
Menghadiri pernikahan mantan gebetan sendiri adalah hal yang paling menyakitkan menurut Abdul. Di mana dia harus pura-pura tersenyum bahagia, mengucapkan selamat, dan mendoakan semoga berbahagia dengan pasangannya. Kepalsuan yang semakin menyesakkan dadanya. Dan itu semua akan dia lakukan malam ini. Di mana saat ini dia sedang menatap lamat-lamat undangan berwarna silver yang tampak elegan itu. Di dalamnya terdapat nama sepasang pengantin yang berbahagia.
Salma dan Rendi.
Katanya puncak dari rasa cinta adalah melihat orang yang dicintai bahagia. Sudah jelas bahwa Salma sangat bahagia dengan pernikahannya dengan Rendi. Tapi tidak dapat dipungkiri. Setelah tiga tahun berlalu, rasa itu masih tersisa sedikit untuk Salma. Abdul juga tidak habis pikir sendiri, sangat sulit untuk melupakan Salma. Namanya telah memengaruhi hampir seluruh bagian hidupnya. Jika waktu melupakan setidaknya butuh waktu yang seimbang dengan mengenal, otomatis masih tersisa satu tahun agar Abdul benar-benar melupakan Salma.
*****
Malam pun tiba. Abdul berangkat ke hotel tempat diadakannya resepsi bersama Bayu karena memang rumah mereka yang searah. Perjalanan tentu diramaikan oleh celotehan Bayu yang terus membicarakan karya barunya, tentang deadline yang bertebaran di mana-mana, dan banyak lagi.
"Eh Dul. Kisah kamu kayanya bagus nih aku buat cerita. Boleh gak?"
"Gak lah! Ngapain juga."
"Yee nih anak! Tapi beneran loh ini, aku ada ide buat cerita yang mengangkat tentang kisah cinta kamu. Entar aku kasih judul Perjalanan cinta seorang jones," Bayu puas menertawai Abdul setelah ia sindir dengan tersirat.
"Rese! Judulnya yang bagusan dikit kenapa? Mencintai dalam diam kek, atau apa kek yang bagus-bagus gitu," protes Abdul tak terima.
"Kebagusan itu mah! Udah pas banget tadi, jones! Melambangkan seorang Abdul banget! Ya enggak?" Bayu masih saja menertawai Abdul. Kalau saja tidak ingat kalau Bayu adalah temannya, sudah pasti akan langsung Abdul turunkan di pinggir jalan sana.
"Kaya situ enggak jones aja!" Abdul mencoba membalikkan keadaan.
"Weittss! Sorry-sorry aja nih bro! Jomblo sih jomblo, tapi bahagia dong. Udah dicintai banyak penggemar, enggak mikirin mantan gebetan yang udah nikah lagi." Sengaja Bayu menekankan kalimat terakhirnya.
"Terserah!" Abdul pun menyerah dan tidak berusaha menanggapi atau berkelit lagi. Dia sudah paham kalau teman-temanya itu hobi sekali menertawai kemalangannya. Mungkin tertawa di atas penderitaan teman adalah passion mereka, heran Abdul.
Selang lima menit kemudian mereka sudah sampai di hotel yang mereka ketahui milik Alif. Bayu yang tidak peka kalau Abdul sedang menyiapkan hati, jiwa, dan raga untuk bertemu Salma malah langsung menarik tangannya untuk masuk. Dan dengan pasrah pula si Abdul mengikutinya.
Sampai di dalam mereka sudah tahu di mana tempat teman-teman mereka berkumpul. Pokoknya yang paling ramai dan suka memancing perhatian itulah mereka. Dari pintu masuk saja sudah kelihatan gerombolan yang duduk-duduk di bagian paling dekat dengan pelaminan.
"Hey bro!" Kebiasaan ketika bertemu dengan teman, mereka langsung saling sapa dan berpelukan ala saudara.
Dari tatapan-tatapan mata teman-temannya Abdul sudah merasakan hawa-hawa tidak enak. Benar saja, dalam hitungan menit dia sudah menjadi bulan-bulanan. Tapi dia tidak sibuk membalas mereka, biar saja mereka puas mengatainya sampai lelah sendiri. Kalau Abdul membantah ucapan mereka malah tambah runyam. Mereka kan masih persis seperti anak kecil, semakin ditanggapi malah semakin menjadi.
Sampai akhirnya mereka sampai pada acara yang paling Abdul wanti-wanti dari tadi. Iya, sekarang mereka sudah mengantri untuk menyalami pengantin baru yang sedang berbahagia itu. Sekuat tenaga Abdul berusaha berakting untuk tegar dan mengikhlaskan. Sibuk dengan pikirannya sendiri, membuat dia tidak sadar kalau antriannya sudah dekat dan dia masih belum melangkah maju.
Dari belakang Wahyu menepuk pelan bahu Abdul agar tersadar di dunia nyata. "Eh? Kenapa?"
"Ayo maju! Udah jauh tuh jaraknya sama yang di depan," ucap Wahyu.
"Loh, iya." Abdul pun segera melangkah dan sampai lagi di belakang Bayu.
Tak disangka, Wahyu tiba-tiba menepuk lagi pundak Abdul, membuat Abdul mau tidak mau menoleh lagi ke belakang. "Sabar bro! Aku tau ini bakal berat. Tapi mau enggak mau yang harus diikhlaskan. Tenang aja! Jodoh enggak bakal ke mana kok." Wahyu tiba-tiba berujar demikian.
"Iya. Saatnya belajar sepenuhnya mengikhlaskan Salma buat bahagia sama Rendi. Mulai tata hati yang baru untuk calon nama cinta yang baru." Ini juga si Bayu tiba-tiba mengikuti Wahyu. Disusul dengan teman-teman lain juga yang baris di belakangnya.
Dari sini Abdul sadar. Semenyebalkan mereka kala menertawai dan mengatainya. Tapi ketika dia dihadapkan langsung dengan kondisi itu, mereka tetaplah teman yang saling menyemangati.
"Udah gak usah terharu! Enggak ada waktu buat itu. Cepet salaman sono! Udah paper banget ini!" Dan dengan kurang ajarnya si Indra berteriak demikian. Merusak suasana haru biru yang mulai terbangun. Tapi ada benarnya juga apa yang dikatakan Indra, hampir semua dari mereka sudah mulai kelaparan.
Akhirnya langkah Abdul sudah mengantarkannya di atas pelaminan. Berhadapan langsung dengan Rendi dan Salma.
"Selamat ya buat kalian berdua!" ujar Abdul sambil menjabat tangan Rendi. "Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah!" doanya kemudian.
"Iya, makasih Dul. Sekali lagi maaf ya! Aku enggak maksud. Tapi jalan takdir yang berkata seperti ini. Aku harap kamu ikhlas dan baik-baik aja!" Abdul tau untuk apa kata maaf keluar dari mulut Rendi. Dia pun membalasnya dengan tersenyum.
"Lah, ngomong apa sih! Kamu buat Salma bahagia aja pasti aku juga bahagia. Udahlah, kalian santai aja!" ujar Abdul sok tegar.
Kemudian tatapan Abdul jatuh ke Salma yang terlihat sangat cantik malam ini. "Selamat ya Sal! Semoga berbahagia dengan pernikahanmu!"
"Iya Dul, makasih ya! Aku berdoa semoga kamu mendapatkan jodoh yang lebih baik dari aku. Dan semoga juga kalian cepat dipertemukan."
"Aminn." Setelah mengucapkan selamat dan bersalam-salaman, Abdul pun turun dan menuju ke mejanya tadi.
"Hadehhh! Gini amat rasanya patah hati. Makan enggak nafsu, tidur enggak nyenyak, kerja juga enggak konsen." Abdul tidak berkata demikian dengan lirih. Mungkin ini adalah keluhan terakhirnya tentang Salma. Tapi tanpa Abdul sangka, suaranya yang lirih itu terdengar oleh teman-temannya. Alamat jadi bulan-bulanan lagi lah ini, batin Abdul.
"Move on lah Dul! Banyak kok cewek diluar sana yang mau nerima kamu," ujar Rere memberi saran.
"Cewek mana coba?" Abdul kelihatannya galau berat. Sampai makanan di piringnya cuma diaduk-aduk tanpa dimakan.
"Kenapa enggak kamu sama Tika aja noh! Sama-sama jomblo kan." Ucapan dari Sita langsung disoraki oleh teman-teman yang lain dan mendapatkan tatapan tak enak dari Abdul. Enak saja main menjodoh-jodohkan. Dengan Tika lagi. Kalau sampai iya mereka jadian, bukannya romantis malah tiap hari makan hati karena berdebat terus. Mereka kan kalau bertemu tidak pernah saling akur. Ada saja yang dipermasalahkan.
"Iya tuh. Kalian kan dari dulu sering banget berantem. Cocok tuh, kaya cerita di ftv-ftv. Benci jadi cinta," Nala tak lupa mengimbuhi.
"Enggak!" Tika dan Abdul yang menjadi bahan pembicaraan kompak berkata tidak.
"Ciiee! Barengan!" Teman-teman mereka juga tidak kalah kompak untuk menyudutkan mereka berdua.
"Idih. Ogah deh sama Abdul dudul. Mending cari yang lain." Tika berkata demikian.
"Emang situ doang yang enggak mau? Aku juga milih-milih kali biar punĀ jelek-jelek gini." Abdul tidak mau kalah untuk membalas.
"Udah jadian aja! Cocok tuh!" Nala dan yang lain terus-terusan menjodoh-jodohkan mereka berdua.
"Enggak!"
"Idih. Ogah ya!"
"Mumpung penghulunya masih di sini, mau langsung nikah juga oke-oke aja." Ucapan Wahyu dipelototi oleh Abdul dan Tika. Mereka berdua juga kompak memukul lengan Wahyu agar diam. Lagi-lagi kekompakan mereka menghadiahkan sorakan cie-cie dari teman-temannya. Dan mereka harus berusaha menerima itu sampai beberapa menit kemudian ketika mereka sudah kembali fokus makan.
Tapi tak sengaja tatapan Abdul berhenti ke arah Tika. Diam-diam dia mengamati Tika yang tengah asyik makan. Melihat Tika dengan make up dan dress seperti ini sangat jauh berbeda dengan kesehariannya. Hilang sudah tampang tengil yang selalu membuat jengkel itu, malah kini berganti menjadi perempuan yang manis.
Dan dengan secepat kilat Abdul menghempaskan pemikiran itu. Mungkin efek dari lapar jadi membuatnya sedikit melantur. Setelah makan dan berbincang, mereka pun memilih untuk pulang ke rumah masing-masing. Lagi pun mereka sudah lama berada di acara, dan hari mulai larut juga. Segera Abdul mengajak Bayu pulang. Cepat sampai di rumah, cepat pula dia mengistirahatkan hati dan pikiran yang lelah.
*****
Keesokan harinya Abdul menjalani rutinitasnya seperti biasa. Di umur yang masih ke dua puluh lima ini dia sudah dipercayakan ayahnya, ketua tempat yayasan pendidikan tempat Abdul bekerja sebagai kepala sekolah. Dia juga sudah lulus ujian PNS tepat satu tahun yang lalu. Penampilannya mengenakan seragam yang khas itu semakin menambah wibawanya. Jauh dari kesan Abdul yang pecicilan.
Kegiatannya di sekolah beragam. Mulai dari memimpin rapat rutinan para guru, memantau keadaan sekolah, hingga keluar sana-sini untuk perjalanan tugas. Kebebasannya dimulai tepat setelah jam satu siang. Di mana seluruh kegiatan belajar mengajar telah usai dan semua warga sekolah diperbolehkan untuk pulang.
Kali ini dia akan mampir sebentar ke mall untuk membeli sepatu baru. Pantofel yang kini dia pakai sudah agak usang rupanya. Nanti dia berencana akan membeli sekaligus dua atau tiga untuk cadangan. Tepat saat dia akan masuk, Abdul berpapasan dengan Tika yang baru keluar dengan menenteng tiga buah kantong belanjaan yang besar. Melihat itu, Abdul segera mengambil alih dua kantong itu.
"E-eh mau ngapain Mas?" Tika masih belum sepenuhnya sadar kalau yang tiba-tiba mengambil belanjaannya adalah Abdul. Barulah ketika dia menatap dengan benar bisa dia lihat Abdul yang masih mengenakan seragam dinas dengan ditutupi jaket kulit.
"Loh Abdul? Aku kira siapa! Hampir aja aku teriak ke pak satpam tadi."
"Masa tampang ganteng kaya gini ada niatan buat tindak kriminal?" ucap Abdul dengan percaya dirinya.
"Iyuuhh PD gila! Eh, ngomong-ngomong ngapain kamu ke sini? Masih pakai seragam pula. Mau tebar pesona Mas?"
Tuh kan. Baru ketemu lho ini, tapi Tika sudah membuatnya hampir khilaf untuk menoyor kepalanya. "Enak aja kalau ngomong! Nggak usah ditebar juga pesonaku udah berceceran dimana-mana."
"Kaya sampah dong berceceran di mana-mana?"
"Eee kurang asem nih anak!"
"Iya, maaf om!" balas Tika tak kalah sengit.
"Mas, Mbak! Maaf! Kalau ada masalah rumah tangga bisa diselesaikan di rumah. Jangan di depan pintu ini! Kasihan pengunjung yang mau keluar-masuk jadi terganggu!" Tika dan Abdul kompak menoleh ke arah pak satpam yang menegur mereka.
"Kita bukan suami-istri Pak!" jawab mereka kompak.
"Mau suami-istri kek, pacar kek, yang jelas kalian jangan ngalangin jalan di sini! Sudah pindah tempat sana!" usir pak satpam yang mau tidak mau harus mereka turuti. Karena mereka baru sadar jika perdebatan kecil mereka masih dilakukan di depan pintu keluar-masuk.
"Berangkat ke sini naik apa?" tanya Abdul agar segera menurunkan belanjaan Tika yang bukan main beratnya.
"Angkot."
Mendengar jawaban Tika membuat Abdul mengantarkan belanjaan di tangannya menuju parkiran mobil tempat di mana mobilnya berada. Dia segera membuka bagasi mobilnya lalu memasukkan semua belanjaan Tika.
"Loh, loh! Kok dimasukin ke mobil kamu sih?"
"Nanti pulangnya aku anter."
"Eh? Enggak usah! Biasa naik angkot juga," keukeh Tika untuk menolak bantuan Abdul.
"Udah gak papa!"
"Jangan dong! Entar ngerepotin lagi."
"Halah! Kaya ngomong sama siapa sih kamu Tik? Udah, santai aja!" Mendengar itu sontak membuat Tika langsung menempelkan tangannya ke dahi Abdul.
"Kamu enggak sakit Dul. Terus kenapa tumben baik gini? Apa jangan-jangan kamu kesurupan hantu penghuni parkiran ini ya?!" Mendengar itu membuat Abdul mencubit gemas pipi Tika.
"Aww! Sakit tau!"
"Lagian kamu aneh. Ditolongin sama orang ganteng bukannya bersyukur malah ngatain kesurupan!"
"Ya habisnya tumben sih!"
"Aku udah sering baik kali! Mata kamu tuh yang selalu liat kejelekan-kejelekanku!" ketus Abdul yang membuat Tika meringis menampilkan deretan giginya.
"Emang bener sih, hehehe."
"Ya udah, aku anter kamu pulang." Saat Abdul hendak membuka pintu mobilnya, Tika terlebih dahulu menghentikannya.
"Bukannya kamu tadi belum masuk mall ya? Mau nyari apa?"
"Niatnya mau beli sepatu sih. Tapi ya udah lah gak papa, besok aja lagi."
"Halah! Nanggung kalau besok! Sini aku temenin belanja!" Tanpa meminta persetujuan dari Abdul, Tika langsung menarik lengan Abdul untuk kembali lagi masuk ke mall.
"Mau nyari sepatu apa?" tanya Tika setelah mereka sampai di depan outlet yang menjual berbagai jenis sepatu.
"Pantofel, buat kerja." Mendengar jawaban dari Abdul membuat Tika langsung memasuki sebuah outlet sepatu yang menjual beragam sepatu kerja baik untuk wanita mau pun pria.
Di dalam sana Tika sibuk membantu Abdul memilihkan sepatu yang cocok. Abdul juga tidak diam saja. Berulang kali dia menunjukkan sepatu pilihannya dan ketika dia tunjukkan ke Tika malah disambut gelengan kepala. Terlalu kuno lah, gak pantes lah, atau kelihatan seperti orang tua lah. Padahal di mata Abdul semua sepatu itu tampak sama. Berbahan kulit dan berwarna hitam. Jadi dia memilih untuk duduk saja dan menunggu sepatu pilihan Tika.
"Bagus gak?" Setelah lama menunggu akhirnya Tika menghampiri Abdul dengan membawa sepasang sepatu.
"Bagus!" jawab Abdul cepat karena ingin segera menyudahi acara belanjanya ini. Dia tidak menyangka kalau belanja bersama perempuan akan selama itu.
Tika kemudian berjongkok dan memakaikan sepatu pilihannya ke kaki Abdul. Abdul sempat menolak karena merasa dia bisa sendiri, tapi Tika tetap ngotot untuk memakaikannya, alhasil Abdul hanya bisa pasrah.
"Gimana? Pas enggak?"
"Agak sempit sih ini Tik."
"Oh ya udah bentar." Mata Tika kemudian mencari keberadaan mbak-mbak penjaga toko dan meminta sepatu dengan ukuran yang sesuai dengan Abdul.
Si mbak penjaga toko itu pun segera mengambilkan dan menyerahkannya ke Tika. Setelah dapat, Tika kembali memakaikan sepatu itu ke kaki Abdul.
"Kalau ini? Pas kan?"
"Iya pas," ucap Abdul sambil berdiri dan mengetes kenyamanan sepatunya.
"Sepatu itu memang cocok buat masnya. Mbaknya pintar banget milihin sepatu buat suaminya," celetuk si mbak penjaga toko yang membuat Tika dan Abdul kembali memutar bola matanya jengah.
"Kita bukan suami-istri Mbak!" Lagi-lagi mereka memberikan klarifikasi atas kesalahpahaman yang sama. Dan si mbaknya tanpa rasa bersalah hanya tersenyum lebar.
Usai dengan urusan belanja yang memakan waktu sangat lama, tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Segera Abdul mengantarkan Tika pulang. Di sela-sela perjalanan mereka selingi dengan percakapan ringan untuk membunuh kebosanan.
"Belok kanan Dul!" titah Tika ketika melihat perempatan di depan mereka.
Sesuai dengan arahan dari Tika, akhirnya mobil yang mereka kendarai sampai di depan sebuah rumah yang ramai anak kecil saling bermain. Turun dari mobil baru Abdul menyadari bahwa rumah ini bukanlah tempat tinggal biasa, melainkan sebuah panti asuhan.
"Kamu tinggal di sini Tik?"
"Iya. Kenapa?"
"Enggak kok. Cuma nanya."
Seperti tadi, Abdul membawakan belanjaan Tika. Sesampainya mereka di dalam pekarangan, anak-anak kecil yang sibuk bermain langsung mengalihkan perhatian ke mereka berdua.
"Mbak Tikaaaa!" Anak-anak kecil itu langsung menghambur ke pelukan Tika. Dengan telaten Tika menyapa satu persatu dan menciumi kening mereka. Kalau melihat Tika seperti ini, sudah keluar aura keibuannya.
"Mbak Tika kok baru ke sini sih? Katanya mau tiap hari main ke sini!" Seorang anak yang bernama Rama memberengut kesal.
"Ya maaf! Mbak kan harus kerja supaya bisa beliin kalian jajan. Kalau Mbak enggak kerja, kalian enggak bisa makan cokelat dong?"
"Yahh! Jangan!" teriak mereka kompak.
"Nah, sini ikut Mbak duduk!" Tika mengajak anak-anak panti untuk duduk di teras rumah. Sedangkan Abdul hanya bisa mengekor sambil mengamati apa yang dilakukan Tika.
Kantong belanjaan yang penuh tadi rupanya kebanyakan berisi makanan ringan, permen, juga cokelat. Sisanya kebutuhan pokok untuk sehari-hari. Dikeluarkan lah aneka jajanan itu dari kantongnya.
"Ini cokelat buat Rama, lolipopnya buat Ayla," ucap Tika sambil membagikan isi dari kantong belanjaannya ke sekitar lima belas anak. Setelah dapat apa yang mereka inginkan, tak lupa mereka mengucapkan terima kasih.
"Iya. Semua udah dapat kan? Jadi jangan ada yang berebut! Oke?"
"Okeee!" Setelah itu mereka duduk anteng sambil makan, sesekali bercanda tawa ria dengan yang lain.
"Mbak, Mas itu pacarnya Mbak Tika ya?" Rama menunjuk tepat ke arah Abdul, membuat yang lain juga menatap ke arah yang sama.
"Ehh Rama, tau pacar-pacaran dari mana coba?" Dengan gemas Tika mengacak rambut Rama. "Bukan kok, ini temen Mbak Tika. Namanya Mas Abdul. Ayo salim dulu!" Menuruti apa kata Tika, satu persatu dari mereka menyalimi punggung telapak tangan Abdul.
"Rama, ibu sekarang di mana?"
"Di dapur Mbak, lagi masak."
"Ohh gitu, makasih ya!"
"Iya Mbak!"
Tika kemudian menoleh ke samping. Mengajak Abdul untuk bertemu ibunya. Ibu yang dengan penuh kasih sayang telah membesarkannya meski ia bukan darah dagingnya sendiri. Ibu yang tak pernah menunjukkan lelahnya dan selalu tersenyum. Ibu terhebat yang pernah Tika temui.
"Assalamualaikum!" ucap Tika setelah memasuki area dapur.
Seorang wanita paruh baya yang tengah sibuk menggoreng langsung menoleh mencari sumber suara. Melihat kedatangan Tika, membuat senyumnya merekah. "Waalaikumsalam! Eh Tika, datang ke sini rupanya." Tika langsung menghambur memeluk ibunya dan mencium kedua pipinya. Pemandangan yang Abdul pikir sangat menyentuh hatinya.
"Ini siapa nduk?" Sama halnya dengan Rama, ibu menanyakan Abdul. Dan Tika memperkenalkan mereka berdua.
"Aku bantu masak ya Bu!" Tika kemudian mengambil alih spatula dari tangan ibunya. "Dul, kamu jangan pulang dulu ya! Sekalian makan di sini."
"Oh, oke. Kalau gitu aku ke depan dulu, mau nyamperin anak-anak."
"Iya. Tapi awas aja sampai kamu nyulik salah seorang dari mereka! Aku hajar kamu sampai penyet!" canda Tika.
"He'em. Lagian kurang kerjaan amat mau nyulik anak orang. Nyusahin diri sendiri yang ada," balas Abdul.
"Kirain."
Tidak butuh waktu lama bagi Abdul untuk berbaur dengan anak-anak panti. Kesehariannya sudah dipenuhi dengan tawa canda ria anak-anak. Mereka bermain, bercerita, juga bercanda di halaman rumah yang menyejukkan. Menghabiskan sore bersama anak-anak panti seperti ini tidak dia sangka akan sangat menyenangkan.
Sampai tiba waktu untuk makan malam, Tika bersama ibunya menghidangkan berbagai olahan mereka di atas karpet yang di gelar di ruang tamu. Usai makan malam, Abdul membantu Tika membereskan piring-piring kotor dan membatu mencucinya. Sehingga ibu sudah bisa istirahat di dalam kamar.
"Makasih lho Dul udah mau bantuin! Enggak ngerepotin kan ini?" tanya Tika di sela-sela kegiatan mencuci piringnya.
"Enggak lah. Aku malah seneng banget bisa main sama anak-anak. Udah lama juga enggak keringetan kaya tadi." Abdul langsung terbayang kegiatan bermain sore tadi. Padahal cuma petak umpet, tapi sudah berhasil membuatnya mandi keringat.
"Dasar orang tua!" Tika terkekeh melihat Abdul tadi sore yang lebih seperti buruh habis kerja rodi.
"Tik."
"Hmm?"
"Kamu udah lama tinggal di sini?"
"Iya. Mulai dari bayi malah." Tika tampak mengentikan kegiatannya sebentar, lalu menghela napas panjang. "Mau denger ceritaku gak?"
"Kalau kamu enggak keberatan," jawab Abdul.
"Aku itu dari bayi udah tinggal di panti ini. Meski awalnya ibu enggak mau cerita, tapi akhirnya aku berhasil membujuknya untuk bercerita tentang orang tuaku. Ternyata, yang membawaku ke sini adalah ibu kandungku sendiri. Aku ini anak yang enggak diharapkan. Aku lahir akibat kekhilafan ibuku dengan pacarnya. Aku pernah dicoba digugurkan, tapi nyatanya aku masih hidup. Ibuku yang frustasi akhirnya memilih kabur dari rumah untuk menyembunyikan kehamilannya. Alhasil dia merantau ke kota Malang ini. Setelah aku lahir, aku langsung dititipkan ke panti ini. Naasnya, sampai sekarang ibuku tidak pernah menemuiku ke sini. Atau mungkin dia lupa kalau pernah melahirkanku." Tika kemudian diam. Seperti mengumpulkan pasokan udara yang seperti menipis dan membuat dadanya sesak.
"Tapi kamu tenang aja! Jangan mengasihani aku juga! Aku baik-baik aja kok. Ada ibu Sri dan adik-adikku yang selalu ada untukku. Juga kamu, dan teman-teman yang lain yang membuatku lupa akan kemalangan ku."
Mulutnya berkata baik-baik saja. Tapi tidak dengan matanya yang mulai mengeluarkan air mata. Abdul mulai sadar. Sosok Tika yang periang, humoris, murah senyum, itu semua adalah cara untuk melupakan kesedihannya. Melihat Tika yang tampak rapuh saat ini, membuat Abdul menyeka air mata yang mengalir di pipi Tika. Diraihnya tangan yang masih basah itu dan menatap manik mata Tika dengan lekat.
"Tik. Aku mungkin bukan pangeran berkuda yang selama ini kamu impikan, aku mungkin bukan laki-laki yang kamu harapkan. Tapi tolong! Izinkan aku untuk membuatmu bahagia."