
Dua hari berlalu, dan kini tubuhku sudah kembali seperti semula. Sehat dan bertenaga. Terima kasih kepada Mas Alif dan mama yang telah merawatku penuh cinta. Sebagai bentuk terima kasih, sore ini aku berencana untuk membuatkan mama kue dan membuat menu istimewa untuk makan malam nanti bersama Mas Alif. Kata mama, Mas Alif itu suka sekali dengan opor ayam. Maka dari itu, sekarang aku akan berbelanja ke supermarket untuk mendapatkan bahan-bahan dan juga untuk membeli keperluan rumah lainnya.
Cukup mengenakan celana kulot, kaos berlengan panjang, serta jilbab instan, dan aku sudah siap untuk pergi. Kali ini dengan mengendarai motor kesayanganku, karena letak supermarketnya lumayan jauh.
Sekarang mulai memasuki supermarket yang sangat ramai hari ini. Jadi teringat, kalau dulu datang hanya sekedar membeli snack untuk stok camilan di rumah. Atau sekedar menemano ibu pergi berbelanja. Tapi sekarang aku ke sini untuk membeli kebutuhan dapur juga kebutuhan rumah tangga yang lain. Hidupku berubah seratus delapan puluh derajat.
Pemandangan dua sejoli yang sedang berbelanja bersama, atau sebuah keluarga bahagia dengan ayah yang mendorong trolinya, sedangkan si ibu memilih barang-barang, dan juga si anak yang duduk asyik di troli kadang membuatku iri. Tapi tidak mungkin juga jika aku meminta Mas Alif untuk menemaniku berbelanja. Sekarang pasti dia sibuk di depan komputernya dengan banyak dokumen yang harus ia periksa dan tanda tangani.
Saat aku sedang berjalan di rak-rak yang berisi makanan ringan, aku melihat beberapa orang berkerumun. Aku yang penasaran pun mendekati sumber penyebab kerumunan itu. Kalau mendengar dari komentar orang-orang di sekitar, ada istri yang tengah melabrak suaminya sedang belanja berduaan dengan selingkuhannya.
"Kamu tega ya Mas! Aku di rumah sibuk ngurus anak kita tapi kamu malah enak-enak an di sini sama selingkuhanmu!" Si ibu berkata dengan penuh penekanan dan amarah. Tangannya tidak lupa menunjuk-nunjuk suami dan juga seorang wanita yang menempel dengan suaminya, atau bisa disebut selingkuhan suaminya.
"Heh! Kamu ngapain teriak-teriak? Harusnya kamu ngaca kenapa suami kamu berpaling dan memilih aku. Kamu itu udah tua, enggak menarik! Enggak kaya aku yang masih cantik!" Mbak-mbak pelakor itu ternyata berniat menyulut amarah si ibu.
Sontak saja, mendengar penuturan selingkuhan suaminya itu membuat si ibu naik pitam. Ditariknya tangan wanita yang dari tadi terus menempel dengan suaminya lalu menampar pipinya dengan keras. Mbak pelakor yang tidak terima juga membalas tamparan si ibu. Dan dimulailah pertengkaran dua wanita itu. Dari mulai cakar-cakaran, pukul-pukulan, sampai jambak-jambakan. Segala umpatan juga keluar dari mulut si ibu yang ditujukan ke mbak-mbak pelakor. Si bapak juga tampak kalang kabut memisahkan keduanya. Akhirnya dua pak satpam datang dengan lari tergopoh-gopoh, mencoba melerai pertikaian yang mengundang penasaran banyak pengunjung itu.
Melihat itu, aku sedikit iba dengan si ibu. Pasti hatinya sakit karena mendapat pengkhianatan dari orang yang dicintainya. Dalam hati aku berdoa, semoga kejadian yang barusan kulihat ini tidak terjadi pada rumah tanggaku dengan Mas Alif.
Kini aku sudah tidak tertarik dengan lagi kelanjutan kisah mereka memilih untuk lanjut berjalan menuju kasir untuk membayar barang-barang yang kubeli. Keluar dari supermarket tanganku sudah penuh membawa sekantong belanjaan besar. Namun pemandangan agak jauh di depanku membuat langkahku mendadak berhenti. Napasku tercekat untuk sesaat. Mataku mencoba memastikan lagi bahwa apa yang kulihat ini benar adanya.
Brakk!!!
Tanganku lemas seketika dan menjatuhkan barang belanjaan. Tidak siap menerima kenyataan bahwa di depan sana terdapat Mas Alif yang tengah makan di restoran berdua dengan seorang wanita. Tubuhku pun langsung terhuyung ke belakang yang akhirnya mengenai badan seseorang, sehingga tubuhku tidak jatuh.
"Maaf!" Aku langsung membalikkan badanku untuk meminta maaf dengan orang yang sudah kutabrak barusan.
"Iya tidak apa-,"
"Loh?!" ucap kita berdua spontan setelah berhadapan satu sama lain.
"Kamu enggak kenapa-napa kan Na?"
"Mmm, enggak apa-apa kok Dit." Iya, seseorang yang tidak sengaja kutabrak tubuhnya adalah Radit.
Dilihat dari penampilannya yang hanya mengenakan kaos hitam polos serta jeans hitam panjang, pasti dia sedang bersantai dari aktivitas padatnya di rumah sakit. Dia memungut barang-barangku yang jatuh dan keluar dari kantong belanjaan, lalu menyerahkannya kepadaku.
"Makasih Dit!"
"Kamu yakin Na enggak kenapa-napa?"
Aku menghela napas lelah. Tidak mungkin untuk berkata sebenarnya pada Radit. Mengingat dulu Radit pernah mencintaiku dan juga aku takut dia akan berbuat sesuatu pada Mas Alif. Masih teringat di otakku kata-katanya pada saat pernikahanku dulu. Pesan agar Mas Alif untuk selalu menjaga dan tidak akan membuatku menangis. Entah apa yang akan dia lakukan ke Mas Alif jika tahu aku bersedih karenanya.
"Iya. Enggak apa-apa kok. Cuma kecapek an aja mungkin."
"Yaudah sini, aku bawain." Radit kemudian mengambil kembali kantong belanjaan dari tanganku. "Emm, Na."
"Iya?" Dia kelihatan ingin mengatakan sesuatu, namun masih menahannya.
"Sibuk enggak?"
"Enggak sih. Kenapa?"
"Makan yuk!" ajaknya. Aku masih menimang-nimang ajakannya. "Aku enggak ada maksud apa-apa, cuma pengen ngajak makan aja." Radit tampak takut jika aku berpikiran macam-macam tentangnya. Padahal aku biasa aja.
"Iya-iya. Ayo! Lagian udah lama kita enggak ketemu." Aku pun mengajaknya ke restoran tempat Mas Alif tadi, yang sekarang dia sudah duduk sendiri. Tidak lagi bersama wanita tadi. Aku ingin tahu gimana reaksinya melihatku juga ada di sana. "Kamu yang bawa belanjaanku ya Dit!" kataku sambil berjalan lebih dulu.
"Oke!"
Tidak membutuhkan waktu lama. Hanya menyebrang jalan raya dan kita sudah sampai di restoran dengan konsep tradisional ini. Terlihat dari furniture meja dan kursi yang terbuat dari kayu dan rotan, juga dengan bangunan restoran yang kebanyakan terbuat dari kayu-kayu jati yang kokoh. Menu yang dihidangkan pun tidak kalah tradisional, mengusung menu khas masyarakat Jawa.
Tempat dudukku dan Radit berada dekat dengan pintu keluar. Dengan Radit yang berada di hadapanku, sedangkan aku dapat menghadap langsung ke arah Mas Alif berada yang agak ke dalam restoran dan di dekat jendela kaca besar. Dari tempat dudukku aku bisa melihatnya tengah menyesap kopi. Tidak mau Radit mencurigai ke mana arah pandangku, aku pun mencoba mengajaknya mengobrol sambil menunggu pesanan datang.
"Kamu apa kabar Dit?"
"Yaaa, seperti yang kamu lihat. Sehat dan tampan seperti Radit yang dulu," katanya dengan penuh percaya diri sambil meletakkan jari jempol dan telunjuknya di bawah dagu.
"Apaan sih! PD banget!" Aku melempar tisu yang disediakan di meja ke arahnya.
"Gitu dong! Senyum. Kan tambah cantik. Jadi Nala kaya biasanya." Ooh, rupanya dia berusaha menghiburku.
"Ini ngegombal maksudnya?" tanyaku sambil menaikkan-naikkan sebelah alisku.
"Eh enggak! Enggak! Bukan gitu. Aku cuma pengen lihat kamu senyum aja." Tampak mukanya jadi agak panik gitu. Membuatku tidak bisa menahan tawa
"Bwahaaha! Santai kali Dit!"
"Ya enggak bisa santai kalau kamu nganggepnya tadi aku ngegombal. Entar dikira aku pebinor lagi."
"Pebinor? Apaan tuh?"
"Perebut bini orang," jawabnya singkat.
"Mantep tuh! Temen seperjuangannya pelakor," kelakarku.
"Iya."
"Ekhm!" Aku pura-pura batuk. "Emangnya kamu udah enggak punya rasa lagi sama bini orang ini?" Sengaja aku memancing dia dengan pertanyaan ini, aku masih penasaran dengan perasaannya yang sekarang terhadapku.
"Mau jawaban jujur apa bohong?" Tatapannya kini berubah serius, suasana yang semula mencair menjadi kaku. Suasana yang membuatku tidak nyaman.
"Kalau jawaban bohong?"
"Rasa cintaku ke kamu sudah hilang."
Deg.
Berarti kalau jujur...
Aku tidak lagi menatapnya. Memilih untuk menatap kakiku yang mendadak menjadi lebih menarik perhatianku. Mungkin karena melihat gelagat anehku dia jadi buka suara lagi.
Mendengar penuturannya membuatku menjadi terharu. Tidak terasa jika aku menitikkan air mata karenanya. Radit pun memberiku sapu tangan untuk menghapus air mataku. "Maaf ya Dit!"
"Sudah kubilang kan tadi, kamu enggak perlu merasa bersalah. Jujur, dulu memang iya aku sempat iri pada Alif yang berhasil merebut hati kamu. Tapi sekarang aku sadar. Cinta itu tidak egois, cin itu juga tentang pengorbanan. Dan di sini aku mengorbankan perasaanku sendiri untuk melihat kamu bahagia Na."
Entah balasan apa yang akan kuucapkan untuknya. Saat ini aku hanya bisa menangis dan kehabisan kata-kata.
"Sudahlah Na! Jangan nangis! Enggak malu apa dilihatin orang-orang? Dikira nanti kamu korban yang minta tanggung jawabku lagi."
Haish! Saat-saat seperti ini pun masih sempat-sempatnya dia bergurau. Membuatku gemas sendiru hingga melempar sapu tangan bekas air mata dan ingusku tadi ke arahnya.
"Hih! Jorok tahu Na!"
"Biarin!"
"Tahu enggak Na? Aku ngerasa lega setelah ngomong semua ini ke kamu. Beban-beban rasanya terangkat semua. Hati jadi plong!"
"Hmm. Lain kali enggak perlu dipendam lagi. Kalau ada unek-unek langsung ngomong aja!," saranku.
"Iya."
Bersamaan dengan itu pesanan datang. Bukan menu makanan berat. Hanya dessert untuk menemani perbincangan kita. "Oh iya Dit. Gimana ujiannya kemarin?" Kalau tidak salah seingatku dulu waktu hari pernikahanku dia sedang ujian untuk mendapat ijazah dokternya.
"Parah! Soal-soalnya sulit banget!"
"Emangnya kamu enggak belajar?"
"Belajar sih. Makanya karena aku belajarnya mati-matian semoga aja nilainya bagus. Enggak usah tinggi-tinggi amat deh, pokoknya di atas ambang batas aja gitu."
Hmm, sungguh sulit sekali perjuangan teman-temanku untuk menjadi dokter yang legal di sini. Dengar-dengar banyak juga yang gagal ujian. Semoga saja baik Radit, Gea, Sita juga Indra bisa lulus. Kalau Fahmi jangan ditanya lagi. Dia malah sudah yudisium berbulan-bulan yang lalu, dan sekarang sudah praktek di rumah sakit milik ayahnya.
"Amiin. Memangnya kapan pengumumannya keluar?"
"Pertegahan bulan ini. Doain ya semoga lulus dan bulan depan bisa yudisium."
"Iya. Pasti aku doain."
"Dan ada satu lagi," kata Radit di sela-sela memakan pesanannya.
Ucapannya yang menggantung itu menarik perhatianku yang semula sibuk mengaduk-aduk jus alpukat sambil sesekali melirik Mas Alif. "Apa?"
"Ada fakta jika rata-rata seseorang jatuh cinta dengan tulus dalam hidupnya sebanyak tiga kali." Dia kembali diam.
"Terus-terus?" Geregetan dengan Radit yang sudah didengarkan serius malah asyik memotong ucapannya sendiri sambil meminum cappucinonya.
"Kayanya aku jatuh cinta lagi sama seseorang."
"Yang bener?!" Tidak dapat dipungkiri jika aku turut merasa senang mendengar ini. Siapa agaknya yang berhasil membuka hati Radit kembali?
"Iya. Dan aku juga enggak nyangka bahwa orang yang mencuri hatiku kali ini adalah orang yang pernah kusia-siakan dulu."
Dari penuturannya ini aku sudah tahu siapa wanita itu. "Gea?" Dan Radit mengangguk mantap.
"Mungkin kata-kata cinta ada karena terbiasa itu benar adanya. Setiap hari bertatap muka dengannya, bekerja sama dengan dia, melihat kesungguhan dan ketulusan hatinya. Sekarang membuatku luluh juga."
"Iya. Cinta itu misteri. Bisa datang tiba-tiba pada hati yang tidak diduga," imbuhku. "Jadi kapan kalian meresmikan hubungan kalian?" tanyaku antusias.
Melihat semangatku, Radit malah tertawa hambar. Seakan-akan menertawai dirinya sendiri. "Jangankan mau meresmikan, mengutarakan aja belum."
"Loh kenapa?"
"Entahlah. Aku ragu dia mau menerimaku atau tidak setelah menerima perlakuan burukku dulu."
"Itu kan dulu Dit. Sekarang sudah beda cerita. Coba aja kamu mengungkapkan yang sebenarnya. Mau ditolak apa enggak, setidaknya kamu kan sudah mencoba."
"Gitu ya?"
"Iya lah," jawabku mantap. Dia malah tampak masih menimang-nimang lagi.
"Tapi aku masih trauma sama penolakan kamu dulu Na. Masa sekarang mau mendengar penolakan lagi," akhirinya dengan tawa.
"Yeeu! Nyindir ya!" Kembali lagi aku melemparkan tisu ke arahnya.
"Yaelah Na! Ini orang kali, bukan tempat sampah. Hobi banget dari tadi ngelempar sampah terus."
"Biarin!"
Ditengah keseruanku dan Radit yang sedang bergurau, aku tidak tahu jika Mas Alif sudah tidak ada di tempatnya lagi. Kini malah dia sudah berdiri di hadapanku dan Radit, membuat tawa kita berhenti. Suasana pun menjadi canggung.
"Hai Lif!" sapa Radit.
"Hai. Udah lama di sini?" Pertanyaannya ini terdengar sebagai nada kecemburuan di telingaku. Rahangnya juga tampak mengeras.
Entah karena melihat muka Mas Alif yang masam dan tidak enak dipandang itu, atau karena memang makanan dan minumannya sudah habis dia kemudian memilih untuk pamit. "Aku duluan ya! Oh ya, pesanan kamu sudah aku bayar Na."
"Makasih ya Dit!" ucapku.
"Hmm. Aku pergi." katanya sambil menepuk pundak Mas Alif dua kali.
Sepeninggal Radit, nafsu makanku pun langsung hilang. Tidak berniat untuk basa-basi dengan Mas Alif, aku pun segera berdiri dan mengambil kantong belanjaanku. Tapi sebelum aku beranjak pergi, Mas Alif mencekal tanganku.
"Kenapa kamu bisa di sini sama Radit?" tanyanya.
"Memangnya tidak boleh bertemu sama teman sendiri?" Aku menjawabnya malas.
"Bukannya gitu. Tapi,-"
"Mas! Radit itu sudah punya wanita lain. Jadi lain kali kamu enggak perlu repot-repot untuk cemburu." Setelah berkata demikian aku memilih untuk langung pergi meninggalkannya.