TWENTY

TWENTY
SEASON DUA ~ Twenty (SELESAI)



Lima tahun kemudian...


Ting nong!! Ting nong!!


Aku bergegas menuju ruang tamu untuk membukakan pintu. Ketika pintu terbuka, tampak pasangan serasi dengan dua anak perempuan mereka. Keluarga kecil itu adalah tetanggaku. Siapa lagi kalau bukan Rangga dan Astri beserta Lia dan adik kecilnya yang berusia dua tahun.


"Eh, ayo silakan masuk! Masuk!" Aku mempersilakan mereka masuk dan membukakan pintu rumahku lebar-lebar untuk siap menerima tamu yang lain.


"Alif ke mana Na?" tanya Rangga.


"Dia udah di taman belakang Ngga. Lagi nyiapin semuanya," jawabku.


"Ya udah, kalau gitu aku langsung nyusul ke sana aja." Lalu dia berlalu dari hadapanku. Meninggalkan istri dan anak-anaknya bersamaku.


"Ulululuh! Manisnyaa!" kataku sambil mengusap pelan pipi anak kedua Astri.


"Maacih tante!" Astri menjawabnya dengan menirukan logat dari anak kecil.


"Tiap hari berantem enggak ini sama kakaknya?" tanyaku sambil melirik Lia yang kini sudah tumbuh menjadi anak yang cantik.


"Jangan ditanya lagi kalau itu Na. Tiap hari rasanya seperti perang dunia," kelakar Astri dengan menggoda Lia yang membuat anak sulungnya itu memberengut sebal.


"Assalamu'laikum!!!" ucap seseorang dari depan. Dan kita jawab salam itu bersamaan.


Kalau ada yang ngucap salam seolah-olah tuan rumahnya tuli, bergaya sok ganteng, dan nyelonong masuk tanpa menunggu disuruh, sudah pasti itu Rendi. Sahabat yang enggak ada mati sikap menyebalkannya.


"Salamnya biasah aja kali Ren! Enggak usah teriak-teriak gitu!" ketusku menyambut Rendi.


"Ya enggak bisa biasa-biasa aja dong. Kan aku orang luar biasa!" Haish! Terserah apa katamu.


"Tanteee!" Nah dari balik tubuh Rendi ada balita yang langsung berlari memeluk lututku.


"Eh, Azka! Makin ganteng aja!" pujiku lalu mencium kedua pipinya.


"Apa kabar Na?" Salma datang ke arahku dan kita berpelukan sebentar. Tidak erat, karena dia tengah menggendong bayinya yang baru berusia satu tahun.


"Alhamdulillah baik."


"Oh iya, Zafran mana?" tanya Salma menanyakan anakku.


Zafran Khalid Ahmad, putraku yang kini tengah berusia empat tahun. Malaikat kecilku itu selalu mengisi hari-hariku menjadi penuh warna. Hanya melihat senyumnya, hati yang semula lelah dengan segala masalah menjadi ringan seketika. Dia adalah amanah terindah yang Allah titipkan untukku dan Mas Alif.


"Dia udah di belakang Sal. Bantuin Mas Alif." Tampak Salma menganggukiku.


"Laki kalian semua udah di belakang nih?" tanya Rendi.


"Iya. Makanya kamu cepet nyusul ke sana aja!" ujarku yang lebih seperti mengusir.


"Iya-iya. Elah!" Rendi pun beranjak melangkah ke belakang.


Sedangkan Azka tiba-tiba berlari mengikuti langkah Rendi. "Ayah! Ikut!!!"


Jadilah di sini tinggal yang perempuan. Kita berbincang-bincang sebentar sambil menunggu teman-teman yang lain datang.


Iya, hari ini sebenarnya hari minggu arisan biasa. Tapi tiba-tiba ada yang usul untuk kumpul semua saja sambil bakar-bakaran. Dan ternyata banyak yang setuju dan memiliki waktu luang. Jadilah hari ini mereka semua akan berkumpul di rumahku.


Tidak berselang lama, sebuah keluarga besar datang. Ada Abdul dan Tika bersama ketiga anaknya. Rupanya impian memiliki sebelas anak akan mereka kubur dalam-dalam. Karena baru beranak tiga mereka sudah angkat tangan.


Disusul di belakangnya ada Radit dan Gea bersama anak perempuan mereka. Kemudian ada Nopal yang datang jauh-jauh dari Kediri bersama istri dan dua anak kembar tercintanya. Dan ada juga pengantin baru, Fahmi dan pujaan hatinya. Akhirnya dia punya pasangan juga!


Sampai ketika undangan pernikahannya ada di tanganku, muka terkejutku tidak bisa terdefinisikan. Antara bahagia dan terharu menjadi satu. Karena dulu pernah sempat berpikir kalau Fahmi itu enggak mau menikah. Tapi syukurlah, dia sudah menemukan tambatan hatinya dan menikah enam bulan lalu.


Teman-teman sudah banyak yang datang. Seperti sebelumnya, yang laki-laki langsung bergabung dengan Mas Alif di belakang. Menyiapkan tempat bakarannya, menyiapkan tikar serta peralatan yang lainnya. Sedangkan kita yang perempuan sedang membersihkan ikan dan daging yang akan dibakar nantinya. Dan juga memasak nasi yang banyak beserta sambalnya. Tidak lupa juga sayur segar disiapkan sebagai pelengkap menu nanti.


"Zafran tahun ini bukannya udah masuk TK Na?" tanya Sita sembari mengupas bawang.


"Iya Sit. Bareng sama anak kedua kamu juga kan?"


"He em."


"Bukan cuma anak kalian aja. Nih anak anak bontotku juga masuk TK-nya tahun ini. Sama anakmu juga kan Sel?" ujar Rere sambil menanyakan kembali ke Sela, istrinya Wahyu.


"Iya. Enggak kebayang kalau anak-anak kita masuk di TK yang sama. Ketemunya sama kalian lagi, kalian lagi," kelakar Sela yang disambut gelak tawa oleh semua.


"Bosen," imbuhku.


"Eh, jangan lupa juga sama anakku dan anaknya Anggi, mereka kan juga masuk TK tahun ini juga."


"Nah loh!" Kita semua jadi tambah geleng-geleng kepala mendengar ucapan Puput.


"Tapi kan enaknya kalau reunian gini jadi banyak temennya. Jadi kita enggak terlalu sibuk mengawasi mereka." Perkataan Iren ada benarnya juga sih.


Tidak lama kemudian kita selesai, lalu membawa hasil olahan kita ke belakang. Karena taman belakang rumahku ada banyak pohon besar yang rindang, jadi ada tempat untuk berteduh. Ditambah dengan kolam ikan dan kebun bunga membuat anak-anak tidak mudah bosan.


Sambil menunggu yang laki-laki dengan urusan bakarannya, kita yang perempuan tinggal duduk manis dan mengawasi anak-anak yang sedang bermain.


"Kalau ada acara bakaran sambil lesehan di bawah pohon gini, jadi inget waktu dulu KKN. Iya enggak sih?"


"Hm.. iya juga sih." Aku menyetujui ucapan Sita.


"Jadi keinget sama Mas Pandu juga."


Haish! Salma. Malah mau ngigetin tentang Mas Pandu segala, apalagi matanya kedip-kedip sebelah gitu. Tahu lah dia pasti menggodaku, karena di antara semua aku hanya bercerita ke Salma tentang lamaran Mas Pandu waktu itu.


"Iya nih. Sekarang dia apa kabar ya?"


"Inget Put! Udah ada Pak Ustadz noh!" Aku berusaha mengingatkan Puput agar tidak kesengsem lagi dengan bayangan Mas Pandu. Kan dulu dia ada benih-benih cinta tuh ke Mas Pandu.


"Ya enggak kali Na! Cuma nanya doang," elaknya.


"Mas Pandu itu siapa sih Mbak?" tanya Laras.


Oh iya lupa. Di sini kan ada anggota baru yang pastinya belum terlalu tahu dengan masa lalu yang tidak pernah terlupakan itu. Selain Anggi dan Sela, ada juga Laras, dokter muda yang sekarang menjadi istrinya Fahmi.


"Mas Pandu itu....." Puput mulai bercerita. Dan mengalirlah cerita tentang anak kepala desa yang baik hati itu.


"Apa dia sekarang jadi kepala desa ya? Meneruskan langkah bapaknya gitu," tanya Sita penasaran.


"Mungkin. Soalnya dari foto di media sosialnya, dia kaya sedang bertugas di balai desa gitu. Pakai seragam khasnya PNS lagi," imbuh Rere yang mungkin masih saling berhubungan dengan pegawai desa yang dulu menjadi tempatnya untuk KKN.


Kemudian mengalirlah juga cerita-cerita lucu tentang masa KKN dulu. Dari dikejar-kejar anjing sampai jatuh dari pohon, lomba memancing ikan, menonton film horor yang berujung bubar karena ketakutan, dan sampai Sita yang sering digoda oleh bapak-bapak penjual es cendol.


"Ish!! Yang itu mah enggak usah dibahas juga kali!" protes Sita yang malah membuat kita semakin tertawa.


"Resiko jadi orang cantik itu Sit," imbuhku.


"Hadehh!! Enak banget kalian ketawa ketiwu enggak jelas padahal suami-suaminya lagi panas-panasan." Wahyu tiba-tiba datang dan duduk lalu mengambil minuman yang langsung dia teguk habis.


"Yeeu!! Itu kan emang udah tugas kalian!" jawab Tika.


"Memangnya masih lama ya?" tanyaku.


"Udah selesai lah! Ini dia!" Bukan Wahyu yang menjawab, melainkan Rendi sambil membawa nampan yang berisi ikan dan daging yang matang terbakar.


Kemudian di belakangnya disusul juga Mas Alif, Radit, dan Fahmi yang membawa hasil bakaran yang lain. Anak-anak yang sedang bermain pun ikut menyusul ke sini.


Aku yang melihat Zafran tengah berlari ke arahku langsung membuka lebar kedua tanganku. Menyambutnya dengan pelukan. "Sini anak Ummi!" kataku sambil mengecup pelan dahinya.


"Capek enggak?"


"Enggak Mi. Seneng bisa main sama Bang Azka," kata Zafran dengan aksen anak kecilnya.


"Anak kamu ganteng banget sih Na!" puji teman-temanku sambil berusaha mencubit pipi Zafran.


"Iya dong. Lihat dulu Umminya," ujarku penuh bangga.


"Sadar diri Buk! Orang Zafran mukanya mirip banget sama bapaknya, kaya bule Arab gitu. Enggak ada mirip-miripnya sama kamu Na!"


"Kamu tuh sirik aja sama aku Ren!" ketusku sambil menatap malas ke Rendi yang selalu mencoba mencari gara-gara.


"Biarin!"


Sambil duduk berdekatan ke keluarga masing-masing, kita mulai mengobrol ringan. Menunggu beberapa lagi yang katanya terlambat datang.


"Loh! Nando sama Gilang di mana Mas?!" teriak Tika sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari putra pertama dan keduanya itu.


Abdul juga tampak kebingungan. "Bukannya tadi sama kamu?" Abdul balik bertanya.


"Enggak. Kayanya main sama yang lain deh," jawab Tika dengan panik.


"Haish! Kalian ini gimana sih!" Aku jadi geregetan sendiri. Jadi aku berinisiatif untuk bertanya ke Zafran.


"Zafran tadi lihat Bang Nando sama Dek Gilang gak?"


"Tadi main di kolam Mi. Ngasih makan ikan."


Bersamaan dengan Zafran yang tengah memberi penjelasan, lalu terdengar suara gelak tawa yang mulai terdengar nyaring. Ternyata itu Nando yang sedang menuntun adiknya datang ke arah kita.


Raut muka kita semua langsung berubah terkejut melihat penampakan anaknya Tika dan Abdul ini. Lalu sedetik kemudian kita tertawa lepas, bahkan anak-anak juga. Tika sebagai ibu yang merasa gemas langsung berdiru menghampiri dua kakak beradik itu.


"Ya Allah! Nando! Kamu apain itu muka adik kamu?!" Urat leher Tika sampai kelihatan kaya mau keluar begitu, kehabisan kata-kata melihat tingkah anak pertamanya.


Pasalnya Nando itu telah membuat mahakarya di muka Gilang, adiknya sendiri. Dia mencoret-coret muka adiknya menggunakan arang yang memang kemarin aku letakkan di samping kolam. Alhasil, muka adiknya itu sudah berubah warna menjadi hitam. Bukannya meminta maaf, Nando malah cengengesan. Dan Gilang juga tampak tidak keberatan menerima kejahilan kakaknya.


"Lihat Guys! Mukanya Gilang bagus banget! Karya kakaknya nih!" Aku baru menyadari kalau sedari tadi Indra sibuk merekam kegiatan ini untuk konten Youtube-nya.


"Kayanya nih ya, sifat tengilnya Si Tika sama Abdul nurun di Nando nih!" Kamera yang ada di tangan Indra dia arahkan ke muka Nando.


Nando juga, dengan polosnya malah melambaikan tangannya ke arah kamera sambil senyum-senyum. Memang benar, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.


Di tengah-tengah keseruan kita menonton repotnya Tika menghadapi anaknya, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang. Bayu bersama istrinya, Rasti. Pasangan yang menikah satu tahun lalu ini tampak masih romantis dengan bergandengan tangan.


"Akhirnya datang juga kalian! Padahal mau dihabisin nih ikannya!" kelakar Wahyu.


"Jangan nyalahin kita dong. Salahin tun Ucup! Udah lama banget kita nunggu di rumahnya, ternyata masih enak-enakan tidur," sungut Bayu sambil mengarahkan dagunya menunjuk Ucup di belakang.


"Itu yang di belakang! Masih jomblo aja Pak!" teriak Abdul yang jelas untuk meledek Ucup.


"Bwahahahaa!!!" Menertawakan Ucup menjadi salah satu hiburan tersendiri jika sedang berkumpul seperti ini.


Bukannya kita jahata atau bagaimana. Sudah banyak cara kita lakukan agar Ucup bisa sedikit saja mengalihkan perhatiannya ke mahluk yang bernama perempuan. Tapi dianya saja yang memang sudah seperti tidak peduli.


"Kalian tuh! Lihat temennya naas begini malah diketawain!" balas Ucup setelah ikut duduk.


"Salah siapa coba? Udah banyak aku kenalin temen-temen yang cantik-cantik. Tapi masih aja enggak ada kemajuan," ujar Sita.


"Belum ada yang cocok."


"Hadehhh!!" Kita semua sudah jengah dengan alasan klasik seperti ini. Basi.


"Lama-lama aku jodohin sama janda tetangga sebelahku Cup!" Nopal juga ikut-ikutan gemas sendiri.


"Udah-udah! Dari pada kesel hati sendiri ngurusin jodoh buat Ucup, mending sekarang kita foto dulu."


Indra sudah bersiap memasang kameranya di atas tripod. Mulut dan tangannya mengarahkan kita. Agak ribet memang, mengingat banyak anak kecil yang susah diatur. Jadi setelah dua puluh menit mengatur posisi, akhirnya semua sudah tampak bagus di kamera. Setelah mentaur waktu hitung mundur kamera, Indra langsung berlari untuk bergabung seperti biasanya.


"Katakan buncis!!!" teriaknya.


"Bunciiiiss!!!"


Ckrek!


Dan bertambahlah satu koleksi foto untuk mengisi album kebersamaan kita. Dalam setiap potret beberapa tahun ini, sudah banyak sekali menyimpan kenangan. Entah itu pahit, manis, atau pun masam. Dari tahun ke tahun pasti banyak yang berubah di mereka semua, termasuk juga aku. Entah itu penampilannya mau pun kepribadiannya. Tapi satu yang pasti, di antara sekian banyaknya perubahan itu masih ada yang sama. Yaitu kebersamaan yang akan selalu melekat di hati.


Berawal dari dua puluh, dan sampai akhir akan tetap berdua puluh. Tidak ada yang kurang, tidak ada yang pergi.