
Menjadi seorang introvert bukan berarti tidak bisa bersosialisasi. Bukan berarti anti sosial. Bukan berarti menutup diri dari dunia luar. Mereka juga bisa bergurau dengan temannya. Mereka juga bisa seru ketika diajak jalan-jalan. Tapi mereka lebih suka ketenangan. Diamnya mereka bukan berarti tidak tahu apa-apa.
Pandangan banyak orang terhadap si introvert sering sekali menganggap mereka sebagai seorang yang pendiam, cupu, tidak asyik diajak bicara, dan banyak hal lagi yang membuat si introvert kadang dijauhi. Seperti itu pulalah yang dialami Astri ketika menginjak bangku sekolah. Teman-temannya banyak yang menganggapnya tak ada. Sekedar menegurnya saja jarang. Dan hal itu juga membuat Astri menjadi pribadi yang tambah tertutup. Ia takut. Takut jika dia mendekat malah penolakan yang didapat. Jadi dia memilih diam. Mengamati semua dalam diamnya.
"Jadi siapa di sini yang belum mendapat kelompok?" tanya ibu guru ke murid-murid yang diajarnya.
Semua diam. Saling menoleh satu sama lain. Astri yang memang tidak punya teman sekelompok, bahkan memang tidak pernah diajak berkelompok pun mengangkat tangannya.
"Ya sudah, Astri masuk di kelompoknya Reno aja ya?"
"Iya Bu," jawab Astri sambil mengangguk. Selalu seperti ini. Jika tidak gurunya yang menentukan dengan siapa dia akan berkelompok, maka dia tidak akan mendapat teman sekelompok.
Kemudian Astri menuju ke bangku Reno dan teman-temannya. Sekedar info, Reno ini termasuk jajaran murid yang sering keluar masuk ruang BK di SMP nya. Jadi maklum Astri sedikit takut. Siapa juga yang mau berurusan dengan anak nakal? Rasanya tidak ada. Apalagi Astri yang notabenenya si pendiam yang jarang berinteraksi dengan temannya. Ditambah teman-teman Reno yang kelakuannya sebelas dua belas dengan bosnya, membuat Astri ketar-ketir sendiri.
"Duduk di sini As!" ajak seseorang yang Astri tahu bernama Danu, teman dekat Reno.
"Iya." Dilihatnya satu per satu anggota kelompoknya. Sudah tidak heran lagi kalau si Reno cuma bercanda dengan temannya, kemudian ada yang malah menggambar di bangku, ada yang membuat mainan dari kertas, dan yang perempuan juga tidak terlalu bisa diandalkan. Mereka malah asyik bergosip ria. Sungguh! Kelompoknya tidak ada yang beres.
Dia tahu bahwa tugasnya masih dikumpulkan lusa. Tapi bukankah lebih cepat mengerjakan lebih baik? Tapi ini tidak. Sudah lima belas menit berlalu dan mereka belum mendiskusikan apa-apa. Ingin menegur juga dia tidak berani. Mau ikut bermain juga tidak mungkin. Dan kalau diam saja maka kapan tugasnya akan selesai?
"Emm, kalian enggak mau bahas apa gitu?" Akhirnya setelah berpikir panjang dan berdebat dengan pikirannya, Astri berani mengeluarkan unek-uneknya.
"Bahas apa? Bukannya kalian yang cewek-cewek yang ngerjain?" Dengan santainya Reno bilang seperti itu.
"Iiih, enak aja! Ini kan tugas kelompok. Ya semuanya harus ikut dong!"
"Iya tuh. Emang semaunya sendiri tuh si Reno!"
Dua orang perempuan dalam kelompoknya ikut berkomentar menimpali Reno. Akhirnya Danu lah yang menjadi penengah di antara adu mulut teman-temannya.
"Jadi sekarang gimana?" tanya Danu.
"Ya ngerjain tugasnya lah!" komentar Dani yang tak lain adalah kembaran dari Danu sendiri.
"Yee! Udah tau kali! Maksudnya itu sekarang mau ngerjain tugas apa? Emang ada yang dengar tadi tugasnya apa?"
"Enggak tahu," jawab salah seorang perempuan di kelompoknya.
"Kamu Ren? Dengerin gak?" Kini Danu menanyakan pada Reno.
"Hadehh! Boro-boro mau dengerin gurunya, orang telinganya aja udah diobral di pasar loak kemaren." Tugas Dani seakan terus menimpali perkataan kakak kembarnya.
"Buset dah!" Reno menyentil kening Dani sebagai pembalasan. "Kalau ngomong suka bener!" lanjutnya lagi yang membuat anggota kelompoknya tertawa kecuali Astri.
Dalam hati Astri merutuki dirinya sendiri. Dosa apa yang dia lakukan tadi pagi sehingga mendapat teman sekelompok yang modelnya begitu. Dan apa tadi dia tidak salah dengar? Tidak ada di antara mereka yang mendengar ucapan gurunya? Memang sedari tadi mereka ngapain aja? Ingin rasanya Astri mengomel banyak ke kelompoknya. Tapi jelas itu hanya terpendam dalam hati saja. Kerasukan apa dia sampai berani mengomeli Reno dan gengnya.
"Tadi tugasnya disuruh buat Mading dengan materi dari bab yang berbeda-beda. Kelompok kita kebagian siklus hujan. Tugasnya dikumpulkan besok Senin." Akhirnya Astri yang berbicara setelah semua temannya diam tak bercanda.
"Oke, kalau gitu besok Minggu aja ngerjainnya," usul Reno yang diangguki oleh teman-temannya. Sedangan Astri hanya diam saja. Kalau dipikir-pikir memang tidak ada yang perlu dibahas tentang materi yang mereka dapatkan. Di buku sudah tercetak jelas juga guru yang sudah menerangkannya dulu. Jadi tinggal membuat madingnya saja.
"Di rumah siapa nih?" tanya Danu.
"Di rumahku besok dibuat arisan sama mamaku," ucap seorang perempuan dengan rambut yang dikuncir kuda.
"Di rumah kita juga bakalan enggak bisa. Rame banget ponakan-ponakan kita," ujar Dani.
Kemudian semua mata menatap ke arah Astri. Membuat dia jadi gugup sendiri. Seumur-umur belum pernah ada teman sekolah kecuali tetangga yang mengunjunginya. Meski hanya untuk bekerja kelompok, tapi entah Astri rasanya takut. Dia juga tidak tahu untuk apa sebentar dia takut. Sedang sibuk mencari alibi yang pas, tiba-tiba Reno mengusulkan di rumahnya sendiri.
"Oke. Fiks, besok Minggu jam sembilan kita ngumpul di rumahnya Reno."
"Oke."
"Iya."
"Siip lah!"
****
Seperti yang telah disepakati kemarin, maka sekarang Astri tengah di perjalanan menuju rumah Reno. Berbekal share location dari Reno dia mengarahkan bapak ojek di depannya. Tidak lama kemudian dia sudah sampai. Kemudian membuat uangnya dan langsung masuk ke rumah Reno.
Gerbang rumahnya terbuka, jadi dia tinggal masuk saja tanpa sudah payah memencet belnya. Sesampainya di depan pintu dia berulang kali mengucapkan salam tapi masih belum ada sahutan. Baru untuk datlam ke lima baru ada sahutan. Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik diisinya mempersilakan Astri masuk. Rupanya wanita tadi adalah ibunya Reno. Dilihat dari penampilannya yang sudah rapi tampak sedang buru-buru akan pergi.
"Kamu santai aja di sini! Anggep aja rumah sendiri. Banyak kok temennya Reno yang udah datang ke sini. Oh ya, Tante kok belum pernah liat kamu ya sebelumnya?"
"Itu, saya memang baru pertama kali ke sini Tan. Jadi maklum kalau Tante tidak tahu."
"Ohh gitu, pantes masih asing. Ya udah, Tante tinggal keluar dulu ya! Kalau mau ke dapur atau toilet tinggal lurus aja ke belakang."
"Emm, iya Tan."
"Ya sudah, kalau begitu Tante berangkat dulu. Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam! Hati-hati Tante!" ucap Astri sembari melambaikan tangannya dan menatap ibu Reno yang sudah memasuki mobilnya dan perlahan mulai meninggalkan gerbang.
Agak lama Astri menunggu tapi belum ada satu orang pun dari temannya yang datang. Padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. Mungin jam sembilan yang mereka maksud adalah jam sembilan dari rumah. Belum termasuk persiapan dirinya juga perjalanannya. Hal ini membuat Astri tambah kesal. Karena selalu saja dia menjadi si rajin, si pertama sekali datang ketika ada janji bertemu.
"Aduh! Malah kebelet mau pipis lagi." Astri membuat gerakan kakinya agar bisa menahan keinginannya untuk buang air kecil. Sangat tidak sopan sekali ia langsung masuk ke toilet saat tidak ada tuan rumahnya. Dan Reno juga dari tadi tidak menampakkan batang hidungnya.
"Aduh! Enggak bisa ditahan lagi!" Akhirnya berjalan mencari letak toilet yang diberitahu oleh ibunya Reno tadi. Jadi dia tinggal jalan lurus ke bagian belakang dari ruang tamu. Benar, di bagian paling belakang dia sudah melihat dapur juga toilet di sampingnya.
Karena hajat yang sudah tidak dapat ditahan lagi membuatnya lupa kalau kemungkinan masih ada orang di toilet. Jadi Astri asal membuka saja pintu toiletnya. Dan ketika hendak masuk dia terkejut mendapati seseorang yang tampaknya akan keluar. Melihat orang itu secara tiba-tiba juga keadaannya yang masih setengah terbalut handuk sukses membuat Astri berteriak keras.
"Huaaa!!! Mmpp-mpph-," teriakan tertahan karena orang itu langsung membekap mulut Astri.
"Diam woy! Entar disangka aku habis ngapa-ngapain lagi sama tetangga!" Astri mengangguk saja agar Reno segera melepas bekapan tangannya. Dan benar, Reno melepaskannya setelah mendapati Astri sudah diam.
"I-itu kamu kenapa bisa di sini sih?!"
"Ya kan ini rumahku. Wajar kan kalau ada di toilet rumahku sendiri." Oh iya, hampir saja Astri lupa kalau Reno tuan rumahnya. Maklum, efek dari terkejutnya tadi belum hilang.
"Terus kamu ngapain enggak pake baju sih? Enggak malu apa ya?" Astri kalau gugup rupanya bisa cerewet juga.
"Ya kan habis mandi. Terus kamu sendiri kenapa di sini bukannya nunggu di depan?"
Mendengar pertanyaan dari Reno membuatnya tersadar dan menepuk pelan dahinya sendiri. Sampai lupa tujuan awalnya akan buang air kecil. Mengingatnya membuat kebelet itu terasa lagi. "Kebelet! Mau numpang toiletnya!" Setelah itu Astri langsung masuk dan tak lagi menghiraukan Reno yang masih berdiri di depan toilet.
"Astri, Astri... Bisa lucu juga ternyata," gumam Reno.
*****
Setelah satu jam menunggu dalam kecanggungan di ruang tamu Reno akhirnya satu per satu dari anggota kelompoknya mulai terlihat batang hidungnya. Setelah semua berkumpul maka dimulailah pengerjaan tugasnya. Dan semua diawali dengan pembelian bahan-bahan untuk membuat Mading. Mereka memutuskan mencarinya di salah satu Mall.
"Oke, sekarang kita bagi tugasnya. Masing-masing bagian ada dua orang dan bakal nyari bahan yang udah kita bagi tadi. Jadi Reno sama-,"
"Astri!" ujar Reno spontan dan langsung menarik lengan Astri menjauhi teman-temannya untuk mencari bahan yang menjadi tugasnya. Sedangkan Astri hanya bisa pasrah mengikuti ke mana langkah Reno akan membawanya. "Sisanya kamu urus Dan!" teriaknya kemudian.
Astri dan Reno langsung mencari apa saja bahan yang harus mereka beli. Setelah mendapatkan semua, mereka menuju kasir dan membayarnya. Tapi sebelum itu Astri berjalan ke arah kotak-kotak yang menyediakan es krim di dalamnya. Setelah menimang-nimang es krim mana yang akan dia beli, barulah dia mengambil sebuah es krim cone dengan rasa cokelat bercampur kacang kesukaannya. Melihat itu membuat Reno ikut-ikutan membeli es krim yang sama dan mengambil es krim milik Astri.
"Aku yang bayar," katanya kemudian sambil berlalu meninggalkan Astri untuk membayar belanjaan mereka ke kasir.
Rupanya teman-teman mereka masih lama, jadi mereka memberitahu kalau menunggunya di depan mall. Sambil duduk-duduk melihat jalanan luar, Astri dan Reno asyik menikmati es krimnya.
"Kamu asyik juga ya As?" celetuk Reno.
"He? Maksudnya?"Astri menautkan alisnya tanda kebingungan.
"Iyalah. Mereka aja yang over thinking ke aku."
"Tapi kamu diam aja gitu yang buat anak-anak lain jadi mikir macem-macem."
"Ya mereka aja enggak mau mencoba deketin aku, sudah jelas kalau mereka mikirnya selalu macem-macem. Dan aku juga takut untuk memulai mendekati mereka. Aku takut mereka akan menolakku dengan terang-terangan. Aku takut mengetahui kalau memang benar aku tidak dibutuhkan."
"Hmm, kalau begitu salah dua-duanya ya?"
"Mungkin," jawab Astri dengan singkat sambil terus menjilati es krimnya.
"Eh As!" Interupsi tiba-tiba dari Reno juga wajah seriusnya membuat Astri menoleh sempurna ke Reno.
"Kena-,"
"Diam! Jangan gerak!" Astri semakin bingung dengan Reno. Melihat Reno yang menatap intens atas kepalanya membuat dia takut sendiri. Apa jangan-jangan ada laba-laba di rambutnya? Atau ada sesuatu yang menyeramkan lain di atas sana? Entahlah. Intinya Astri menuruti saja perintah dari Reno untuk diam.
"Ada apa sih Ren?" lirihnya.
"Ssst!" Reno menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya, tanda menyuruh Astri untuk diam. Dia semakin mendekatkan diri ke Astri, dan beberapa hitungan detik kemudian sebuah noda es krim berhasil mendarat di pipi Astri. "Kena! Bwahahahahaha!"
"Aish!! Nyebelin kamu Ren!" Astri sibuk memukuli lengan Reno yang sudah berani-beraninya mengerjainya.
*****
Setelah keakraban yang tercipta ketika mengerjakan tugas bersama. Setelah menjalani beberapa jam seperti remaja tengah dimabuk cinta monyet, kemudian keduanya bersikap biasa saja ketika di kelas. Seperi tidak terjadi apa-apa lagi. Namun begitu mereka tetap saling menyapa kalau tidak sengaja bertemu. Sebuah kebiasaan baru Astri yang tidak lebah menyapa temannya. Tak sadar kalau beberapa jam itu sudah membuat hatinya kenapa-napa. Iya, tak sadar kalau hatinya menaruh rasa diam-diam untuk Reno.
Setelah wisuda dan pengumuman kelulusan, Astri tidak pernah lagi lihat Reno. Rupanya mereka tidak berada di SMA yang sama. Hal itu membuat Astri hanya bisa melepas kangennya dengan melihat foto-foto Reno di lini masa media sosialnya.
*****
Tujuh tahun kemudian....
Astri tengah berjalan-jalan ke fakultas teknik bersama temannya. Sebenarnya Astri sangat malas melakukan hal ini. Tapi berkat paksaan dari temannya membuatnya mau tidak mau menurutinya. Dia sampai heran sendiri, apa sih yang menjadi keistimewaan fakultas teknik sehingga banyak anak-anak di fakultasnya yang ingin sekali jalan-jalan di sini. Setelah bertanya ternyata alasannya cukup simpel, ingin melihat banyak cowok ganteng berkeliaran katanya.
"Kamu enggak capek apa dari tadi keliling terus? Makan yuk!"
"Ke kantin sini yuk!"
"Oke lah." Mereka berdua pun berjalan ke arah kantin fakultas teknik ini.
Untuk sesaat Astri sangat menyesal menyetujui ajakan temannya untuk makan di kantin sini. Pasalnya dia sangat malu makan di antara banyak mahasiswa. Tidak terpikirkan olehnya tadi kalau fakuktas teknik ini dihuni sebagian besar oleh mahluk tuhan yang bernama laki-laki. Apalagi muka mereka yang baru ini mendapat banyak tatapan dari tuan rumah. Entah apa arti tatapan itu Astri juga tidak tahu. Yang jelas sekarang ia ingin segera menghabiskan makan siangnya lalu pergi dari tempat ini.
"Astri?" Suara bariton milik seorang laki-laki langsung terdengar di telinga Astri. Otomatis dia langsung mendongak dan sangat terkejut mendapati siapa yang tengah berdiri di depannya.
"Reno?"
"Iya. Waah! Lama tidak bertemu ya!" Keduanya saling berjabat tangan. Tidak lupa juga Astri memperkenalkan temannya ke Reno.
"Boleh duduk di sini?"
"Boleh." Astri menggeser tempat duduknya agar Reno bisa ikut duduk di mejanya.
"Lama enggak ketemu tambah cantik aja kamu As!"
"Makasih!" Bolehkan Astri senang sekarang? Kalau begini ceritanya namanya CLBK. Cina lama belum kelar ini mah.
"Kamu kuliah di sini juga As?"
"Iya. Aku ambil ekonomi." Dan percakapan keduanya terus berlanjut. Teman Astri yang seakan paham menjadi obat nyamuk pun memilih kabur dan meninggalkan Astri berdua saja dengan Reno. Astri juga tidak bisa marah ke temannya itu. Malah dia ingin mengucap terima kasih telah diajak jalanan ke sini dan bisa ketemu cinta lamanya. Perasaan menyesal tadi langsung menguap begitu saja. Tergantikan oleh perasaan bahagia.
"Boleh minta nomor kamu?"
"Boleh."
*****
Berawal dari saling bertanya kabar di media sosial mau pun pesan langsung, kemudian berlanjut dengan pertemuan-pertemuan, dan akhirnya mereka memutuskan untuk saling bersama setelah menemukan banyak kecocokan.
Berangkat dijemput, pulang diantar, makan siang bersama, kencan di akhir pekan, itu semua merupakan hal yang diimpikan Astri dan sudah menjadi kenyataan. Tidak terpikirkan olehnya akan bersanding dengan cinta pertamanya sewaktu SMP dulu. Meski banyak temannya yang bilang kalau Reno adalah cowok tidak baik, tapi mati-matian Astri membelanya. Dia yakin bahwa Reno nya sudah berubah menjadi lebih baik.
Sampai akhirnya di malam itu dia mendapat telepon dari nomor tidak dikenal di tengah-tengah malam buta.
"Halo, ini siapa ya?"
"Soni, temennya Reno. Kamu ke sini gih! Reno mabuk berat dan susah diajak pulang. Dari tadi nyebut nama kamu terus."
"O-oh oke. Kamu share loc aja sekarang."
"Oke."
Hanya mengambil jaket dan tas selempang, Astri segera bergegas menuju salah satu club tempat Reno berada. Meski didominasi rada khawatir, ada sedikit kekecewaan yang Astri rasakan. Dia pikir seorang Reno sudah menjadi pribadi yang lebih baik. Dia pikir Reno sudah menjadi seseorang yang baru. Ternyata tidak. Malah kenyataannya Reno semakin menjadi. Apa tadi? Mabuk? Bahkan dia baru tahu kalau Reno minum minuman haram itu.
Sesampainya di klub Astri langsung mencari keberadaan Reno. Mati-matian dia menahan dirinya agar kuat di dalam ruangan yang pengap dengan muda-mudi juga musik yang seakan memecahkan gendang telinga ini. Setelah masuk semakin dalam barulah dia melihat Reno yang terduduk di meja bar dan dikelilingi teman-temannya yang Astri yakin mencoba meyakinkan Reno untuk pulang.
"Untuk kamu cepet datang As!"
"Iya. Kalau gitu kalian cepet bantu aku ngangkat tubuh Reno ke dalam mobil."
"Oke."
Dalam mobil Reno terus saja meracau tidak jelas. Membuat Astri semakin menancapkan pedal gasnya menuju apartemen Reno. Dia ingin segera merawat kekasihnya itu. Sampai di apartemen dia langsung masuk dan menggunakan sidik jari Reno sebagai kode akses masuk. Astri tidak pernah datang ke apartemen Reno sebelumnya, hanya tahu alamatnya saja dari Reno. Tidak kuat lagi menahan tubuh Reno yang berat, Astri memilih meletakkan tubuh Reno di sofa panjang ruang tamunya saja.
"Haduhh! Berat banget sih kamu!" gumam Astri sambil meletakkan perlahan tubuh Reno. Saat ia akan beranjak ke dapur mengambilkan minuman hangat, tangannya terasa dicekal oleh Reno.
"Astri?"
"Iya, ini aku. Udah kamu tiduran dulu aja."
"Astri ya?"
"Iya."
"Aku cinta kamu As!" cerocos Reno yang langsung menarik tubuh Astri hingga jatuh padanya. Kemudian memeluk tubuh Astri seakan-akan sebuah guling yang nyaman.
"Iya. Aku juga cinta sama kamu. Bentar ya, aku mau buatin kamu minum."
"Aku enggak mau!" Reno semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Astri.
"Ren, kondisi kamu itu lag-, mmpphhh!" Astri terkejut ketika bibir Reno tiba-tiba menciumnya. Tangannya menahan tengkuk Astri dan kakinya mangapit tubuh Astri agar tidak banyak memberontak.
"Ren! Lep-ash!" Astri menangis. Dia tidak ingin ini terjadi padanya. Mungkin menurut orang lain hanya ciuman, tapi menurutnya beda. Sebelumnya memang ia tidak pernah berciuman dengan Reno, pegangan tangan saja itu sudah cukup bagi Astri.
Reno tidak ingin menuruti perkataan Astri. Dia hanya ingin terus mencumbunya. Akalnya kini sudah diambil alih oleh nafsu sepenuhnya. Bahkan hatinya sedikit saja tidak tersentuh melihat air mata Astri. Baru ketika dia merasa kehabisan napas dia memilih memutuskan pagutannya. Melihat itu membuat Astri mencoba untuk kabur. Tapi nihil, tubuhnya masih berada di pelukan Reno.
"Jangan Ren!" Astri menjerit sejadi-jadinya setelah tahu bahwa dia berada dalam bahaya saat ini.
"Sssst! Shut up babe! I just wanna touch you. Okey? I've been waiting this moment so long. Can you just silent and follow my touch?" bisik Reno di telinga Astri yang terdengar sangat mengerikan. Tapi dia tak bisa melawan. Tubuhnya sudah lemas sedari tadi memberontak. Dalam hati tak henti-hentinya dia berdoa agar bisa terhindar dari Reno. Tak lupa juga beberapa sumpah serapah dia tujukan pada seseorang yang sekarang menjadi urutan teratas orang yang paling dibencinya.
Malam itu tidak pernah Astri lupakan. Di mana ia kehilangan kesuciannya secara paksa oleh orang yang kini tidak sudi ia sebut cinta pertamanya. Ketakutannya terjadi tatkala sebulan kemudian dia dinyatakan hamil oleh dokter. Dia tidak ingin memberitahu Reno apalagi meminta tanggung jawabnya. Dia tidak sudi. Dia juga tidak ingin menggugurkan bayi dalam kandungannya karena janin itu tak bersalah. Yang dia takutkan hanya satu. Bagaimana reaksi keluarganya jika tahu ia hamil di luar nikah? Astri tak ingin melihat keluarganya kecewa padanya meski ia tahu ia telah mengecewakan mereka.
Hingga tiga bulan berlalu dia masih dan menyimpannya sendirian. Belum ada siapa pun yang ia beritahu. Dia masih takut. Dan ketakutannya itu sirna seketika seseorang bak pangeran dari negeri dongeng menyatakan perasaannya yang tulus padanya. Menyatakan akan menerima ia apa adanya dan bersedia menjadi ayah bagi anaknya. Menawarkan sebuah janji suci sehidup semati yang tentu saja ia terima. Kini, Astri tak ingin lagi menengok ke masa lalunya yang kelam. Karena dia sudah ada seseorang yang siap menemaninya menghadapi masa depan.