
Cratt!!!
Tes!
Tes!
Tes!
Darah segar bercucuran deras dari lehernya. Membasahi lantai berkeramik putih yang sudah sedikit berkerak itu. Matanya tertutup, tubuhnya terkapar lemas. Namun tak sedikitpun mempengaruhi hati si penjagal dengan tangan dinginnya yang memegang pisau tajam. Hatinya puas setelah berhasil membuat korbannya mati tak berdaya.
"Pal! Cepet itu ayamnya langsung dimasukin bak!"
"Iya Buk!" Nopal pun membawa ayam yang berhasil ia sembelih dan dimasukkan dalam bak yang sudah berisi air panas. Bertujuan agar bulu-bulu pada tubuh ayam akan cepat tercabut.
Menjadi seorang anak dari pengusaha jagal ayam membuat Nopal tidak asing lagi dengan urusan penyembelihan seperti ini. Awalnya dia merasa takut dan jijik, tapi lama kelamaan dia terbiasa. Dan mulai dari itu dia sudah terbiasa membantu orang tuanya. Mulai dari penyembelihan, pencabutan bulu ayam, sampai pemotongan dagingnya pun Nopal sudah ahli.
Kemudian dia membantu ibunya juga pegawai lain untuk mencabuti ayam-ayam yang sudah terendam air panas. Sambil bekerja, Nopal berencana akan memberitahu ibunya sesuatu.
"Buk!" Panggilnya.
"Kenapa Pal?
"Kalau habis ini Nopal kuliah gimana? Boleh gak?" tanyanya hati-hati.
"Buat apa sih kuliah? Biaya kuliah kan mahal, kala jadi sarjana juga belum tentu dapat pekerjaan yang layak. Banyak kok lulusan sarjana yang cuma jadi tukang cilok, malah yang nganggur juga banyak." Bukan ibunya yang menjawab, melainkan pegawai ibunya yang tetangganya sendiri juga.
Nopal menghela nafas lelah. Begini nih pemikiran yang harus diluruskan. Stigma negatif seperti itu sepertinya sudah tumbuh subur. Apalagi di kampung-kampung kecil seperti daerah tempat tinggalnya. Selain itu, di kampungnya memang tidak ada yang berkuliah. Rata-rata setelah lulus SMA akan langsung menikah kalau tidak begitu bekerja membantu usaha orang tuanya. Sisanya memilih merantau ke kota-kota besar seperti Surabaya dan Jakarta.
"Kuliah kan enggak semata-mata cuma buat mencari pekerjaan Budhe. Nopal niatnya mau mencari ilmu setinggi mungkin. Dan masalah sarjana yang pengangguran, banyak juga kok sarjana yang sukses. Asal yakin, terus berusaha dan berdoa aja," jawab Nopal mematahkan pendapat budhenya itu.
"Kamu yakin Pal? Adik-adikmu itu juga masih sekolah, masih butuh biaya banyak juga."
"Buk, sekarang itu sudah enggak perlu mikirin biaya mahal. Banyak kok beasiswa yang ditawarkan. Insya Allah Nopal akan usaha sebaik mungkin supaya dapat beasiswa itu. Di sini Nopal cuma minta restu bapak sama ibu."
Ibu Nopal tampak berpikir sebentar sembari terus mencabuti bulu ayam. Setelah menimbang-nimbang agak lama, barulah dia mengangguk. Melihat itu Nopal langsung tersenyum senang. Secercah harapan sudah ia dapatkan.
"Ya sudah, kalau begitu ibu setuju. Tapi enggak tahu lagi kalau bapak kamu."
"Nanti Nopal coba ngomong sama bapak. Dan kalau bapak enggak setuju, ibuk bantu bujukin bapak ya? Ya buk ya? Ya? Ya?"
"Iya."
Setelah beberapa hari membujuk ayahnya agar setuju, juga mengompori ibunya agar turut serta membantu, akhirnya Nopal mendapat restu untuk berkuliah. Bahagianya tak terbendung lagi. Dan dia bertekad untuk bersungguh-sungguh agar dapat membanggakan kedua orang tuanya. Kurang beberapa bulan lagi dibuka tes masuk perguruan tinggi negeri. Jadi Nopal mempersiapkan dirinya sebaik mungkin. Terus belajar, mengikuti banyak tryout untuk mengasah kemampuannya, dan tak lupa juga berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa agar memudahkan jalannya.
Dia memilih mendaftar di salah satu universitas di Kota Malang. Selain karena dekat dengan tempatnya, Kediri, Malang juga terkenal dengan kota pendidikan yang tak kalah dari Yogyakarta. Jadi dia yakin dengan kualitas pendidikannya. Dan Nopal sangat berharap semoga diterima di universitas yang dia tuju.
Sampai tiba saatnya Nopal mengikuti tes seleksi bersama. Semua hal yang dia pelajari akan diuji dengan sebenarnya. Meski merasa ada beberapa soal yang tidak bisa dia kerjakan, tapi dia yakin akan mendapat hasil yang memuaskan. Benar saja, keyakinannya itu memang menjadi kenyataan. Nilai tesnya bagus dan dia diterima di universitas tujuannya. Dengan bangga dia tunjukkan email dari universitas yang menyatakan dia diterima sebagai mahasiswa ke orang tuanya.
"Alhamdulillah! Ibuk ikut senang," komentar ibunya.
"Bagus! Nanti kuliah yang bener! Jangan malu-maluin almamater! Buat bapak sama ibumu ini bangga!" Tidak lupa bapak memberikan petuah untuk Nopal ke depannya.
"Pasti. Nopal akan membanggakan bapak dan ibu."
Tak lama di tengah hangatnya percakapan keluarga kecil ini, terdengar suara seseorang yang mengetuk pintu sambil mengucap salam. Dari suaranya saja keluarga Nopal sudah tahu siapa itu.
"Sana gih buka pintunya! Bapak sama ibu mau ke kandang." Bapak dan ibu langsung beranjak meninggalkan ruang tamu.
Cklek
Pintu rumah terbuka. Menampilkan seorang gadis dengan rambut hitam bergelombang yang tergerai indah. Gigi kelinci juga lesung pipi langsung terlihat indah kala gadis itu tersenyum.
"Masuk Sih!" Nopal mempersilakan tamunya yang tak lain adalah temannya sendiri.
"Enggak usah Pal. Di teras aja," tolak gadis yang diketahui bernama Ningsih itu. Teman Nopal yang diam-diam menyimpan rasa suka padanya.
Setelah duduk lesehan di teras rumah, Nopal langsung menanyakan maksud dan tujuang Ningsih ke rumahnya. Karena tak biasanya Ningsih ke rumahnya tanpa membawa buku untuk menanyakan soal.
"Ada apa Sih?"
"Cuma mau ngucapin selamat aja. Selamat ya udah diterima di universitas pilihan kamu!" Ningsih menjabat tangan Nopal.
"Iya, makasih atas ucapannya."
"Oh ya Pal, kamu berangkatnya kapan?" tanyanya.
"Bulan depan Sih. Langsung daftar ulang."
"Waah! Habis ini jadi orang kota nih?"
"Halah, bisa aja kamu Sih."
"Beneran loh. Nanti kamu jangan lupa kampung sendiri. Nanti ketemu orang kampung sini di sana langsung putar arah lagi," kelakar Ningsih dan ditanggapi tawa oleh Nopal.
"Ya enggaklah! Ngapain juga aku putar arah. Yang ada malah aku samperin orangnya."
"Percaya deh. Dan satu lagi, kalau pun di sana kamu banyak ketemu cewek cantik, jangan lupa kalau aku ini temen kamu! Entar kamu pas pulang kampung lupa lagi sama aku gara-gara sering liat yang bening-l Nopal melupakannya dan berpaling ke gadis cantik kota Malang sana.
"Enggak bakalan aku lupa sama kamu. Orang temenan dari TK juga, masa bisa lupa?"
Kuharap begitu. Batin Ningsih.
"Iya kan takutnya gitu."
"Enggak lah. Oh ya, kamu rencananya mau gimana habis ini?"
Ningsih mengendikkan bahunya. Memang dia tidak tahu apa yang akan ia lakukan saat ini. Mau lanjut kuliah dia takut tidak mampu juga orang tuanya yang tidak merestui. Mau bekerja juga masih bingung bekerja di mana. Dia tidak diperbolehkan mengikuti jejak ibunya yang menjadi TKI di Hongkong sana. Jadi sementara ini dia masih menganggur.
"Enggak tahu juga Pal. Mungkin bulan depan mau cari lowongan kerja."
"Semoga beruntung kalau begitu." Dan Ningsih mengaminkan doa dari Nopal.
"Pokoknya kamu jangan nikah dulu Sih!"
"He?" Ningsih terkejut. Jantungnya nya tiba-tiba berdetak tak beratur, seperti mau lompat dari tempatnya saja. Dalam hati dia sudah berharap kalau Nopal akan mengutarakan perasaannya dan meminta ia untuk menunggu. Mirip adegan romantis di FTV yang sering ia tonton.
"Kenapa memangnya?"
"Ya jangan dulu! Aku masih belum bisa nyari duit sendiri buat ngasih amplop pas ke kondangan kamu, hehehe."
Jleb.
Kelakar dari Nopal terdengar tidak begitu menyenangkan di telinga Ningsih. Harapannya yang membumbung tinggi sampai langit langsung jatuh sampai ke dasar palung lautan. Salah dia berharap terlalu lebih pada Nopal yang notabenenya tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman.
"Hey! Sih?"
"Eh iya?"
"Kenapa melamun?"
"Enggak kok! Enggak ada apa-apa." Kemudian Ningsih berbalik dan mengambil toples yang dia bawa tadi.
"Ini, aku sama mau ngasih nastar. Favorit kamu kan?"
"Waah!! Makasih loh repot-repot gini."
"Gak repot kok," ujar Ningsih sambil memaksakan senyumnya meski hatinya masih sedikit perih.
"Ngomong-ngomong, ini kamu yang buat sendiri?"
Ningsih menggeleng. "Enggak. Tadi dibantu sama ibu juga."
"Alhamdulillah!" ujar Nopal kemudian.
"Kenapa?"
"Berarti rasanya pasti enak," canda Nopal yang mendapatkan hadiah pukulan dari Ningsih.
"Asem! Berarti kalau aku yang buat sendiri enggak enak gitu?"
"Aku gak ngomong. Kamu sendiri yang bilang."
"Aish! Nopal mah gitu!" Nopal tertawa puas bisa mengerjai Ningsih. Dan Ningsih merasa sedikit terhibur dari sakit hatinya. Tapi tidak sampai ikut tertawa, kan dia juga kesal dikatai Nopal.
Kemudian Ningsih berdiri, ingin berpamitan ke Nopal. "Ya sudah, kalau gitu aku pulang dulu."
"Perlu dianter gak?"
"Ngapain? Orang terang benderang kaya gini mau dianter."
"Ya sudah, kan cuma menawarkan."
"Enggak. Makasih!"
"Marah nih?"
"Enggak."
"Kok jutek gitu?"
"Biarin."
"Tadi bercanda Sih!"
"Terus?" Ningsih mengerutkan alisnya.
"Ya maaf!"
"Gak aku maafin!" Nopal melotot. Padahal tadi dia cuma bercanda, tidak bermaksud menyinggung perasaan Ningsih.
"Tapi bo'ong! Wlee!" Ningsih menjulurkan lidahnya mengejek Nopal. Lalu segera berlari pulang. "Bye-bye Nopal jelek!" teriaknya ketika sudah agak jauh.
"Dasar. Ningsih-ningsih," gumam Nopal sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
*****
Empat tahun berlalu dan kini Nopal telah sukses menyelesaikan kuliahnya. Membawa orang tuanya ke hari wisuda, melihatnya mengenakan toga, dan tersenyum bangga di atas panggung atas gelar cumlaude yang dia raih, itu semua mimpi Nopal yang akhirnya bisa terealisasikan. Tidak menyangka bahwa dia benar-benar masuk dalam jajaran mahasiswa dengan nilai yang terbaik. Tapi dia percaya, belajarnya dan juga doa orang tuanya merupakan alasan yang tepat untuk kebingungannya.
Setelah berpamitan dan berfoto-foto ria dengan teman-temannya, Nopal dengan keluarganya langsung pulang ke Kediri. Bahagianya itu rupanya bertahan sementara. Dia harus rela mendengarkan permintaan sulit dari orang tuanya.
"Bapak sama ibumu ini sudah tua. Kalau bukan kamu, siapa lagi yang mau ngelanjutin usaha bapak ini kalau bukan kamu? Apa iya yang ngurus adik kamu yang masih SMP itu?" Nopal menggeleng lemah terhadap pertanyaan dari ayahnya.
Padahal keinginannya ingin bekerja pada sebuah perusahaan IT. Tapi ada daya, benar juga yang dikatakan ayahnya. Dia anak pertama, laki-laki pula. Sudah tentu orang tuanya berharap dan mengandalkan dirinya. Mereka juga sudah tua. Meski yang bekerja adalah pegawai-pegawainya, tapi orang tuanya tentulah masih mengatur semuanya. Setidaknya dia ingin membahagiakan orang tuanya dengan meneruskan usaha turun temurun ini. Hitung-hitung ini juga sebagai bentuk terima kasih atas restu yang orang tuanya berikan kala ia ingin berkuliah dulu.
Dan kini saatnya Nopal yang mengambil alih. Membiarkan orang tuanya menikmati masa tua dengan bahagia. Tanpa ada beban pikiran atau pun lainnya. Dia juga berharap agar usahanya ini bisa terus berkembang dibawah pengaturannya. Dengan begitu bukankah orang tuanya bisa tambah bangga dengannya?
"Iya Pak, Bu. Insya Allah Nopal bersedia menggantikan bapak buat nerusin usaha ini."
"Alhamdulillah!" ucap bapak dan ibu secara bersamaan.
Lama tidak pulang kampung membuat Nopal rindu berkeliling kampungnya. Mungkin besok pagi dia akan bersepeda mengitari sekitar kampung. Melihat apakah ada yang berubah apa tidak setelah setahun lalu dia belum pulang.
*****
Sawah hijau membentang luas sejauh mata memandang, udara pagi yang masih segar menerpa wajahnya, burung-burung kecil yang mulai meninggalkan sarang mencoba peraduannya, juga gunung-gunung yang berdiri kokoh menjulang tinggi begitu berwibawa. Itu semua pemandangan alam yang begitu Nopal rindukan di kampungnya.
Sepanjang perjalanan dia tak lupa menyapa orang-orang yang berpapasan dengannya, ada yang akan pergi ke sawah, membuka toko, juga ada yang hanya bersepeda sama seperti dirinya. Mungkin karena terlalu asyik melihat pemandangan di samping kanan dan kirinya membuat dia tak sadar jika di depannya ada seorang perempuan yang akan menyebrang jalan. Dan ketika menghadap ke depan dia terkejut mendapati seseorang di jalannya. Keduanya sama-sama terkejut.
"Awas! Awas!!!" Terlalu pendek jarak mereka untuk saling menjauhkan diri.
Brukk!!
Tabrakan sudah tak bisa terhindarkan lagi. Nopal langsung tersungkur jatuh ke sawah di sebelah kirinya, sedangkan si perempuan tadi terjatuh di pematang sawah.
"Gimana sih?!!! Kalau sepedaan yang hati-hati dong!" protes di perempuan.
"Mbaknya juga salah tadi, nyebrang sembarangan!" Nopal masih belum sepenuhnya sadar siapa yang ia tabrak karena mukanya masih penuh dengan lumpur sawah. Segera dia mencari air di tepian sawah untuk mencuci mukanya.
"Halah! Situ yang salah kok nyalahin orang lain!" Perempuan tadi tak kalah sengit membalasnya.
Kemudian keduanya saling bertatapan. Wajah Nopal meski tidak bersih sempurna tapi sudah bisa dikenali dan sudah bisa juga untuk melihat siapa lawan bicaranya. Setelah sadar siapa lawan bicaranya, mereka berdua langsung saling menunjuk.
"Kamu?!" ucap keduanya bersamaan.
"Nopal kan?" tanya perempuan itu.
Nopal mengangguk. " Ini Ningsih?"
"Iya."
Keduanya pun saling tertawa. Entah menertawai diri masing-masing atau menertawai apa juga hanya mereka yang tahu. Setelah tawa mereda, mereka kemudian berdiri dan membersihkan diri masing-masing. Nopal segera membilas bersih mukanya, dan Ningsih yang membersihkan rok belakangnya yang kotor. Kemudian Nopal beranjak dan naik ke jalanan, tak lupa Ningsih juga turut ia bantu.
Sesampainya di jalan Ningsih segera mengambil kue-kue dagangannya yang sudah jatuh semua dan sudah tak berbentuk lagi. Nopal yang melihat itu merasa sangat bersalah juga kasihan. Pasti Ningsih sedih melihat kue-kuenya kini yang sudah tak layak untuk dimakan.
"Maaf ya Sih!" ucap Nopal tulus.
"Gak apa-apa Pal. Berarti bukan rejekiku."
"Yahh, jangan gitu dong Sih. Biar aku ganti ya kuenya? Berapa harga semuanya?" Nopal yang hendak mengeluarkan dompetnya dari saku langsung diberhentikan oleh Ningsih.
"Udah lah Pal, enggak apa-apa kok.".
"Enggak. Tetep aja aku udah bikin kamu rugi. Jadi sekarang udah kewajibanku buat ganti rugi."
"Ohh, jadi kamu mau ganti rugi?"
"Ya iyalah Sih!"
"Kalau gitu ganti ruginya pakai tenaga aja," lanjut Ningsih yang malah membuat Nopal kebingungan.
"Maksudnya?"
"Maksudnya itu kamu ganti ruginya pakai tenaga. Yaitu kamu bantu aku buat kue-kuenya lagi. Gimana?"
"Yakin cuma itu?"
"Jadi pembantu di rumahku mau?" tawar Ningsih yang gemas sendiri dengan Nopal.
"Idih. Ogah!"
"Nah itu. Sok-sokan minta lebih," cibir Ningsih.
"Iya-iya."
"Oke deh."
Mereka berdua pun memutar arah untuk kembali ke rumah Ningsih. Sambil berboncengan, mereka berdua asyik mengobrolkan sesuatu. Maklum, mereka sudah lama tidak bertemu. Jadi bayangkan betapa rindunya Ningsih dengan Nopal.
"Kamu kapan wisudanya Pal?"
"Kemarin."
"Terus pulang ke rumahnya?"
"Kemarin juga."
"Ooh gitu." Ningsih menganggukkan kepalanya.
"Kalau kamu sekarang udah kerja di mana Sih?"
"Di rumah aja. Cuma buat kue-kue terus nanti aku jual deh ke warung-warung."
"Omsetnya?"
"Lumayan lah kalau cuma buat kebutuhanku sama bapak."
"Loh, ibu kamu?"
"Udah meninggal."
"Hah? Kapan?! Kok aku gak tahu?!" Jelas saja Nopal kaget, padahal satu tahun lalu ketika di pulang kampung masih melihat ibunya Ningsih. Sehat-sehat saja menurutnya.
"Udah beberapa bulan lalu. Kemarin baru aja peringat empat puluh harinya ibu."
"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un. Maaf ya kalau aku enggak datang waktu itu."
"Iya, gak apa-apa kok. Aku tahu kalau kamu super sibuk," ujar Ningsih disertai tawa di belakangnya.
Setelah itu keadaan menjadi hening. Keduanya sibuk menikmati angin pagi yang menyapa. Setelah lama diam, Nopal tiba-tiba ingin menanyakan sesuatu.
"Emm, Sih."
"Apa?"
"Kamu udah nikah?"
"Kalau udah kenapa?" Sepeda yang Nopal kendarai tiba-tiba oleng setelah mendengar jawaban yang merupakan pertanyaan dari Ningsih. Membuat Ningsih di belakang teriak-teriak karena takut jatuh lagi.
"Kamu kenapa sih Pal?!"
"Beneran Sih? Kamu udah nikah?!"
"Yeeuuu! Tadi belum selesai lagi!"
"Lah, terus?"
"Tadi itu aku mau ngomong, kalau sudah kenapa? Kalau belum kenapa?"
"Hadehh! Aku pikir beneran udah tadi."
"Emangnya kenapa? Jangan bilang masih belum ada duit buat ngisi amplop buat aku?" Ningsih tertawa mengingatnya. Tertawa miris lebih tepatnya.
"Yeeee! Enggak lah!"
"Terus kenapa?" Nopal diam. Entahlah kenapa dia tadi sangat ingin menanyakannya.
*****
"Huaaa! Pal!!! Aku mau dijodohin!" Nopal langsung menjauhkan ponsel dari telinganya. Teriakan tanpa aba-aba dari Puput membuatnya telinganya sukses mendengung.
"Etdah! Enggak usah teriak-teriak kenapa?"
"Enggak bisa Pal! Udah emosi ini!"
"Lagian kenapa sih? Tiba-tiba nelpon katanya mau curhat malah teriak-teriak gak jelas!"
"Iya. Ini aku enggak teriak-teriak lagi. Hiks!"
"Loh, Put? Kamu nangis?"
"Enggak! Lagi ketawa! Udah tahu nangis masih aja nanya," ucap Puput dengan sebal di seberang sana.
"Iya-iya. Lagian kenapa nangis sih? Emang calon lakinya jelek? Enggak kaya? Pengangguran?"
"Aishhh! Ya enggak lah! Tega bener orang tuaku kalau jodohin anaknya sama orang kaya gitu."
"Terus? Calonku itu kaya gimana?"
"Dia tinggi, ganteng, mukanya kaya Alif gitu masih ada keturunan Arabnya, terus dia juga seorang ustadz," lirih Puput.
"Lah, bagus dong! Dapet ustadz malah. Tiap hari bisa minta diruqyah tuh."
"Asem! Dikira aku kerasukan jin apa?"
"Lha setiap hari tingkahnya sebelas dua belas kaya setan gitu apa dong kalau bukan kerasukan?"
"Hihhh! Awas ya Pal! Kalau ketemu besok aku jitak tuh dahi lebar kamu!"
"Uuhhh takutnya!"
"Udah deh Pal! Serius ini!"
"Oke-oke, sekarang serius." Nada bicara Nopal kembali ke mode serius setelah tadi banyak bercanda.
"Aku keberatan sama perjodohan ini tuh masalahnya gara-gara aku udah punya pacar. Masih seumur jagung pula, dua bulan Pal! Masih dua bulan!"
"Terus sekarang kamu mau gimana? Perjuangin cinta kamu tanpa restu orang tua atau mengikuti saran orang tua yang jelas diridhoi dan direstui?"
"Kamu mah gitu! Sama aja nyuruh aku buat Nerima perjodohannya."
"Hmm, gini ya Put. Emangnya kamu enggak pengen liat orang tua kamu bahagia? Ini orang tua loh, orang yang merawat dan membesarkan kamu dengan penuh cinta, kasih sayang, juga pengorbanan. Yakin mau nyakitin hati mereka?"
"Ya enggak lah Pal. Tapi masalahnya itu, arghss! Au ah! Pusing!"
"Apa sih yang perlu dipusingin? Jelas-jelas jodoh kamu itu berasal dari keluarga yang baik, mapan, dan berakhlak baik juga. Kurangnya apa coba? Kalau menurutku sih lebih baik kamu terima perjodohan ini dan putusin pacar kamu. Kalau masih dua bulan mah kecil, tambah berat kalau sudah bertahun-tahun."
"Hmm, terus aku ngomongnya nanti gimana? Masa, Yang! Aku mau putus. Orang tuaku udah jodohin aku, gitu?"
"Ya terserah kamu sih kalau gitu."
"Yeeee! Minta saran dong! Buat kalimat yang pas gitu."
"Iya-iya, ini masih mikir!"
Dari luar kamar Nopal sudah ada Ningsih yang akan mengetuk pintu. Tapi mendengar Nopal seperti bicara dengan seseorang di telpon membuatnya mengurungkan diri. Tapi ketika dia akan pergi, terdengar jelas kalimat yang dilontarkan Nopal untuk seseorang yang dia telpon. Hati Ningsih tiba-tiba sakit. Hancur tentu saja.
"Sayang, jujur aku sangat mencintaimu. Bahkan aku pikir bahwa kamulah jodoh yang Tuhan berikan padaku. Tapi, ada satu hal yang membuatku ragu kalau kamu jodohku. Maaf, aku harus mengakhiri hubungan kita ini. Aku telah dijodohkan oleh orang tuaku. Dan ini yang membuatku ragu bahwa kamulah jodohku. Jadi, sekali lagi aku minta maaf. Dan terima kasih untuk cinta, kasih sayang, juga waktu yang telah kamu berikan untukku."
Tak tahan lagi, Ningsih langsung pergi dari pintu kamar Nopal. Niat hati ingin mengajaknya jalan-jalan ke pasar sore pupus seketika. Tahu begini dia tidak akan datang ke rumah Nopal. Kini hatinya hancur berkeping-keping. Sekarang ia tahu bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan. Seseorang yang ia yakini juga mencintainya nyatanya memiliki nama lain di hatinya.
"Waah! Gak nyangka kamu bisa romantis kaya gitu!"
"Iya dong! Nopal gitu. Sudah berbakat sejak lahir."
"Hmm, nyesel udah muji tadi."
"Hahaha! Oh ya Put, ngomong-ngomong nasib kita sama."
"Maksudnya?"
"Sama-sama dijodohin. Bedanya aku dijodohin sama orang yang memang aku suka." Memang, setelah beberapa tahun dia menetap kembali di rumahnya. Setiap hari bertemu dan bercengkrama, membuatnya lama-lama menjadi cinta. Cinta pada seseorang yang tak pernah ia duga. Teman lama yang tiba-tiba dijodohkan dengannya satu bulan lalu oleh orang tuanya. Dan dia adalah Ningsih.
"Enak banget. Ya udah deh, kalau gitu aku tutup telponnya. Ada tamu. Thanks buat sarannya."
"Oke!"
Setelah sambungan terputus Nopal beranjak dari kasurnya. Ke dapur sebentar untuk minum. Di sana dia melihat ibunya tengah sibuk memasak.
"Loh, Pal. Kok cepet pulangnya?"
"He? Maksud ibuk gimana? Orang dari tadi Nopal di kamar."
"Lah, padahal barusan Ningsih datang mau ngajak kamu ke pasar sore katanya."
"Ningsih? Kapan buk?"
"Barusan. Terus ibu suruh langsung ke kamar kamu aja."
"Waduh! Gawat!" Buru-buru Nopal balik ke kamar untuk menelpon Ningsih. Dia takut kalau Ningsih mendengar percakapannya dengan Puput tadi.
Panggilan pertama terhubung lama tak diangkat.
Kemudian panggilan kedua dan seterusnya panggilan terhubung tapi langsung ditolak. Tidak kehabisan akal, Nopal memilih mengirimkan pesan saja.
Sih, kamu kenapa?
Enggak kenapa-napa.
Terus kenapa teleponku enggak kamu angkat?
Pal. Aku membatalkan perjodohan kita. Aku sudah bilang ke bapakku, nanti beliau yang bilang ke orang tua kamu. Sampaikan maafku pada mereka. Dan satu hal lagi, kamu berhak bahagia. Kejar cinta kamu kalau memang dia yang membuatmu bahagia.
Membaca pesan panjang dari Ningsih membuat Nopal menjambak rambutnya frustasi. Berarti memang benar kalau tadi Ningsih mendengar obrolannya dengan Puput. Tak mau Ningsih salah paham lagi, dia pun segera berangkat ke rumah Ningsih unik menjelaskan kesalahpahaman ini.
"Ningsih tidak mau bertemu kamu. Bapak harap kamu mau mengerti," ucap ayah Ningsih ketika tahu Nopal akan menemui putrinya.
"Pak, saya di sini mau jelasin sesuatu ke Ningsih. Tolong pak!"
"Jangan dibolehin masuk Pak! Ningsih enggak mau ketemu dia!" teriak Ningsih dari dalam rumah.
"Kamu sudah dengar kan? Bapak harap kamu pergi dari sini."
"Tapi Pak-,"
Brak!
Pintu rumah Ningsih tertutup untuknya. Baiklah dia akan pulang sekarang. Membiarkan Ningsih dengan waktunya sendiri. Besok dia akan kembali lagi dan menjelaskannya ke Ningsih. Takdir seakan tak berpihak pada Nopal. Niat hati ingin bertemu, ketika esok hari di ke rumah Ningsih tapi tak mendapati pujaan hatinya di sana. Dengan santai ayahnya berkata bahwa Ningsih sudah pergi keluar kota. Hal itu sukses membuat Nopal terisak dalam kamarnya. Rupanya laki-laki juga bisa menangis kala sakit. Kehilangan orang yang disayang menjadi sebuah tamparan keras bagi Nopal.
*****
Satu tahun berlalu....
"Bu, Nopal pamit berangkat dulu!" Nopal mencium punggung telapak tangan ibunya.
"Iya, hati-hati di jalan!"
"Iya Bu. Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!"
Hari ini dia pergi ke Malang untuk menghadiri acara akikahan anakny Puput. Puput yang dulu sempat ia ejek malah sekarang bahagia dengan suaminya dan sudah mempunyai anak. Sedangkan dirinya yang sudah percaya diri dari awal nyatanya malah kandas di tengah jalan. Sambil menikmati jalanan kota Malang, tak sengaja memorinya terus menuturkan kenangannya bersama Ningsih dulu. Meski satu tahun berlalu, tak sedikitpun rasa cintanya yang berkurang. Entah di mana sekarang pujaan hatinya itu berada.
Sebelum datang ke rumahnya Puput, tak lupa Nopal membawa buah tangan. Dia belokkan mobilnya menuju ke sebuah toko roti. Memang benar jika apa pun ketika direstui orang tua akan berjalan lancar semestinya. Usaha jagal ayam yang ia pegang kini sudah berkembang bahkan bertambah besar. Kesuksesannya bisa ia buktikan dengan membuat rumah baru untuk orang tuanya juga dapat membeli mobil dengan jerih payahnya sendiri.
"Selamat datang! Mau pesan apa Mas?"
"Saya mau pesan cupcake nya Mbak-," ucapannya terhenti. Napasnya seakan tercekat menyadari dengan siapa ia bicara.
"Ningsih?"
"Nopal?" Menyadari itu Ningsih bergegas pergi ke belakang, tapi sebelum itu terjadi Nopal terlebih dahulu meraih lengannya.
"Jangan pergi! Dengerin penjelasanku dulu!"
"Penjelasan apa? Apa yang perlu dijelaskan?"
"Aku mencintaimu Ningsih!"
Deg.
Detakan jantung Ningsih langsung bertalu-talu. Sudah lama dia tidak merasakan seperti ini. Tapi tunggu dulu! Dia tidak boleh terlalu senang sekarang. Bukankah dia tahu sendiri kalau Nopal mencintai orang lain?
"Maksud kamu? Bukannya kamu cinta sama perempuan lain?" Beruntung kondisi toko tengah sepi sekarang sehingga mereka tidak akan menjadi pusat perhatian.
Nopal pun mengajak duduk Ningsih di salah satu kursi. Nopal menceritakan semuanya dari awal. Sangat detail supaya Ningsih percaya dengan ceritanya.
"Apa?! Kenapa enggak ngomong dari dulu! Jadi percuma dong selama ini aku nangis sendiri!"
"Ya kamu dulu pas mau aku jelasin sok-sokan gak mau ketemu. Pake acara kabur segala kenapa?"
"Ya karena enggak mau ketemu kamu lah!"
"Sih, apa yang kamu dengar itu belum tentu kebenarannya. Beruntung sekarang aku bisa menemukanmu dan menjelaskan semuanya. Bayangkan kalau sampai kesalahpahaman ini berjalan sampai kita tua?"
"Maaf," cicit Ningsih sambil menundukkan kepala. "Waktu itu pikiranku enggak jernih. Sakit hati, cemburu, kesel, semuanya bercampur. Jadi deh aku nekat buat pergi dari rumah."
"Iya, aku juga minta maaf." Kemudian keduanya terdiam. Entah apa yang tengah mereka pikirkan.
"Orang tua kamu gimana Pal? Apa mereka maafin aku?"
"Pasti lah. Mereka juga paham dan maklumin kamu."
"Hmm."
"Sih," panggil Nopal.
"Kamu masih cinta enggak sama aku?"
"Masih."
"Kalau gitu nikah yuk!"
"Hayuk!" Tidak pernah terpikir oleh Ningsih bahwa ia akan dilamar dengan cara yang sangat tidak romantis dan jauh dari bayangannya. Tapi biarlah, bukan caranya atau tempatnya yang ia pentingkan. Ketulusan cinta dari seorang Nopal lah yang utama.