
Pagi hari dengan suasana riuh seperti biasa. Sebenarnya yang riuh cuma cewek-ceweknya aja sih. Yang cowok-cowok mah enak, cuma duduk diam tahu-tahu makanan sudah siap disajikan. Tapi kalau yang cowok-cowok menawarkan diri untuk memasak juga pasti kita menolak. Meminimalisir resiko dapur berantakan sekaligus keracunan makanan tentunya.
Seperti bekerja di restoran, kita bersembilan berkumpul di dapur. Dengan Salma selaku kepala chef yang memberi pengarahan pada asisten-asistennya.
"Oke, langsung aja. Nanti aku, Rere, dan Puput bagian yang masak sayurnya. Terus Nala sama Iren yang masak lauknya, kemudian Gea sama Tika yang nanak nasinya. Astri siapin tempat sama peralatan ya?"
"Oke" jawab Astri singkat. Iyalah singkat, Astri mana pernah ngomong panjang kali lebar.
"Ren, duduk di ruang tengah yuk!" Ajakku pada Iren. Kalau semua mau beraksi di dapur ya enggak muat. Mending pilih di ruang tengah aja, yang luas dan nyaman.
"Eh Na, aku yang buat telur dadarnya ya. Enggak bisa aku kalau buat perkedel jagung"
"Selamat tiga tahun kamu nge-kost tuh masak apa sih Ren? Masa cuma perkedel jagung aja enggak bisa?"
"Ya kan selama ini kalau makan tinggal beli, enggak perlu ribet buat masak. Hehehe" dih. Ketawa lagi.
"Yaudah iya" akhirnya aku mengambil alih jagung yang berada di tangan Iren.
Pertama-tama aku mengulek bumbu-bumbu yang akan dicampur dengan jagung yang telah dipisah dari bagian tengahnya. Lalu mengaduk keduanya di dalam satu wadah dan terakhir memasukkan tepung terigu lalu air.
"Na, ini keba--..."
Pluk!
Telur yang Iren buat sedikit tumpah ke adonan perkedel jagungku saat dia menyodorkannya ke arahku.
"Iren?! Hati-hati dong!" Kesalku.
"Hehehe.. maaf Na! Enggak sengaja" jawabnya sambil nyengir tak berdosa.
"Terus ini gimana?"
"Yaudahlah enggak apa-apa. Tinggal dicampur aja. Kayanya enak perkedel jagung dicampur telur" hmm.. iya juga sih. Rasanya juga masih nyambung.
"Yaudah, ini aku udah selesai cuma tinggal digoreng aja" kataku sembari menyerahkan adonan itu ke Iren.
"Aku gitu yang goreng?"
"Iyalah Ren, masa wajan cuma satu yang goreng anak dua" gemas deh! Pengen kucubit ginjalnya!
"Enggak mau Na. Nanti kalau kecipratan gimana?"
"Emm... gini deh Ren. Aku mau nanya sama kamu. Kira-kira kamu mau nikah enggak besok?"
"Ya mau lah. Gila apa aku mau jadi perawan sampai tua"
"Nah itu. Besok kalau udah nikah, suami kamu mau dikasih makan apa?"
"Ya makan nasi lah. Gila apa mau aku kasih makan batu"
Tuk!
Aku pukul kening dia pakai sendok bekas ngaduk adonan perkedel jagung tadi.
"Nah itu tau! Kalau mau makan nasi kan harus bisa masak dulu. Kalau enggak sekarang belajar mau kapan?"
"Iya, iya. Enggak perlu pakai diketuk juga kali. Jadi kotor kan jidatku" keluhnya sambil mengusap-usap dahi bekas kuketuk tadi.
"Yaudah sana ke dapur. Goreng telur sama perkedel jagungnya. Anggap aja ini latihan menjadi istri yang baik, yang pintar masak"
"Iya mak, iya"
"Idih! Ogah kali aku punya anak kaya kamu" akhiriku dengan tertawa puas.
Iren pun hanya bisa memberengut kesal sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.
Sekitar satu jam kemudian kita semua telah selesai berjibaku dengan dapur. Saatnya memanggil yang cowok buat sarapan. Sedangkan yang cewek antri buat mandi, jadi pakai sistem giliran.
Sebelum mandi tadi aku sempat melirik ke ruang tamu tempat para cowok sarapan. Kulihat Alif dengan semangat menyendokkan perkedel jagung buatanku. Semoga saja dia suka.
"Ngapain?"
"Eh!" Hampir aja aku teriak. Salma kalau ngomong langsung di samping telinga, dari belakang lagi. Gimana enggak kaget coba?
"Hayoo.. ngapain di sini? Lagi ngintip siapa nih?" Pertanyaan Salma bikin aku ketawa sendiri. Masa mau aku jawab 'lagi ngintip gebetan kamu Sal'. Kan enggak mungkin.
"Ngintip apaan sih Sal, orang aku mau ke toilet juga" jelas banget aku orang yang enggak pandai buat alibi.
Daripada berlama-lama di sini yang dapat menambah kecurigaan Salma, aku langsung meluncur ke belakang. Untuk mengantri mandi tentunya.
Nasib-nasib. Dibela-belain ngintip Alif lagi makan, balasannya malah dapat antrian mandi paling belakang. Kalau dapat bagian akhir begini terpaksa harus mandi bebek, mandi dengan kecepatan kilat.
Sepuluh menit cukup buatku untuk mandi. Setelah berganti pakaian dan keluar dari kamar mandi, aku mencium bau-bau keanehan.
Ini kenapa muka semua orang panik begini?!!
Ada yang hilir mudik masuk dan keluar kamar, ada yang jalan muter-muter enggak jelas. Semakin membuat otakku berpikir macam-macam. Aku segera mendekati ke sumber kepanikan, yaitu di ruang tamu.
"Put, ada apaan? Kok panik begini?"
Aku yang memang enggak tau apapun langsung bertanya ke Puput yang memang paling dekat keberadaannya denganku.
"Itu Na! Alif! Alif alerginya kambuh"
APA?!!
Langsung aku menyusup masuk ke kerumunan. Pikiranku kalut saat ini.
Alif punya alergi? Apakah itu parah?
Berbagai pertanyaan bercampur aduk menjadi satu di benakku. Dan saat aku berhasil lolos dari kerumunan, aku mendapati Alif yang berbaring lemah di sofa. Tubuhnya memerah, semacam bintik-bintik atau ruam memenuhi wajahnya. Lalu suara deru mesin sepeda motor terdengar dari teras rumah. Fahmi dan Radit masuk dengan wajah khawatirnya, kemudian mereka membawa Alif keluar. Mungkin ke Puskesmas.
Tes.
Ketika kurasakan air mataku menetes, segera aku pergi ke kamar mandi. Membiarkan air mataku tumpah di sana. Beberapa saat kemudian, aku merasakan usapan halus di punggungku. Membuatku terpaksa berbalik badan.
"Kamu yang tenang Na. Mas Alif pasti baik-baik saja"
"Aku.. hiks! enggak hiks.. hiks.. bisa tenang Sal!" Segera aku menghamburkan diri kepadanya.
Sebagai tempat sandaranku saat ini.
Salma seperti memahami perasaanku saat ini, dia hanya diam memelukku sembari tangannya terus mengusap punggungku. Memberi ketenangan.
Setelah kurasa membaik dan air mataku telah kering, kulepas pelukan kita. Kulihat wajahnya, di sana juga tersirat kekhawatiran. Dan hal itu membuatku tersenyum miris. Di sini seperti aku yang merasakan sakit luar biasa, padahal Salma pasti merasakan sakit yang lebih mendalam ketika melihat orang yang dicintainya terbaring lemah.
"Kenapa?" Tanyanya. Mungkin heran melihatku yang tiba-tiba tersenyum.
"Enggak apa-apa kok. Kita ikut ke Puskesmas yuk!" Ajakku.
"Enggak bisa Na, kan habis ini kita pergi ngajar. Lagian di sana sudah ada teman-teman yang lain"
Padahal pikiranku sudah kacau balau tak karuan. Tapi apa boleh buat? Enggak mungkin juga aku mau ingkar tanggung jawab.
"Yaudah. Yuk ke depan!" Ajaknya sambil menggandeng tanganku.
Kulihat di ruang tamu teman-teman masih berkumpul. Meski wajah mereka tidak sepanik tadi, tapi tetap saja suasana tegang masih terasa menyelimuti.
"Sita..." panggilku lirih sekiranya dia bisa mendengarnya.
"Kenapa Na?"
"Menurut kamu, alergi Alif tadi parah enggak?" Tanya sedikit was-was. Takut jika jawabannya sesuai dugaanku.
"Kalau dilihat dari reaksi tubuhnya tadi itu lumayan parah Na, soalnya alerginya itu langsung timbul dengan jeda sedikit waktu"
Deg.
Rasanya seperti palu besar menghantam tepat di ulu hatiku.
Hancur. Sakit.
"Heh! Nala! Tadi kamu kasih apa perkedel jagungnya sampai Alif kaya gitu?!"
Tapi... apa jangan-jangan?
"Tadi Mas Alif makan apa aja?" Tanya Salma, mungkin dia tahu penyebab alergi Alif kambuh.
"Seingatku tadi dia cuma makan capcay sama perkedel jagung" jawab Bayu.
"Kalau cuma makan itu enggak mungkin sampai alerginya kumat. Setahuku Mas Alif itu alergi telur"
Tuh kan benar!
Ucapan Salma sukses membuat air mataku kembali menetes. Tubuhku merosot ke lantai, tidak tahan lagi rasanya. Aku menjadi semakin merasa bersalah.
"Maaf.. hiks!"
"Kenapa Na?"
"Tadi.. hiks! Enggak.. Sengaja hiks!.. adonan perkedelnya kecampur sama telur.. hiks!.."
"Tuh kan! Si Nala biang keroknya!"
"Sudahlah Ge! Jangan memperkeruh suasana" Rendi menepis kasar tangan Gea yang menuding wajahku.
"Tadi kan Nala udah ngaku dan bilang enggak sengaja. Yang penting Alif sudah di bawa ke Puskesmas. Dan sekarang yang enggak ada tugas bisa ke Puskesmas terus yang lain kembali ke tugasnya masing-masing" kata Rendi bijak.
Berangsur-angsur mereka mulai meninggalkan ruangan ini. Kini hanya tersisa aku, Salma, dan Rendi.
"Udah, tenang Na! Mas Alif pasti baik-baik aja" kalimat penenang terus saja terlontar dari mulut Salma. Padahal kutahu pasti hatinya juga tidak bisa tenang.
"Yaudah kalian cepet siap-siap sana! Dandan yang cantik. Masa ibu guru tampilannya kucel, udah gitu ingusan lagi" sialan Rendi!.
"Apaan sih! Pergi sana!" Usirku sambil memukul lengannya.
Sahabatku ini memang selalu bisa diandalkan ketika aku sedih. Selalu ada saja caranya untuk membuatku tersenyum.
Sesuai yang telah disepakati, akhirnya aku, Salma, Rangga, dan Abdul pergi ke sekolah. Meski ragaku berangkat ke sekolah, tapi pikiranku jelas melayang ke Alif. Rangga yang seperti sudah tahu pikiranku agak kalut jadi mengambil alih pelajaran. Membiarkanku mengistirahatkan otak sejenak.
Aku memilih keluar kelas, lagi pun bel istirahat sebentar lagi berbunyi. Di kantor suasana masih sepi. Semua guru sepertinya terdapat jam mengajar. Syukurlah, aku bisa tenang barang sejenak. Baru saja duduk di bangkuku dan meminum habis air mineral bawaanku, seorang pria dengan kemeja warna biru tua menghampiriku.
"Kenapa di sini?"
"Enggak apa-apa kok Mas, mau minum dulu. Terus Mas Pandu ada apa ke sini?"
"Oh itu. Saya ada perlu tadi sama kepala sekolah" aku mengangguk-angguk paham. "Kamu sakit Na?"
"Eh? Enggak kok Mas" yang sakit cuma hati.
"Kamu pucat gitu wajahnya? Yakin enggak sakit?" Dia mengambil kursi yang berada di sampingnya, lalu duduk menghadapku.
"Enggak. Cuma agak kepikiran aja mungkin?"
"Kepikiran apa?"
"Teman. Dia sekarang sedang sakit"
"Sudah dibawa ke Puskesmas?"
"Sudah. Tapi aku masih belum tahu kondisinya sekarang" makanya masih kepikiran terus. Mana rasa bersalah masih terus bergelayut manja lagi.
"Belum dijenguk?" Ya kalau belum tahu berarti belum dijenguk lah Mas.
Aku rasa kali ini Mas Pandu banyak bertanya seperti wartawan. Entah memang tertarik dengan pembicaraan ini atau mungkin memang sengaja mengulur waktu agar terus berbincang denganku.
"Masih nanti" dia manggut-manggut paham. Lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya.
"Minta nomer kamu boleh?" Ohh.. ujung-ujungnya minta nomer HP. Tapi enggak apa-apa lah ya. Hitung-hitung menyambung tali silaturahmi.
Kuambil ponsel yang berada di genggamannya, lalu mengetikkan nomerku yang sudah kuhapal di luar kepala.
"Mau dikasih nama apa Mas?"
"Nala sayang" habis dikasih suguhan apa sih di ruang kepsek? Jadi agak bermasalah gini otaknya.
"Yang serius dong Mas" sebalku. Kalau saja suasana hatiku sedang baik, pasti sudah tersipu malu dari tadi.
"Kamu mau saya seriusin?" Lah. Salah fokus nih orang.
"Yaudah kalau gitu, Mas Pandu kasih nama sendiri lah" kataku sambil menyerahkan ponselnya.
"Jangan cemberut dong! Saya kan cuma bercanda. Maaf ya!"
"Iya" ketusku.
"Yaudah saya pulang dulu ya!"
Setelah dia menghilang dibalik pintu, suara bel terdengar. Aku menghela napas lelah, masih tinggal beberapa jam lagi.
Akhirnya waktu yang kutunggu-tunggu datang. Ketika pulang sekolah, aku langsung menarik lengan Salma untuk segera ke Puskesmas. Tentunya membeli buah tangan terlebih dahulu. Mungkin roti dan buah-buahan. Tapi sebelum itu aku menanyakan terlebih dahulu apakah Alif mempunyai alergi lain.
Aku tidak mau lagi kecerobohanku membahayakannya lagi. Beruntung Alif hanya memiliki alergi telur.
Di depan ruang tempatnya dirawat sudah ada beberapa anak yang menunggu. Ada Rendi, Ucup, juga Nopal.
"Ren, udah lama di sini?" Basa-basiku pada Rendi.
"Lumayanlah"
"Kenapa enggak masuk?"
"Enggak boleh banyak-banyak. Lagian di dalam masih ramai sama anak-anak cewek" aku manggut-manggut paham.
Dia kemudian agak bergeser ke arah Ucup dan Nopal yang masih fokus sama ponselnya. Menyisakam satu kursi yang kosong.
"Salma, ayo duduk!"
What? Jadi buat Salma?
Aku yang sahabatnya ini dikemanain?
Seakan mengerti wajah bingung dan tidak sukaku, Rendi kemudian tersenyum lalu berdiri dan berjalan ke arahku.
"Kamu juga duduk, aku tahu kok kamu juga capek" dia menyeretku untuk duduk di kursinya.
"Udah jangan manyun-manyun gitu! Jelek tau gak!" Padahal dalam hati aku udah punya niatan buat bilang makasih. Eh langsung anjlok lagi mood-ku. Dasar Rendi.
"Cup" panggilnya.
"Hmm" si Ucup cuma dehem.
"Dijaga mulutnya, toxic-nya jangan keluar semua! Ada cewek-cewek noh di samping" perkataan Rendi ternyata membuat Ucup mengalihkan perhatiannya.
Ketika menghadap ke samping kiri, tepatnya ke arahku mukanya kelihatan kaget begitu. Kaya lihat setan aja. Dan si Rendi berjalan entah kemana.
"Mau ke mana Ren?"
"Kantin. Nyusul Fahmi" oohh. Bayangnya semakin jauh dan menghilang setelah berbelok dari lorong.
"Sejak kapan kalian di sini?" Tanya Ucup.
"Dari tadi" jawabku.
"Ucup kalau main ngucap dzikir sama sholawat aja, Insya Allah nanti menang" lah si Salma.
Tapi bener juga sih apa kata dia. Daripada semua binatang keluar dari mulut si Ucup, mending juga sholawatan.
Pintu ruangan terbuka. Satu per satu mulai keluar. Mereka menyapaku lalu pamit untuk pulang. Dan sekarang giliranku dan yang lain untuk masuk. Bau obat-obatan yang khas langsung menyeruak. Mataku langsung tertuju pada seseorang yang terbaring di pesakitan.
Deg.
Alif...