
Siang yang cerah, secerah hatiku yang sedang mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris. Semenjak kehamilanku, anak-anak mulai bersikap baik. Tidak lagi membuatku marah-marah, atau pun banyak pikiran. Katanya, mereka tidak mau membuat adek bayinya kenapa-napa. Emmm.. sungguh sweet sekali!
Di jam pelajaran yang hampir usai ini aku akan menyerahkan hasil ulangan kemarin. Melihatku mengeluarkan kertas-kertas dari dalam tas lalu akan beranjak dari kursi membuat Doni, murid yang paling membuatku gemas itu tiba-tiba berdiri. Lalu dia menghampiriku.
“Mau membagikan hasil ulangan ya Bu?” tanyanya.
“Iya. Ada apa Don?”
“Biar saya yang bagikan Bu,” katanya lalu mengambil alih kertas-kertas yang semula di genggamanku.
“Waah! Terima kasih ya!” ucapku tulus. Benar kan, mereka sekarang tambah perhatian. Buktinya Doni, murid yang selalu berbuat onar ini sudah menjadi anak yang sedikit baik. Setidaknya sekarang begitu, entah jika kehamilanku sudah usai.
“Semua sudah dapat lembar jawaban masing-masing kan?” tanyaku setelah Doni kembali duduk di bangkunya.
“Sudah Bu!” jawab mereka kompak.
Dapat dilihat muka mereka yang beragam. Ada yang merasa puas dengan nilainya, ada yang merasa masih kurang, ada yang biasa, dan ada juga yang terkejut melihat nilainya sendiri.
“Bu!” seru Doni dari bangkunya.
“Iya. Kenapa Doni?”
“Ini beneran saya dapat nilai enam puluh?!” katanya dengan muka terkejut yang sangat lucu. Tangannya mengudara, memperlihatkan kertas ulangannya ke arahku.
“Iya Doni. Itu memang nilai kamu,” jawabku.
“Wuhuhuuuuu!!!!” Dia langsung bersorak ramai di bangkunya. Membuat teman-temannya hanya bisa menertawai tingkah konyolnya. Maklum dia bisa sesenang itu setelah mendapat nilah enam puluh. Sebuah kemajuan yang bagus dari nilai-nilai sebelumnya yang hanya mendapat tiga puluh ke bawah.
Bersamaan dengan itu suara bel pulang berbunyi. Membuatku mau tak mau harus mengakhiri sesi pembelajaran. Seperti biasa, aku tidak akan bosan-bosan untuk mengingatkan muridku agar rajin belajar. Kemudian aku mengucapkan salam dan kelar dari kelas.
Saat ini aku sudah berada di warung depan sekolah, warung langgananku. Seperti sudah hapal dengan apa yang akan aku pesan, si ibu sudah menyiapkan es kelapa muda untukku. Katanya, kelapa muda ini juga bagus untuk kehamilanku.
“Makasih ya Bu!” ucapku setelah mendapati segelas es kelapa muda di depanku.
“Sama-sama Neng! Lagi nunggu jemputan ya?” tanya si ibu.
“Iya Bu, seperti biasa.”
“Beruntung ya Neng Nala punya suami kaya Den Alif. Udah ganteng, perhatian, romantis pula.” Si ibu terus memuji Mas Alif.
“Ah! Ibu bisa aja.” Haduhh. Si ibu ini membuatku merona malu saja.
“Iya, beneran Neng. Coba aja kalau Ibu dua puluh tahun lebih tua, pasti..” Si ibu menggantungkan kalimatnya.
“Pasti apa Bu?”
“Ya pasti tetep kalah sama Neng Nala,” kata si ibu lalu tertawa. Membuatku juga ikut tertawa dengan kelakarnya.
Setelah minum beberapa tegukan, aku segera membuka ponsel untuk menghubungi Mas Alif. Sopir pribadiku beberapa bulan terakhir. Sebagai persyaratan untukku agar bisa tetap mengajar, untuk urusan berangkat dan pulang selalu Mas Alif yang mengantar. Tentu saja di awal-awal aku menolak. Alasannya seperti biasa, jarak jauh yang juga bertolak belakang. Kasihan Mas Alif jika harus bolak-balik. Tapi berkat pengertiannya, aku sadar jika memang lebih baik menurut saja dengannya.
“Assalamu’alaikum Mas!” ucapku setelah sambungan terhubung.
“Wa’alaikumsalam! Gimana? Sudah pulang?” Pertanyaan yang sangat tepat sekali.
“Iya. Aku sudah pulang.”
“Ya sudah, tunggu sebentar ya! Ini aku udah di jalan, sekitar sepuluh menit lagi sampai.”
“Iya Mas. aku tunggu di tempat biasa.” Iya, biasa. Karena hampir setiap hari aku menunggu di sini. Bahkan tidak jarang kita berdua memesan makanan dulu sebelum pulang.
“Oke. Kalau gitu aku tutup telponnya ya?”
“Iya Mas. assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam.” Dan sambungan pun terputus.
Benar kata Mas Alif, tidak sampai sepuluh menit mobilnya sudah berada di depan warung. Segera aku menghabiskan minumanku yang tinggal sedikit. Lalu pamit ke si ibu dan berjalan menghampiri Mas Alif yang sudah berdiri menungguku di samping mobil.
“Mau langsung pulang?” tanyanya.
“Iya Mas, pengen langsung istirahat di rumah.” Mas Alif mengangguk kemudian membukakan pintu untukku. Segera aku masuk dan duduk di kursi penumpang sebelah sopir.
Mobil Mas Alif pun segera menembus jalanan Kota Malang. Seperti masalah yang selalu dihadapi pengguna mobil, di dalam sini kita dengan sabar menunggu kemacetan agar segera terurai. Jangan harap bisa mengalami perjalanan tepat waktu jika mengendarai mobil. Sambil menunggu aku memutar radio dalam mobil. Menyuguhkan alunan-alunan musik khas tahun sembilan puluhan. Mungkin aku terlalu hanyut dalam indahnya melodi tembang kenangan ini, membuatku lama-kelamaan memejamkan mata dan larut dalam buaian alam mimpi.
“Sayang! Ayo bangun!”
“Hmmm.”’
“Sayang... bangun!” Samar-samar aku mendengar suara Mas Alif.
Pelan-pelan kesadaranku mulai kembali. Aku membuka dan memejamkan mata secara berkala untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Tubuhku kini tiba-tiba sudah ada di atas empuknya kasur. Sepertinya tadi aku tertidur dan Mas Alif memindahkanku ke sini.
“Alhamdulillah sudah bangun juga,” katanya lalu mencubit pipi tembemku yang semakin hari tambah berisi.
“Hoammm!” Segera kututup mulutku ketika tiba-tiba menguap. “Kenapa Mas?”
“Sekarang sudah Ashar. Aku mau ke masjid dulu buat sholat, kamu jangan lupa siap-siap sholat juga,” titahnya.
“Eh? Sudah Ashar? Kok cepet banget?” heranku. Padahal rasanya baru tidur sebentar.
“Iyalah cepet. Orang kamunya pulas banget tidur. ketiduran dua jam pun enggak berasa,” sindirnya yang langsung jleb di hati.
“Iya, iya. Ya udah, kamu cepet berangkat sana!” usirku.
“Hmm.. aku berangkat, Assalamu’alaikum!”
“Wassalamu’alaikum!”
Setelah perginya Mas Alif aku segera beranjak dari tempat tidur untuk pergi ke toilet, mengambil wudhu lalu menunaikan sholat asar. Setelah itu aku juga berbaring lagi di kasur. Rasanya pengen malas-malasan. Tadi pas lewat di dapur pun tidak ada semangat untuk memasak. Melihat bahan dan bumbu dapur sekarang sudah tidak lagi menarik minatku. Biar saja lah nanti malam makan makanan yang dibawakan mamaku tadi pagi. Tinggal dihangatkan saja sudah beres.
Malam hari telah tiba. Seperti yang kupikirkan tadi sore, aku sekarang sedang menghangatkan masakan mamaku, yaitu telur balado. Mas Alif juga bisa memaklumiku. Ketika kuberitahu bahwa aku tidak masak, dia hanya tersenyum seperti biasanya dan berkata tidak apa-apa.
“Ini Mas,” kataku sambil menaruh piring yang sudah penuh dengan nasi hangat dan telur balado di hadapannya.
“Terima kasih ya!”
“Hmm,” jawabku seadanya.
Dari tadi aku hanya memainkan sendok dan piring, tidak berselera untuk makan. Bukannya mubadzir atau bagaimana. Tapi memang benar kalau aku tidak sudah tidak tertarik lagi untuk makan masakan mama. Rasanya pengen banget makan makanan yang lain. Tapi aku tahu keinginanku itu sulit sekali untuk terwujud. Itu pun juga belum tentu Mas Alif mengizinkan.
“Sayang!” Aku langsung tersentak ketika mendengar Mas Alif memanggilku dengan nada bicara yang agak tinggi.
“Eh! Apa Mas?” sepertinya tadi Mas Alif mengajakku berbicara. Tapi aku masih sibuk bergelayut dengan pikiranku.
“Kamu melamun ya? Dari tadi aku panggil enggak nyahut-nyahut.”
“Emm.. enggak kok. Kamu mau ngomong apa memangnya?” tanyaku.
“Kamu kenapa kok enggak makan? Malah dibuat mainan gitu makanannya.”
“Lagi enggak nafsu buat makan.” Kali ini aku jujur.
“Kenapa memangnya? Lagi pengen makan yang lain?” Seperti sudah hapal denganku, Mas Alif langsung menebak kalau aku ngidam.
“Udah jujur aja! Nanti aku carikan apa yang kamu mau,” katanya. Percaya diri sekali anda Pak! Belum tahu aja apa yang kumau.
“Beneran nih?” tanyaku untuk memastikan lagi.
“Iya benar!”
“Ya udah. Kamu udah bilang mau nyanggupin ya Mas?” ulangiku.
“Iya. Memangnya kamu pengen makan apa sih?”
“Pengen makan ayam panggang,” cicitku.
“Ya Allah Sayang! Cuma ayam panggang tapi kamu udah takut-takut gitu mukanya buat ngomong. Ya sudah, kamu tunggu di rumah ya! Aku carikan dulu.” Mas Alif mulai beranjak dari duduknya, padahal tadi aku belum selesai bicara.
“Tapi aku pengennya yang buat si Nopal,” imbuhku.
“APA???!” Sudah kuduga dia akan bereaksi seperti ini. Terkejut dengan mata melotot dan tubuh yang seketika mematung setelah mendengar kelanjutan permintaanku.
“Tuh kan! Aku udah tahu kalau kamu pasti enggak akan setuju.” Raut mukaku saat ini sudah pasti menyedihkan sekali.
“Bentar-bentar! Ini yang kamu maksud Nopal siapa?” tanyanya sekali lagi, mungkin untuk memastikan indra pendengarannya.
“Nopal temen kita lah Mas!”
“Naufal maksud kamu?”
“IYAA.” Gemas deh! Dari tadi nanya mulu.
“Ya Allah Sayang!” Tubuh Mas Alif langsung terduduk lagi di kursi. Seakan tidak sanggup menerima permintaanku.
Iya aku tahu kalau permintaanku ini tidak masuk akal. Apalagi Nopal sekarang ada di Kediri, rumahnya. Tidak lagi nge-kost di sini. Belum tentu juga dia mau menurutiku. Tapi kan ini ngidam!!! Sesuatu yang tiba-tiba muncul dan tidak kurencanakan.
Akhirnya setelah membujuk Mas Alif dengan berbagai cara, dia mau menurutiku. Diambillah ponselnya dan mencari kontak Nopal untuk melakukan video call. Tidak butuh waktu lama untuk Nopal mengangkat telponnya.
“What’s up bro!!! Ada apa nih tiba-tiba nge-video call gini?” sapa Nopal di seberang sana.
“Assalamu’alaikum!” ucap Mas Alif sekalian untuk menyindir Nopal.
“Oh iya, lupa. Hehehe. Wa’alaikumsalam!”
“Hai Nopal!” Aku segera merebut ponsel dari tangan Mas Alif, ingin langsung berbiacara dengannya tanpa banyak basa-basi.
“Wahh Nala! Hai juga.”
“Lagi sibuk apa sekarang Pal?” tanyaku untuk mengawali.
“Enggak sibuk apa-apa sih. Cuma lagi ngopi aja di teras rumah.” Lalu dia menunjuk segelas kopi yang dia maksud lalu meminumnya.
“Pal! Aku sekarang ngidam dimasakin kamu nih!”
Pfftttt!!!
Dapat kulihat kalau dia menyemburkan kopi yang suda ada di mulutnya. Sampai-sampai kameranya buram karena kecipratan air kopinya. Lalu layar berubah jadi hitam, tapi masih ada suara. Sepertinya dia tengah mengelap ponselnya.
“Tadi kamu ngomong apa Na?” tanyanya setelah selesai dengan ponsel basahnya.
“Aku lagi ngidam pengen makan masakan kamu Pal!” ulangiku.
“YANG BENER KAMU NA?!” Hadehh! Masih kaget juga nih orang.
“Iya. Bener. Enggak bohong ini! Please ya Pal! Bisa ya?” Akhirnya aku mengandalkan jurus yang terakhir, meminta dengan muka memelas yang pasti membuat siapa pun luluh.
“Hmmm, aku pikir-pikir dulu bentar.”
“Kok masih dipikir-pikir sih? Ini bayi-bayiku lho yang minta, bukan aku. Tega kamu nanti pas lahir lihat anak aku suka ngeces?”
“Haiish! Iya-iya. Ya udah sekarang aku mau ngomong sama Alif.”
“Oke!”
Ponsel itu langsung kuberikan dengan Mas Alif. Seakan ingin berbicara suatu hal yang penting, Mas Alif pakai menjauh segala. Berbincang di ruang tamu. Tapi enggak apa-apa lah ya, toh tadi Nopal sudah bilang iya. Jadi aku tidak perlu mengikuti Mas Alif. Sambil menunggu aku membereskan piring-piring di meja makan, lalu mencucinya. Di sela-sela kegiatan mencuciku, Mas Alif tiba-tiba datang.
“Sayang.”
“Hmm, kenapa Mas? Nopal bisa kan?”
“Iya bisa. Sekarang lagi siap-siap buat datang ke sini.” Mendengar penuturan Mas Alif membuat sangat senang. Kalau saja tidak ingat ada dua nyawa yang kukandung, pasti sekarang aku sudah loncat-loncat kegirangan.
“Yeeeyyy!! Makasih ya Mas!” ucapku sambil memeluk tubuh Mas Alif.
“Iya. Sekarang kita tunggu aja Naufal datang sambil nonton TV,” ajaknya yang langsung kuangguki dengan semangat. Tapi sebelum itu aku menyelesaikan terlebih dahulu cucianku, lalu mematikan keran dan berjalan menuju ruang keluarga.
Menunggu kedatangan Nopal tentulah membutuhkan kesabaran ekstra. Terlebih lagi, mengingat dia harus melewati lintas kota yang pastinya sangat ramai. Apalagi jarak Kediri ke Malang itu tidak dekat. Membuatku yang menunggu sampai terkantuk-kantu. Mas Alif berulang kali menyuruhku untuk tidur dulu langsung kutolak mentah-mentah. Pokoknya ingin menunggu Nopal. Sekitar tiga jam kemudian, tepatnya pada jam setengah sebelas malam sudah terdengar bel dari luar rumah. Aku dan Mas Alif segera membukakan pintu.
“Assalamu’alaikum!” sapanya.
“Wa’alaikumsalam!” jawabku dan Mas Alif bersamaan.
“Nopal!!!” seruku semangat.
“Iya-iya, ini aku. Girang banget ketemu teman sendiri, udah kaya ketemu artis aja,” sindirnya yang kubalas dengan cengiran semata.
“Gimana perjalanannya tadi?” tanya Mas Alif ketika kita sudah berada di ruang tamu dan mempersilakan duduk.
“Parah! Lama banget! Mana capek lagi,” keluh Nopal.
Aku melihat sepertinya mereka akan berbincang khas teman lama yang baru bertemu. Tidak mengindahkan kesopanan terhadap tamu, aku pun menawarkan minuman ke Nopal.
“Mau dibuatin teh atau kopi Pal?” tanyaku.
“Air putih aja. Haus dari tadi belum minum.” Segera aku mengambilkan air mineral untuknya di dapur.
Kita larut dalan perbincangan sekitar lima belas menit lamanya. Baru setelah itu aku mengingatkan tujuan awal kedatangan Nopal. Iya lah, kalau lama-lama ngobrol, kapan mau masaknya??? Nopal pun menghela napas lelah, lalu berdiri dan keluar rumah untuk menuju mobilnya. Sekembalinya dia, tangannya sudah menenteng satu kantong kresek penuh daging ayam. Membuatku makin senang saja. Aku pun segera mengajak Nopal ke dapur, diikuti oleh Mas Alif di belakang.
“Coba aja ini bukan permintaan bayi-bayimu, ogah banget aku repot-repot begini Na! Mana kalau ngidam enggak lihat waktu lagi. Coba aja dari siang tadi.” keluhnya ketika memotong-motong bumbu untuk saus ayam pangganya.
“Hhehe.. makasih ya Nopal, mau nurutin ngidamnya aku!”
“Iya.”
Dengan khidmat aku menonton aksi Nopal ketika memasak. Mungkin melihat Nopal yang agak kesusahan membuat Mas Alif tergerak hatinya untuk menolong, tapi baru saja dia berjalan mendekati Nopal, aku sudah memelototinya. Aku hanya mau makan masakan yang dibuat oleh tangan si Nopal, bukan bercampur dengan tangan yang lain.
“Tadaaa!!! Ayam panggang by Nopal sudah siap!” kata Nopal dengan bangga menunjukkan hasil masakannya. Membuatku harus menelan ludah kasar, tidak sabar untuk menyantapnya.
“Waaahh! Kelihatannya enak banget!” ucapku sambil menyendokkan nasi ke piringku.
“Pasti dong! Nopal gitu. Ya udah, kamu cepat makan sana! Nanti keburu dingin.”
“Siapp!”
Tidak sampai setengah jam kemudian aku sudah menghabiskan semua ayam-ayamnya. Rasanya enak sekali. Rasanya sekarang sudah lega hatiku. Melihatku sudah selesai makan dan juga hari yang sudah beranjak semakin malam, Mas Alif pun menyuruhku untuk segera tidur. setelah membaringkanku dengan hati-hati, dia kemudian mematikan lampu kamar dan berjalan keluar. Mungkin akan begadang dengan Nopal malam ini.