
Tumbuh tanpa mengetahui siapa orang tuanya, setiap hari menanggung ejekan dari teman-temannya, membuat Tika tumbuh menjadi pribadi yang tegar. Siapa sangka di balik wajah menyebalkan yang selalu usil seperti dia menyimpan banyak kesedihan dan kenangan pahit untuk diceritakan.
Tapi sebelum tumbuh menjadi Tika seperti sekarang ini, tentulah dia mengalami masa-masa yang sulit terlebih dahulu. Itu semua merupakan waktu untuk berproses. Masih jelas terbayang di ingatannya bagaimana masa SD nya penuh dengan ejekan dan tatapan merendahkan yang ditujukan padanya. Dia hanya diam saja, toh membalas tidak ada gunanya. Dia membalas mereka dengan terus belajar dan belajar. Biar prestasinya yang membungkam mulut mereka.
Enam tahun sudah ia lewati dan Tika kecil tak sabar dengan dunia barunya. Tanpa dia duga, masa SMP yang ia kira akan indah ternyata sama saja. Malah lebih parah dari dulu. Jika dulu hanya perkataan saja, maka sekarang sudah mencapai tingkatan menyakiti dirinya. Entah itu dipukul buku, di dorong, atau menjambak rambutnya.
Dia heran. Apakah di dunia ini tidak ada tempat untuk anak haram sepertinya?!
Bukan. Dia bukan anak haram. Yang haram adalah pembuatan orang tuanya yang tidak bertanggungjawab dan memilih meninggalkannya di sebuah panti asuhan. Mengingat hal itu terkadang membuat Tika menjadi iri. Maklum, dia masih lah anak kecil yang tentu mengharapkan kehadiran orang tuanya.
"Kok jahat banget sih? Coba aja dulu aku satu sekolah sama kamu, udah pasti aku cincang-cincang tuh anak-anak!" Abdul yang mendengar cerita Tika tidak bisa menahan kekesalannya.
"Ya kan dulu emang gitu Dul. Coba aja sekarang, udah aku posting mereka di sosmed dan langsung viral terus mereka ditangkap sama KPI. Biar tau rasa!"
Pletak!
"Aww!!" Sebuah jitakan manja mendarat mulus di kening Tika.
"KPAI pinter! Bukan KPI!"
"Loh? Sejak kapan berubah?"
"Hedehh! Dari dulu emang gitu. Dodol bener!"
"Tapi sayang kan?" Tika mengerlingkan sebelah matanya nakal.
"Iya sayang."
Sudah seminggu sejak Abdul menyatakan kalimat ingin membahagiakan Tika, hubungan mereka sekarang sudah lebih dekat. Tidak ada ungkapan untuk menjadi pemilik hati, tidak ada peresmian tentang status mereka, intinya mereka membiarkan hubungan mereka berjalan dengan sendirinya. Saling mencari kenyamanan, saling mendukung, juga saling mencari kecocokan. Untuk akhirnya, mereka sendiri yang akan menentukan.
"Ya sudah, pulang yuk!" ajak Tika.
"Sekarang? Masih jam dua ini." Abdul berlagak sok tidak merelakan.
"Udah dari pagi juga kita jalan-jalan. Besok kan Senin. Mulai rutinitas lagi. Kalau sekarang jalan terus, besok bisa kecapean tau!" perjelas Tika.
"Ciee yang perhatian!"
"Ciiee, kan aku perhatian sama diriku sendiri." Jawaban Tika membuat Abdul langsung mengerucutkan bibirnya.
"Waah, Mak jleb ya?"
"Jangan manyun gitu bibirnya. Udah jelek, tambah jelek lagi." enek Tika sambil menyumpal mulut Abdul dengan selada dari burger yang dia sisihkan tadi.
"Haish! Uin-i mtu kwomde twu!"
"Telen dulu baru ngomong!"
"Ini tuh kode tau!"
"Kode apaan coba?" tanya Tika sok tidak mengerti.
"Minta cium lah!"
"Iya. Cium pakai sendal jangan?"
"Ya jangan dong! Ealah! Canda doang Mbak!"
"Ya kamu sih! Kalau mau nyium anak orang tuh ya dihalalkan dulu!"
"Kode nih?" Kini gantian Abdul yang mengerlingkan sebelah matanya. "Ya udah, yuk nikah!"
Pletak!
"Aish!" Dan gantian Tika yang menyentil kening Abdul.
"Ngajak nikah kok kaya ngajak beli permen aja!"
"Emangnya enggak mau?"
"Wani piro kowe?"
"Seperangkat alat sholat. Mau gak?"
"Mau!" seru Tika semangat. Abdul yang mendengar itu sudah berbangga diri. Tapi hanya sekejap, setelah Tika meneruskan kalimatnya rasanya Abdul ingin memukulkan kepalanya sendiri ke meja.
"Tapi ditambahin sama emas berlian satu toko, terus beliin juga pulau di Bali. Udah." Seperti itulah tambahan kalimat dari Tika.
"Mahal amat Mbak maharnya! Enggak sekalian beliin pulau di Maldives juga sana!"
"Boleh sih kalau situ sanggup."
"Enggaklah. Mundur alon-alon deh kalau gini ceritanya." Mimik muka Abdul dia buat se-menyedihkan mungkin.
"Yee! Gitu aja udah nyerah!"
"Nyerah deh, nyerah! Kalau mau semua itu mending cari om-om berkantong tebal sana!"
Wajah Tika langsung berbinar. "Waah! Beneran nih? Jadi aku diizinin sama om-om?"
"Eh-eh! Enggak! Enggak boleh!" Abdul tiba-tiba berdiri lalu mengapit kepala Tika di lengannya.
"Udah! Ayo pulang! Enggak usah banyak cincong!" Dan Abdul menariknya agar segera keluar dari restoran dan menuju parkiran. Tika hanya bisa pasrah sambil tertawa puas.
Kali ini Abdul tidak membawa mobil. Melainkan motor gede kesayangannya. Niat hati karena ingin menikmati angin pagi kota Malang bersama orang disayang. Tapi tidak enaknya ya saat ini. Ketika pulang matahari masih gencar-gencarnya menyinari bumi. Ditambah kemacetan dan asap kendaraan lain yang membuat perjalanan mereka sempurna.
Di tengah perjalanan di jalanan yang lengang, ide jahil terlintas di otak Abdul. Niatnya dia akan mengebut sedikit untuk menakut-nakuti Tika. Tapi mengingat itu bisa membahayakan Tika membuatnya mengurungkan niat itu. Percuma bercanda kalau ujung-ujungnya membawa petaka. Dia tidak mau kalau orang yang dia sayangi terluka akibat ulahnya. Tapi baru saja pemikiran itu pergi, tiba-tiba laju motornya menjadi pelan. Semakin di-gas malah motornya tersendat-sendat. Alhasil dia langsung menepi.
"Baru juga niat jelek, udah langsung dapat karmanya aja," gumam Abdul setelah motornya berhasil menepi.
"Ngomong apa kamu Dul?"
Abdul langsung gelagapan sendiri ketika Tika menanyakannya. Bisa tambah runyam urusannya kalau sampai Tika tau dia sempat berniat untuk menjahilinya.
"E-enggak kok! Enggak penting juga."
Resiko membawa motor tua yang lupa diservis ya seperti ini. Tiba-tiba mogok. Dalam hati dia merutuki kelalaiannya yang tidak merawat si moge dengan benar.
"Mogok ya Dul? Tadi motornya tersendat-sendat gitu."
"Ohh, tadi? Enggak mogok kok! Motornya lagi batuk-batuk tadi. Ini sekarang aku mau ke warung beli obat batuk," kelakar Abdul yang langsung ditanggapi tatapan sinis dari Tika.
"Serius ih!"
"Yakin minta diseriusin?"
"Abdul ih! Serius nanya!"
Keburu Tika ngambek dan akan berbuat yang tidak-tidak. Abdul pun segera mengakhiri sesi menggodanya. "Iya. Maklum motor tua. Dia bulan ini lupa belum aku servis ke bengkel."
"Terus sekarang gimana?'
"Ya enggak gimana-gimana. Sekarang kamu duduk manis di sini," ucap Abdul sambil mendudukkan Tika di trotoar. "Terus aku persen ojol, terus kamu pulang deh. Selesai!"
"Terus kamu?" tanya Tika lagi.
"Ya bawa nih motor ke bengkel dulu."
"Sendiri?"
"Enggak. Mau ngajak Ariana Grande sekalian ngopi di warteg! Ya sendiri lah Tika yang cantik!" Abdul sampai gemas sendiri dengan pertanyaan Tika.
"Kalau gitu aku enggak mau pulang!"
"Mau ngapain? Katanya tadi udah capek?"
"Iya, capek. Tapi mana tega aku biarin kamu dorong motor sendiri. Mana bengkelnya masih jauh lagi!" Tika kemudian berdiri, kedua tangannya memegang bagian belakang motor Abdul. Sudah siap untuk mendorong. "Ayo sekarang bawa ke bengkel!" imbuhnya lagi.
"Yakin nih?"
"Iyaa."
Jadilah mereka berdua mengakhiri sesi kencan pertama dengan mendorong motor Abdul yang mogok ke bengkel. Meski panas, lelah, dan haus. Ketika mereka lakukan bersama-sama makan tidak akan terasa itu semua. Apalagi diselingi dengan canda ria, jalanan serasa milik berdua.
*****
Tidak terasa waktu cepat berlalu. Hari datang silih berganti. Bulan terus datang dan pergi hingga satu tahun telah terlewati. Seiring dengan berjalannya waktu, hubungan Tika dan Abdul berada dalam tahap serius. Keduanya telah menyatakan perasaan masing-masing. Meski begitu, Tika masih saja menolak ajakan Abdul untuk segera meresmikan hubungan mereka. Dia merasa masih nyaman dengan hubungan yang berjalan saat ini. Padahal umurnya sudah lebih dari cukup untuk menikah.
"Tik, sore nanti sibuk gak?" Suara Abdul terdengar dari seberang sana.
"Enggak ada. Kenapa? Kamu mau ngajak jalan?"
"Tau aja nih! Ada warung bakso granat baru buka. Entar kita tanding siapa yang bisa makan banyak sambelnya. Gimana?"
"Enggak mau ih, entar sakit perut. Kamu tuh ya! Kalau makan itu dijaga! Jangan sembarangan asal masuk mulut!" tolak Tika sambil menambahkan ceramahnya.
"Iya, maaf! Terus ke mana nih nanti?"
"Hmmm." Tika tampak berpikir sebentar. "Main ke rumah Nala sama Alif yuk? Udah lama enggak main sama mereka."
"Oke lah. Satu jam lagi aku jemput ya?"
"Loh kok dua jam lagi? Katanya nanti sore?"
"Kalau sore nanti enggak puas ke rumah mereka. Mending siang aja, kamu puas-puasin ngobrol sama Nala." Tika menimang sebentar usulan Abdul. Benar juga apa kata dia. Perempuan kalau sudah ngobrol kan sering lupa waktu, apalagi seperti Tika dan Nala yang sudah lama tidak bertemu.
"Oke deh. Kalau gitu aku tutup telponnya ya! Mau siap-siap dulu."
"Iya. Jangan lupa dandan yang cantik!"
"Enggak mau! Entar kalau dandan yang cantik langsung dibawa orang lagi. Emangnya kamu rela?"
"Eh! Enggak-enggak! Ya udah, kalau gitu kamu dandan yang jelek aja."
"Kamu tega ya? Mau buat aku malu di depan orang-orang?"
"Ya udah deh. Terserah kamu aja. Penting pakai baju sama celana, udah."
Tika menjauhkan ponsel dari mulutnya. Lalu tertawa puas tapi setengah ditahan agar tidak ketahuan Abdul. Hobi barunya adalah membuat Abdul jengkel. Menurutnya itu menjadi hiburan tersendiri.
"Hemm. Ya udah, aku tutup telponnya sekarang. As-,"
"Kenapa?"
"Kamu sekarang di rumah ibu apa di kost an?"
"Di rumah ibu." Memang, semenjak kerja dan punya penghasilan sendiri Tika memilih untuk menyewa kost. Bukan karena sudah tidak mau membantu ibu mengurus anak-anak panti, tapi karena memang letak panti dengan kantornya lumayan jauh. Jadilah dia menyewa kost yang dekat dengan tempatnya bekerja sehingga menghemat waktu dan tenaga.
"Oh, sudah kalau gitu. Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!"
Meninggalkan ponselnya di atas nakas, Tika beranjak dari kasurnya dan berjalan ke lemari baju. Memilih dari sekian setel baju yang ada di lemarinya. Setelah lama agak mencocokkan dan menimbang-nimbang, akhirnya dia memilih skinny jeans dengan hoodie besar berwarna cokelat susu. Setelah itu dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Maklum, hari Minggu kalau tidak ada acara keluar maka Tika tidak akan mandi pagi.
Sepuluh menit kemudian Tika sudah keluar dari kamar mandi dan merasa tubuhnya lebih segar. Lalu duduk di depan meja riasnya untuk sekedar memakai bedak bayi, eyeliner, dan memoleskan sedikit lip tint. Setelah dirasa siap barulah dia beranjak keluar kamar dan mengambil tas yang dia gantung di samping pintu.
Siang-siang begini anak-anak memang sedang tidur. Maklum baru jam satu. Tapi Tika mendengar ada suara orang yang berbincang-bincang di ruang tamu. Ketika sampai di depan, barulah dia menyadari bahwa ibunya sedang ada tamu. Tidak melupakan sopan santun sebagai adat dari orang timur, Tika pun menyalimi wanita paruh baya yang terlihat masih cantik meski usianya tak lagi muda. Kalau dipikir-pikir, mana mungkin itu teman ibunya? Secara ibunya jauh lebih berumur dari tante itu.
Ah, mungkin itu saudara jauh ibu. Batin Tika.
"Kamu mau kemana nduk? Kok tumben udah rapi?" tanya ibu ke Tika.
"Mau keluar Bu. Tika pamit dulu ya!" Ketika dia hendak meraih tangan ibunya, terlebih dahulu tubuhnya ditarik dan didudukkan di sofa.
"Tunggu bentar ya! Ada yang mau ibu bicarakan sama kamu."
Dilihat dari raut wajah ibunya yang serius, sepetinya ada hal penting yang akan dibicarakan. Dia pun mendengarkan dengan seksama apa yang akan dikatakan ibunya.
"Nduk. Kenalin, ibu ini namanya Bu Ratih. Dia adalah..." Ibu tampak menghentikan kalimatnya. Seperti ingin mengatakan sesuatu yang memang berat untuk dikatakan. Antara sesak dan tidak rela membuat kata-katanya tercekat di tenggorokan.
"Siapa Bu?"
"Dia ini adalah ibu kandung kamu," ucap ibu dalam satu kali tarikan napas.
Tika yang mendengar itu tentu saja terkejut. Ibu kandung yang tidak ada kabar selama dua puluh lima tahun hidupnya tiba-tiba datang di hadapannya. Membuat Tika bingung sendiri dengan perasaannya. Antara dia harus senang, atau harus merasa miris.
"Kenapa baru sekarang mau menemuiku?" Bukan sapaan, bukan kalimat basa-basi, tapi langsung pertanyaan to the point yang Tika ucapkan.
"Maafin Ibu nak!" Ratih yang notabenenya adalah ibu kandung dari Tika langsung menghampiri anak perempuan pertamanya itu dan duduk di sebelahnya. Diraihnya tangan Tika agar dapat merasakan ketulusannya. "Sekali lagi Ibu minta maaf! Waktu itu ibu enggak bisa berpikir jernih dan malah ninggalin kamu di sini. Maafin Ibu!" imbuhnya sambil terisak. Berbeda dengan Tika yang masih menahan sesaknya di dada.
"Terus maksud kedatangan Ibu ke sini mau apa?"
"Ibu mau nebus kesalahan Ibu yang dulu. Ibu mau ajak kamu pulang. Kita mulai dari awal, kita tata dari awal."
Bu Sri yang sudah sangat menyayangi Tika dan sudah menganggapnya sebagai anak sendiri tidak kuasa menahan tangisnya. Dia bahagia bahwa Tika kini bisa bertemu dengan ibunya. Tapi dia juga takut. Takut kalau Tika akan pergi meninggalkannya selamanya. Dalam diam dan larut dalam isak tangisnya sendiri, Bu Sri hanya bisa mengamati ibu-anak yang baru bertemu itu.
"Ibu mau ajak aku pulang ke mana?"
"Ke Surabaya. Di sana semua keluarga kita tinggal. Kamu mau ya?".
"Kelurga? Keluarga yang bahkan tidak pernah mengharapkan kehadiranku maksud Ibu?" Padahal Tika sudah mati-matian menahan mulutnya agar tidak berkata sinis, tapi tidak bisa. Seakan kepedihan yang sudah lama ia pendam berebut ingin dikeluarkan semua.
"Bukan begitu. Kamu pasti diterima kok. Percaya sama ibu! Kamu ikut ya?"
"Enggak. Aku enggak mau ninggalin Bu Sri juga adik-adikku di sini."
"Kamu jangan bilang begitu dong sayang! Ibu ini kan ibu kandung kamu!"
Mendengar kalimat tersebut yang keluar dari mulut Ratih, Tika kemudian berdiri. Amarah sudah memenuhi ubun-ubunnya. "Ibu kandung macam apa yang enggak pernah nengok anaknya selama puluhan tahun?! Aku benci sama Ibu!"
Sedetik kemudian Tika berlari keluar rumah. Dia sudah tidak lagi memikirkan kalau ibu kandungnya sendiri akan sakit hati dengan perkataannya tadi. Sampai di depan rumah dan hendak berlari menyeberang jalan, hampir saja dia ditabrak oleh mobil jika saja si pengendara tidak segera mengerem mobilnya. Saking terkejutnya membuat badan Tika menjadi kaku seketika. Teriakan orang-orang dari arah rumah seakan menjadi lagu latar belakangnya.
Si pengendara langsung keluar mobil dan menghampiri Tika yang tubuhnya telah ambruk ke jalan. Diraihnya kedua tangan Tika agar perempuan itu segera tersadar. "Tik! Tika! Kamu enggak kenapa-napa kan? Kenapa tiba-tiba nyebrang jalan kaya gitu?"
"Abdul?"
"Iya, ini aku. Syukur kamu selamat! Lain kali jangan begitu!"
Hampir terkena kecelakaan bukan fokusnya saat ini. Yang Tika inginkan hanyalah segera pergi jauh dari rumah dan menghindari seseorang yang masih belum ia terima sebagai ibu. Ditariknya kedua tangan Abdul menuju dalam mobil dan menyuruhnya untuk segera menjalankan mobilnya. Abdul yang masih belum mengerti keadaan hanya bisa menuruti Tika tanpa banyak bertanya. Dalam hati dia yakin bahwa telah terjadi sesuatu dengan kekasihnya itu. Tampak dari air mata di wajahnya yang tidak mau berhenti mengalir.
Dalam mobil Tika masih belum mau berhenti menangis, dan Abdul juga belum menghentikan laju mobilnya. Masih berkeliling kota Malang sampai tangis Tika reda dan mengutarakan ke mana tujuannya.
"Mau ke mana?" tanya Abdul setelah setengah jam menunggu Tika berhenti menangis.
"Enggak tau. Pokoknya jangan pulang ke panti atau kost dulu." Karena ibu pasti mencariku ke sana, lanjut Tika dalam hatinya.
"Ke apartemenku gimana?" Tika sontak saja langsung melotot. "Tenang! Aku enggak bakal macem-macem kok!"
"Hmm."
Mobil yang mereka kendarai pun segera menuju ke apartemen Abdul berada. Setelah sampai, Abdul langsung mempersilakan Tika masuk dan duduk di ruang tamu. Lalu dengan telaten dia membuatkan segelas susu hangat permintaan Tika.
"Nih diminum!"
"Makasih!"
Abdul menatap Tika. Masih menunggu waktu yang tepat untuk bertanya. Melihat Tika yang sudah tenang bahkan bisa menonton TV, membuat Abdul memberanikan diri untuk bertanya. "Kamu kenapa sih Tik? Masih enggak mau cerita juga?"
"Ibu kandungku tadi dateng," jawab Tika santai dengan mata masih fokus menonton.
"Alhamdulillah dong. Bukannya dari dulu itu yang kamu harapkan?"
"Dulu. Waktu aku masih kecil. Sekarang sudah enggak, harapanku sudah mati sejak dulu. Dan sekarang, ketika aku sudah bahagia dengan kehidupanku. Tiba-tiba dia datang dan hendak mengacaukan segalanya."
"Maksud kamu?" tanya Abdul meminta penjelasan lagi.
"Dia minta aku buat pindah dan ikut sama dia ke Surabaya. Ya enggak bisa segampang itu dong!" Tika kini mulai menunjukkan emosinya lagi.
Melihat itu, Abdul segera meraih tangan Tika dan mengusapnya perlahan. Bermaksud memberikan ketenangan. "Aku pikir masalah ini masih bisa dibicarakan baik-baik. Dan lagi pula, itu ibu kamu. Bagaimanapun juga surgamu ada di telapak kakinya Tik. Aku harap kamu segera memaafkannya."
"Iya, aku tahu itu. Tapi aku masih belum sanggup buat ketemu. Melihatnya masih membuatku terbayang-bayang dengan kesedihanku dulu."
Abdul tersenyum tulus, lalu sebelah tangannya membelai rambut Tika dengan lembut. "Hmm, kalau gitu berarti harus nunggu diri kamu siap. Saran aku jangan lama-lama ya? Enggak baik memperpanjang masalah."
"Iya."
*****
Sudah seminggu berlalu, dan Tika masih menetap di apartemen Abdul. Tapi tenang saja, mereka tidak satu atap ketika malam. Abdul akan pulang ke rumahnya sendiri. Meski begitu, Tika tidak lupa untuk mengabari Bu Sri bahwa dia baik-baik saja. Ternyata, butuh waktu yang tidak sebentar untuknya menyiapkan hati. Sampai akhirnya hari ini dia memutuskan untuk bertemu dengan Ratih, ibu kandungnya.
Abdul yang seakan memberi ruang agar ibu dan anak itu leluasa berbincang memilih untuk tidak mengunjungi Tika pagi ini. Dia akan akan ke apartemen ketika kekasihnya sudah bisa menyelesaikan masalahnya.
Pagi-pagi sekali Ratih sudah datang ke apartemen, dia tidak sabar akan bertemu dengan Tika. Sedangkan Tika sendiri hanya bisa tersenyum kikuk karena dia masih belum bersiap-siap dan masih menunjukkan muka bantalnya. Bukan salahnya, Ratih memang tidak mengabari kalau akan datang lebih cepat.
"Kamu sudah sarapan belum?"
"Belum Bu, biasanya baru nanti jam delapan aku keluar nyari sarapan." Tika kali ini sudah lebih menerima kehadiran Ratih, dia sudah memaafkan dan berdamai dengan masa lalunya.
"Ya sudah, sekarang Ibu masakin ya?"
"Enggak usah Bu! Nanti kecapekan lagi." Tika berlari menyusul ibunya yang sudah ke dapur.
"Kecapekan apanya sih? Kan tugas ibu tiap hari juga masak." Dan akhirnya Tika mengiyakan dan menunggu ibunya selesai memasak karena dia tidak diperbolehkan membantu.
Menunya sederhana, hanya nasi goreng dengan omelette. Tapi perasaan ketika memakannya sangat luar biasa. Bahkan Tika sampai meneteskan air mata. "Jadi ini rasanya sarapan dengan masakan ibu sendiri?" tanya batin Tika.
"Sayang? Kamu kenapa nangis?" Ratih yang masih mencuci peralatan masak langsung menghampiri Tika yang tiba-tiba terisak.
Tanpa buang waktu, Tika segera menarik tubuh Ratih dan memeluknya erat. Menghirup dalam-dalam aroma dari ibunya, menuntaskan kerinduan yang selama ini ia pendam.
"Tika rindu sama ibu. Hiks! Kenapa ibu, hiks! Baru nyari Tika sekarang?" Sudah tak terhitung lagi berapa bulir air mata Tika yang jatuh, begitu pun Ratih.
Ratih pun melepaskan pelukannya agar dapat melihat wajah anaknya. Setelah beberapa menit kemudian, barulah dia bercerita. Ketika dia masih berumur sembilan belas tahun, pacarnya telah merenggut mahkotanya. Berjanji akan tanggung jawab, tapi pacarnya malah pergi keluar daerah. Ratih yang takut dan frustasi bertindak bodoh karena berusaha menggugurkan kandungannya. Janin yang saat itu masih bisa selamat membuat Ratih semakin bingung. Alhasil dia pergi ke luar kota dengan berbohong ke orang tuanya dengan alasan untuk bekerja. Sampai berpuluh puluh tahun dia lalui dengan rasa bersalah karena menaruh anaknya ke panti asuhan. Ingin rasanya dia menjenguk, tapi bayangan rasa bersalah terus membuatnya takut untuk bertemu anaknya. Hingga akhirnya seminggu yang lalu dia memberanikan diri untuk menemui putri yang telah dia telantarkan.
"Kamu mau maafin Ibu kan nak?" pinta Ratih sambil terisak. Tidak menjawab, Tika hanya bisa menganggukkan kepala dan menghamburkan diri lagi ke pelukan ibunya.
*****
Dul, ke apartemen gih! Mau aku kenalin sama ibuku.
Membaca pesan dari Tika membuat Abdul tersenyum lega. Akhirnya Tika bisa sepenuhnya berdamai dengan masa lalu dan siap menulis lembaran kisah baru.
Sepuluh menit lagi aku sampai:)
Tanpa basa-basi Abdul langsung menuju garasi dan mengendarai mobilnya menuju apartemen. Tidak perlu bersiap diri karena dia sudah siap menanti hal ini sedari pagi. Sampai di apartemen jantungnya tiba-tiba beedetak kian kencang. Ini kali pertama dia menemui ibu Tika yang notabenenya ingin ia jadikan calon mertua. Semoga saja image-nya baik di mata ibu Tika.
"Assalamualaikum!" sapa Abdul ketika sudah ada di dalam. Dilihatnya seorang wanita tengah memunggunginya dan berbincang dengan Tika.
"Waalaikumsalam!" Tepat setelah itu Ratih membalikkan badan dan bertatap muka dengan Abdul.
"Loh?!" Keduanya sama-sama terkejut. Membuat Tika jadi heran sendiri.
"Ternyata bunda ibunya Tika?" ucap Abdul.
"Iya, ternyata kamu pacarnya si Tika?" tanya Ratih balik.
Otak Tika tiba-tiba panas. Pikirannya sibuk mengaitkan benang merah. Saling kenal? Bunda? Dan dia belum pernah bertemu orang tua Abdul karena belum siap. Jadi ibunya sendiri adalah bunda dari Abdul?
Brukk!
Tubuh Tika tiba-tiba jatuh pingsan. Membuat Abdul dan Ratih panik seketika. Abdul segera membopong tubuh Tika menuju sofa. Dan Ratih sudah sibuk mencari kotak P3K. Sudah berulang kali Ratih mengoleskan minyak kayu putih ke hidung Tika, dan Abdul juga masih memijat kaki Tika agar peredaran darahnya lancar. Tapi tetap saja Tika belum sadar.
Tepat ketika Ratih sudah panik sendiri dan ngeyel akan memanggil dokter, tiba-tiba Tika sudah terbangun. Membuat keduanya bisa bernapas lega. Buru-buru Ratih menyerahkan teh hangat agar diminum Tika.
"Kamu kenapa pingsan tadi Sayang?" tanya Ratih dengan nada khawatirnya.
"Abdul, apa benar ibuku adalah bunda kamu?" Tika malah balik bertanya ke Abdul.
"Iya. Beliau adalah guru les privatku waktu SD. Dan beliau sudah aku anggap sebagai mamaku sendiri, jadi aku panggil bunda deh."
"Ha?" Tika kembali terkejut mendengar pernyataan Abdul. "Aku kaget banget tadi. Kukira tadi ibuku juga ibu kamu, dan kita akhirnya enggak bisa menikah," cicit Tika malu dengan dirinya sendiri yang sudah salah sangka.
"Apa? Kamu mikirnya gitu? Kamu udah mau nikah sama aku?" tanya Abdul dengan mata penuh binar harapan.
"Ya itu sih tergantung ibuku setuju apa enggak," jawab Tika sambil tersipu malu.
Dan Ratih, seakan ditunggu tanggapannya oleh Abdul langsung menjawab. "Ya kalau Ibu sih setuju-setuju saja. Yang penting anak Ibu bahagia."
"ALHAMDULILLAH!!! AKHIRNYA AKU NIKAH JUGA!!!" seru Abdul yang membuat Tika dan Ratih kompak menertawainya.