
"ASTRI!!!" Kita semua kaget tentu saja, tiba-tiba Astri ambruk. Beruntung dengan sigap Rangga menangkap tubuhnya supaya tidak jatuh ke tanah.
Dia kemudian membawa Astri ke dalam rumah. Radit langsung memeriksa keadaannya setelah Astri ditidurkan di atas sofa panjang.
"Dia cuma pingsan. Tapi badannya panas banget, kemungkinan dia demam. Lebih baik kita bawa ke Puskesmas"
"Ya sudah aku pinjam sepeda motor dulu" segera aku pergi ke tetangga sebelah untuk meminjam sepeda motornya.
Sita dan Rere yang mengantarkan Astri ke Puskesmas. Sedangkan yang lain dibagi menjadi dua, ada yang menjaga rumah dan ada yang langsung menyusul dengan mencari kendaraan umum. Aku dan Tika memilih untuk menyusul bersama Alif dan Rangga.
Sesampainya di Puskesmas, raut khawatir tidak dapat dibendung dari kita semua. Padahal tadi siang dia masih tampak baik-baik saja.
Pingsannya Astri tentu saja membuat kita terkejut, tapi ada satu hal lagi yang membuat kita lebih terkejut. Satu hal yang tidak habis kunalar. Pernyataan dokter yang menyatakan
Astri HAMIL!!!
Lelucon apa ini?
Ayolah! Astri bahkan belum bersuami. Bagaimana dia bisa hamil?!
Dan kita juga yakin, Rangga bukanlah tipe laki-laki yang bisa merusak kehormatan seorang perempuan.
Setelah dari UGD, Astri dipindahkan di ruang rawat inap biasa. Suasana tegang masih menyelimuti. Tidak ada yang bersuara. Apalagi Rangga. Dia hanya bisa duduk lemas di lantai. Aku tahu pasti pikirannya tengah kalut saat ini. Mengetahui kekasihnya hamil tepat di hari dia melamarnya. Niatnya padahal dia ingin membuat Astri terkejut, tapi akhirnya malah dia yang dibuat sangat terkejut.
Kemudian potongan demi potongan kejadian seakan menjadi puzzle si otakku. Keping demi keping perlahan-lahan mulai membentuk sesuatu yang jika ditarik lurus akan konkret dengan kenyataan ini.
Pertama, aku melihat Astri mual-mual ketika pertama kali sampai di rumah. Itu berarti bukan karena mabuk perjalanan, tapi morning sickness.
Kedua, mulai dari hari pertama hingga saat ini Astri selalu tidur jika ada kesempatan. Mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Bukankah ibu hamil selalu mudah merasa kelelahan?
Ketiga, keinginan Astri untuk makan mangga muda. Bahkan dia sampai bisa menghabiskan banyak mangga masam. Berarti saat itu dia tengah mengidam.
Mual-mual, mudah lelah, ngidam mangga muda.
Aishh!!!
Kenapa aku tidak sadar dari kemarin-kemarin?!!!
Empat jam sudah berlalu. Jam di dinding menunjukkan pukul satu malam. Dan Astri belum menunjukkan tanda-tanda untuk sadar. Sita dan Rere sudah pulang beberapa jam lalu. Mereka akan kembali nanti untuk membawakan makanan juga pakaian ganti untukku dan Tika.
"Emmm!" Suara lenguhan dari Astri menyadarkanku dari rasa kantuk yang menyerang.
Segera aku meminumkan air putih kepadanya dan membangunkan Tika yang sedang tidur di lantai beralaskan tikar.
"Tik! Tika!"
"Hmm"
"Bangun! Astri sudah sadar!"
"Sadar?!" Tika berjingkat kaget dan langsung berdiri.
"Kamu panggil yang lain" belum saja Tika melaksanakan perintahku, Rangga dan Alif sudah masuk terlebih dahulu.
Melihat Rangga mungkin itu yang memicu Astri menangis seperti ini. Tangisan yang begitu pilu menyayat hati.
"Hiks!! Ma- hiks!! Af! Hiks! Maaf!"
Cuma kata maaf yang dapat keluar dari sela-sela isak tangisnya.
Rangga juga begitu. Matanya sampai memerah. Entah sudah berapa lama dia menangis.
"Siapa As?" Rangga siapa laki-laki tak berhati nurani yang tega melakukan ini kepada Astri.
"Maaf hiks!"
"Siapa?"
Astri tetap menangis sambil meminta maaf. Seolah-olah enggan menjawab pertanyaan dari Rangga. Dan aku terus mengusap bahunya yang bergetar, memberinya ketenangan.
"SIAPA!!!" Bentakan dari Rangga ini bukan hanya mengejutkan Astri, tapi kita semua.
"Ga!" Alif sampai memperingatkan Rangga
"Hiks! Mantan aku hiks!! Yang hiks! Hiks! Melakukannya! Hiks!!"
"BRENGSEK!!!" Itu umpatan terakhir sebelum Rangga bergegas keluar ruangan.
"Na.." aku dan Tika langsung memeluk Astri.
Biar dia menangis sepuasnya. Menuntaskan segala hal yang menyesakkan dadanya. Aku memeluknya lebih erat, agar dia tahu bahwa dia tidak sendiri. Masih ada teman-teman di sampingnya.
Alif juga menyusul Rangga. Sepertinya dia tidak ingin Rangga melakukan hal-hal bodoh yang dapat membahayakan dirinya sendiri.
"Aku jahat banget!! Hiks!"
"Enggak! Kamu enggak jahat As! Ini semua di luar kehendak kamu" kataku untuk menenangkannya.
"Kamu benar As! Mempertahankan bayi ini adalah benar. Apa pun yang terjadi, bayi tak berdosa ini tidak bersalah. Jangan pernah berpikir untuk menggugurkannya! Ingat dosa As!" Air mata yang tidak bisa lagi kutahan akhirnya keluar.
Kita bertiga menyatu dalam tangis haru biru. Masih tidak menyangka semua ini akan terjadi. Padahal baru kemarin kita masih tertawa lepas. Tapi sekarang, jangankan untuk tertawa lepas. Senyum saja sulit untuk dipaksakan.
Tidak terasa pagi sudah menjelang. Teman-teman banyak yang sudah datang ke sini. Memberikan dukungan dan semangat untuk Astri. Tapi sejak tadi malam, aku belum melihat Rangga dan Alif. Semoga Rangga tidak berbuat sesuatu yang macam-macam.
Krieett!
Suara derit pintu mengalihkan perhatian kita. Ternyata itu Alif dan Rangga.
Tunggu! Tunggu!
Kini sudah tidak ada lagi raut kecewa atau marah di muka Rangga. Malah dia sekarang tersenyum tulus dan berjalan menuju Astri yang tengah duduk di pesakitan.
Tuh kan!
Melihat kehadiran Rangga membuat Astri kembali menangis. Rangga segera menghampirinya lalu duduk di sampingnya. Dia hapus jejak air mata yang lolos di manik mata Astri dengan jari-jarinya.
"Jangan menangis! Kasihan dedek bayinya kalau tahu ibunya sedih"
Ha?!
Perlakuan Rangg, kata-katanya yang manis. Apa dia masih menerima Astri?
"Maaf! Hiks!"
"Iya. Aku maafkan. Aku tahu itu semua terjadi bukan karena kehendakmu. Jangan bebani hidup kamu dengan terus merasa bersalah"
"Tapi aku hiks! Sudah hiks!! Bohong sama kamu!"
Kita semua diam. Membiarkan mereka berdua menyelesaikan masalah ini. Lagi-lagi. Tanpa kuminta, air mataku kembali luruh. Salma yang berada di sampingku hanya bisa menggenggam tanganku.
"Mungkin kamu mau jujur. Tapi waktunya saja yang masih belum tepat. Pasti sangat berat bagimu untuk menerima semua ini" Kata Rangga sembari mengelus lembut pipi Astri.
Dan Astri hanya bisa menunduk dalam sambil sesekali mengusap air mata yang kembali keluar.
"Astri. Kamu masih punya hutang padaku" perkataan Rangga membuat Astri berani menatap mata Rangga sambil mengrenyit bingung.
"Kamu masih punya hutang jawaban padaku" tak kusangka, Rangga kemudian mengeluarkan kotak beludru yang sama dengan kemarin malam.
"Mau kah kamu?" Tanyanya dengan membuka kotak itu.
Kita harap-harap cemas menunggu jawaban dari Astri. Tapi, tanpa kita duga Astri langsung menutup kembali kotak itu dan menangis lebih deras.
"Maaf! Hiks! Aku enggak pantas hiks! Menerima ini hiks! Hiks! Aku enggak pantas hiks! Buat kamu hiks!"
Mendengar itu Rangga tidak terima. Diraihnya kedua tangan Astri sambil menatapnya intens.
"As, aku mencintai kamu. Mau bagaimanapun keadaan kamu. Aku menerima semua yang ada pada diri kamu, termasuk bayi ini As! Aku menerimanya! Dan aku akan bertanggung jawab atas bayi ini. Dan juga dirimu" katanya lantang untuk meyakinkan Astri.
Astri masih diam. Antara iya atau tidak masih belum jelas. Mungkin dia masih menimang keputusan yang tepat.
"Aku tidak mau bayi ini terlahir tanpa ayah As. Dan aku yang akan menjadi ayahnya" Dan pernyataan terakhir dari Rangga ini membuat Astri memutuskan jawabannya.
"Terima kasih!" Dia memeluk Rangga dengan erat. Menuntaskan segala rasa yang ada.
"Ekhm! Jadi jawabannya apa nih? Sudah capek pegang kamera dari tadi!"
Aishh!!
Indra dengan tidak tahu malunya malah merusak suasana. Yang tadinya sudah romantis melankolis jadi ambyar deh.
"Iya. Aku mau"
Jawaban dari Astri ini mengundang senyum dari kita semua. Satu per satu mulai memeluk mereka dan mengucapkan doa serta harapan yang baik untuk ke depannya.
Dari sini aku tahu, bahwa cinta yang tulus itu menerima pasangan apa adanya. Kendatipun itu sebuah kekurangan yang dimilikinya.
"Oh iya. Rangga tadi malam kemana aja?" Tanyaku penasaran.
"Dia nekat mau nyari mantannya Astri. Padahal dia tidak tahu mantannya Astri di mana" jawaban dari Alif membuat kita tertawa. Dan yang bersangkutan cuma bisa menggaruk-garuk tengkuknya.
"Bucin sama bodoh kan beda tipis guys!" Rendi berkata lantang.
"Setuju!!!" Kita semua bersatu suara.
"Rencananya mau kapan naik pelaminannya?" Pertanyaan dari Alif ini membuat kita semua juga penasaran.
"Kalau bisa secepatnya. Pulang dari KKN ini mungkin"
Jawaban dari Rangga ini membuat kita menjadi riuh. Bersorak bahagia atas mereka. Sudah tidak ada lag raut tegang, kecewa, bahkan angkara. Hanya ada raut bahagia dan suka cita menanti hari bahagia dari Rangga dan Astri.
"Ditunggu undangannya!"