
Jadi setelah insiden dikejar anjing kemarin, aku dan Rere jadi trending topik di rumah. Dari siang sampai malam mereka enggak ada habis-habisnya buat bahan gurauan. Sampai bosan sendiri dengarnya.
Tapi syukurlah besoknya sudah kembali normal seperti biasa. Tapi sabtu ini ada yang tidak normal. Rangga yang biasanya terlihat lempeng-lempeng aja mukanya, dari tadi pagi dian menunjukkan ekspresi galau!
Sangat janggal bukan?
Aku yang malah mikirin perubahan dia jadi ikut-ikutan enggak fokus waktu ngajar.
Karena sudah penasaran banget, akhirnya aku berani bertanya waktu jam istirahat. Sebelumnya kita berempat duduk di kursi taman, kursi yang sama waktu dulu Mbak Ida juga galau. Tapi berhubung Salma dan Abdul sedang mengambil makan siang kita di kantor, jadilah cuma aku dan Rangga di sini.
"Kenapa sih Ga?"
"Kenapa apanya?" Hadehh.. masih mau berkilah lagi.
"Kenapa kok dari tadi galau terus?!"
"Emang kelihatan ya?" Kelihatan bagi orang yang enggak punya masalah mata.
"Jelaslah!"
Dia tampak berpikir. Mungkin masih menentukan sebaiknya dia cerita apa enggak.
"Kalau enggak mau cerita juga enggak apa-apa kok. Aku enggak maksa" dan dia hanya diam bung!
Kupikir cara yang sama dengan yang kulakukan di Mbak Ida dulu mempan ke Rangga. Nyatanya enggak.
"Ini dia! Makanannya datang!" Akhirnya makan siang kita sudah sampai. Kita makan bersama sambil diselingi gurauan seperti biasanya. Meski pun kadang menanggapi, tapi aku tahu Rangga pikirannya tidak di sini.
"Balik ke kantor yuk!" Salma sudah berjalan duluan dengan Abdul, sedangkan aku di belakangnya.
"Kalau galau atau ada masalah. Coba tahajud, cerita sama Allah. Insya Allah ada solusinya" aku memberikan saran terbaikku padanya.
Terkadang, cerita dengan manusia itu belum tentu menemukan jawaban. Bisa jadi malah memperlebar masalah. Tapi jika bercerita, berkeluh kesah ke Allah. Insya Allah akan mendapatkan ketenangan hati juga jawaban yang dicari.
Setidaknya itu yang kupelajari dari buku-buku islami yang kubaca juga dari ceramah ustadz ustadzah yang kudengar.
"Iya Na"
Kemudian kita menjalani aktivitas seperti biasa. Mengajar anak-anak sampai tiba waktunya untuk pulang.
Sorenya enggak ada angin enggak ada hujan, si Rangga buat grup WA yang isinya cuma sembilan orang. Ada aku, Salma, Rere, juga Gea. Sedangkan yang cowok ada Alif, Rendi, Radit, dan juga Indra. Tiba-tiba dia kasih pesan yang isinya begini.
Tolong, nanti malam kalian berkumpul di teras rumah. Aku mau ngomong sesuatu hal yang PENTING. Ini menyangkut hidupku. Jangan beri tahu siapa-siapa tentang pesan ini. Jangan lupa nanti malam jam satu.
Aku juga enggak tahu kenapa dia cuma mengumpulkan orang-orang ini. Tapi kalau dilihat dari pesannya itu, kayanya ini masalah yang serius.
Awas saja kalau sampai enggak penting!!
"Ada apa sih Ga ngumpulin kita malam-malam banget gini" tanyaku setelah sampai di teras rumah yang cowok.
Dia tidak menjawab. Hanya mengisyaratkan agar aku dan yang lain langsung duduk.
"Jadi gini..." dia diam. Tidak melanjutkan kata-katanya lagi. Lalu dia mengambil napas panjang dan menghembuskannya.
Oke. Kita masih sabar menunggu meskipun badan sudah kedinginan juga mulut yang menguap bergantian.
"Kalau masih diam terus! Kita bubar nih!"
"Iya-iya! Bentar!" Gertakan dari Radit membuat Rangga tampak lebih gugup.
"Ekhm! Jadi gini, aku minta tolong ke kalian bantu buatin suprise untuk Astri"
"Ha?!" Yang lain pasti kaget karena tidak menduga dengan hal ini.
Berhubung aku sudah tahu hubungan mereka dari awal jadi ya lumayan enggak syok.
Yang buat sedikit syok itu seorang Rangga sekarang mau lebih terbuka perihal hubungannya dengan Astri.
"Kalian ada hubungan? Sejak kapan?" Biasa aja kali Re! Mulutnya sampai mangap-mangap gitu.
"Ada, dari dulu pertama bentuk kelompok"
"Wahhh!! Jadi selama ini kalian backstreet dari kita?!" Hmm.. kalau dipikir-pikir, kayanya benar ucapannya Rendi. Mereka kan diam-diam gitu ngejalanin hubungannya.
"Astri malu kalau kalian tahu"
Tunggu-tunggu!
Membayangkan Astri malu-malu gitu kok janggal ya?
Kayanya mau malu apa enggak sama aja deh mukanya. Astri dan Rangga. Mereka berdua itu jenis manusia yang sama-sama pandai mengatur mimik wajah. Yaitu datar.
Kalau Bayu tahu, yakin deh anak itu heboh mau buat cerita tentang mereka berdua. Nanti bukunya dikasih judul "Ice Couple".
"Ini surprise dalam rangka apa dulu? Biar kita tahu buat konsepnya kaya gimana" nah iya! Kalau Alif enggak nanya kita juga enggak kepikiran.
Kan lucu kalau buat kejutan tapi enggak tahu acaranya apa.
"Dalam rangka melamar dia"
"APA?!!" Nah ini baru buat kita semua kaget banget.
Rupanya Rangga sudah sampai pada tahap seserius ini. Meski masih terbilang muda, dia berani mengambil keputusan besar ini. Toh usianya sudah memenuhi persyaratan, dia juga sudah mandiri dengan meneruskan usaha bimbel milik ibunya. Enggak ada halangan sih buat dia menikah sekarang.
"Kamu serius dengan keputusan ini?"
"Iya Lif. Aku sudah berpikir matang-matang"
"Orang tua kamu sudah tahu?" Lanjutku.
"Sudah. Tinggal menunggu jawaban dari Astri, kalau dia menerimaku maka tinggal menemui orang tuanya" saluttt!!!
Begini nih yang aku suka!
Percakapan kita lanjutkan dengan menyusun rencana. Saling bertukar ide dan pendapat, juga menambahkan saran. Dengan segala perencanaan ini kita berharap besok dapat berjalan dengan lancar.
"Tenang aja Ga! Nanti akan kudokumentasikan setiap momen yang terjadi. Bagus juga nih dibuat konten!" Kita semua geleng-geleng kepala menyikapi Indra. Di otaknya cuma ada konten, konten, dan konten.
"Semoga besok berjalan sukses!"
"Amiinn!" Kita mengamini harapannya Rangga.
Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Jadi kita langsung menyudahi meeting dadakan ini. Lalu kembali ke rumah dan tidur di kamar masing-masing.
Kukkuruyukkkkk!!!
Seperti biasa, ayam jago milik tetangga sebelah menjadi alarm kita. Tanpa disuruh, semua bangun ketika subuh menjelang. Entah kenapa minggu pagi ini aku merasa sangat bersemangat. Mungkin tidak sabar untuk menjalankan misi nanti malam.
Sepulang dari mushola kita langsung berganti baju olahraga. Ceritanya mau senam bareng di halaman. Ide dadakan dari Gea.
Oke. Semuanya sudah berkumpul. Pertama-tama kita melakukan pemanasan terlebih dahulu, supaya tidak terjadi kram otot nantinya. Ketika musik sudah dinyalakan, barulah kita bersenam.
INI KOK NGAWUR SEMUA GERAKANNYA?!!!
Percuma dong Gea, Puput, dan Sita ada di depan buat jadi instruktur senam kalau enggak ada yang mengikuti gerakan mereka. Apalagi yang cowok. Malah bergerumbul sambil goyang-goyang menikmati musik. Berasa nonton konser dangdut koplo.
Para instruktur yang merasa kesal tidak diperhatikan langsung menghampiri gerombolan anak-anak cowok itu. Menjewer telinga mereka sambil diseret untuk membentuk barisan yang benar.
"Hahahahaaahaa!!!" Punya teman ajaib begini ya harus sabar.
Sampai malamnya semua berjalan seperti biasa. Baru waktu setelah isya' kita mulai beraksi. Mempersiapkan peralatan yang telah kita persiapkan siang tadi tanpa sepengetahuan Astri.
Teman-teman yang tidak ikut rapat tadi malam kita beri tahu waktu di mushola. Karena Astri masih di rumah. Mereka yang dengar rencana Rangga juga kaget banget pertamanya. Tapi setelah itu mereka langsung bersemangat juga.
"Tempatnya harus di sini banget ya? Masih trauma sama penolakan kemarin nih!" Dih. Apaan sih si Radit!.
Mengungkit masa lalu, cuma gara-gara tempat yang akan dieksekusi itu pohon mangga di depan teras rumah yang cewek. Tempat yang sama waktu dia kutolak dulu.
"Apaan sih!" Ini juga. Teman-teman malah sok-sok an dorong-dorong badan aku sambil pura-pura batuk.
"Iya sudah, ganti di pohon mangga sebelah sana aja!" Tunjukku pada pohon mangga yang ada di depan teras rumah yang cowok.
Akibat kasihan sama Radit, sekarang kita pindahin lagi barang-barang ke pohon mangga sebelah sana. Ganti lokasi.
Pohonnya kita kita hias dengan banyak lampu tumblr. Yang jadi seksi perpanjatan sekarang adalah Wahyu. Memasang lampu-lampu juga hiasan kecil lainnya. Ditambah dengan balon berbentuk love yang diletakkan di dahan-dahan untuk mempercantik pohonnya. Sebuah kursi ditaruh di bawah untuk Rangga nanti duduk. Tidak lupa juga gitar yang ada di sampingnya.
Ting!
Sebuah pesan masuk di HPku.
"Wah!! Gea sama Astri bentar lagi sampai nih!" Mendengar ucapanku mereka jadi heboh.
Alif pun langsung mengambil alih situasi.
"Oke dengar! Sekarang langsung di posisi masing-masing! Rangga sekarang mana?"
"Masih di kamar, lagi siap-siap" jawab Abdul
"Cepat suruh keluar!"
"Oke-oke!" Dengan gelapan dia berlari ke dalam rumah.
"Nala, Rere, Bayu, sama Rendi langsung ke belakang pohon!"
"Iya Lif!" Kita berempat langsung di posisi.
"Indra! Kamera sudah siap?!" Alif berteriak ke Indra yang memang posisinya ada di balik pohon mangga yang tidak jadi dibuat lokasi tadi.
"Siap!" Dia mengacungkan jempolnya.
"Wahyu! Diatas sana oke?!" Oh iya lupa. Wahyu kan ada di atas pohon, dia juga mengambil bagian penting di rencana ini.
"Banyak semut Lif!"
"Sudah tahan aja!" Wkwkwk. Alif gampang banget ngomongnya.
"Oke, yang lain langsung masuk ke rumah! Tik, jangan lupa lampunya dimatikan semua"
"Iya!" Teriaknya sambil berlari ke rumah.
Bersamaan dengan teman-teman yang masuk ke rumah, Rangga sudah siap di posisinya. Duduk sembari memangku gitar.
Lap!
Semua lampu sudah dimatikan. Tak berselang lama setelah itu kita mendengar kedatangan Gea dan Astri.
"Loh. Kok rumah gelap semua?" Tanpa menjawab, Gea langsung mengarahkan Astri untuk menghadap ke arah kita.
Jreng!
Bersamaan dengan suara petikan senar gitar, cahaya dari lampu senter yang Wahyu pegang dari atas pohon menyorot Rangga seorang diri.
Benar kan Wahyu punya peranan penting malam ini. Yaitu jadi tim lighting.
"Kau begitu sempurna... di mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku akan selalu memujamu
Di setiap langkahku.. ku kan selalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan, hidupku tanpa cintamu....
Janganlah kau tinggalkan diriku
Tak kan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
Kau adalah darahku....
Kau adalah jantungku...
Kau adalah hidupku, lengkapi diriku, oh sayangku kau begitu...
Sempurna..... sempurna..."
Lirik lagu Sempurna dari Andra and the Backbone mengalun dari mulut Rangga. Meski suaranya tidak semerdu penyanyi aslinya, tapi penghayatan di setiap liriknya membuat kita terbawa suasana.
Dari balik pohon ini aku bisa melihat Astri mulai mendekat. Entah kenapa, melihat Astri yang menangis haru membuatku juga menitihkan air mata. Kurasa, malam ini adalah malam yang emosional untuk kita semua. Bukan hanya untuk Rangga dan Astri saja.
Oke. Sekarang Rangga sudah selesai menyanyikan lagunya. Segera kuhapus air mataku. Habis ini akan ada kejutan lain.
Rangga kemudian berdiri dari duduknya. Lalu diraihnya kedua tangan Astri dan berlutut di depannya.
"Astri. Aku tahu mungkin ini terlalu cepat untukmu. Tapi percayalah, aku sudah sangat cinta denganmu. Maaf aku tidak bisa berbuat romantis atau pun berkata-kata puitis. Malam ini aku hanya bisa bilang..." Rangga diam. Memberi kesempatan kejutan selanjutnya.
Lampu senter sudah Wahyu matikan, lalu Alif dari dalam rumah menyalakan lampu-lampu kecil yang menghiasi pohon. Memperlihatkan suasana yang romantis.
Kemudian aku dan ketiga orang di belakangku mulai keluar dari persembunyian. Berjalan satu per satu ke belakang Rangga dengan masing-masing membawa papan, yang apabila kita sudah berbaris dan menyusun papan itu akan membentuk kalimat "Will you marry me?"
"Maukah kamu menikah denganku? Menjadi pelengkap separuh hidupku, pendamping di setiap langkahku, bersabar dengan sifat burukku, dan juga menjadi istri dan ibu yang baik untuk keluarga kecil kita"
Kemudian dia mengeluarkan sebuah kotak yang terbungkus kain beludru berwarna merah hati. Lalu terlihatlah cincin yang begitu indah dengan kristal yang berkilau diterpa cahaya.
"Maukah kamu?" Astri maju selangkah lebih dekat ke Rangga. Tampak air matanya masih berlinangan.
"Rangga. Aku..."
Brukk!!
"ASTRI!!!"