TWENTY

TWENTY
SIDE STORY ~ WAHYU



Ketika orang pertama kali bertemu dengan sosok Wahyu pasti mudah menerimanya. Karena pribadi Wahyu yang ramah, suka bercanda, dan seru saat diajak membahas apapun. Dan poin lebihnya lagi dia mudah mengakrabi perempuan dengan caranya yang meski selalu membuat jengkel perempuan yang diajaknya bicara. Pasalnya bukan hanya perkenalan dan ramah tamah yang dikeluarkan dari mulut Wahyu, lengkap dengan gombalan receh khasnya yang membuat banyak temannya geleng-geleng kepala. Meski banyak yang kesal, tapi banyak juga yang merasa terhibur. Dan melihat orang-orang di sekitarnya tersenyum dan tertawa bahagia merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Wahyu.


Itu semua karena dulunya dia adalah seorang yang bisa dikatakan jarang mendapatkan tatapan suka dari orang sekitarnya. Dan hanya teman lamanya saja yang tahu bagaiman Wahyu dulu. Meski agak sakit untuk diingat, tapi terkadang memori itu datang saja di kala Wahyu sedang diam atau melamun.


Berawal dari Wahyu kecil yang bisa dibilang agak penakut. Istilah yang sering digunakan teman-temannya untuk memanggilnya adalah si culun. Memang penampilan Wahyu dulu bisa dibilang begitu. Rambut yang tertata rapi, kaca mata yang kerap ia gunakan ketika membaca. Ditambah dulunya ia pintar tapi gampang dibodohi oleh teman-temannya. Alias hanya dimanfaatkan kepintarannya. Dan Wahyu menerimanya saja tanpa memprotes, membuat teman-temannya semakin gencar mengerjainya.


Masih ingat jelas di pikiran Wahyu ketika ia masih mengenakan seragam putih biru dongker. Kala itu dia baru saja datang ke kelas. Dan baru saja ia mendudukkan diri tapi sudah dihadapkan dengan tatapan sinis teman-temannya. Sudah paham kalau akan ada suatu hal yang buruk, dia diam saja di bangkunya seperti yang sebelum-sebelumnya.


"Eh, culun! Mana buku MTK kamu!"


"Buat apa?" tanya Wahyu.


"Ya elah! Masih pakek nanya lagi. Udah cepet mana sini?!" titah teman Wahyu lagi.


Tidak mau memperpanjang masalah, akhirnya dia menyerahkan saja catatan MTK nya. Tidak perlu bertanya pun dia sudah tahu kalau mereka akan mencontek pr nya. Selalu saja begini. Ketika dia yang susah payah belajar, susah payah sampai begadang untuk mengerjakan pr, kemudian teman-temannya dengan seenak jidat meminta hasil kerasnya dan tinggal menconteknya saja. Wahyu juga diam saja. Mau melawan pun pasti akan mengundang lebih banyak masalah. Malah ia akan dibully lebih keras lagi.


Teman-teman Wahyu yang sudah mendapatkan apa yang diinginkan pun kembali ke bangku mereka. Ramai-ramai mencontek jawaban Wahyu. Hampir semua murid laki-laki berbuat seperti itu ke Wahyu. Dan sebagian kecil yang tidak, itu pun mereka tidak berani untuk membela Wahyu.


Setelah mencontek, dengan liciknya mereka menghapus jawaban Wahyu dan mengganti jawabannya dengan jawaban yang asal. Entah apa yang memotivasi mereka hingga senang sekali mengerjai Wahyu. Padahal jika meminta baik-baik pun Wahyu akan membatu mereka. Tapi itu tidak akan terjadi karena menindas orang lain sudah seperti hobi yang menyenangkan bagi mereka.


Saat guru sudah masuk, semua murid yang tengah bergurau, masih santai di lantai, atau pun leha-leha di bangku temannya, semua langsung duduk tertib di bangkunya masing-masing. Untuk catatan MTK milik Wahyu masih di pegang teman-temannya, seperti biasa mereka nanti yang akan mengumpulkan milik Wahyu bersamaan juga dengan buku mereka.


"Ayo tugas kemarin silakan dikumpulkan!" perintah si ibu guru setelah memimpin murid-muridnya berdoa.


"Iya Bu!" Semua murid berbondong-bondong maju ke depan untuk mengumpulkan tugas mereka.


Setelah itu Bu guru memberikan materi sebentar di papan tulis lalu menerangkannya. Tidak lama kemudian menyuruh murid-muridnya untuk mencatat kembali. Sembari menunggu murid-muridnya mencatat, beliau mengoreksi tugas yang telah dikumpulkan. Ketika mengambil buku demi buku, mengoreksi soal demi soal, kemudian mata Bu guru membulat sempurna saat melihat jawaban milik Wahyu yang luar biasa mengawurnya. Dia tidak menyangka kalau murid pintar dan kesayangan hampir semua guru bisa mendapat nilai nol. Memang semua jawaban yang ada di buku milik Wahyu.


"Wahyu?!"


"I-iya Bu?" Wahyu terkesiap saat Bu guru tiba-tiba memanggilnya.


"Kamu ke sini bentar!" Dengan langkah bingung dan hati yang bertanya-tanya, Wahyu pun menghampiri Bu gurunya. Sedangkan murid yang lain ada yang masih fokus mencatat apa yang ada di papan tulis, ada juga yang cengengesan melihat ke arah Wahyu. Siapa lagi kalau bukan temannya yang mengerjainya tadi.


"Ada apa Bu?"


"Kamu dengerin ibu ngajar gak kemarin?" tanya Bu guru untuk memastikan.


"Dengerin kok Bu. Saya catat malahan."


"Tapi kenapa jawaban kamu salah semua? Apa mungkin kamu belum paham? Kalau ada yang belum paham harusnya tanya lah Wahyu! Jangan diam saja!" Mendengar itu juga membuat Wahyu terkejut. Padahal dia yakin betul kalau sudah menjawab dengan benar.


"Saya paham kok Bu. Dan saya juga yakin kalau tadi malam sudah mengerjakan dengan benar." Wahyu berusaha meyakinkan Bu gurunya dengan berkata jujur apa adanya.


"Apa begini yang kamu maksud dengan benar?" Bu guru kemudian menunjukkan buku catatan Wahyu yang sudah jenuh dengan coretan tinta warna merah tanda kalau salah dari Bu guru.


Wahyu membacanya, dan benar saja kalau jawaban di bukunya itu salah semua. Kemudian Wahyu mengamati tulisan yang ada di kertas bukunya. Benar, tidak salah lagi. Tulisan itu bukankah tulisan tangan milik Wahyu. Dan tentu saja dia halal dengan tulisannya sendiri. Kemudian dia melihat ada bekas tulisan yang dihapus. Untuk sejenak dia merasa bingung bagaimana ini bisa terjadi. Tapi tak lama kemudian dia baru ingat kalau bukunya tadi sempat berada di tangan temannya. Dan bukannya dia mau berburuk sangka, tapi memang dia yakin sekali kalau ini ulah temannya.


"Maaf, meski kamu murid yang ibu banggakan tapi sekali peraturan tetap peraturan. Kamu tahu kan apa yang akan terjadi jika mendapat nilai nol di mata pelajaran saya?"


Wahyu meneguk ludahnya kasar. Dia tahu bahwa guru matematikanya ini sangat tegas dan tidak pandang bulu dengan peraturan-peraturannya. Sudah menjadi ciri khas kalau guru matematika terkenal sebagai guru killer yang tidak main-main dengan hukumannya. Dan untuk Bu gurunya yang satu ini, dia tahu bahwa hukuman yang akan menantinya adalah membersihkan toilet sekolah.


"Saya tahu Bu," jawabnya sambil menundukkan kepala. Baru pertama kali ini dia akan mendapat hukuman setelah delapan tahun ia belajar di sekolah.


"Ya sudah, kamu kerjakan hukuman itu nanti pulang sekolah!"


"Iya Bu." Kemudian Wahyu kembali menuju duduknya. Dalam langkahnya dia menatap teman-temannya yang asyik cengengesan menertawakan dirinya.


Seperti yang sudah dikatakan Bu guru tadi, maka sekarang Wahyu sudah berada di dalam toilet murid laki-laki. Sibuk menggosok kerak lantai dengan karbol sembari berjongkok. Setelah mendapati agak bersih, barulah dia bilas dan akan beranjak ke toilet di bagian lain. Tapi belum saja dia pindah tempat dan baru saja selesai membilas, tiba-tiba pintu toilet terbuka dan masuklah teman-temannya tadi yang menyebabkan Wahyu dihukum seperti ini. Dengan tidak berdosa mereka sengaja menginjak-injak lantai yang baru saja Wahyu bersihkan dengan sepatu mereka. Bahkan Wahyu sempat berpikir kalau mereka sebelum ini berjalan di atas tanah yang basah dan sengaja mengotori lagi lantai toilet.


"Hey!" Otomatis Wahyu berdiri tidak terima karena jerih payahnya dikotori dengan seenak hati mereka sendiri.


"Apa? Apa ha?!"


"Mau ngelawan?"


"Mau ngamuk ya?"


"Ngamuk aja!"


Mental Wahyu menciut seketika mendapat berondongan intimidasi dari teman-temannya. Dia berjalan mundur sampai menabrak tembok. Tidak dia sangka kalau tiba-tiba ia akan mendapat guyuran air gratis dari temannya. Seragamnya basah kuyup. Tubuhnya menggigil kedinginan.


"Makanya gak usah sok-sokan! Dasar! Culun!" Mereka kemudian keluar dari kamar mandi tanpa berniat sedikitpun untuk berbelas kasihan pada Wahyu.


Dalam toilet itu wahyu berdiri dan menatap ke arah cermin. Dibalut dengan kedinginan membuat Wahyu kesal sendiri dengan dirinya. Kesal atas ketidakberdayaan dirinya untuk membela diri sendiri.


*****


Setelah lulus dari SMP Wahyu bisa bernapas lega karena bisa lepas dari bully-an teman-temannya. Tapi angin segar yang ia rasakan tak disangka-sangka cepat pergi. Apa yang dia bayangkan dengan kehidupan SMA yang aman, damai, tentram itu tidak benar-benar terjadi. Tidak ada bedanya dengan SMP-nya. Dia tetap saja menjadi sasaran empuk para murid yang haus penindasan.


Tapi setidaknya dari SMA ini ada yang berani membelanya. Ketika ia akan dihajar di belakang sekolah oleh teman-temannya akibat ia tidak mau memberitahu jawaban ketika ujian. Sebenarnya bukan Wahyu yang tidak mau, tapi gurunya yang menjaga sangat ketat hingga tidak ada celah untuknya memberitahu jawaban ke teman-temannya. Apalagi dia masih murid baru, mana berani ia akan berulah dengan nekat memberi contekan ke temannya.


Tak ia sangka ada segerombolan murid laki-laki dengan bet kelas sebelas membelanya. Temannya yang juga masih adik kelas jelas saja langsung kabur dan tidak berani menantang kakak kelasnya. Wahyu langsung menghampiri mereka untuk berterima kasih.


"Makasih Bang! Aku enggak tahu lagi kalau kalian enggak berhentikan mereka," ucap Wahyu.


"Santai aja! Lagian mereka masih bau kencur gitu aja udah berani-beraninya sok ngebully di wilayah kita," ucap salah seorang di antara mereka yang membuat Wahyu menelan ludahnya kasar.


Keluar kadang macan, malah masuk kadang buaya nih. Batin Wahyu.


"Tenang aja! Kita gak bakal ngapa-ngapain kamu." Salah seorang di antara mereka yang Wahyu baca ber- name tag Surya itu maju menghampirinya.


"Kenapa tadi gak ngelawan?" tanyanya.


"Gak berani Bang. Kalau aku ngelawan nanti malah tambah brutal mereka."


"Yaah, alasan orang cemen itu mah! Sini, aku kasih penawaran mau gak?" Surya merangkul pundak Wahyu dan mengajaknya berjalan meninggalkan area belakang sekolah. Keempat temannya juga mengikuti dari belakang.


"Penawaran apa Bang?"


"Penawaran agar enggak jadi orang cemen. Gabung sama kita-kita, entar kita kasih tahu biar jadi laki-laki yang jantan. Habis ini gak ada lagi yang mau ngebully kamu. Malah lihat kamu dari jauh aja udah lari terbirit-birit."


Wahyu menimbang-nimbang tawaran dari Surya. Sebenarnya bagus juga tawaran dari Surya. Membayangkan dirinya menjadi seperti Surya yang disegani bahkan melihatnya saja sudah membuat murid lain ketakutan adalah hal yang Wahyu impikan. Dia sudah lelah diperlakukan semena-mena juga perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan lainnya. Sudah saatnya sekarang ia berubah.


"Oke deh Bang. Aku mau."


"Bagus!" ucap Surya dan teman-temannya.


"Besok datang di rumahku. Kita mulai ngerombak diri kamu dari awal."


"Iya Bang."


*****


Sesuai yang dikatakan Surya, Minggu siang ini Wahyu sudah berada di rumah Surya. Sebelum masuk dia bertemu teman-teman Surya yang lain, jadi dia bergabung saja dengan mereka untuk masuk bersama. Dalam salah satu ruangan di rumah Surya yang sudah disulap sedemikian rupa menyerupai markas, mereka semua berkumpul.


"Nah, keahlian pertama yang harus dilakukan laki-laki sejati adalah pandai bertarung. Kamu bisa bela diri apa?" Wahyu hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena memang dia tidak menguasai bela diri satu pun. Kalau pun bisa juga pasti dia dari dulu sudah melawan yang berani membullynya.


Surya juga teman-temannya tertawa. Menertawai Wahyu lebih tepatnya. Badan tegap tinggi seperti itu kok tidak bisa bela diri apa pun. Pantas saja mudah dibully oleh teman-temannya. Sebenarnya tidak ada alasan khusus yang membuat Surya dan teman-temannya tertarik untuk menarik Wahyu ke grupnya. Mereka hanya melihat sekilas dan sudah memiliki feeling kalau Wahyu memang cocok dengan geng mereka.


"Sekarang coba pilih alat mana aja dari sini! Latihanlah dengan itu!" kata Surya.


Wahyu kemudian melihat-lihat alat olahraga yang ada di markas ini. Matanya langsung terarah pada samsak berwarna hitam dan merah yang menggantung kokoh. Sepertinya dia punya keinginan baru, yaitu ingin pandai memukul hingga ia bisa membalaskan dendam ke teman-temannya dulu yang telah membullynya. Katakanlah sekarang dia akan menjadi Wahyu yang buruk, tapi memang itu lah yang terpintas di benak Wahyu saat ini. Balas dendam.


Lama berteman dan bergaul bersama Surya dan teman-temannya memang membawa pengaruh besar bagi Wahyu. Dia sekarang bahwa lebih ditakuti oleh teman-temannya. Kini tidak ada lagi tatapan menunduk yang ia perlihatkan, sekarang menjadi Wahyu yang membusungkan dada dan menatap percaya diri ke arah mana pun. Wajahnya pun tambah berseri, membuat banyak perempuan kini mulai meliriknya. Katakanlah sekarang Wahyu menjadi populer. Masuk dalam jajaran pria keren di SMA-nya .


Itu mungkin hal yang lumayan baik, tapi nyatanya perubahan itu juga diikuti sikap buruk Wahyu. Dia sekarang malah terkenal suka berantem dan tawuran sana sini, berkat siapa lagi kalau bukan didikan dari Surya? Hal itu lah yang membuat Wahyu menjadi ditakuti. Dari mulanya si cupu yang gampang dibodohi menjadi si badboy yang tidak kenal ampun.


*****


"Serangg!!!"


Bugh!


Bugh!


Sebuah tawaran remaja antar sekolah tampak di salah satu jalanan yang sepi. Adu pukul, baku hantam, juga saling lempar benda-benda tumpul tak dapat terelakkan. Dan percayalah! Di salah satu remaja yang terlibat perkelahian itu terdapat seorang Wahyu di dalamnya. Dia benar-benar tak terkendali sekarang. Berkelahi sekarang seolah menjadi hobi barunya setelah bergabung dengan Surya. Membuat teman-temannya ketar-ketir ketika Wahyu hanya menatapnya saja.


Dari perkelahian yang sengit itu Wahyu sempat melihat Surya yang agak kewalahan. Dilihatnya teman-teman Surya yang lain juga masih sibuk. Akhirnya dia sendiri turun tangan membantu Surya. Tak tahunya malah dia yang dikeroyok dari belakang ketika akan membantu Surya.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Puluhan pukulan Wahyu dapatkan di sekujur tubuhnya. Mau sejago apa pun dia kalau mainnya keroyokan dan dari belakang pula, pastilah dia kewalahan sendiri. Jadi dia hanya diam saja sambil berusaha melindungi tubuhnya sebisa mungkin serangan. Tak lama kemudian terdengar suara sirine polisi yang membuat mereka membubarkan diri dan lari pontang panting.


Begitupun Wahyu. Dengan keadaannya yang mengenaskan dengan tubuh yang merasakan hampir remuk semua itu masih berusaha untuk meraih motornya. Melaju meninggalkan gang tempat mereka melupakan kekesalan satu sama lain. Bukannya pulang ke rumah atau ke puskesmas dan klinik kesehatan lainnya untuk membuatnya sembuh, tapi malah membelokkan motornya ke salah satu kost putri.


Diketuknya perlahan salah satu pintu kayu itu, dan tak lama kemudian muncullah seorang perempuan yang tengah mengenakan daster rumahan juga rambut yang berantakan khas bangun tidur.


"Siapa sih ya-," Dia berhenti bicara. Masih terkejut dengan pemandangan di depannya. Untuk memastikan mimpi apa bukan maka dia mencubit tangannya sendiri. Sakit. Berarti memang nyata.


"Wahyu?!"


"Ho'oh! Ini aku. Enggak dipersilakan masuk apa gimana nih?"


"I-iya. Ayo cepet masuk!" Dengan sigap perempuan itu membantu tubuh Wahyu untuk sampai di kamarnya. Agar tidak menimbulkan kesalahpahaman maka dia membuka lebar-lebar pintu kamarnya. 


"Bentar. Aku ambilin obat dulu."


Wahyu menunggu sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar. Masih tetap sama meski dia sudah jarang datang ke sini. Datang ke tempat salah satu temannya. Teman berbagi cerita, teman mengerjakan tugas, juga teman untuk menghabiskan waktu bersama kala sedang sepi. Wahyu sedikit lupa kapan agaknya kali terakhir menghabiskan waktu bersama sahabatnya ini. Seringnya dia datang hanya untuk alasan genting seperti saat ini.


"Heh! Wahyu!"


"Apa?"


"Ngelamun aja! Liat sini mukanya!" Wahyu menurut saja dan memperlihatkan mukanya yang dia tebak sudah tak karuan lagi rupanya.


"Habis berantem lagi? Iya?!"


"Biasa lah Shel!" ucap Wahyu agak menahan sakit pada bibirnya yang bengkak.


Sedangkan perempuan yang bernama Shela itu sengaja menelan kuat-kuat memar di pelipis Wahyu. Kesal dengan jawaban Wahyu yang enteng sekali menganggap perkelahian seperti hal yang biasa.


"Aw! Pelan-pelan Shel! Sengaja ya?"


"Emang?! Kenapa?! Mau marah?! Mau pergi?! Sok! Silakan!" Shela sering kali emosi jika menghadapi Wahyu yang selalu datang dengan keadaan yang tidak baik-baik saja. Sedangkan Wahyu langsung terdiam, tidak berani membalas ucapan Shela. Jika tidak ada yang berani padanya di sekolah, maka lain halnya dengan Shela yang masih tidak gentar pada Wahyu meski banyak berubah. Baginya Wahyu tetap sama, sahabatnya masih memerlukan dukungan darinya.


"Iya. Maaf!"


Shela kemudian melanjutkan mengobati luka Wahyu lagi. Kali ini dengan pelan dan hati-hati. Membersihkan dengan alkohol, memberi obat merah, juga menaruh kapas lengkap dengan plesternya. Rupanya kali ini luka Wahyu tidak main-main. Bukan hanya di wajah saja yang terdekat luka, Shela pikir seluruh tubuh Wahyu ikut terluka. Tampak ketika ia tak sengaja menyenggol lengan Wahyu dan laki-laki itu langsung merintih kesakitan.


"Sekarang buka kaosnya!" ujar Shela yang langsung dipelototi oleh Wahyu.


"Heh! Mau apa kamu? Aku enggak mau ya tiba-tiba ada warga yang menggerebek kamar ini." Kalau saja tidak ingat Wahyu sedang terluka, pastilah Shela sekarang sudah puas menjitak, memukul, menyentil, juga menjambak Wahyu.


"Cepet buka sendiri apa aku yang bukain?" ucap Shela yang tak pula memberikan tatapan intimidasi. Tentu saja Wahyu memilih menanggalkan kaosnya sendiri meski tidak ada bedanya jika dibukakan oleh Shela. Tetap saja menunjukkan bagian atasnya yang jarang terekspos.


Untuk sesaat Shela tiba-tiba terpana dengan perut sixpack milik Wahyu. Padahal dulu seingatnya Wahyu agak buncit, sekarang terlihat tambah kekar dan bugar. Ternyata begini rasanya lihat roti sobek secara langsung. Seolah olah ingin terus menatapnya hingga ingin menyentuhnya. Tapi buru-buru Shela menghempaskan pikiran ngawurnya itu. Sebelum Wahyu mendapati dirinya terang-terangan menatap perutnya. Bisa GR tujuh turunan hingga tanjakan dan belokan jadinya kalau sampai Wahyu tahu.


Kembali fokus ke dunia nyata dan melupakan fantasinya barusan, mungkin sepertinya mata Shela akan copot di tempat saking terkejutnya dengan luka yang didapat Wahyu. Tak main-main, bahkan punggung, perut, lengan atas, juga bahunya biru lebam semua. Tak tega lagi melihat lebih lama, Shela akan pergi keluar untuk membeli perban. Sebelum itu terjadi Wahyu sudah terlebih dahulu menahannya dan meminta agar cukup diobati saja tanpa dibalut perban.


"Kamu tuh habis tarung sama Terminator apa gimana sih? Kenapa bisa bonyok semua?!"


"Mereka mainnya keroyokan Shel, pantaslah aku kaya gini."


"Enggak! Kamu tuh enggak pantas mendapatkan ini. Dan kamu juga enggak pantas menjadi Wahyu yang seperti ini. Kenapa sih? Kenapa kamu jadi berubah banyak seperti ini?" Mata Shela sampai berkaca-kaca dan hendak menangis melihat kondisi Wahyu.


"Hidup kan perlu perubahan Shel. Sekali-kali harus keluar dari zona nyaman," balas Wahyu.


"Iya. Keluar dari zona nyaman sampai kamu keblabasan kaya gini." Shela buru-buru menyeka air matanya yang hendak keluar, lalu melanjutkan lagu mengoleskan salep ke punggung Wahyu.


"Kenapa sih kamu enggak balik jadi Wahyu kaya dulu lagi?"


"Balik menjadi apa? Si culun yang bisa ditindas doang? Si penurut yang selalu dibodohi seperti babu? Iya? Aku capek Shel bertahun-tahun hanya menjadi pengecut!" Wahyu menjawab tak kalah menggebunya dengan Shela.


"Kalau begitu kenapa enggak berubah jadi berani aja? Cuma itu. Memberanikan diri buat ngelawan tanpa menjadi Wahyu yang enggak bisa diatur kaya sekarang!"


"Terus sekarang mau kamu apa?" Gerakan tangan Shela yang sedang mengobati bahu Wahyu langsung terhenti. Dia kemudian segera menyelesaikan tugasnya dan menatap Wahyu lekat-lekat.


"Aku mau kamu balik jadi Wahyu yang dulu lagi. Enggak ada tawuran, enggak ada berantem, enggak ada balapan, enggak ada clubbing dan enggak ada bolos sekolah. Bisa?" Akhirnya Shela bisa mengungkapkan keinginannya yang sedari dulu ia ingin katakan pada Wahyu yang telah banyak berubah.


"Enggak bisa Shel. Kamu enggak lihat aku sekarang? Lihatlah! Aku sekarang dikagumi, disegani, dan banyak digilai perempuan. Hanya aku lewat saja tidak ada yang berani menatapku dan memilih mengalihkan perhatian mereka. Apa kamu pikir kepopuleranku ini akan tetap meski aku kembali menjadi Wahyu yang dulu?"


Brakk!


Shela menggebrak meja belajarnya sendiri. Bersamaan dengan itu, tepat saat itu juga dia telah selesai mengobati Wahyu. Dia kemudian berdiri dan menatap nyalang Wahyu.


"Memang benar kata orang-orang. Kamu bukanlah Wahyu yang kukenal. Kamu hanya orang egois yang mementingkan ketenaran dengan prestasi buruk. Dan aku sadar kalau kamu, bukan, Wahyu ku! Aku benci Wahyu yang seperti ini!" ucap Shela dengan menggebu-gebu.


Kemudian Shela berdiri dan keluar kost untuk menjauhi Wahyu. Diambilnya sepeda mini yang biasa ia gunakan untuk bersepeda di sore hari. Sengaja ia tinggalkan Wahyu kostnya tanpa khawatir. Karena Wahyu juga tahu kalau seperti ini berarti yang akan mengunci pintu kamar kost adalah dia. Lalu menaruh kuncinya di bawah karpet lantai, yaitu persembunyian yang unik yang hanya hanya dia dan Wahyu yang tahu.


*****


Rupanya ancaman Shela waktu itu tidak main-main. Die benar-benar menjauhi Wahyu seperti membencinya. Bahkan dengan posisi bangku pun sampai rela bertukar dengan posisi paling belakang. Membuat Wahyu kelabakan sendiri menghadapi tingkah sahabat lamanya yang merajuk ini.


Semalam setelah pulang dari kost an Shela, Wahyu memikirkan apa yang dikatakan sahabatnya itu. Memang benar, Wahyu yang sekarang lebih mirip seperti seorang monster ketimbang manusia. Dia sadar bahwa untuk sejenak dia merasakan star syndrome akibat mendadak terkenal. Sayangnya hal itu malah membuatnya semakin gencar berkelahi dan berbuat buruk lainnya. Padahal dulu sama sekali tidak. Dia kemudian memikirkan perkataan Shela, jika hanya ingin bangkit tinggal saja menjadi pemberani dan melawan yang menindasnya. Bukannya bangkit malah merombak semua yang ada di dirinya.


Benar kata orang. Jika berteman dengan tukang parfum pasti akan tertukar wanginya, sedangkan kebalikannya, jika berteman dengan penjual kotoran sapi, maka dia juga akan kecipratan baunya yang busuk. Dan dia sadar kalau telah salah pergaulan. Berteman dengan Surya membawa Wahyu menjadi seseorang yang erat bagiannya dengan kenakalan remaja.


Dia sadar.


Dia sudah berubah.


Dia egois.


Dan dia hendak meminta maaf ke Shela atas kesalahannya kemarin. Dia berjanji dalam hati kalau akan berubah menjadi Wahyu yang baik lagi. Ditanggalkannya dunia gelap kenakalan remaja itu. Sekarang dia tinggal mengurangi sifatnya sekarang yang suka memukul.


Dia berusaha untuk menemui Shela, tapi perempuan itu selalu saja ada cara untuk menghindari Wahyu. Akhirnya tak ada pilihan lain lagi, Wahyu akan memakai caranya untuk meluluhkan hati Shela agar mau memaafkannya. Berkat info dari temannya yang memberi tahu bahwa Shela di perpustakaan, maka segera Wahyu menyiapkan rencananya. Dia berusaha mengumpulkan masa dan menyuruhnya berbaris di lapangan membentuk kata SORRY jika dilihat dari atas. Berhubung Shela berada di perpustakaan yang berada di lantai dua, tentunya Wahyu berharap kalau rencananya akan berhasil.


Kemudian dia meminjam toa dari anak OSIS, kemudian membeli aneka ragam jajanan cokelat di kantin yang disusun sedemikian rupa, dan membeli banyak kertas berwarna merah untuk dipegang teman-temannya yang membentuk formasi kata maaf tadi. Setelah semua siap, barulah dia memulai rencananya.


Mula-mula dia berdiri sendiri di tengah lapangan sambil membawa karangan cokelat juga toa yang didekatkan di bibirnya. Dalam sekali tarikan napas dia mulai berteriak memanggil nama Shela. Dan Shela yang mulanya duduk tenang di perpustakaan langsung terganggu dengan suara toa dari bawah yang selalu menyebut namanya. Dia pun memilih keluar dan menatap beberapa orang sambil minta maaf atas kurang nyamannya mereka membaca di perpustakaan akibat ulah Wahyu.


Dia berdiri di pinggir pagar dan melihat ke bawah. Betapa terkejutnya dia melihat Wahyu yang berdiri menatapnya di bawah sana.


"Hey! Shela permata putri! Aku tahu aku salah! Aku tahu aku bodoh! Aku tahu kalau aku memang gak tahu diri!"


"Emang!" sahut Shela dari atas sini.


"Iya. Aku akui itu! Dan sekarang aku mau jujur! Aku mau minta maaf sama kamu! Please maafin aku!"


Kemudian murid-murid yang semula hilir mudik di tepian lapangan seolah-olah sibuk dengan kegiatannya langsung berkumpul di tengah lapangan bersama Wahyu. Seperti yang sudah diinstruksikan Wahyu dari awal, mereka berbaris membentuk pola kata SORRY yang semakin jelas karena mereka membawa kertas berwarna tadi.


"Shela!!! I am Sorry!!!!!"


Terharu dengan usaha yang telah dilakukan Wahyu, maka Shela langsung turun ke lapangan dan menghampiri Wahyu. Diraihnya karangan cokelat itu dan berteriak, "Aku maafin!" Sontak saja hak itu disambut riuh oleh murid-murid yang lain.


Begitulah kehidupan sekolah Wahyu yang mencetak kepribadiannya mulai dari terlalu baik, berandalan, hingga kembali lagi ke sifatnya yang baik hati dan ternyata ditambah lagi dengan humoris semakin membuat banyak orang suka padanya.