TWENTY

TWENTY
SEASON DUA ~ Aku Ngambek Sama Kamu Mas!



Suara adzan subuh berkumandang ke seantero komplek. Membuatku bangun dari tidurku yang nyenyak. Bangun dari tidur aku terkejut melihat tubuhku yang terbaring di kamar tidur. Sedangkan perasaanku tadi malam aku tertidur di sofa karena menunggu kepulangan Mas Alif.


Oh ya Mas Alif?!!!


Kutolehkan kepala ke samping. Benar saja, sudah ada Mas Alif yang tertidur pulas sambil menghadapku. Pasti dia yang menggendongku ke atas sini. Serangkaian kejadian hari kemarin langsung berputar di otakku. Aku yang pura-pura ngambek, membuat kue ulang tahun, mendekorasi ruang tamu, berdandan, dan terakhir menunggunya sampai tertidur di ruang tamu.


Memgingat itu semua membuatku sangat sangat kesal. Bagaimana tidak? Sudah lelah-lelah menyiapkan semua itu malah yang ditunggu tidak kunjung datang. Kalau saja dia memberi kabar, setidaknya aku tidak menaruh terlalu banyak harapan. Kupikir kemarin akan menjadi kejutan yang manis. Kupikir kemari akan menjadi hari yang romantis. Dan semua itu hanya dalam pikiran. Karena kenyataannya semuanya gagal total. Kejutan yang gagal.


Lihatlah dia!


Masih sempat-sempatnya tidur padahal istrinya capek habis buat kejutan untuk dia. Enggak ada rasa bersalah sama sekali di wajah bantalnya.


Buru-buru aku menyibakkan selimut yang memberiku kehangatan, dan berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu. Sekitar lima menit kemudia aku sudah keluar dengan wajah yang lebih segar sehabis terkena air wudhu yang menyejukkan. Melihat Mas Alif masih tidur aku berniat membangunkannya. Bukan dengan kata-kata halus yang biasa kulakukan setiap paginya. Namun dengan cara berbeda yang mewakili rasa kesalku.


Aku kembali lagi kamar mandi, mengambil sedikit air di tangan lalu berjalan ke arahnya. Kupercikkan air yang dingin itu ke mukanya biar bangun. "Mas bangun!"


Tidak butuh waktu lama. Hanya beberapa kali percikan air sudah membuatnya langsung terbangun. Sontak dia melihat ke mana asal air itu berada.


"Sayang? Kamu kenapa nyiram mukaku?" tanyanya sambil mengusap wajahnya yang basah.


"Biar bangun," jawabku singkat. Tanpa menunggunya aku pergi ke ruang khusus untuk sholat. Tidak perlu menunggunya karena pasti dia langsung ke masjid seperti biasa.


"Sayang! Aku berangkat ke masjid dulu ya!" Benar kan. Dia pamit kepadaku dari ambang pintu.


"Hmm," ucapku sekadarnya sambil mengenakan mukena.


Setelah melaksanakan sholat aku langsung pergi ke dapur untuk memasak sarapan nanti. Kulihat tudung saji di meja makan yang kutaruh kemarin malam. Setelah kubuka ternyata nasi kuningnya sudah habis. Berarti tadi malam Mas Alif sudah memakannuya. Sedangkan ketika aku membuka kulkas, sudah ada kue tart yang kubuat kemarin. Masih utuh. Kutinggalkan kue itu dan beralih mengeluarkan bahan-bahan lainnya. Biar saja kue itu di sana, toh itu kubuat bukan untukku.


Menu hari ini adalah tumis kangkung dan ikan goreng. Pertama-tama aku membersihkan ikannya di wastafel. "Aw! Sst." Mungkin karena masih kesal, jadi memasak pun tidak berhati-hati. Jariku terkena duri ikan dan mengeluarkan darah. Segera kusingkirkan ikan -ikannya agar tidak terkontaminasi darahku. Lalu menaruh jariku yang luka di bawah keran wastafel sampai darahnya berhenti. Setelah itu baru memakaikan plester.


Untuk beberapa saat aku masih diam. Setelah kurasa jariku agak membaik, barulah aku menyiapkan bumbu untuk marinasi ikannya. Setelah itu menaruh ikan yang sudah kubersihkan tadi di wadah yang sama dengan bumbu marinasi. Kubiarkan agar bumbu meresap sempurna.


Lalu beralih membuat tumis kangkung. Seperti biasa, kangkung yang sudah kupotong kecil-kecil langsung kucuci bersih. Lalu menyiapkan bumbu untuk menumisnya. Di sela-sela kegiatan menumis, aku merasakan sebuah lengan kekar yang melingkari pinggangku.


"Sayang. Aku minta maaf ya!" katanya berbisik di samping kepalaku.


"Hmm. Kamu minggir dulu. Aku mau masak." Aku berbicara dengan nada datar.


"Iya. Aku mau minggir tapi kamu maafin aku dulu ya! Nanti aku kasih penjelasan."


"Hmm. Udah sana pergi!"


"Kok hmm? Dimaafin apa enggak?" Dia tetep keukeh dengan pertanyaannya.


"Mas! Kamu pergi enggak? Aku mau masak nih!" Mulai deh, nada ketusku sudah keluar.


"Ya sudah, kalau gitu biar aku bantu ya!"


"Enggak usah. Enggak perlu." Aku langsung melengos ketika dekapan lengan Mas Alif tidak sekuat tadi. Lalu menaruh tumisan di atas wadah.


Mas Alif masih berdiri di sampingku. Tapi bodo amat lah. Yang penting sekarang masak dulu. Perutku lapar dari kemarin malam belum makan. Aku menyiapkan wajan baru untuk menggoreng ikan. Lalu memanaskan minyak.


"Mas! Minggir gak?" usirku sambil mengacung-acungkan spatula agar dia pergi.


Bukannya pergi, dia malah merebut spatula itu dari tanganku. "Biar aku yang masak. Kamu istirahat aja. Kayanya lelah banget muka kamu."


IYA. LELAH! LELAH UDAH NYIAPIN KEJUTAN BUAT KAMU TAPI KAMUNYA ENGGAK DATANG!!!


Rasanya pengen banget teriak begitu. Tapi seolah tidak bertenaga lagi untuk mengeluarkan amarah yang ada, aku memilih duduk di ruang makan. Biar dia saja yang menangani ikannya sesuai dengan permintaannya sendiri.


Seperti kebanyakan kaum adam yang minim pengetahuan masak, Mas Alif pun demikian. Menggoreng ikan seperti mau bertempur. Setelah memasukkan ikannya di wajan dia langsung lari untuk menghindari cipratan minyaknya. Ya kalau begitu caranya ikannya pasti gosong. Karena gemas dan tidak mau dapurku berantakan, aku kembali melangkah ke dapur.


"Kalau enggak bisa enggak usah maksa kalau gitu!" Aku ingin merebut spatula itu dari tangan Mas Alif. Tapi dia malah mengangkat spatula itu tinggi-tinggi. Lalu menarik tubuhku ke ruang makan.


"Udah. Biar aku aja. Kamu tunggu aja di sini sambil duduk manis," katanya sambil mendudukkan tubuhku di kursi ruang makan.


"Itu ikannya kalau enggak dibolak-bolik bisa gosong Mas!"


"Iya-iya. Aku tahu. Ini mau aku balik ikannya." Dengan percaya diri dia kembali berhadapan dengan ikan yang sudah berenang di minyak panas itu. Kemudian dia mengambil tutup panci untuk menghalangi cipratan minyak mengenai tubuhnya.


Malas menunggunya memasak, aku memilih untuk ke ruang tamu saja. Kulihat keadaannya masih seperti kemarin malam. Meriah dengan banyak dekorasi sana-sini. Jadi aku berniat untuk membereskannya. Toh kejutannya tidak jadi, buat apa masih ada di sini. Malah membuatku semakin kesal hati saja melihat dekorasi ini.


Semua sudah ada di kardus, siap ditaruh di gudang. Kini tinggal mengambil tulisan-tulisan yang menempel di dinding. Kemarin aku memasangnya dengan naik kursi. Jadi hal yang sama kulakukan untuk membongkarnya.


Aku tarik tulisan-tulisan itu dengan kasar. Hingga kertasnya sudah tidak berbentuk. Remuk akibat genggaman tanganku. Aku melampiaskan kekesalanku dengan kertas ini. Sampai-sampai mau turun pun aku tidak berhati-hati. Menyebabkan kursi ini bergoyang dan dalam sekejap tubuhku akan jatuh.


"Aaaa!!"


"Sayang!"


Aku memejamkan mata. Berusaha menerima kondisi terburuk ketika aku membuka mata. Entah itu keseleo, tekilir, patah tulang, atau pun kemungkinan terburuknya... tentang kehamilanku.


"Sayang! Bangun! Kamu enggak kenapa-napa kan?"


Tidak kurasakan sakit apa pun di tubuhku. Tapi aku terus mendengar suara-suara Mas Alif. Ketika peerlahan aku membuka mata, barulah aku sadar. Aku jatuh menimpa tubuh Mas Alif. Bukan langsung menimpa lantai.


Aku selamat.


Janinku... selamat.


Memikirkan kemungkian terburuk barusan membuatku menitihkan air mata. Tidak habis pikir dengan kebodohanku sendiri. Kenapa aku bisa tidak memikirkan nyawa lain di perutku?!


"Hiks! Hiks!" Tangisku kian deras. Bersamaan dengan itu Mas Alif langsung menarik tubuhku ke pelukannya. Dia mendekapku erat, seolah tidak mau kehilanganku. Tangannya mengusap-usap punggungku. Seolah memberi tahu bahwa semua baik-baik saja.


Aku yang masih syok hanya bisa mengeratkan pelukan tanganku di punggung Mas Alif. Menangis sekencang-kencanya di dadanya. Menumpahkan segala sesak dan emosi yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata.


"Ada aku di sini."


"Tenang ya!"


Begitu terus Mas Alif berusaha menenangkanku. Sedangkan aku sibuk memukul-mukul dadanya untuk melampiaskan kekesalanku.


"Aku tuh sebel sama kamu! Aku sebel! Pokoknya sebel sama kamu Mas!!!" Pelampiasan antara kesal dengan diriku sendiri yang ceroboh dan juga kesal dengan Mas Alif yang mengingkari ucapannya kemarin.


"Sayang. Dengerin aku dulu ya!"


"Enggak mau! Kamu nyebelin!" Aku terus saja memukul dadanya.


"Iya. Aku minta maaf ya!"


"Maaf? Gampang banget kamu ngomong! Hiks! Kamu enggak tahu perjuanganku? Hiks! Udah buat kue sampai gagal berkali-kali. Terus, hiks! Nyusun dekorasi! Hiks! Udah dandan cantik! Tapi kamu, hiks! Tapi kamu malah enggak pulang-pulang. Kamu jahat tau gak?!!" Lega rasanya memberitahunya segala unek-unek yang mengganjal di hatiku dari kemarin.


"Iya. Terima kasih ya Sayangku, Cintaku, Istriku. Terima kasih banget. Tapi kamu diam dulu ya, berhenti nangisnya biar aku bisa jelasin semuanya," kata Mas Alif memintaku untuk diam sambil meraih tanganku agar berhenti memukulinya terus.


"Enggak mau berhenti nangisnya! Masih kesel! Hiks!" Aku memukul dadaku agar bisa berhenti terisak.


"Coba sini. Aku yang buat berhenti menangis." Mas alif membingkai wajahku dengan kedua tangannya. Lalu diusapnya air mataku dengan lembut.


Cup!


Dia mencium mata kananku. "Berhenti menangis ya!"


Cup!


Lalu dia mencium mataku yang sebelah kiri. "Kalau nangisnya berhenti kan tambah cantik."


Udah.


Begitu saja tangisanku sudah reda. Tidak ada lagi air mata yang menentes. Hanya menyisakan isakan lirih yang masih sesak sedikit di dada. Duh, gampang sekali luluh sama kecupannya orang satu ini.


"Ya udah ceritain! Kenapa kamu kemarin pulang telat? Padahal di telpon udah janji pulang jam empat," tanyaku seperti polisi yang mulai mengintrogasi tersangkanya.


"Iya. Aku jelasin. Kemarin ada tugas mendadak, jadi aku pilih lembur daripada dikerjain di rumah. Besok kan sabtu, jadi aku mau kita menghabiskan waktu berakhir pekan berdua tanpa kepikiran pekerjaan."


Jawaban yang masuk akal. Membuatku mengangguk-anggukkan kepala. "Tapi kenapa enggak ngasih kabar? Ponsel kamu aku hubungi juga enggak bisa."


"Oh itu. Ponselku kemarin kehabisan baterai. Dan aku pikir kamu tanya begitu cuma memastikan saja seperti hari-hari biasa. Aku enggak tahu kalau kamu menyiapkan kejutan untukku."


"Ya kalau tahu namanya bukan kejutan Mas!" sahutku agak ketus. 


"Iya maksudnya kan kalau aku ingat kemarin adalah hari ualng tahunku, setidaknya aku bisa menebak kalau ada kejutan. Tapi nyatanya aku lupa sama hari ulang tahun sendiri, jadi rasanya enggak ada spesial-spesialnya hari kemarin itu."


"Hmm."


"Jadi maaf ya sudah mengecewakan kamu!" Mas Alif mengusap pipiku pelan. Aku segera melengos untuk menghindari reaksi berlebihan dari wajahku. Blushing misalnya. Kan gengsi kalau masih ngambek tapi ketahuan masih bisa merona wajahnya.


"Kamu belum maafin aku?" tanyanya lagi.


"Udah. Lagian udah kelewat juga momennya. Mau ngambek terus juga enggak ada gunanya."


Aku berjalan menuju ruang makan. Diikuti oleh Mas Alif dibelakangku. Rupanya dia sudah menyelesaikan pekerjaannya menggoreng ikan. Ya meskipun beberapa ada yang sedikit gosong sih, tapi kebanyakan masih layak dimakan. Jadi aku langsung menyajikan menu sarapan di atas meja. Sarapan pagi berjalan khidmad, tidak ada yang mengeluarkan suara. Sampai sarapan selesai dan aku sudah mengembalikan piring kotor di wastafel, aku mengeluarkan kue yang kemarin kubuat dari kulkas. Lalu menaruhnya di meja.


"Setidaknya dicoba dulu kue hasil karyaku," kataku.


"Iya. Sengaja kemarin aku enggak makan, biar hari ini bisa makan sama kamu."


"Hmm." Saat aku akan memotonh kuenya, Mas Alif menghentikanku. "Kenapa?"


"Kamu enggak mau foto dulu? Biasanya kalau lagi ngerayain ultahnya pasangan, kebanyakan orang foto bareng terus diupload di medsos."


"Kita kan enggak ngerayain. Cuma makan kue biasa aja. Hari spesialnya udah kelewat," kataku jujur. Masih agak sedikit kesal jika mengungkit masalah ini.


Mas Alif tiba-tiba memegang tanganku, lalu menatapku penuh arti. "Bagiku, hari-hari yang aku lewati bersama kamu itu adalah hari yang spesial. Tidak peduli itu hari ulang tahun atau pun hari biasa, asal kamu ada di sisiku sudah membuat hari-hariku istimewa." Dari manik matanya aku melihat sebuah ketulusan.


"Ekhm!" Pura-pura batuk gara-gara grogi habis dikasih kata-kata romantis. "Emm, makasih."


"Sini ponsel kamu!"


"Buat apa?"


"Udah. Mana sini?" Aku pun menyerahkan ponselku ke Mas Alif. Tidak tahu apa yang akan dia perbuat.


"Sini!" Mas Alif menarik lenganku hingga aku terduduk di pangukannya. Lalu kue tart itu dia menyuruhnya untuk kupegang. Kemudian dia menyalakan kamera dari ponselku.


Ckrek!


Sebuah potret romantis antara aku dan Mas Alif di pagi hari berhasil dia abadikan.


"Lagi-lagi Mas!" Aku yang semula menolak jadi ketagihan untuk foto lebih banyak lagi. Lumayan lah untuk mengisi galeriku. Supaya tidak hanya foto Jimmy aja yang ada di ponselku.


Kita pun mengambil banyak foto. Setelah itu aku turun dari pangkuannya lalu mulai memotong kue. Dan kita mulai menikmati kue itu bersama.


"Wah! Enak ya! Kamu pinter banget buatnya!" puji Mas Alif sambil mengusap puncak kepalaku.


"Makasih. Padahal ini hasil dari browsing di internet loh. Gara-gara kamu alergi telur, jadi aku cari tahu resep kue tanpa telur. Enggak tahunya rasanya enak juga," jawabku lalu menyendokkan lagi potongan kue ke mulutku.


Mas Alif kemudian meraih tangan kiriku. Menggenggam jemariku dan mengusap punggung telapak tanganku. "Terima kasih ya atas semua yang kamu lakukan untukku kemarin. Aku sangat menghargainya." Aku hanya bisa membalas rasa terima kasihnya dengan senyuman. Rasa kesalku langsung menguap entah kemana.