
"Habis dari mana kamu jam segini baru pulang?!"
"Kerja lah! Enggak liat apa aku pakai jas gini?!"
"Kerja apa sampai malem kaya gini? Kerja sama selingkuhan kamu ya!"
"Enak aja kamu ngomong! Suami baru pulang kerja bukannya disambut malah dituduh selingkuh!"
"Halah! Ngaku aja kamu Mas!"
Brakk!!!
"Iya! Kalau aku selingkuh kenapa?! Apa kamu pikir aku enggak tahu gimana kamu di luar sana? Ngaca!"
"Aku selingkuh juga gara-gara kamu enggak ada waktu buatku!"
"Enggak ada waktu? Enggak ada waktuku itu ya kerja buat menuhin segala tuntutan kamu yang banyak itu!"
Di lain sisi, tepatnya di dalam kamar yang lampunya sudah redup segelap langit malam. Terdapat anak kecil yang meringkuk di bawah selimutnya. Radit kecil tiap malam selalu menangis ketika di tengah lelapnya tiba-tiba terbangun karena suara orang tuanya yang sibuk bertengkar. Tumbuh di keluarga yang kaya bukan berarti hidupnya bahagia. Untuk ukuran anak berusia enam tahun, Radit masih asing dalam hal mendapat kasih sayang kedua orang tuanya.
Di saat anak-anak lain mewarnai bersama ibunya, maka dia belajar dengan pengasuhnya. Di saat anak-anak lain asyik bermain bola dengan ayahnya, maka dia menghabiskan waktu luangnya untuk bermain game sendiri. Dan di saat anak-anak lain bisa liburan ke kebun binatang bersama keluarganya, di akhir pekan dia masih juga menghabiskan waktu dengan pembantunya.
Jujur, dia tidak tahan hidup tanpa kasih sayang kedua orang tua. Hingga pada puncaknya dia mendapati kedua orang tuanya bercerai. Naasnya, bukan hak asuh anak yang diperebutkan, malah harta gono-gini yang selalu dipermasalahkan. Beruntung masih ada neneknya yang dengan baik hati mengulurkan tangan, memberi kehangatan untuk Radit kecil yang malang.
Namun, kebahagiaan bersama neneknya hanya dia rasakan sekejap saja. Tepat di umurnya yang ke sepuluh tahun, neneknya wafat meninggalkan dunia yang fana ini. Jadilah Radit kecil tinggal di rumah besar neneknya, dan lagi-lagi hanya ditemani oleh para pembantu. Orang tua? Mereka sudah bahagia dengan keluarga barunya. Mereka hanya mengirimkan sejumlah uang untuk Radit sekedar memenuhi kewajiban sebagai orang tua. Padahal untuk menjenguk Radit, jarang sekali mereka lakukan. Jika saja bukan karena neneknya yang meninggal, Radit pikir orang tuanya juga tidak sudi menemuinya.
Berlatar belakang dari keluarga broken home, juga kurangnya bimbingan dari lingkungan sekitar, ditambah lagi dengan pergaulan yang bebas membuat Radit semakin menjadi. Clubbing, gonta-ganti pacar, balapan liar, dan segala kehidupan malam sangat lekat dengan dirinya. Beruntung dia masih sadar untuk tidak menyentuh alkohol dan obat-obatan terlarang. Dia masih sadar akan bahaya barang haram itu.
Hanya saja untuk wanita, dia masih saja menganggap mereka sama seperti pakaian. Mudah diganti jika bosan. Maka tak heran jika banyak wanita yang suka tiba-tiba datang ke kelasnya sekedar untuk memaki atau pun meminta agar tidak diputuskan oleh Radit. Ya, sepopuler itu memang dirinya yang dengan mudahnya menggaet banyak wanita cantik di kampusnya.
"C'mon babe! Aku enggak bisa hidup tanpa kamu. Masa kamu tega sih putusin aku gitu aja?" Seorang wanita sedang bergelayut manja di lengan kekar Radit. Tanpa malu bahwa dia tengah menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung kantin.
"Masa? Kemarin-kemarin sebelum kenal aku buktinya kamu masih hidup." Dengan santainya Radit berkata demikian, teman-temannya yang juga satu meja dengan Radit asyik menertawai perempuan entah ke berapa yang sudah Radit permainkan.
"Haish! Itu beda babe!"
"Udahlah Din! Aku udah nggak ada rasa sama kamu. Aku udah bosen. Dan hubungan kita sudah se-le-sai! It's over!" Ditolak mentah-mentah seperti itu sudah menjadi resiko, tapi wanita yang bernama Dinda itu menahan kesalnya setengah mati. Dengan langkah lebar dia meninggalkan Radit dan geng-nya.
"Brengsek!" Satu kata dari Dinda sebelum benar-benar pergi. Iya, satu kata yang cukup mewakilkan Radit saat ini.
"Yah, i am." Dan tanpa rasa bersalah dia malah tertawa bebas. Seolah bangga menjadikan perempuan sebagai mainan.
"Hai Dit!" Belum genap lima menit Dinda tadi pergi, kini sudah datang lagi perempuan lain dan langsung mengambil duduk di samping Radit. Bedanya, perempuan ini memang cukup terkenal di fakultas kedokteran. Tak sedikit pula kating yang menjadikannya sebagai incaran. Tapi dia dengan bodohnya masih terus berharap mendapatkan cinta seorang Radit, menolak semua cinta yang mengharapkannya. Namanya Gea.
"Hai Gea!" sapa seluruh teman Radit sambil cengengesan, sedangkan yang disapa malah memutar bola matanya malas. Memang selalu seperti ini, niat hati ingin dekat dengan Radit tapi selalu teman-temannya yang menanggapi.
"Ada apa?" ketus Radit.
"Kamu tau gak? Kita satu kelompok lho buat tugas KKN nanti."
"Hmm."
"Kok cuma hmm? Enggak aku satu kelompok sama kamu?"
"B aja."
"Haish! Nyebelin deh! Ya udahlah, sekarang langsung ngumpul di aula aja."
"Mau ngapain?" radit yang memang dasarnya masa bodoh dengan apa yang ada di sekitar pasti tidak tahu kalau sekarang ada jadwal briefing sebelum KKN.
"Ada rapat bentar sama dosen pembina. Yuk ke sana!" Tanpa menunggu persetujuan dari Radit, Gea langsung menarik lalu bergelayut manja di lengannya menuju aula. Dan Radit yang sudah terbiasa dengan sikap Gea yang suka bermanja dengannya pun membiarkan itu.
Sesampainya di aula, ternyata sudah banyak yang datang. Melihat ada Indra dan Fahmi, teman sekelasnya, dia langsung duduk bergabung dengan mereka. Ya meski pun tidak begitu dekat, setidaknya dia kenal. Dan Gea? Jangan tanya lagi. Sudah pasti terus menempel dengan Radit.
Sekitar beberapa menit menunggu, si dosen pembina datang. Dan tepat sebelum dimulainya acara, seorang gadis datang sambil terengah-engah. Bak adegan di film yang diberi efek slow motion, Radit langsung terpana melihat gadis itu. Matanya terus mengekor gerakan gadis yang kini tengah meminta maaf lalu mengambil duduk di sebelah perempuan berjilbab lebar.
Saat sesi perkenalan dimulai, Radit langsung memasang Indra pendengarannya sebaik mungkin. Matanya tak henti-hentinya memandang senyum yang begitu manis dan menawan. Baru pertama kali Radit merasakan perasaan seperti ini. Melihat senyum seorang perempuan saja bisa membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Padahal ketika dia bersama pacar-pacarnya dulu dia tidak merasakan sensasi seperti itu.
"Nala," gumam Radit lirih.
"Kamu ngomong apa Dit?" Oh, rupanya Gea sedikit mendengarnya.
"Enggak ada." Padahal dalam hati dia sudah bertekad untuk bagaiman pun caranya dia harus mendapatkan seorang Nala Ayu Kinanti.
*****
Sejak hari itu Radit mulai memusatkan perhatiannya ke Nala. Dia tidak lagi sibuk menggoda ataupun melirik wanita lain. Sebisa mungkin dia menyapa Nala, harap-harap bisa membantu wanitanya. Wanitanya? Rasanya untuk sekarang kepemilikan itu belum cocok disematkan untuk Nala. Tapi mungkin nanti. Dan Radit sangat percaya akan hal itu.
Tidak ada malam yang terlewatkan tanpa menelpon seorang Nala terlebih dahulu. Radit sebenarnya tahu kalau Nala belum menyukainya. Masih belum, dan ada kemungkinan untuk iya. Radit masih mengusahakan itu. Seperti malam ini, di terus mencoba menelpon nomor Nala meski dari tadi terus ditolak oleh seseorang di seberang sana. Dan akhirnya, setelah beberapa saat menunggu panggilannya terangkat juga. Nala selalu seperti itu. Terus menolak panggilan Radit tapi ujung-ujungnya diangkat juga, dan itu membuat Radit semakin gemas dibuatnya.
"Halo!" ketus Nala langsung di detik pertama panggilan terhubung. Jika bersama Radit, rasanya segala etika yang telah dia pelajari langsung menguap seketika.
"Selamat malam Nala cantik! Gimana kabarnya hari ini?" Tak mengindahkan nada ketus dari Nala, Radit meneruskan aksi gombalan buayanya.
"Baik. Ada urusan apa nelpon?"
"Emang gak boleh ya?"
"Kalau enggak terlalu penting ya jelas enggak boleh lah! Waktuku berharga tau!"
"Iya-iya. Ini hal yang penting."
"Cepet, apaan?" Nala di seberang sana yang sebenarnya sedang tidak melakukan apa-apa langsung merebahkan diri di kasur. Dia sangat sebal mengetahui bahwa yang menelponnya adalah Radit. Padahal yang selalu dia harapkan adalah nama Alif yang tertera di layar ponselnya.
Sebenarnya, andai kata yang menelponnya bukan Radit si buaya darat, pasti dia tidak akan seketus ini. Cuek, ketus, adalah segala bentuk upaya untuk tidak tenggelam dalam pesona seorang Radit. Ditambah lagi sekarang sudah ada nama Alif yang terpatri di dalam hatinya, sudah pasti tidak ada tempat lagi untuk mengukir nama Radit. Tapi Nala tidak tahu jika Radit yang sekarang banyak berubah. Sepertinya memang benar bahwa Radit akan bersungguh-sungguh dengan seorang perempuan. Keyakinannya bahwa perempuan untuk mainan saja langsung hilang ketika pertama kali melihat wajah Nala.
"Aku cuma mau nanya, ikan baunya gimana sih?"
"Ya ampun Dit! Cuma mau nanya itu? Anak TK juga tau kali!"
"Beneran Na. Ini penting buatku. Jawab aja dulu!"
"Amis!"
"I miss you too!"
"Halah! Gombal! Rayuan macam gitu enggak mempan buat aku. Sorry-sorry aja ya!"
"Yaah! Enggak mempan ternyata. Abang kecewa jadinya."
"Hih! Alay deh Dit! Udah. Aku mau tidur nih, ngantuk! Enggak ada yang mau diomongin lagi kan?"
"Oh, berarti berharap aku ucapin selamat tidur nih?" Radit selalu saja menemukan cara untuk menggoda Nala.
"Ih, enggak ya!"
*****
"Dit, udah lama nih nggak clubbing bareng. Kuy nanti malem!" ajak salah seorang teman Radit. Kini mereka sedang bersantai di kantin fakultas. Menikmati waktu bersama sebelum akhirnya berpisah karena tugas dan tempat KKN yang berbeda.
"Enggak lah. Males!" jawab Radit yang masih fokus dengan layar ponselnya. Apalagi yang dia lakukan selain menggoda lewat chat? Tidak ada.
"Tumben males. Udah tobat nih ceritanya?"
"Anggap aja begitu." Jawaban spontan dari Radit ini sontak membuat seluruh temannya tertawa. Bahkan ada yang sampai tersedak ketika mendengar penuturan Radit karena sedang menyuapkan makanan.
"Serius Dit?"
"Kalian kenal sama yang namanya Nala gak? Anak sastra Inggris." Bukannya menjawab, Radit malah melontarkan pertanyaan ke teman-temannya.
"Oh, Nala. Aku kenal. Ada apa?" jawab Kevin, salah satu teman Radit tentunya.
"Hah? Kamu kenal Vin? Kok aku enggak kenal sebelumnya?" tanya Radit penasaran.
"Kebetulan satu organisasi. Anak jurnalistik dia," ujar Kevin dengan santainya.
"Hmm, kayanya aku suka sama dia."
Radit dengan mudahnya mengutarakan perasaannya, karena memang tidak ada rahasia-rahasia di antara teman-temannya. Tapi ya tentu saja teman-teman Radit yang mendengar itu menganggapnya sebagai hal yang biasa. Radit dan perempuan, dua kesatuan yang tidak pernah terpisahkan. Tapi mereka belum benar-benar tahu bahwa "suka" yang Radit maksud dalam artian memang perasaan tulus menyukai seorang perempuan tanpa niatan untuk mempermainkannya.
"Pasti ditolak." Sontak saja Radit langsung melotot ke arah Kevin.
"Kok tau sih?"
"Hadehh! Nih anak ya! Sekali-kali otaknya dibuat mikir kenapa? Jangan cuma dibuat hiasan dalam kepala doang!" Radit yang tidak terima pun melemparkan kulit kacang ke arah Kevin.
"Gini, coba pakai logika. Nala kan anak baik-baik, otomatis kriterianya juga cowok baik-baik lah. Mana mau dia sama anak urakan enggak jelas dan ga ada akhlak kaya situ!" Sudah mengatai dengan panjang lebar, menohok pula. Pantas lah kalau Kevin ikut kegiatan jurnalistik, mulut pedasnya itu cocok untuk mengkritisi segala hal.
"***** lah!" Hanya umpatan yang dapat Radit berikan untuk Kevin.
"Eh, bentar-bentar! Jangan bilang kmu berubah karena cewek yang namanya Nala itu?" tanya seseorang yang tadi mengajak Radit untuk clubbing.
"Mungkin? Mencoba memantaskan diri?" jawab Radit yang seperti bertanya dengan dirinya sendiri.
"Woahh! Si playboy kelas kakap kita sudah tobat!" Teman-temannya langsung bersorak riuh dan melemparinya dengan snack, kulit pisang, atau apa pun yang ada di depan mereka. Radit hanya bisa menerima itu semua sambil sesekali membalas. Dalam hati dia juga bertanya, apa benar dia sudah berubah?
"Tapi apa yang dikatakan Kevin ada benarnya juga. Mana mau dia sama orang kaya aku gini?" Radit mendadak menjadi insecure.
"Hih! Apaan sih mendadak insecure gitu?! Drama! Gak usah didengerin tuh si Kepin!"
"Bener. Anak tiap hari nyemil cabe ya gitu, mulutnya pedes banget kaya komentar netijen!" Kevin yang sekarang menjadi sasaran empuk bully-an dari teman-temannya hanya bisa memutar bola matanya jengah.
"Selagi masih bisa dipepet jangan nyerah!"
"Inget! Selagi janur kuning belum melengkung, buat bebas menikung!"
Dan masih banyak lagi kalimat penyemangat yang dilontarkan teman-teman untuknya. Beruntungnya itu semua berhasil membangkitkan lagi semangatnya. Lagian Nala masih belum resmi milik orang lain, jadi dia masih bisa berusaha untuk mengejarnya terus. Tidak peduli apa yang terjadi, kini Nala menjadi prioritas utamanya. Sebisa mungkin dia mendapatkan cinta Nala.
"Yahh! Kalau si Radit udah tobat, berkurang deh teman buat clubbing bareng, buat balapan bareng, buat flirting cewek," teman Radit yang diketahui bernama Septian itu membuat mimik muka sok sedih. Bukan mengundang kasihan, malah mengundang rasa jijik dari teman-temannya.
"Dasar sableng! Maksiat mulu di otakmu! Udah, ikutan Radit tobat sono!" ujar Kevin yang langsung disambut gelegar tawa yang lain. Memang, di antara teman-teman Radit, si Kevin inilah yang lumayan benar. Dia ikut geng ini karena mereka temen yang asyik untuk bolos mata kuliah bareng. Hanya itulah kenakalan seorang Kevin.
*****
Hari demi hari telah dilalui. Radit dengan tidak kenal lelah terus mencoba meluluhkan hati Nala. Meski Nala masih belum menunjukkan respon yang baik untuknya, tapi dia tidak menyerah begitu saja. Sampai akhirnya hari KKN tiba. Berbagai kejadian mereka lalui bersama. Yang mulanya seperti orang asing hanya saling kenal nama, kini menjadi lebih dari keluarga.
Dan kejadian tidak terduga Radit alami kala melihat Nala yang seperti orang akan tenggelam. Tanpa berpikir panjang lagi, dia segera menghampirinya. Radit tidak habis pikir dengan Nala, padahal kolam yang mereka tempati masih dapat diraih kaki. Tapi Nala seolah-olah sedang tenggelam ke lautan luas sana. Tapi tentu saja Radit tidak akan menertawainya, malah dia terus menenangkan Nala dan membawanya ke tepian. Tepat saat itu, baru pertama kali dia merasakan Nala tersenyum tulus padanya sambil mengucapkan terima kasih.
Sejak saat itu lah Radit semakin yakin kalau perasaannya akan terbalas. Apalagi setelah hari itu Nala tidak lagi ketus padanya. Dan itu membuat Radit percaya diri untuk menyiapkan rencana penembakan Nala. Bukan ditembak dengan pistol, tetapi ditembak dengan sebuah nyanyian juga ungkapan perasaan.
"Emm.. gini ya Dit. Sebelumnya aku minta maaf banget sama kamu. Aku enggak bisa nerima cinta kamu. Tapi aku juga enggak bisa melarang kamu buat berhenti mencintai aku. Itu sih pilihan hati kamu ya!. Tapi lebih baik kamu berhenti sampai di sini. Karena aku memang tidak mencintai kamu."
Dan saat itu juga hatinya hancur tak bersisa. Angan akan diterima dan bahagia langsung buyar seketika Nala mengucapkan kalimat penolakan itu. Untuk pertama kalinya, seorang Radit merasakan yang namanya patah hati oleh seorang perempuan. Dan naasnya lagi, perempuan itu adalah cinta pertamanya sendiri.
Beruntunglah Radit yang sekarang sudah berbeda. Dia tidak memaksakan kehendaknya. Dia sadar diri, tentulah dia terlalu buruk untuk Nala yang terlalu baik. Dia sadar, mungkin ini karma akibat terlalu sering menyakiti hati perempuan lain. Setelah mendapat penolakan dari Nala, dia agak menjauh. Mungkin karena malu, tapi sebagian besar yang mendominasi adalah upaya agar segera melupakan Nala. Tidak sepenuhnya melupakan, karena dia tau cinta pertama itu mempunyai temoat sendiri di hati. Hanya sekadar menghilangkan rasa berharapnya, dan mengubah menjadi rasa mengikhlaskan Nala untuk bahagia meski bukan dengannya.
*****
"Dit?" Seseorang menepuk bahu Radit. Bahkan sudah setengah tahun berlalu tabi dia masih terbayang bayangan masa lalu.
"Eh, Ge. Ada apa?"
"Ada apa? Kamu ngelamun ya dari tadi? Bukannya kita ke sini mau nyari buku buat referensi skripsi?"
"Ohh, iya ya." Radit baru sadar kalau saat ini dia bersama Gea tengah berada di perpustakaan untuk mencari buku-buku yang nantinya dijadikan sebagai referensi untuk membuat skripsi. Maklum, sekarang mereka sudah menginjak semester enam. Jadilah sedang sibuk-sibuknya membuat skripsi. Beruntung judul yang kemarin Radit ajukan diterima dosen. Semenjak pulang dari KKN Radit sedikit demi sedikit mulai menekuni kuliahnya. Pasti malu juga kalau sampai dia sendiri yang telat lulus. Apalagi mereka, teman-teman baru Radit ketika KKN sudah semangat untuk bersepakat memakai toga bersama-sama, lulus bersama-sama.
"Aku udah dapet nih, kamu udah belum?" tanya Gea.
"Udah nih!" Radit mengacungkan dua buku tebal di hadapan Gea.
"Baguslah! Ya udah sini, biar sekalian aku list bareng buku pinjamanku." Saat Gea hendak meraih buku di tangan Radit, Radit terlebih dahulu mengambil buku milik Gea.
"Udah, biar aku aja. Kamu langsung tunggu di gazebo aja sana!" Tanpa meminta persetujuan, Radit langsung pergi ke arah penjaga perpustakaan untuk menuliskan daftar pinjaman buku. Sedangkan Gea, dia juga keluar untuk menuruti apa yang dikatakan Radit tadi. Tapi sebelum ke gazebo, dia terlebih dahulu mampir untuk membeli minuman dingin juga beberapa camilan untuk teman belajar bersama.
Menikmati hawa sore hari di bawah gazebo, pepohonan rindang yang meneduhkan mata, juga angin sepoi-sepoi yang kadang menerpa tubuh adalah teman Radit dan Gea saat belajar sekarang.
"Haishh! Susah banget sih?!" keluh Radit yang sedikit frustasi karena membaca buku tebal dengan banyak istilah kedokteran yang sering disebut bahasa planet asing oleh anak-anak lain.
"Bagian mana sih yang susah?" Gea yang dari tadi fokus mengetik di laptopnya kini mengalihkan perhatiannya ke Radit.
"Semua Ge. Pusing banget aku."
"Ya udah, kalau pusing bisa berhenti sekarang. Terus dilanjutin nanti malam, kalau enggak gitu besok pagi. Mungkin otak kamu lelah karena terus diforsir buat mikir."
Radit sedikit terhenyak, kemudian ditatapnya lamat-lamat Gea. Banyak yang berubah dari diri Gea, sama halnya dengan dirinya. Kini Gea tidak lagi menempel padanya, tidak lagi bergelayut manja di lengannya, tidak lagi sok manja agar didengarkan olehnya. Gea sekarang tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa. Pembawaannya juga lebih kalem. Mungkin ini efek berteman dengan Nala dan Salma. Radit sangat bersyukur akan hal hal itu. Tapi ada bagian kecil dari dirinya yang tidak rela. Seperti kehilangan sesuatu yang sudah melekat dengan dirinya. Mungkin dia belum terbiasa dengan sikap baru Gea.
"Kenapa Dit?"
"Eh? Enggak-enggak!" Radit jadi salah tingkah karena tertangkap basah mengamati Gea dengan terang-terangan.
"Ge, kamu mau jadi pacarku gak?" Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba Radit berkata demikian.
"Ha?" Gea yang sama sekali tidak menduga Radit akan berkata seperti itu tentu saja terkejut.
"Ngomong apa sih kamu Dit? Aku tau kamu itu frustasi habis ditolak Nala. Tapi ya jangan jadiin aku pelampiasan juga dong!" Bukan marah, bukan tersinggung, Gea mengatakan itu dengan santainya. Meski begitu, masih ada kekecewaan yang tersirat di matanya.
"Udah lah. Aku mau balik dulu! Ketemu besok lagi ya!" Gea segera merapikan buku-buku dan laptopnya. Kemudian berlalu meninggalkan Radit.
Sedangkan Radit, laki-laki itu mematung. Tangan kanannya menyentuh dada kirinya. "Kenapa nyut-nyutan gini ya?"