
"Rinduku hanya sebatas angan semu, yang tak pernah ada titik temu.
Tak mengapa demikian.
Jangan kasihani aku!
Cukup senyum terpatri di wajahmu
Dan aku bahagia.
Seindah itu memang mencintaimu meski sepihak."
Tepuk tangan riuh kemudian menggema di seluruh kelas. Semua mengapresiasi puisi yang Bayu ciptakan. Pembacaan dengan intonasi yang pas, pelafalan yang tepat, juga ekspresi yang sangat menghayati tak ayal membuat Bayu mendapat nilai tertinggi ketika ada praktek membaca puisi. Jadi teman-temannya tak heran kalau Bayu selalu mendapat nilai A dalam mata pelajaran bahasa Indonesia yang amat disukainya.
"Hebat Bay! Jago banget sih buat puisi kaya gitu?" tanya teman sebangkunya yang bernama Yudha. Maklum saja jika banyak yang kagum dengan sosok Bayu di bidang sastra. Sekarang memang sudah mencari laki-laki yang berbakat dalam bidang sastra, hanya segelintir saja. Dan di dalam segelintir itu terdapat Bayu di dalamnya.
"Enggak tahu. Hobi aja mungkin, jadi udah terbiasa buat begituan," jawab Bayu sambil memasukkan buku peralatannya ke dalam tas. Bahasa Indonesia adalah mata pelajaran terakhir di hari Rabu ini, jadi pantas kalau setelah ini semua murid akan pulang.
Siswa-siswi di kelas Bayu sebelum pulang terlebih dahulu melaksanakan piket. Dengan laki-laki yang mengajak bangku ke atas meja, dan yang perempuan menjadi seksi bersih-bersih. Setelah itu mereka kembali duduk di bangku masing-masing untuk berdoa bersama yang dipandu oleh ketua kelas. Barulah mereka bisa pulang setelah gurunya mengucap salam dan mereka satu per satu menyalimi punggung telapak tangan gurunya.
Bayu yang baru keluar kelas tiba-tiba ditarik lengannya oleh salah satu temannya. Melihat itu, Yudha yang penasaran pun mengikuti mereka berdua. Ternyata teman Bayu tadi mengajak masuk kembali dalam kelas, bedanya ini bukan kelasnya. Melainkan kelas sebelas IPS 3 yang tak lain adalah kelas tetangga mereka.
"Ada apa nih Den?" tanya Bayu setelah temannya melepaskan cekakan tangannya di dalam kelas. Yudha yang baru menyusul bergabung dengan mereka.
"Bay, aku mau minta tolong boleh?"
"Ya elah! Cuma mau minta tolong udah kaya mau nyulik orang aja!" cibir Yudha yang langsung dipelototi oleh temannya yang mengajak Bayu tadi.
"Minta tolong apa Den? Kok sampe harus diam-diam masuk kelas orang lain gini?" Tak dapat dipungkiri bahwa Bayu juga penasaran.
"Sorry kalau tiba-tiba narik kamu ke sini. Soalnya ini rahasia. Dan aku enggak mau kalau gebetanku tahu."
"Rahasia apaan?" Saking penasarannya Bayu dan Yudha sampai bisa kompak begitu bertanyanya.
"Ya aku mau minta tolong buatin puisi buat aku kasih ke gebetanku besok. Please, bisa ya?"
"Ohh, jadi rahasianya supaya gebetan kamu itu enggak tahu kalau yang buat puisi itu bakalan di Bayu dan bukannya kamu? Waah, sama aja bohong dong!" Lagi-lagi Yudha suka sekali mencibir temannya.
"Bukan masalah siapa yang buat puisinya, intinya kan perasaan yang sama yang tergambar dalam puisi itu. Jadi enggak bohong lah!" Tak terima dicibir tajam oleh Yudha membuatnya mencari pembelaan yang tepat.
"Udah-udah! Ngapain jdi ribut gini sih? Jadi minta tolong gak?" Bayu yang pusing sendiri mendengar adu mulut kedua temannya akhirnya melerai mereka berdua.
"Iya-iya, jadi minta tolong. Yudha nih dari tadi nyari gara-gara mulu!"
"Apaan?! Orang ngomong kenyataan juga." Yudha tak mau kalah argumennya.
"Mau lanjut nih berantemnya?" tanya Bayu sekali lagi dengan tangan bersidekap dan menatap sinis ke kedua temannya.
"Enggak-enggak Bay, tadi kita cuma bercanda kok. Jadi beneran tolongin aku ya?"
Bayu berpikir sebentar. Sebenarnya mudah saja untuknya berkata iya karena memang menulis adalah hobinya. Tapi dia juga perlu memikirkan bisa tidaknya membuat puisi nanti malam. Pasalnya tidak serta merta dapat membuat puisi yang diinginkan saat itu juga. Butuh ilham juga suasana hati yang tepat.
"Bay?!"
"Kenapa?"
"Bisa gak nih? Malah ngelamun aja!"
"Iya, aku usahain bisa.
"Waah! Makasih ya bro!" Raut muka bahagia tampak di wajah temannya itu.
"Jadi intinya puisi itu mau dibuat gimana?"
Setelah berkata demikian barulah diskusi dimulai. Di mana temannya yang meminta tolong memberi gambaran ungkapan apa yang akan disampaikan dalam puisi itu. Adakah penambahan kata-kata khusus atau bagaimana. Setelah selesai semua mereka bertiga pun keluar kelas menuju parkiran tempat motor mereka terparkir rapi. Sedangkan temannya yang sudah tancap gas pulang menuju rumahnya, Bayu dan Yudha masih setia menongkrong di atas motornya.
"Eh, Bay."
"Kenapa Yud?"
"Ngerasa gak kalau sekarang ada peluang emas di depan mata kita?" ucap Yudha yang masih menyisakan teka-teki di kepala Bayu.
"Peluang apa nih?"
"Ya peluang cari duit lah!"
"Ha?" Jangan salahkan Bayu yang menjadi lemot karena memang Yudha yang hanya memberitahu info setengah-setengah. Itu pun masih dengan bahasa yang membingungkan dan tidak mau langsung ke tujuan.
"Kok jadi lola sih Bay?"
"Ya situ ngomongnya yang gak jelas! Coba ngomongnya yang lengkap dan diperjelas gitu. Bikin orang suka mikir aja!"
"Hehehe, maaf!" kata Yudha sambil meringis memperlihatkan deretan giginya.
"Jadi gini Bay. Kamu kan punya bakat, nah dari bakat itu kita bisa buat peruntungan. Buat cari duit!" Nah, kali ini baru Bayu bisa paham.
"Caranya gimana?"
"Jual puisi kek, cerpen, atau apa gitu. Semua orang kan udah tahu tuh kalau karya-karya mu semua bagus. Pasti laris punya!"
Ada benarnya juga apa yang dikatakan Yudha. Kalau beneran laku kan lumayan buat uang jajan. Jadi dia tidak perlu meminta uang saku lagi dan orang tuanya tidak perlu repot-repot mencari uang lebih untuk uang saku Bayu. Dengan begitu dia bisa sedikit membantu meringankan beban orang tuanya. Setelah menimbang-nimbang dengan mantap, Bayu pun menyetujui ajakan Yudha.
"Setuju deh."
"Nah gitu dong!"
"Eh, tapi kan ini yang buat aku. Terus kenapa tadi bilangnya peluang emas kita?" tanya Bayu yang sontak saja dihadiahi cengiran dari Yudha. Lagi.
"Kan aku sebagai manajernya. Ya dapat lah meski cuma dua puluh persen. Ya enggak?" Yudha mengedip-ngedipkan sebelah matanya.
"Dasar. Otaknya lancar banget kalau buat bisnis!" Memang, Yudha itu pandai sekali mencari peluang untuk menghasilkan uang.
"Lah, harus dong! Otak anak IPS gitu!" jawab Yudha sambil membusungkan dadanya dan menepuk-nepuk nya sombong.
"Jadi nyesek gini udah muji-muji tadi."
"Asem! Pakai acara nyesel segala! Eh, tapi nih ya Bay. Dari dulu kita sebangku pas kelas sepuluh aku terus aja kepikiran."
"Kepikiran apaan?"
"Kepikiran kenapa kamu enggak ambil jurusan bahasa aja? Padahal bakat sama minat kamu ke situ."
Jawabannya cukup sederhana sebenarnya. Orang tuanya. Ya, karena yang banyak menentukan pilihan di hidup Bayu adalah orang taunya. Sebenarnya orang tuanya juga bukan tipe pemaksa. Tapi sayangnya mudah dipengaruhi. Dikasih tahu apa pun oleh sanak saudara yang lain langsung percaya. Padahal dulu orang tuanya setuju saja kalau dia akan masuk bahasa. Dan seketika budhenya datang melenyapkan keinginan Bayu. Dengan berdasarkan agar sama dengan anaknya yang menurutnya sudah sukses. Dan Bayu harus mencontoh semua termasuk jejak pendidikannya.
"Woy! Malah ngelamun!"
"Heh? Enggak lah! Ngapain juga ngelamun," kilah Bayu.
"Terus tadi jawabannya apa?" Rupanya Yudha masih mengharapkan jawaban dari pertanyaannya.
"Ya enggak papa. Aku pikir dulu IPS seru juga." Bohong. Padahal Bayu sangat tidak suka dengan hapalan tentang sejarah, menghitung nominal, juga lain lagi yang berkaitan dengan jurusan IPS.
"Ooh." Yudha manggut-manggut paham.
Setelah agak lama menunggu parkiran sepi, mereka pun memutuskan untuk pulang. Menaiki motor masing-masing menuju rumah mereka yang sangat berbeda arah. Ketika Yudha belok kanan menuju utara, laku Bayu belok ke kiri menuju ke selatan.
"Assalamualaikum!" ucap Bayu saat sudah sampai di rumahnya.
"Wa'alaikumsalam!" Ibunya kemudian keluar dari arah dapur samping rumahnya. Ketika pintu dibuka, langsung menguar aroma tahu yang menggugah selera. Memang, keluarga Bayu adalah produsen tahu sejak kakeknya dulu. Bisa dibilang usaha turun temurun. Melihat ibunya datang membuat Bayu langsung menyalimi ibunya.
"Sudah pulang Bay?"
"Iya Bu."
"Ya sudah, langsung ke kamar ganti baju."
"Iya Bu." Sebelum masuk ke rumah dia sempat melihat ibunya menghidupkan motor tua milik ayahnya. "Mau ke mana Bu?"
"Beli garam!"
"Hati-hati!"
"Iya Bay!"
Sampai di kamar Bayu menuruti perintah ibunya untuk segera mengganti baju. Kemudian mengistirahatkan diri dengan rebahan sebentar di atas kasurnya. Tangannya meraba tas punggungnya dan mengambil benda pipih kesayangannya, apa lagi kalau bukan ponsel?"
Tangannya dengan lihai menggulir layar yang menampilkan banyak foto di Instagram nya. Sosial media yang baru diluncurkan dan langsung booming. Mulai dari postingan teman-temannya, iklan-iklan, juga seputar berita-berita terkini yang terjadi. Tak sengaja matanya melihat salah satu postingan dari sebuah akun informasi lomba yang diikutinya. Tertera terdapat sebuah lomba menulis novel dengan hadiah yang lumayan besar. Ditambahkannya postingan itu dalam daftar tersimpan untuk ia lihat-lihat lagi nanti. Mungkin dia akan mengikutinya ketika liburan kenaikan kelas sebentar lagi.
Bicara soal sekolah, Bayu teringat dengan tawaran Yudha. Jadi dia langsung menulis beberapa puisi dan cerita yang nantinya akan ia jual. Memang Bayu mengerikannya di ponsel, maklum dia belum punya laptop. Jadi masih menggunakan ponselnya. Meski begitu tidak mengurangi semangatnya untuk menulis. Malah menurutnya lebih enek menulis dengan ponsel, bisa ia bawa ke mana saja, bisa ia gunakan untuk posisi apa saja. Contohnya saja sekarang ia bisa mengetik meski tengah rebahan.
"Bay!" Suara ibunya yang memanggil dari arah dapur membuat dia menghentikan aktivitasnya. Sambil masih membawa ponsel ia pergi ke dapur samping.
"Ada apa Bu?"
"Kamu tolong bantuin bapak buat nganter pesanannya ya! Biar lebih cepat," ujar ibunya.
"Oh iya Bu." Masih berdiri di tempat, Bayu memilih untuk menyimpan dokumennya terlebih dahulu. Tanpa sadar dia tengah ditatap seseorang.
"Anak jaman sekarang kalau disuruh bukannya langsung berangkat malah sibuk sendiri. Main hp terus kerjaannya." Bayu pun mendongak mencari sumber suara.
Benar saja, itu budhenya yang suka sekali ikut campur urusan seseorang. Kalau bisa, ingin sekali Bayu menyerahkan ponselnya dan memperlihatkan tepat di depan matanya tentang apa yang sedang ia kerjakan. Tapi jelas saja ia urungkan niat itu. Dia masih menjaga kesopanannya. Bagaimanapun juga wanita itu adalah budhenya sendiri.
Tanpa berniat membalasnya, Bayu pun beranjak dari tempatnya dan meletakkan ponselnya di kamar. Kemudian pergi ke depan rumah untuk memanaskan mesin motornya sebelum ia pakai mengantar tahu nanti.
*****
"Pengumuman-pengumuman! Kini telah dibuka jasa pemesanan karya bahasa Indonesia oleh Bayu Aji! Kalian mau pesan puisi? Pantun? Cerpen? Apapun bisa dan akan dikerjakan langsung oleh tengah berbakat milik Bayu! Ayo silakan yang minat bisa langsung pergi ke bangku kita atau chat aku! Yuhuu! Silakan pesan! Silakan pesan!" Dengan menggunakan buku yang dibentuk menyerupai toa, Yudha berdiri dari bangkunya dan berkoar-koar tentang usaha barunya dengan Bayu.
Meski di dunia nyata sedikit yang memberi perhatian, kebanyakan temannya sibuk dengan urusan lain juga memainkan ponsel mereka, tak disangka banyak chat yang masuk di nomor Yudha. Dia pun mendongak, melirik teman-temannya yang ternyata memilih menghubunginya melalui dunia maya. Mungkin alasan mereka sama, takut jika gebetannya tahu kalau mereka romantisnya hanya sekedar dari pemesanan jasa pembuatan puisi.
Dan tak Bayu sangka, rupanya projek iseng-isengnya dengan Yudha terdengar sampai di luar kelas. Bahkan ada juga adik kelasnya yang menemuinya untuk dibuatkan sebuah karya. Seperti saat ini ketika dia dan Yudha makan siang di kantin tiba-tiba ada segerombolan adik kelas perempuan yang menghampiri mereka. Kalau dihitung-hitung ada sekitar anak enam.
"Permisi Kak, ini sama kak Bayu ya?" tanya salah seorang diantara mereka yang mengenakan kacamata.
"Iya. Ada apa ya dek?"
"Gini, aku denger kalau kak Bayu buka jasa pembuatan karya-karya buat bahasa Indonesia. Nah aku mau pesan juga kak." Ucapan gadis itu membuat Bayu dan Yudha hampir tersedak bakso yang mereka makan. Kalau sampai terjadi bisa punya dua jakun mereka.
"Kamu tahu dari mana?" tanya Yudha.
"Dari kakak kelas, gimana kak? Enggak bisa ya?"
"Bisa kok, bisa. Mau pesan apa?" ujar Bayu agar tidak mematahkan harapan adik kelasnya itu. Meski pesanan yang belum dia kerjakan banyak menumpuk, mungkin menambah satu pesanan lagi masih tidak apa.
"Cerpen kak, tentang seputar dunia persekolahan."
"Ohh gitu, bisa deh."
"Kalau gitu aku juga kak!"
"Aku juga!"
"Aku juga mau pesan!"
Dan tak dia sangka lagi kalau keenam-enamnya memesan hal yang sama. Kepala Bayu tiba-tiba pening memikirkan betapa banyaknya pesanan yang belum terselesaikan. Rasanya ingin pingsan saja. Dan dengan kurang ajarnya Yudha mengiyakan saja permintaan adik kelas itu. Membuat mereka bersorak senang dan pamit meninggalkan Bayu dan Yudha yang hanya bisa Bayu balas dengan senyum paksa.
"Laris manis! Laris manis!" ujar Yudha enteng sekali tanpa memperdulikan temannya yang hampir stres tertekan.
"Laris-laris gundhulmu!"
*****
Di malam yang hangat, tampak keharmonisan sebuah keluarga kecil yang duduk menonton TV bersama gorengan yang menjadi teman mereka. Kemudian si anak tampak akan berkata serius kepada orang tuanya. Dengan mengabaikan TV di depannya, dia memilih untuk meminta perhatian orang tuanya.
"Ada apa Bay?" tanya ayahnya sambil melirihkan volume TV nya.
Bayu pun kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya. Sebuah amplop berwarna coklat tua dan tampak menggembung itu Bayu serahkan ke orang tuanya.
"Pak, Bu. Ini ada rezeki dari Bayu buat ibu dan bapak. Mungkin tidak seberapa, tapi Bayu harap bisa membantu usaha bapak dan ibu. Dan maaf juga, selama ini baru ini yang bisa Bayu lakukan untuk kalian."
Ayah pun segera membuka amplopnya, ibu juga ikut mengintip apa yang ada di dalamnya. Betapa terkejutnya mereka mendapati banyak lembar uang seratus ribuan di dalam amplop itu. Ayah langsung menutupnya dan menatap Bayu tak percaya.
"Kamu dapat dari mana semua ini?!" Tentu saja ayah terkejut, padahal anaknya masih duduk di kelas dua belas dan tampak tak bekerja di manapun. Jadi tidak mungkin itu aneh gajinya. Dan kalau itu uang Bayu yang dikumpulkan juga tidak mungkin karena memang uang sakunya tak seberapa. Kalau begini apakah sudah pantas untuk curiga dan berprasangka yang tidak-tidak?
"Ba-bayu enggak nyuri kok Yah! Bu! Beneran! Itu uang halal yang Bayu dapatkan dengan jerih payah Bayu sendiri!" Ditatap penuh curiga dari orang tuanya jelas membuat Bayu langsung tergagap.
"Jerih payah dari apa Nak?" tanya ibu dengan nada lembut. Mungkin sudah mulai percaya.
"Ayah dan ibu ingat kenapa Bayu selalu bermain ponsel?" Kedua orang tuanya mengangguk. "Percayalah Yah, Bu. Bayu yang seperti itu tidak serta merta hanya bermain saja seperti yang budhe katakan. Bayu selalu mengikuti banyak lomba kepenulisan di internet. Dan Alhamdulillah kali ini Bayu bisa menang."
Ayah dan ibu yang mendengar penuturan dari Bayu langsung memeluk anaknya haru. Tak mereka sangka kalau telah salah paham dengan anak mereka. Mereka paham jika sekarang memang berbeda zaman dengan mereka dulu. Bekerja tidak harus mengeluarkan keringat deras dengan mengangkat kayu, mencangkul di sawah, juga lain lagi. Diam di kamar bukan berarti tak produktif, di zaman digital seperti ini sudah banyak hal di internet yang menghasilkan pundi-pundi rupiah. Mereka menyesal karena sudah sering memarahi Bayu tanpa alasan. Hanya berdasarkan pandangan mereka tanpa bertanya terlebih dahulu.
"Ya Allah Nak! Maafin ayah dan ibumu ini ya? Maaf karena enggak ngertiin kamu. Maaf ya!" ucap ayah tulus dan merasa sedikit bersalah karena tadi sempat berpikir yang tidak-tidak.
"Iya Yah, Bu. Bayu maklum kok." Ketiganya pun mengurai pelukan.
"Oh ya, sama Bayu mau ngomong satu hal lagi."
"Apa Bay?"
"Bayu setelah lulus SMA ini mau kuliah." Kamu diam Bayu melihat kedua orang tuanya yang akan memberi respon terkejutnya. "Tenang Yah, Bu! Bayu bakal cari biaya sendiri buat kuliah. Bayu mau ambil beasiswa dan mungkin kerja paruh waktu. Bayu cuma mau minta restu buat Bayu kuliah di jurusan yang Bayu suka."
Mendengar itu membuat ayah dan ibu bernapas lega. Sebenarnya bukannya mereka tak mau melanjutkan pendidikan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Namun kondisi mereka yang serba pas-pasan membuat mereka mengurungkan niat itu. Cukup meluluskan Bayu sampai dapat ijazah SMA dan bisa mencari pekerjaan yang lebih baik.
"Kamu mau ambil jurusan apa memang?" tanya ibu.
"Pengennya sih sastra Bu. Mau terus mengasah kemampuan Bayu."
"Ya kalau ayah sama ibu sih terserah kamu saja, yang penting kamunya sanggup buat ngejalaninnya," ujar sang ayah sambil mengusap bahu anaknya pelan dan kembali memfokuskan mata melihat berita olahraga yang tadi sempat tertunda.
"Terima kasih ya Yah, Bu!" seru Bayu dengan senangnya.
"Iya." Ayah dan ibu berujar bersamaan.
Senyum terus terpatri di wajah Bayu dari awal ia menonton TV hingga masuk lagi ke kamarnya untuk tidur. Tidak berhenti-hentinya membayangkan bagaimana nanti masa kuliahnya. Maklum lah jika anak SMA yang memiliki angan indah dan imajinasi tak terbatas tentang dunia perkuliahan. Tidak tahu saja betapa beratnya tugas yang diemban ketika mereka sudah menjadi mahasiswa.
*****
Hari kelulusan sudah tiba. Meski tidak mendapat nilai ujian nasional yang sangat bagus, tapi Bayu bangga dengan raihan nilai bahasanya yang mencapai sembilan. Berbeda dengan nya pelajaran lain yang hanya tujuh. Dengan senyuman lebar dia meminta seorang temannya untuk memotret dirinya bersama ayah dan ibu yang kompak memakai batik cokelat yang cantik.
Cekrek!
Sebuah potret indah dari momen yang tak terlupakan oleh Bayu. Setelah banyak berfoto dengan temannya juga, akhirnya dia bersama kedua orang tuanya pulang mengendarai mobil milik budhenya. Memang, budhenya ini memiliki hidup yang lumayan jauh lebih enak dibanding ibunya. Katanya berkat anak kesayangan yang selalu dibangga-banggakan. Yang selalu dibandingkan dengan Bayu itu, dan menyuruh Bayu untuk membaut anaknya sebagai role model dalam hidupnya.
Tentu saja karena mobil pinjam di budhenya maka mereka akan pulang dulu di rumah budhenya. Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya sendiri, hanya berjarak beberapa meter saja. Maka dari itu sering sekali budhenya datang ke rumahnya. Sesampainya di rumah budhenya, ternyata tidak langsung pulang. Rupanya ada syukuran kecil-kecilan yang orang tuanya buat untuk merayakan kelulusannya. Dan itu di rumah budhenya. Dalam hati Bayu terus saja menjerit bertanya tidak terima.
Kenapa harus di rumah budhenya?!!!
Sebenarnya bukan karena tidak suka dengan budhenya atau pun membencinya. Melainkan hanya sedikit kesal saja karena senang sekali mencampuri hidupnya..
Acara dimulai dengan mengumpulkan sanak saudara juga tetangga kiri kanan saja. Setelah semua berkumpul maka acara pun dimulai. Diawali dengan doa bersama dan bacaan lain sebagai bentuk syukur dan harapan agar ilmu yang selama ini ditimba bisa bermanfaat baik bagi Bayu sendiri maupun untuk orang lain. Setelah itu barulah acara makan-makan dimulai.
Bayu kemudian melihat gerak-gerik budhenya yang semula duduk di samping lemari tiba-tiba berdiri menghampiri ibunya juga dirinya. Sambil masih memegang piring yang berisi makanan.
"Ayamnya gimana tadi Las? Aku tadi buatnya agak buru-buru jadi takutnya belum ngeresep bener bumbunya," ujar si budhe yang Bayu tebak hanya untuk basa-basi.
"Enak kok Mbak, bumbunya pas. Makasih loh udah mau bantu-bantu masaknya tadi."
"Iya, kaya ngomong sama siapa aja kamu tuh," ucapnya sambil diakhiri dengan tawa.
"Oh ya, aku dengar-dengar si Bayu mau kuliah ya? Ya enggak Bay?" Nah, benar kan. Ujung-ujungnya juga Bayu yang menjadi sasarannya.
"Insya Allah iya budhe. Tolong doanya saja budhe," jawab Bayu masih sopan.
"Aminn. Semoga diterima. Ngomong-ngomong ambil jurusan apa Bay?"
"Mau ambil sastra Dhe," ucapnya.
"Loh? Kenapa enggak ambil ekonomi aja kaya Mas kamu itu?"
"Biarin lah Mbak. Toh dia yang akan menjalaninya," tak disangka bahwa ibunya akan membelanya. Padahal biasanya hanya diam saja.
"Loh, gini lho As. Kuliah itu kan selain nyari ilmu tujuan lainnya juga biar dapet kerjaan bagus. Kalau ambil sastra mau jadi apa dia? Mending ambil ekonomi kaya anakku. Sejalur juga sama jurusannya di SMA, pasti lebih gampang kuliahnya. Lagian kalau lulus juga kerjanya bagus. Bisa jadi pegawai bank kaya anakku. Bisa sukses lagi."
Bayu hanya diam. Tak berniat membalasnya. Nanti hanya akan ada perdebatan yang tak ada ujungnya. Kemudian dia melihat wajah ibunya yang seperti tengah berpikir. Sepertinya keyakinan ibunya untuk merestuinya di jurusan sastra agak tergoyahkan dengan bujuk rayu kakaknya. Membuat bayu ketar-ketir sendiri.
"Kok budhemu itu ada benarnya juga ya? Apa enggak enak ambil ekonomi aja kaya Mas mu? Nanti bisa kan jadi pegawai bank juga?"
"Tapi Bu-,"
"Masa sama ibunya sendiri mau membantah?"
Huh! Rasanya Bayu ingin berteriak saat itu juga. Tapi apa daya. Lagi-lagi dia harus menuruti keinginan orang tuanya akibat hasutan dari budenya dan menekan kuat-kuat keinginannya. Sepertinya sulit sekali untuk Bayu bisa memenuhi keinginannya. Sudahlah, dia hanya harus mencoba setegas mungkin untuk terus menjalani hidupnya.
*****
Menjalani masa-masa kuliah di jurusan yang tak diminatinya bukan berarti bahwa itu akan mematikan hobinya. Di tengah-tengah sibuknya belajar dan bekerja paruh waktu, buktinya dia bisa menulis sebuah cerita. Bahkan ketika dia menjalani sebuah tugas KKN bersama kelompok dengan orang-orang baru juga watak-watak baru membuat ide menulis Bayu lancar bagai air mengalir.
Diam-diam tiap kejadian dia tulis dalam buku kecilnya yang akan ia jadikan outline ceritanya barunya. Setiap kejadian seperti memiliki daya tarik sendiri untuk dituangkan dalam sebuah karya sastra, membuat keyakinan Bayu bahwa kali ini ceritanya bisa disambut hangat penerbit semakin tinggi.
Benar saja, ketika ia mulai menulis semua ceritanya secara lengkap dan ia kirim ke penerbit mayor, tidak lama kemudian dia mendapat email balasan yang mengatakan bahwa karyanya diterima. Bahagia sudah tentu saja ia dapatkan. Hingga hari setelah ia wisuda bukunya sudah naik cetak. Dan tak ia sangka pula bahwa buku pertamanya ini disambut hangat oleh pecinta novel hingga menjadikan bukunya masuk dalam jajaran best seller di toko-toko buku besar.
Tak berhenti sampai di situ, sekarang sudah banyak penawaran dari penerbit untuk bekerja sama. Tentu saja akan Bayu terima dengan senang hati. Terlalu sibuknya ia dengan dunia kepenulisan membuatnya lupa dan tak sempat melamar pekerjaan. Tapi biarpun begitu, bisa dibilang pendapatannya sudah stabil. Bahkan ia sudah bisa merenovasi rumah orang tuanya juga memperbesar usaha pabrik tahu milik ayahnya. Jika pun untuk bekerja, ia akan memilih untuk menjadi usahawan daripada bekerja di bank seperti yang digembor-gemborkan oleh buruhnya.
Oh ya, bicara soal budhenya. Kini budhenya itu tak lagi sama dengan dulu. Ketika ia memasuki tahun kedua kuliah dia mendapati mobil budhenya yang tiba-tiba dijual. Setelah bertanya ke ibunya barulah dia tahu bahwa anak yang selalu dibanggakannya itu rupanya tidak bekerja di bank. Ternyata yang dilakukan anaknya di Jakarta hanyalah berjudi. Dan semua harta, kiriman uang untuk budhenya itu juga hasil dari kegiatan haram itu. Baru setelah kalah semua barang-barang mewah di rumah budhenya dijual untuk menutupi utang-utang anaknya. Dan yang Bayu tahu, sekarang anak budhenya itu tengah dirawat di RSJ kota Surabaya. Jadilah semua utang yang menanggung budhenya.
"Bay, budhe mah ngomong." Malam-malam si budhe tiba-tiba datang ke rumah Bayu dan mengajaknya bicara di teras rumah.
"Haduh, budhe sebenarnya malu pengen ngomong ini. Tapi budhe juga harus ngomong. Kalau enggak gitu rumah budhe yang jadi taruhannya," ujar si budhe yang kemudian menangis.
Dari sini Bayu paham apa yang dibutuhkan budhenya. "Budhe mau pinjam uang sama kamu. Terserah kamu mau pinjami berapa, budhe akan terima."
"Sebenarnya utangnya Mas Fian kurang berapa sih budhe?" tanya Bayu yang merasa kasihan sendiri dengan budhenya.
"Kurang tujuh puluh juta Bay, budhe bingung lagi mau cari ke mana. Mobil, emas, semua yang budhe punya udah budhe jual. Tapi kok ya masih tetep aj kurang? Hiks!"
Mendengar itu membuat hati Bayu menjadi miris. Bagaimanapun wanita di depannya ini budhenya. Meski suka sekali membuatnya kesal, tidak dapat menghapus kebenaran kalau dia masih terikat darah dengan budhenya. Kini Bayu sudah murni memaaafkan apa yang diperbuat budhenya dulu. Dengan tulus dia membantu budhenya melunasi semua uangnya dengan uang hasil kerja kerasnya yang dulu sempat direndahkan oleh budhenya.
Sebenarnya malu juga mengingat betapa buruknya dia selalu mancampuri urusan Bayu, selalu membandingkan dengan anaknya, juga suka meremehkan cita-cita Bayu yang ingin menjadi penulis. Tapi sekarang dia malah dibantu oleh keponakannya dengan uang hasil kerja keras yang dulu pernah ia rendahkan. Dalam tangis dia berterima kasih dan meminta maaf atas semua salahnya pada Bayu.
Semua ini memang sudah jalannya dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Meski berulang kali dihadapkan rintangan untuk meraih cita-citanya, tapi berkat usaha dan kerja kerasnya akhirnya dia bisa meraih cita-cita itu. Tidak mudah memang, tapi itu semua bisa ia jadikan cerita sendiri untuk ia dongengkan pada anak cucunya kelak. Bagaimana perjalanannya hingga menggapai kesuksesannya saat ini.