi." Aku kembali mengambil duduk di sampingnya.


"Oh iya? Demi apa?"


"Demi cintaku padamu!" kelakarku yang malah dihadiahi cubitan oleh Mas Alif di hidungku.


"Gemes banget sih! Istri siapa sih ini?!" Mas Alif membingkai wajahku dengan dua tangannya, lalu menggerak-gerkakan kepalaku. Berasa seperti ayah yang sedang menimang bayinya. Padahal sendirinya juga mau jadi ayah. Hehehe.


"Istrinya Mas Alif dong!" jawabku bangga. "Ayo cepet dibuka Mas!"


"Iya-iya. Emangnya apa sih? Kok kamu kaya antusias begitu."


"Udah. Buka aja."


Detik-detik saat Mas Alif membuka kotaknya membuatku menahan napas karena gugup. Suara tabuhan drum seakan menjadi latar belakang keteganganku. Sedangkan muka Mas Alif masih santai begitu. Tapi ketika kotaknya sudah terbuka sempurna dan menampilkan alat tes kehamilan yang sudah menunjulkan dua garis membuat mukanya berubah. Diambilnya alat itu dan diperlihatkan kepadaku.


"Sayang? Maksudnya ini..." Mas Alif seperti kehabisan kata-kata, aku hanya bisa mengangguk untuk menanggapinya.


"Masya Allah! Akhirnya aku mau jadi ayah!" Tidak kusangka Mas Alif matanya berair dan menangis. Yang pada akhirnya juga menular padaku yang ikut-ikutan menangis.


"Sayang? Ini beneran kan? Bukan mimpi?"


"Enggak Mas. Ini nyata. Kamu akan jadi ayah, dan aku akan jadi ibu."


Mas Alif memelukku erat. Lalu mengangkat tubuhku tinggi-tinggi dan memutarnya sambil berteriak kesenangan. "Alhamdulillah! Aku akan jadi ayah!"


Ternyata euforia menyambut kehamilan pertama rasanya semenyenangkan ini. Semua menyambut haru kehadiran jabang bayiku. Apalagi Mas Alif. Laki-laki yang terlihat tangguh ini rupanya meneteskan air matanya saking bahagianya. Hari ini tidak akan pernah kulupakan. 


Mas Alif langsung menurunkanku di kasur. Dia tiba-tiba mengambil duduk di bawah lalu memegang perutku. Diusapnya perutku yang masih rata itu dengan penuh kasih sayang.


"Assalamu'alaikum calon anak Abi. Baik-baik di sana ya! Jaga Umi dari dalam sana. Tapi jangan menyusahkan Umi juga ya! Sehat selalu. Di sini Abi dan Umi mencintaimu." Mas Alif lalu mencium perutku. Momen mengharukan ini terasa begitu indah.


Tanganku mengelus kepala Mas Alif yang masih bersandar di perutku. Seakan mencoba mendengar kehidupan dari dalam sana.


"Bagus ya Mas, panggilan Abi sama Umi. Aku suka."


"Iya. Itu keinginanku setelah menikah denganmu Sayang. Ingin suatu hari dipanggil Abi oleh anak-anak kita."


"Dan semoga saja, ke depannya hal itu akan terjadi. Amiin."


"Amiin."


Mas Alif langsung membaringkanku di atas kasur. Sama seperti mama tadi, dia juga memperlakukanku seolah-olah aku adalah benda yang mudah rapuh. Alasannya selalu sama, untuk menjagaku dan jabang bayi. Padahal aku merasa baik-baik saja. Kalau tidur terus bisa mati kebosanan nanti.


"Oh iya, kita mau pulang kapan Sayang?" tanya Mas Alif.


Mendengar kata pulang membuatku merasa sedih. Seakan tahu dengan perubahan raut mukaku, Mas Alif kembali bertanya. "Kamu masih belum mau pulang ya?"


"Iya Mas. Enggak tahu kenapa, aku masih ingin lama-lama di sini. Rasanya rindu banget sama kamar ini."


"Apa mungkin ini keinginan dedeknya?"


"Mungkin," jawabku sederhana.


Eh. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Sebuah senyuman langsung terlintas di bibirku. "Mas!" panggilku.


"Hmm." Dia masih asyik mengusap-usap perutku.


"Kalau hamil kan biasanya ngidam ya? Dan permintaannya itu harus dituruti. Jadi-,"


"Jangan mikir macem-macem! Yang aku turuti itu cuma permintaan dedek bayinya. Jadi kamu jangan memanfaatkan kesempatan." Belum juga aku menyelesaikan omonganku, tapi Mas Alif langsung memotongnya. Mana betul banget lagi tebakannya.


"Yahh! Masa kalau ibunya yang minta enggak diturutin sih?" Mukaku kubuat semelas mungkin.


"Iya-iya. Diturutin. Tapi jangan aneh-aneh ya!"


"Enggak janji. Hehehe." Mas Alif langsung mencubit pipi tembemku.


"Eh Sayang?" Muka Mas Alif tiba-tiba serius begitu setelah mencubit pipiku. Lalu dia mengamatiku lamat-lamat. Memang ada yang salah ya dengan penampilanku?


"Kenapa Mas?" 


"Kamu tambah gendutan ya?" ledeknya lalu tertawa puas.


"MAAAS!!!" Kulempar saja mukanya dengan bantal. Biar sia jatuh dari kasur sekalian. Enak aja ngatain aku gendutan! Kan aku cuma berisi.