TWENTY

TWENTY
SEASON DUA ~ Aku Mau Pulang!



Syukurlah setelah minum obat dan makan lalu beristirahat, kondisi Mas Alif sudah agak baikan. Malah sekarang dia sudah kembali sibuk bekerja dan akhirnya mengacuhkanku lagi. Karena bosan, aku memilih untuk tidur-tiduran saja di kasur. Sambil guling kanan, guling kiri. Mau lompat-lompat di atas kasur juga sebenarnya bisa. Tapi aku sudah capek mau ngelakuin itu. Capek fisik sama capek hati jadi satu.


Kalau sudah bosan akut begini ya pilihannya buka HP. Mengecek sebentar ternyata ada pesan masuk. Dari Kak Rio.


Hai Na! Siang ini cerah banget ya? Bertemu di luar yuk!


Siang?


Ketika kulihat waktu pesan ini masuk rupanya sudah tiga jam yang lalu. Pantas saja, orang sekarang sudah sore.


Sore Kak. Maaf baru balas🙇


Iya. Enggak apa-apa. Sore ini free gak?


Et dah! Cepet amat balasnya. Jangan-jangan seharian nih orang melototin HP-nya kali ya? Nunggu balasan pesanku. Segera aku menyadarkan diriku. Orang kok percaya diri banget sih Na!


Dalam situasi dan kondisi seperti ini, sangat tidak memungkinkan untuk bertemu dengannya. Apalagi Kak Rio ini adalah sumber masalah yang sedang kuhadapi sekarang ini!


Tapi aku juga ada hal yang ingin disampaikan padanya. Meluruskan sesuatu yang seharusnya sudah diluruskan sejak awal. Menjelaskan padanya bahwa aku sudah bukan lagi Nala seperti dulu. Hal yang gagal kusampaikan dari kemarin.


Iya Kak. Kenapa emangnya?


Bergaya sok tanya padahal aku sudah tahu kalau Kak Rio mau ngajak ketemuan lagi. Ya sebagai basa-basi lah. Biar enggak terlalu singkat, padat, dan jelas.


Pergi makan yuk! Nanti aku yang traktir!


Oke. Di mana?


Restoran ABC.


Oke Kak.


Diam-diam aku membuka pintu kamar, mengintip apakah Mas Alif ada di mejanya atau tidak. Senyumku langsung mengembang kala mendapati dia tidak ada di sana. Mungkin sedang ada urusan di luar. Jadi kumanfaatkan momen ini untuk bertemu dengan Kak Rio.


Aku berjalan pelan-pelan ketika keluar kamar. Eh! Kalau jalannya kaya gini bukannya tambah mencurigakan ya? Nanti di CCTV malah kelihatan kaya mau maling barang.


"Ekhm!" Aku mencoba untuk bersikap biasa saja. Rupanya melakukan hal diam-diam di belakang suami seperti ini bikin sport jantung juga. Padahal orangnya tidak ada di ruangan ini. Tapi rasa-rasanya, aura menakutkan dari Mas Alif masih tertinggal di sini. Seolah-olah dia sedang duduk di kursi kebesarannya sambil menatap tajam ke arahku. Sampai-sampai punggungku bisa bolong ditatapnya terus-menerus.


K


etika pintu akan kubuka, pintu itu terlebih dahulu terbuka dari luar. Menampilkan Mas Alif yang sedang membawa beberapa dokumen di tangannya. Ini aku sama Mas Alif kayanya jodoh banget ya sama pintu? Berkali-kali ketemunya di pintu.


"Mau ke mana?" tanyanya dengan nada dingin.


Glek!


Aku menelan ludahku dengan kasar. Bohoh atau jujur? Bohong atau jujur? Begitu terus pertanyaan yang terputar di otakku. Sampai Mas Alif mungkin sudah jengah jadi meninggalkanku berdiri di ambang pintu, dan dia kembali duduk bekerja. Kepergiannya daru hadapanku memberi udara segar. Segera aku mengambil napas banyak-banyak setelah tadi sempat kutahan untuk beberapa saat.


"Aku mau pulang Mas."


Maaf! Maaf! Aku bohong sama kamu Mas. Kalau jujur nanti malah tambah panjang urusannya. Lagian ini mungkin juga pertemuan terakhirku dengan Kak Rio. Jadi sedikit dirahasiakan dari Mas Alif tidak apa-apa lah ya?


"Hmm." Dehemannya itu seakan memberi izin untukku pergi.


Restoran itu letaknya tidak jauh dari perusahannya Mas Alif. Cukup berkendara selama lima belas menit, dan aku sudah sampai di depan restorannya. Tapi setelah masuk ke dalam aku tidak menemukan Kak Rio sama sekali. Padahal setelah aku cek pesannya tadi dia sudah sampai. Jangan-jangan aku di-prank lagi?


Kamu di mana Kak?


Di lantai atas. Kamu lihta tangga kan? Nah itu kamu tinggal naik aja.


Tangga?


Oh aku lihat. Langsung saja aku menaiki satu per satu anak tangga itu. Ternyata restoran ini punya dua konsep, yaitu out door dan in door. Jadi yang pengen lihat suasana luar, makan sambil diterpa angin sepoi-sepoi, maka tempat yang di lantai atas ini adalah pilihan tepat. Dapat kulihat dari sini Kak Rio tengah melambai-lambaikan tangannya untuk mencari perhatianku.


"Maaf Kak kalau nunggu lama."


"Enggak kok. Aku juga baru sampai," katanya. Padahal dilihat dari piringnya yang sudah kosong, dia pasti sudah lama di sini.


"Oh iya." Segera aku menarik kursi untuk kududuki sendiri. Berhadapan dengannya.


"Kamu mau pesan apa?" tawarnya.


"Eh, enggak usah. Aku udah kenyang kok." Iya, opor ayam yang tadi kubawakan untuk Mas Alif ujung-ujungnya aku juga yang makan.


"Minum?"


"Enggak perlu Kak."


"Ayolah! Enggak apa-apa, pesan aja. Aku yang traktir kok."


"Hmm. Iya deh." Akhirnya aku hanya memesan jus alpukat.


Setelah berbasa-basi sebentar aku siap untuk mengatakan yang sejujuran. Mengatakan hal yang seharusnya kukatan sejak hari pertama kali ketemu kemarin-kemarin. Untuk berancang-ancang, aku pura-pura batuk terlebih dahulu. Lalu mengatur napas dan suara.


"Kak. Emm.., soal kata-kata kamu yang kemarin, aku ingin berkata sesuatu." Mendengarku berkata demikian membuat Kak Rio mengerutkan dahinya.


"Kata-kata yang mana?" Lah. Pakai acara lupa segala.


"Itu lho, yang pertama kali kita baru ketemu kemarin? Tentang janji?"


"Oh itu. Baiklah aku mau mendengarkan. Kamu mau kembali menerimaku kan?" Duh. Nih orang kok percaya diri banget.


"Bukan! Aku enggak mungkin nerima Kakak lagi."


"Kenapa?!" Nah kan benar. Wajahnya langsung terkejut begitu setelah mendengar penolakanku.


"Apa kamu kamu begitu mudahnya mengingkari janji itu?" imbuhnya lagi.


"Bukan! Bukan begitu maksudku. Lagi pula itu kan janji lama, dan jujur aku udah lupa."


"Apa di hatu kamu sekarang sudah ada laki-laki lain?" Pertanyaan yang sangat tepat sekali.


"I-,"


"Iya." Sebelum aku menjawab, tiba-tiba ada yang menyahut dari belakang. Sontak saja aku membalikkan badan. Mataku membulat sempurna ketika mendapati Mas Alif sudah berdiri di belakangku.


"Apa? Anda adalah suami Nala? Jangan bercanda!" Kak Rio berusaha mengelak fakta.


"Apakah muka saya tampak seperti bercanda?" jawab Mas Alif kemudian.


"Nala." Kak Rio memanggilku.


"Benarkah kamu sudah menikah?" Aku mengangguki pertanyaannya.


Mas Alif kemudian meraih tangan kiriku dan memperlihatkan jari-jariku ke Kak Rio. "Seharusnya sebelum mendekati perempuan, lihat dulu apakah ada cincin di jari manisnya."


Seolah tertampar dengan kenyataan, Kak Rio langsung beranjak dari tempat duduknya. Meninggalkan aku dan Mas Alif berdua di sini. Muka Mas Alif tiba-tiba jadi dingin. Tampak rahangnya mengeras. Dengan tatapan tajam dia menarik tanganku untuk segera meninggalkan restoran ini.


"Pulang." Satu kata itu yang keluar dari mulutnya setelah menarikku sampai di parkiran. Setelah itu dia masuk dalam mobilnya lalu beralalu dari hadapanku.


Dengan langkah gontai aku pun mengikutinya, menghampiri sepeda motorku lalu ikut pulang seperti perintahnya.


Sampai di rumah aku melihat Mas Alif sudah duduk di sofa ruang tamu. Tepat menghadapku yang baru datang dan menutup pintu. Roman-romannya akan terjadi sesuatu yang besar nih. Aku pun ikut duduk di sofa dan menjelaskan semuanya.


"Mas, aku mau jelasin semuanya. Kalau sebenarnya-,"


"Kalau sebenarnya kamu diam-diam bertemu dengan pria itu?" Belum selesai aku bicara, dia sudah memotong kalimatku.


"Iya. Tapi kan aku menemuinya untuk mengakhiri semua ini."


"Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak dari kemarin-kemarin?" Pertanyaannya yang ketus itu sangat menohok hatiku. Seolah-olah menuduhku sengaja ingin bersama Kak Rio.


"Ya karena, karena..."


"Karena kamu suka berduaan sama dia. Begitu?"


"MAS!!!" Aku langsung berdiri dari tempat dudukku. Berkali-kali dalam hati aku mencoba untuk tidak meninggikan suaraku ke suami, tapi apa boleh buat? Kesabaranku sudah di ambang batas.


"Maksud kamu apa?!! Kamu pikir aku sengaja selingkuh dengan dia begitu?!!!"


"Terus keromantisan kalian berdua itu apa?!" Tidak kalah denganku, dia juga ikut berdiri.


"Itu enggak seperti yang kamu lihat! Kamu pikir aku mau diperlakukan begitu saja? Dia tiba-tiba berbuat seperti itu. Bukan atas permintaanku." Air mataku kembali turun. Kini lebih deras dari biasanya. Luka yang mulai mengering kini kembali menganga, begitu perih.


"Iya. Salahku karena tidak memberitahumu tentang kedatangan mantanku. Salahku karena tidak langsung terus terang kepadanya. Aku akui itu salahku! Tapi tidakkah kamu mau mendengar penjelasanku lebih dulu?!"


"Pertama bertemu dengannya aku masih syok. Dan langsung lergi. Kali kedua aku bertemu dengannya ketika di pasar. Itu pun karena aku sudah ditolongnya dari preman-preman. Dan saat itu juga aku berniat memberitahunya bahwa aku sudah bersuami. Tepat sebelum kamu datang. Dan untuk tadi. Kenapa aku berbohong sama kamu Mas? Itu karena aku takut kamu semakin salah paham dan cemburu. Yang akhirnya memperkeruh suasana. Jadi kuputuskan untuk menemuinya hari ini untuk mengakhiri segalanya."


Aku pun menyeka air mataku yang tidak mau berhenti. Napasku tersengal-sengal. Seolah-olah tercekat di tenggorokan. Aku sudah tidak peduli lagi dengan amarahku yang meledak-ledak ke Mas Alif. Aku ingin dia tahu semuanya agar dia puas.


"Aku sudah menjelaskan semuanya. Terserah kamu percaya atau tidak," kataku.


Setelah itu aku pergi ke kamar. Mengambil koperku, lalu mengemas beberapa baju dan barangku. Kali ini aku benar-benar ingin pergi darinya. Hatiku terlalu sakit jika terus tinggal di sini.


"Kamu mau ke mana?"


"Aku mau pulang," jawabku sambil masih mengemas, tidak memperdulikan keberadaannya.


"Tidak ada yang boleh keluar dari rumah ini!" Dia kemudian meraih koperku dan mengeluarkan kembali barang-barangku.


"Kenapa?! Bukankah kamu sudah tidak percaya lagi sama aku? Buat apa aku di sini lagi?" Aku menepis tangannya yang masih memegang koperku.


"Ini masalah rumah tangga kita. Biar kita sendiri yang menyelesaikan. Tidak perlu melibatkan orang lain."


"Menyelesaikan apa? Bukankah masalahnya sudah selesai? Bukankah semua ini sudah selesai?!!"


Aku kembali memasukkan pakainku ke dalam koper. Masa bodoh dengan pakaian yang kusut karena kumasukkan asal. Yang penting aku segera pergi dari sini.


"Oke kalau gitu. Sekarang kamu mau apa?" Dia bertanya sekali lagi.


"Bukankah aku sudah bilanh? AKU MAU PULANG!!! Aku mau bertemu mama sama papaku, aku mau tidur di kamarku, aku mau di sana. Tidak di sini yang membuatku muak!" Dadaku kembang kempis setelah mengatakan semuanya. Tidak diperintah, mulutku berbicara begitu saja tanpa ku rem. Tapi biarlah, aku hanya ingin pulang sekarang. Tidak peduli lagi dengan apa yang dipikirkannya.


"Baiklah kalau itu mau kamu." Dia langsung menarik koperku keluar. Kuikuti saja dia yang rupanya kembali berjalan menuju mobil, lalu memasukkan koperku ke bagasi. Sepertinya dia mau mengantarku.


Selama perjalanan hanya bunyi radio yang menemani. Aku sibuk memendangi jalanan luar yang saat ini tampak jauh lebih menarik. Sedangkan Mas Alif tentu fokus menyetir. Kebisuan di antara kita berlangsung lama. Sampai mobil yang kita kendarai ini melewati area taman kota, tempat penuh kenangan. Jadi teringat beberapa hari lalu ketika aku masih bercanda, bersenda gurau, bahkan berkejaran di taman ini dengan Mas Alif. Kenangan indah yang entah akan terjadi lagi apa tidak. Membayangkannya saja membuatku kembali menangis.


Dalam diam air mataku kembali membasahi pipi. Pikiran-pikiran tentang kenangan indah yang terputar, kemudian masalah ini, lalu berpikur apa yang selanjutnya akan terjadi antara aku dan Mas Alif, semua berputar jadi satu di otakku. Mengetahui aku menangis, sebelah tangan Mas Alif memberikan tisu dari dashboard. Kuterima itu karena aku sedang membutuhkannya. Jilbabku sudah habis basah untuk mengelap air mataku yang terlewat banyak.


Dalam kebisuan, radio yang dari tadi menyuguhkan ragam musik tiba-tiba memutarkan lagu perpisahan termanis dari Lovarian.


Jadikan ini


Perpisahan yang termanis


Yang indah dalam hidupmu


Sepanjang Waktu


Semua berakhir


Tanpa dendam dalam hati


Maafkan semua salahku


Yang mungkin menyakitimu


Entah mengapa, lagu ini seperti sengaja dipersembahkan untuk kita. Merasa tersindir, aku segera mematika radio. Tidak kusangka, Mas Alif juga berpikir demikian. Jadi tangan kita berdua tidak sengaja bertubrukan.


"Ekhm!" Aku segera mematikan radio itu, bersamaan dengan tangan tangan Mas Alif yang sudah kembali di kemudi.


Beberapa menit kemudia mobil Mas Alif sudah tiba di depan gerbang rumah orang tuaku. Sebelum aku keluar, kata-kata dari Mas Alif membuatku berhenti membuka pintu mobil.


"Mungkin benar, kita butuh waktu sendiri-sendiri untuk saling mengintrospeksi diri."


"Hmm," jawabku lalu meneruskan tanganku untuk membuka pintu. Lalu melangkah ke bagasi untuk mengeluarkan koperku. Mataku memandang mobil Mas Alif yang perlahan-lahan meninggalkan area perumahan hingga hilang dari pandanganku.


Aku menghelas napas pelan. Menguatkan diri sendiri bahwa langkah yang kuambil adalah benar. Setelah itu aku melangkah masuk. Otakku juga tidak berhenti berpikir untuk mencari alibi yang tepat agar mama dan papaku tidak khawatir.