TWENTY

TWENTY
Anak Tukang Jagal Ayam



Di perjalanan pulang kita melihat sawah yang sedang panen buah semangka. Mobil bak terbuka berjejeran untuk membawa semangka-semangka yang dipanen. Setahuku, kalau kalau panen begini pasti banyak juga buah yang tidak dijual karena tidak lulus sortir. Tapi masih enak untuk dimakan.


"Psst! Dul!" Aku menyenggol lengan Abdul agar dia menoleh kepadaku.


"Apaan?"


"Mau semangka enggak?"


"Heh? Mau-mau!" Sesuai dugaan. Kalau urusan makanan siapa sih yang mau nolak.


"Tuh!" Aku menunjuk dengan dagu ke arah tumpukan semangka yang akan dimuat di mobil.


"Enggak bawa duit buat beli Na" siapa juga yang mau nyuruh beli.


"Enggak usah beli. Minta aja yang enggak lulus sortir" kataku.


"Enggak berani" cemen banget dah ini cowok!


"Ada apa kok bisik-bisik?" Ups.


Ketahuan deh sama Alif.


Berhubung Alif berada di depan dan aku sama Abdul di bagian belakang, jadi kalau dia menegur kita otomatis semua menoleh ke belakang.


"Itu si Nala pengen buah semangka tapi malu buat minta ke orangnya. Makanya nyuruh aku" Abdul ih! Jujur banget. Kan jadi malu!


Alif tampak berpikir sejenak, lalu melihat ke sawah tempat semangka dipanen. Kemudian seulas senyum terbit di wajahnya.


"Tolong bawakan sebentar!" Dia menyerahkan timba yang dia bawa ke Rere.


Lalu berjalan mendekati salah satu bapak-bapak yang ada di sawah.


Kulihat dia bersalaman dengan bapak itu, lalu berbincang sebentar. Setelah itu si bapak mengambil kresek dan menaruh beberapa semangka di dalamnya.


Lah. Ini beneran dikasih?


Si Alif tampaknya berterimakasih ke bapak itu, lalu kembali ke arah kita dengan mengacungkan sekresek semangka itu.


"Wuihh! Hebat! Berani banget kamu Lif!" Puji Abdul.


Iya lah Alif pemberani, makanya jadi ketua kelompok. Enggak kaya kamu Dul! Sudah penakut, ember pula mulutnya.


"Tadi itu Pak Yanto, dia yang punya sawah"


"Siapa Pak Yanto?" Kita serempak bertanya.


"Sekretaris desa" oohh. Pantesan kaya akrab begitu. Partner kerja rupanya.


Kita melanjutkan perjalanan dan ampai di rumah sekitar pukul setengah lima. Anak-anak yang lain sudah pada makan ketika kita sampai. Jadilah ikan yang kita pancing masih adem ayem di dalam ember. Padahal niat awal mau buat lauk makan sore.


"Eh semua! Aku nemu ini nih di dapur" Indra teriak-teriak sambil menenteng sebuah alat bakaran.


"Wahh! Boleh tuh! Nanti malam kita bakaran!" Kata Rendi semangat.


Iya ya. Kok enggak kepikiran dari sana.


"Ndra, coba cari di dapur cowok. Mungkin nemu alatnya lagi" perintahku ke Indra.


"Oke siap!"


"Salma, habis ini beli arang di warung ya buat bakaran nanti" duh. Cemburu lagi.


Dari sekian banyaknya cewek yang nganggur, kenapa harus Salma?


"Iya Mas Alif"


Tika menepuk pundakku, mungkin dari tadi aku dipanggil tapi tidak merespon.


"Ayok ke belakang!"


"Hah? Ngapain?"


"Ya jemur pakaian dong Nala cantik pakai banget tapi lola" makasih lo Tik atas pujiannya.


"Oke deh. Ayo Re!" Eh. Aku toleh ke samping kanan kok nggak ada orangnya?


"Rere udah duluan dari tadi. Makanya jangan sering melamun!"


"Hehehe. Maaf!"


Selesai menjemur pakaian aku bergegas untuk mandi. Juga mencuci pakaian yang kukenakan karena bau amis. Setelah itu aku menuju ruang tamu, untuk bergabung makan dengan teman-teman yang tadi ke sungai.


Malam pun tiba. Seperti malam sebelumnya, kita sholat berjamaah di mushola. Lalu mengajar ngaji anak-anak kecil di sana. Pulang dari mushola wajah teman-teman oada ceria. Iya lah, orang habis ini mau bakar-bakar. Semangat pokoknya kalau sama urusan perut.


Sampai di rumah kita semua bersiap-siap. Ada yang menyiapkan ikannya, membuat tungki sederhana untuk membakar ikan, juga ada yang menggelar tikar untuk duduk-duduk menikmati malam.


"Nala! HP kamu bunyi tuh!" Teriak Puput dari dalam rumah.


Aku bergegas ke kamar untuk mengambil ponsel yang dari tadi aku isi dayanya. Kulihat layar ponselku, tertera nomor tidak dikenal sedang memanggil.


"Halo?"


"Halo. Selamat malam Nala" sapa suara dari seberang. Kok tahu namaku ya?


"Maaf, dengan siapa?"


"Loh. Kamu belum menyimpan nomer saya?" Eh. Kok kaya familiar sama suara ini.


Bentar-bentar. Coba kuingat-ingat. Siapa yang beberapa waktu terakhir meminta nomer hpku.


Emmm.. oh iya!


"Mas Pandu ya? Maaf belum sempat nyimpan"


"Iya sudah enggak apa-apa. Habis ini jangan lupa disimpan ya!"


"Hehehe.. iya mas. Ngomong-ngomong ada apa?"


"Enggak. Cuma mau menyapa saja"


"Oohh gitu"


"Sedang apa Na?"


"Lagi siap-siap mau bakaran mas"


"Ooh. Lagi ada acara. Maaf ya kalau ganggu"


"Eh, enggak kok"


"Syukur kalau begitu. Nanti saya ke sana boleh?"


"Boleh kok mas. Main ke sini aja"


"Baiklah. Sampa jumpa nanti! Assalamu'laikum"


"Wa'alaikumsalam"


Setelah mengakhiri telepon singkat itu, aku menuju dapur. Ingin melihat-lihat barangkali ada yang bisa kubantu.


"Telpon dari siapa Na?" Tanya Iren.


"Dari Mas Pandu"


"Serius kamu Na?! Mas Pandu?"


Dasar Puput! Kalau dengar nama Mas Pandu atau segala sesuatu tentang Mas Pandu pasti langsung semangat. Semenjak kejadian di mushola tempo hari lalu Puput jadi ingin tahu dengan Mas Pandu. Katanya dia naksir sama kakaknya Tiara itu. Ya, dengan berat hati aku menjadi narasumbernya.


"Iya Put. Tadi Mas Pandu yang nelpon"


"Bilang apa Na?"


"Selamat malam" jawabku jujur.


"Loh kok ngucapin ke kamu Na!"


"Ya kan nelponnya ke nomerku, kalau nelponnya ke nomer kamu ya pasti ngucapinnya ke kamu Puput!" Hih. Gemas deh sama ini bocah.


"Eh, iya ya. Terus-terus, bilang apa lagi?"


"Katanya mau ke sini"


"Beneran!!!!" Duh! Bisa pengang telingaku kalau begini.


"Iya Put iya!" Aku segera pergi dari Puput ketika melihat Astri membawa ikannya.


"Astri!, aku bantu bawa ya!"


"Oh. Makasih ya" dan ember berisi ikan itu beralih ke tanganku.


Sampai di teras ternyata tungku ala-ala sudah selesai dibuat. Dan ikan yang kubawa disambut oleh Indra untuk dibakar.


"Nala! Sini-sini!" Aku menghampiri teman-teman yang sedang selonjoran di tikar.


"Wahh! Mulia sekali anda!" Ejekku.


"Lah kita emang punya tugas yang mulia. Yaitu menjaga ikan agar tidak dimakan oleh kucing. Khusunya kucing apa gais?"


"KUCING GARONG!" mereka semua menimpali kata Tika.


Dasar!


Sementara yang cewek-cewek enak bercuit cantik dan leha-leha di tikar, anak-anak cowok sedang berusaha membakar ikannya. Kasihan mereka. Kita kadalin mau juga. Wkwkwk.


Tak berselang lama sebuah mobil hitam terparkir di luar. Mobil yang sangat kukenal, mobil siapa lagi kalau bukan punyanya Mas Pandu. Ketika dia keluar dari mobil, aku menghampirinya.


"Wahh! Bawa apa mas?" Aku menyelidiki dua kantong kresek yang masing-masing berada di tangan kanan dan kirinya.


"Kok repot-repot sih mas? Kitanya kan jadi enak" gurauku. Dan dia tertawa.


Obrolan kita rupanya menarik beberapa anak laki-laki mendekat. Mereka dengan wajah sumringah langsung membuka tangan untuk Mas Pandu. Iya lah, disogok sama makanan pasti enggak bakal nolak.


Mereka membawa Mas Pandu untuk ikut acara bakar membakar. Sedangkan kresek yang berisi ayam kubawa ke dapur untuk dipotong-potong. Katanya Mas Pandu tadi belum sempat minta dipotong sama penjualnya, buru-buru soalnya.


"Ini gimana motongnya coba? Belum pernah sekali pun aku motong ayam yang masih utuh gini" gerutuku.


"Sini biar aku yang urus!" Ayam itu kini beralih tangan ke seseorang yang tiba-tiba datang.


"Eh, makasih ya Nopal! Emang kamu bisa?" Tanyaku.


"Lihat aja nanti" dia lalu mengambil pisau yang lumayan besar.


Glek!


Aku meneguk ludah kasar. Ini kalau yang bawa pisaunya si Nopal kok agak seram ya? Wajahnya itu lho, enggak bisa didefinisikan. Apa jangan-jangan, jiwa psikopatnya kambuh nih gara-gara lihat mangsa yang empuk?


Duh. Jadi merinding gini kan.


Brak!


Allohu akbar!


Ayamnya sudah terbelah dua!


Kalau ke pasar lihat abang-abang yang motong ayamnya aku sih biasa-biasa saja. Lah ini! Lihat Nopal mengeksekusi ayamnya saja mataku merem melek. Sambil berjalan agak mundur sih. Enggak tahu kenapa, tiba-tiba aja pengen mundur yang jatuhnya malah mepet ke kamar mandi.


"Kamu ngapain di situ Na?"


"Eh! Enggak! Enggak ngapa-ngapain kok! Kamu lanjut aja sana!"


"Oh. Yaudah" dia kemudian melanjutkan pekerjaan yang tertunda.


Tapi kalau dilihat-lihat, Nopal lumayan jago dalam urusan ini. Seperti dia sudah terbiasa.


"Kamu kok jago banget motong ayamnya Pal?"


"Oh itu, ibuku punya usaha jagal ayam. Jadi ya aku sedikit-sedikit tahu lah urusan ginian"


Oohh pantes.


Tapi tetap saja, lebih baik dia enggak usah pegang pisau atau pun sejenisnya. Ngeri!


"Kenapa sih Na? Kok kaya takut gitu"


"Apaan? Enggak tuh!" Elakku dengan sedikit mendekat padanya. Supaya dia percaya kalau aku tidak takut.


"Hmm.. enggak mau ngaku?" Aku masih diam. Masa iya harus jujur kalau aku punya sedikit rasa takut kalau dekat-dekat sama ini cowok. Nanti dia malah sakit hati lagi.


"Gini ya Na. Jujur nih, di antara anak-anak cowok yang lain, kamu tuh jarang interaksi sama aku. Kaya jaga jarak gitu" katanya. Iya sih emang bener apa kata dia.


"Interaksi? Kaya kamu mahluk astral aja pakai interaksi. Hehehe"


Krik.


Krik.


Garing ya?


Iya deh. Terpaksa jujur nih kayanya.


"Bukan tanpa alasan aku jaga jarak sama kamu. Gini, emm... jangan ketawa ya! Mungkin alasan ini seperti enggak masuk akal. Tapi memang iya" aku berhenti sejenak, ingin melihat reaksinya. Dan sepertinya dia menunggu aku melanjutkan kata-kataku.


"Sebenarnya aku itu sedikit takut sama kamu, soalnya kamu itu hobi banget nonton film-film sadis gitu. Mikirku kan kamu punya kaya jiwa-jiwa seorang psikopat" aku berkata lirih pada bagian ini.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


"Wahahhahahahahaa" tuh kan benar dia ketawa.


"Jadi gara-gara itu? Hahahaah"


"Kan tadi aku udah ngomong jangan ketawa!"


"Iya-iya maaf!. Jadi alasan kamu cuma gara-gara itu?" Ulanginya lagi, dan aku mengangguk mantap.


"Hmm.. gimana ya Na buat jelasinnya" lah dia aja bingung gimana aku?


"Gini deh, pokoknya mulai sekarang kamu enggak perlu takut sama aku. Film itu kan sekedar hobi aja Na, dan sumpah! Aku enggak kepikiran buat jadi psikopat gitu"


"Iya maaf ya Pal" cicitku.


"Enggak apa-apa kok. Lagian nih ya Na, aku lihat kucing tetangga mati aja aku ikut sedih. Motong ayam juga, sebenarnya dalam hati udah enggak tega. Tapi ya diberani-beraniin. Dari contoh itu aja udah diambil kesimpulan kalau aku enggak tegaan"


"Iya-iya, aku percaya"


"Nah gitu dong! Jadi mulai sekarang jangan sungkan kalau mau minta tolong, atau mau ngajak ngobrol. Oke?"


"Oke!"


"Yaudah sekarang kita keluar. Udah selesai nih" dia menunjukkan potongan-potongan ayam yang sudah dibersihkan dan ditaruh dalam ember.


"Kamu duluan aja Pal, aku mau minum dulu. Haus!" Dan dia meninggalkanku.


Jadi selama ini aku cuma salah paham sama Nopal, nyatanya dia asik-asik jadi teman. Akunya aja yang terlalu takut dengan pikiran-pikiran negatifku dan akhirnya menyimpulkan sendiri bagaimana seseorang itu. Memang harus jujur agar tidak terjadi kesalahpahaman.


Keluar dari rumah indra penciumanku sudah dimanjakan dengan aroma-aroma lezat khas ikan bakar. Jadi enggak sabar buat makan nanti. Kuhampiri teman-teman yang tadi duduk di tikar. Rupanya benar, mereka menjaga hasil bakaran agar tidak dimakan kucing garong.


"Sedap tuh!" Kataku sambil berusaha mencomot satu ikan.


Tak!


"Aw!! Sakit nih tanganku" galak benar si penjaga ikan ini.


"Enak saja mau makan, yang lain masih belum makan ya! Nanti, makan bareng-bareng!" Dih. Si ratu judes mulai beraksi. Padahal ngomong baik-baik kan bisa.


"Iya ibu, kalau begitu Cinderella pamit ke belakang" kataku yang disambut tawa oleh teman-teman. Kalau begini kan seperti ibu tiri yang menindas Cinderella karena enggak boleh makan enak.


Hehehe. Rasain tuh Ge dicap jadi ibu tiri yang kejam!


"Makanan sudah siaaapp!" Kata anak-anak cowok kompak dengan membawa nampan yang berisi ikan dan ayam bakar.


Akhirnya.. setelah sekian lama menunggu.


Malam ini kita lanjutkan dengan makan-makan bersama. Tidak lupa kita membagikan makanan itu ke tetangga yang diantar oleh Rangga dan Astri. Enggak enak juga kalau tetangga mencium bau enaknya tapi tidak ikut merasakan. Setidaknya dengan begini kita berusaha menjadi tetangga yang baik bukan?


Setelah makan-makan bersama, kita membentuk lingkaran. Sekedar untuk menghabiskan malam dengan bertukar cerita.


Jreng!


Suara gitar dipetik mengalihkan fokus kita. Rupanya Rangga sudah siap dengan gitar di pangkuannya. Yang jadi vokalis siapa nih?


"I found a love for me


Darling, just dive right in and follow my lead"


Apa?!! Mas Pandu yang nyanyi?


Enggak nyangka suaranya merdu juga. Meski terasa agak canggung karena teman-temanku yang cewek dengan terang-terangan memujinya. Apalagi Puput tuh! Enggak kedip matanya dari tadi.


Hmm.. tapi...


Kok dari tadi Mas Pandu matanya curi-curi pandang ke aku ya?!!


Haish! Mulai deh Nala PD nya.


Daripada aku ke-ge er an, lebih baik makan keripik singkong yang sudah ada di depanku.


Bodo amat lah sama Mas Pandu yang dari tadi lirik-lirik ke sini. Mungkin niatnya mau mandang orang di sebelahku. Cuek aja Na! Nikmati aja musiknya sambil senderan plus ngemil keripik singkong balado.


Lagu berhenti bersamaan dengan api bekas bakar-bakaran tadi padam. Satu per satu mulai membubarkan diri karena hari sudah mulai malam dan dingin mulai menusuk tulang. Aku mengantarkan Mas Pandu sampai depan.


"Terima kasih ya! Kamu sama teman-teman kamu menerima saya malam ini"


"Iya mas. Lagian kita juga terima kasih Mas Pandu udah repot-repot pakai beli bahan buat bakaran juga"


"Oh itu anggap saja sebagai salam perkenalan"


"Oke Mas!" Mas Pandu mulai masuk dalam mobilnya.


"Kamu sudah diundang Tiara buat besok sore kan?"


Iya! Besok Tiara kan ulang tahun. Dia mengundang aku, Salma, Abdul, dan Rangga untuk datang. Mana belum beli kadonya lagi.


"Iya mas, sudah kok"


"Jangan memikirkan hadiah! Kehadiran kalian saja sudah cukup"


Seperti cenayang saja tahu isi pikiranku.


"Hehehe... iya Mas" mulut bilang iya, tapi dalam hati sudah menggerutu.


Mana mungkin ke pesta ulang tahun enggak bawa kado. Meski pun tuan rumah tidak mempermasalahkan tetap saja sungkan.


"Yasudah kalu gitu saya pulang dulu ya!" Katanya sambil memasukkan kepala yang semula berada di jendela pintu mobil.


"Iya, hati-hati Mas!"


"Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumsalam" jawabku lirih seiringan dengan melajunya mobil itu menembus kesunyian jalanan.