TWENTY

TWENTY
SEASON DUA ~ Pisah Ranjang



Sepulang dari supermarket aku langsung berkutat di dapur. Ponsel memang sengaja kumatikan. Mas Alif sedari tadi terus menelponku, membuatku jadi jengah sendiri. Aku tahu bahwa tidak baik mendiamkan suami. Tapi apa daya, aku hanya wanita biasa yang jelas-jelas akan sakit hati jika melihat suaminya bersama wanita lain. Apalagi otakku kini memutarkan memori tentang ucapan Iren mengenai kantornya beberapa waktu lalu.


*Flashback*


Waktu itu aku masih sakit. Tidak boleh beraktivitas sedikit pun. Hanya disuruh berbaring dan makan makanan buatan mama dan Mas Alif. Karena bosan, aku berniat menelpon salah seorang temanku. Entah ini kebetulan atau memang takdir yang menentukan, tapi Iren tiba-tiba memanggilku. Langsung saja kuangkat karena kebetulan aku juga masih bingung akan menelpon siapa.


"Halo Ren!"


"Halo Na!" Suara Iren, atau lebih teriakan itu membuatku menjauhkan ponsel dari telingaku karena tiba-tiba pengang.


"Enggak usah teriak-teriak bisa kali Ren!"


"Hhehe.. maaf Na! Kelewat seneng ini."


"Seneng kenapa? Dapat bonus gajian?" Mengingat bahwa sekarang adalah tanggal muda.


"Bukan! Bukan itu. Tahu enggak? Kan perusahaan tempatku bekerja itu katanya ada pergantian pimpinan. Dan pimpinan baru itu datang hari ini."


"Terus? Kenapa? Pimpinannya ganteng? Kamu mau pindah haluan dari si manajer itu?" tebakku.


"Ish bukan lagi! Yang bikin aku seneng itu karena pimpinannya adalah suami kamu Nala!"


"He?"


"Iya! Suami kamu, Alif." Memang selama satu tahun Iren bekerja aku tidak pernah menanyakan di perusahaan mana dia bekerja.


"Oohh, gitu. Terus kamu yang seneng banget itu kenapa?"


"Ya kan Alif pimpinannya. Kita kan temenan Na, kali aja aku jadi mudah naik jabatan gitu. Kan-,"


Belum sempat Iren melanjutkan kata-katanya, aku sudah memotongnya terlebih dahulu. "Ish! Ya enggak bolehlah! Itu nepotisme namanya. Temen ya temen, kerjaan ya kerjaan. Itu tidak bisa dicampuradukkan."


"Iya, iya. Bu bos galak bener!"


"Biarin! Penting cantik!" kataku penuh percaya diri.


"Iyain deh biar seneng." Percakapan pun melebar kemana-mana. Tapi lebih banyak membahas si manajer pencuro hati Iren itu sih.


Sampai kurang lebih lima belas menit kemudian aku akan menutup telponnya. Tapi pertanyaan dari Iren membuatku mengurungkan niat untuk mengakhiri percakapan ini.


"Alif punya saudara perempuan gak sih Na?"


"Eh? Saudara perempuan?"


"Iya."


"Enggak ada sih. Di cuma dua bersaudara, adiknya laki-laki satu. Ada apa emangnya?"


"Ooh gitu." Iren yang aku tunggu-tunggu ucapan selanjutnya malah diam agak lama.


"Ada apa sih Ren?"


"Emmm, gimana ya?" Dia malah seperti bergumam dengan dirinya sendiri.


"Ish! Ada apa sih? Ngomong aja enggak apa-apa. Buat orang penasaran dosa lho!" kataku gemas sendiri.


"Idih! Sejak kapan ada hukum kaya gitu."


"Sejak barusan, aku yang buat! Ayo ngomong cepetan!"


"Iya, iya! Sabar kali Bu! Jadi gini, sebenarnya Alif datang itu juga bawa sekretaris baru. Cewek. Masih muda, cantik lagi. Dan juga kelihatannya mereka dekat. Jadi ya aku tanya aja apa Alif punya saudara perempuan? Takutnya kalau udah berprasangka buruk, eh! Ternyata cuma saudara."


"Yang bener kamu Ren?!"


"Iyalah. Buat apa juga mau bohong? Kurang kerjaan banget."


Pernyataan dari Iren ini jujur sedikit mengusik hatiku. Tapi mungkin saja kedekatan mereka sebatas rekan kerja. Aku memilih percaya pada Mas Alif.


*Flashback End*


Hari itu juga sebenarnya aku ingin menanyakan pada Mas Alif. Tapi terlupa hingga saat ini. Andai kata hari ini aku tidak mendapatinya bersama seorang wanita, pasti otakku tidak akan terus memikirkan ucapan Iren itu.


"Akh! Yaudah lah!"


Akhirnya aku memilih menghidupkan ponsel lagi. Benar saja, puluhan panggilan tidak terjawab datang dari kontak Mas Alif. Alih-alih menjawabnya, aku memilih mengabaikannya dan mencari kontak Iren dan menelponnya. Mataku melirik sekilas jam dinding. Pukul empat sore. Berarti sebentar lagi akan pulang kantor, jadi pasti Iren tidak sibuk.


Benar saja, tidak lama kemudian panggilan pun tersambung. "Halo, ada apa Na?"


"Gimana kabar kamu Ren?"


"Baik," jawabnya singkat.


"Kerjaan hari ini gimana? Enggak berat-berat amat kan?" tanyaku untuk basa-basi.


"Ada apa sih Na? Langsung to the point aja deh!"


"Yahh, Iren! Kok gitu sih."


"Halah! Enggak usah sok sedih gitu. Kamu nelpon kan ada maunya pasti."


"Hehehe, tahu aja kamu Ren! Gini sebenarnya aku mau tanya tentang Mas Alif."


"Oh, Alif? Kenapa?"


"Itu... dia kalau makan siang gimana?"


"Ya makan pakai sendok sama garpu lah, kaya orang normal biasa."


"Ish! Bukan itu maksudku. Maksudnya itu dia makan siang di mana? Atau sama siapa? Gitu."


"Enggak pasti sih. Kadang di kafetaria kantor, kadang juga jeluar bareng si Nita."


"Nita? Siapa dia?"


"Iya. Makasih Ren!" Tidak ingin melanjutkan lagi, aku pun memutuskan panggilan.


Mood-ku yang semula semangat untuk memasak langsung buyar seketika. Hawa di sekitar tubuhku mungkin saat ini sangat gelap, selaras dengan suasana hatiku. Suram.


"Sebalnya! Sebal! Sebal! Sebal! Sebal!"


Kulampiaskan amarahku ke bahan-bahan yang kumasak. Cabai, bawang merah, bawang putih dan yang lain kuiris-iris dengan kekutan ekstra. Lengkuas kugeprek dengan tenaga ekstra. Mungkin kalau orang dari luar mendengar suara gaduhku di dapur ini disangka perang. Tapi biar saja. Suara pisau yang beradu dengan talenan kayu yang bergitu nyaring ini adalah bentuk pelampiasanku. Sampai akhirnya pada kelapa yang harus kuparut sendiri. Mungkin karena tidak hati-hati dan terlalu cepat juga, tanganku sampai ikut terparut juga. Buru-buru aku melepaskan parutan itu dan beralih ke wastafel untuk mencuci tanganku yang sudah mengucur banyak darah.


"Aduh! Perih, perih!" Semakin terkena air malah semakin perih. "Hadehhh. Udah perih hati, sekarang malah ditambah sama perih jari."


Total terhitung ada tiga jari yang tergores. Yaitu kelingking, jari manir, juga jari tengah. Aku pun segera mencari kotak P3K dan mengambil plester di sana. Lucu sekali pikirku, baru pertama kali mengalami luka di tiga jari sekaligus. Setelah selesai dengan lukaku, aku pun kembali ke dapur. Meneruskan kembali kegiatan memasakku. Tapi wajahku langsung pias ketika melihat santan kelapa yang kuparut tadi kini sudah bercampur dengan noda merah darah.


Waah! Gemasnya!


Rasanya pengen membanting apa pun yang ada dihadapanku. Tapi berhubung otak rasionalku masih bisa berpikir, kuurungkan niat itu. Daripada membanting barang-barang yang nantinya malah membuaku beli lagi, mending beli lagi bahan yang baru. Kali ini aku akan pergi membeli santan yang langsung jadi. Tidak lagi ingin berurusan dengan parut. Kuambil jilbab instanku lalu pergi ke warung terdekat untuk membelinya.


Sekitar satu jam kemudian masakanku telah siap dihidangkan. Ada opor ayam yang masih mengepul asapnya, lalapan kacang panjang dan juga bayam, tempe dan tahu goreng, serta nasi hangat yang tidak boleh dilewatkan. Kalau saja hari ini berjalan sesuai rencana, pasti aku menghidangkannya dengan wajah ceria dan dengan hati yang penuh suka cita. Bukannya dengan muka suram dan dengan hati yang duka cita seperti ini. Entahlah, bagaimana rasa opor yang dibuat dengan penuh amarah ini nantinya. Yang terpenting aku sudah memenuhi janjiku untuk membuatkan Mas Alif masakan kesukaannya.


Suara bel rumah terdengar, pastu Mas Alif sudah datang. Aku pun segera membukakan pintu dengan raut muka masam yang dari tadi menghiasi wajahku.


"Assalamualaikum Sayang!"


"Wa'alaikumsalam," jawabku singkat sambil mengambil alih tas kerja yang berada di tangannya. Prinsipku itu marah boleh, tapi kewajiban juga jangan dilupakan.


Jadi ya seperti keseharianku saja. Membawakan tasnya, menyiapkan air hangat serta handuk untuknya mandi, dan juga menyiapkan baju ganti. Tapi bedanya kali ini tidak ada senyuman. Mas Alif yang sedari tadi mencoba mengajakku berbicara juga kutanggapi dengan seadanya.


Sampai tiba waktunya makan malam. Seperti biasa aku menyendokkan nasi dan lauk untuknya. Lalu menyiapkan makanan untuku kumakan sendiri. Jika biasanya aku duduk di sampingnya, maka kali ini aku memilih duduk di sebrangnya.


"Wahh! Kamu masak opor ayam kesukaanku ya?" kata Mas Alif semangat lalu menyendokkan daging ayam ke mulutnya.


"Hmm." Sebenarnya aku juga sedikit penasaran dengan komentar apa yang akan dia berikan.


"Kamu belajar sama siapa? Ini kok enak banget! Enggak kalah sama buatan mama."


"Belajar sendiri." Boleh tidak sekarang aku berbangga diri? Dengan marah-marah saja masakanku rasanya enak, apalagi kalau niat tulus memasak dengan cinta.


Makam malam pun berjalan dengan sunyi. Hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring yang terdengar. Masing-masing dari kami berkutat dengan pikiran masing-masing. Entah apa yang dipikirkan Mas Alif, sedangkan otakku sibuk memikirkan siapa wanita yang kulihat tengah bersama Mas Alif tadi. Setelah selesai makan malam, aku pun membereskan piring-piring yang kotor dan membawanya ke wastafel. Ketika hendak mencucinya, seketika tangan Mas Alif ikut memegang piring kotor yang kubawa.


"Biar aku saja yang nyuci piringnya."


"Enggak perlu." Aku kembali merebut piring kotor itu.


"Enggak Sayang. Biar aku aja." Mas Alif ini kenapa sih?


"Kamu langsung ke kamar aja deh Mas!"


"Enggak. Aku tetap disini mau nyuci piring kotornya."


Oh. Oke. Itu yang dia mau. "Nih!" Kuserahkan piring itu ke tangannya dan segera mencuci tanganku lalu pergi ke belakang rumah untuk menyegarkan pikiran di taman bunga yang dulu pernah kutanam. Biar saja dia yang mencuci, toh itu permintaannya sendiri.


Aku pun duduk di bangku taman. Bunga-bunga matahariku kini sudah tumbuh segar. Kelopaknya mekar dengan indahnya. Bahkan ada beberapa yang sudah bercabang baru. Ternyata ketika malam hari juga tidak kalah indahnya dengan pagi hari. Ketika pulang dari Australia dulu, aku meminta Mas Alif untuk membangunkan taman bunga di belakang rumah. Jadilah sekarang taman bunga yang lebih indah. Dengan banyak lampu yang akan menyala indah ketika malam hari. Sedangkan untuk kolam ikan masih dalam tahap pembangunan, masih kurang tiga puluh persen lagi pengerjaannya.


"Kamu kenapa sih Sayang?" Aku merasakan sepasang lengan kekar memelukku dari belakang.


"Enggak kenapa-napa." Kulepaskan tangannya itu.


Dan Mas Alif akhirnya duduk disampingku. Diraihnya jemari tanganku erat, tidak membiarkanku untuk melepasnya. "Sayang. Kamu marah ya?"


"Kelihatannya?" Aku balik bertanya.


"Ya sudah. Kalau gitu aku minta maaf kalau aku punya salah." Kalau? Berarti dia tidak benar-benar mengetahui dia salah atau tidak.


"Tahu salahnya di mana?"


"Cemburu sama Radit, mungkin?"


"Haish!" Aku langsung menyentak kasar tangannya hingga dia melepaskan genggamannya. Meski itu termasuk salah satu kesalahannya, tapi bukan itu yang membuatku seperti ini.


KESALAHAN KAMU ITU KARENA PERGI SAMA WANITA LAIN TANPA IZIN DARI AKU! Ingin rasanya berteriak seperti ini. Tapi kutahan. Biar saja dia yang berpikir di mana letak kesalahannya.


Aku pun segera beranjak pergi dari taman. Tapi ketika langkahku hampir memasuki dapur, tanganku dicekal lagi oleh Mas Alif. "Aku salah di mananya sih Sayang?"


"Mas Alif cari tahu aja sendiri!"


"Ya gimana mau tahu kalau kamu enggak bilang. Kenapa sih perempuan sukanya pakai kode seperti ini? Kenapa enggak langsung terus terang aja?"


"Emang udah dari sananya!" ketusku dan langsung naik ke lantai atas untuk beristirahat.


Sampai di kamar aku segera merebahkan diri di atas kasur. Mengistirahatkan badan, pikiran, dan hati yang sedang lelah. Lalu kudengar derap langkah kaki mendekati kamar. Langsung saja aku mengubah posisi tidurku yang semula terlentang menjadi membelakangi tempat tidur Mas Alif. Dan selimut yang kutarik untuk menutupi hampir seluruh tubuhku.


Kurasakan kasur sedikit bergoyang dan disusul oleh lampu yang dipadamkan. Tangannya kembali memelukku dari belakang dan hendak menarik tubuhku ke dekapannya. Tapi segera kutepis tangannya dan aku memajukan tubuhku untuk menjauhinya. Tidak kusangka dia juga ikut memajukan tubuhnya sehingga tubuh kita kembali berdempetan. Tidak mau kalah, aku pun kembali memajukan tubuhku sampai ke tepi. Tapi Mas Alif juga ikut-ikutan memajukan tubuhnya.


Karena kesal, aku pun segera menyibakkan selimut yang menutupi tubuhku dan duduk. "Agak ke sana bisa kan Mas? Aku hampir jatuh nih!"


"Salah siapa tidurnya maju-maju sampai ke tepi gitu?" Salah kamu! Salah kamu karena enggak merasa bersalah.


"Oh. Ya udah." Aku pun segera mengambil bantal dan menarik selimut untuk tidur di lantai.


"Eh, eh! Kamu kenapa di lantai Sayang?"


"Mau tidur!"


"Kenapa tidur di situ? Ayo naik! Lantainya dingin lho."


"Enggak mau satu kasur sama Mas Alif!"


Sempat kudengar dia menghela napas panjang. Lalu kulihat dia turun dari kasur sambil membawa bantalnya. "Kalau gitu biar aku aja yang tidur di lantai. Kamu cepat naik ke kasur."


Aku pun segera naik lagi di kasur. Sebenarnya agak enggak tega juga sih lihat Mas Alif tidur di lantai gitu. Tapi apa boleh buat? Nasi sudah jadi bubur. Gengsi juga kalau mau nyuruh dia naik lagi ke kasur. Akhirnya untuk mengurangi rasa bersalahku, aku melempar selimutnya ke Mas Alif. Setidaknya selimut itu bisa mengurangi rasa dinginnya lantai, jadi biar dia tidak begitu kedinginan.