TWENTY

TWENTY
SEASON DUA ~ Hamil?



"Assaalamu'alaikum Ma!" sapaku ketika masuk ke rumah.


Mama kemudian menyahut dari dalam dapur, kemudian menghampiriku. Melihatku membawa koper sebesar ini membuat mama sangat terkejut. Reaksinya sama ketika aku ke rumah ini waktu Mas Alif kerja di Australia dulu. Mencecarku dengan banyak pertanyaan.


"Kamu kenapa Nak? Baik-baik aja kan? Kenapa bawa koper besar? Alif mana?!!!"


"Ma! Satu-satu dong tanyanya. Aku kan jadi bingung."


"Oke. Sekarang Mama tanya, kamu ngapain ke sini bawa koper besar segala? Kamu kabur dari rumah suamimu ya?!" Mama seenaknya saja menuduhku kabur. Ya meskipun kalau Mas Alif tidak mengizinkan, rencana kabur sempat terlintas di benakku sih.


"Nala kan kangen sama Mama, sama Papa. Jadi Nala mau menginap di sini. Boleh ya?" pintaku dengan muka memelas.


"Alif tahu?"


"Tahu lah Ma. Orang dia yang nganterin aku ke sini."


"Oh ya? Kenapa enggak mampir dulu?"


Nah. Alibi apa yang tepat untuk kali ini ya?


"Emm.. itu, Mas Alif langsung balik lagi ke kantor Ma. Ada urusan penting. Besok-besok kalau ada kesempatan pasti datang ke sini."


Ya Allah! Maafin aku sudah bohong ke Mama. Tapi aku takut nanti Mama kecewa atau marah kalau tahu yang sebenarnya.


"Ke kantor? Bukannya ini jam pulang kantor? Papamu aja sudah dalam perjalanan pulang ke sini." Mama kritis banget sih. Pantas saja susah mau membohongi Mama.


"Eh? Itu Ma. Katanya mau lembur."


"Ooh. Ya sudah kalau gitu. Kamu ke kamar aja dulu, Mama mau nyiapin buat makan malam."


"Oke Ma!" Sebelum berlalu kusempatkan untuk mencium pipi Mama sekilas. Lalu beranjak naik ke lantai atas untuk menuju kamarku.


Cklek!


Pintu kamarku sudah kubuka. Segera aku masuk ke dalamnya. Tidak ada yang berubah selama tiga bulan kutinggal. Cat dinding yang masih didominasi warna merah muda dan abu-abu. Kabinet yang berisi novel-novel serta banyak foto remajaku. Dan juga tempat tidur yang diatasnya banyak boneka dengan berbagai ukuran. Letak-letak semua benda masih ada ditempatnya. Mama pasti menjaganya untuk berjaga-jaga jika aku datang sepertu hari ini.


"Hahh!" Kuhempaskan tubuhku di atas kasur. Sampai boneka-boneka yang tertata rapi jadi berantakan. Bahkan ada yang jatuh mengenai mukaku.


Kupeluk boneka beruangku dengan bulu lembut berwarna cokelat. "Aku di sini lagi nih. Kalian kangen enggak sama aku?"


"Apa? Kalian juga kangen sama aku? Emmm. Manisnya!" Kucium banyak bonekaku dengan sayang


Nah. Persis orang gila kan.


Seketika itu aku mendengar bunyi mesin mobil. Pasti itu papa sudah pulang. Aku pun bergegas keluar kamar dan menyambut papa di ruang tamu. Pasti papa terkejut melihatku.


"Assalamu'alaikum!" Papa mulai memasuki rumah.


"Wa'alaikumsalam! Papa!" Seperti anak kecil yang sudah lama tidak bertemu papanya, aku segera memeluk papa dengan erat. Menyesap dalam-dalam aroma laki-laki yang menjadi cinta pertama dalam hidupku.


"Loh Nala? Kamu ke sini?"


"Iya. Nala kangen!" Postur papaku yang tingga tegap, dengan aku yang kecil ini persis seperti beruk yang bergelayutan di pohon.


"Udah kangen-kangenannya. Papa biar mandi dulu terus sholat maghrib di masjid," perintah Mama yang datang dari dapur, masih memegang spatula lagi.


"Iya Ma." Aku pun menuruti Mama, langsung melepas pelukanku ke papa.


"Lihat, Mama kamu cemburu pasti gara-gara Papa kamu peluk," kelakar papa yang langsung dipelototi oleh mama.


Bahkan mama mengancam akan memukul dengan spatula panas jika papa tidak segera bersiap-siap. Membuat papa langsung berlari ke dalam kamar. Melihat betapa romantisnya mama dan papaku padahal sudah usia senja membuatku iri. Apa bisa aku dan Mas Alif seperti itu nantinya?


Ah sudahlah!


Melihat mama yang kembali ke dapur membuatku mengikutinya dari belakang. Ingin membantunya memasak. "Masak apa Ma?"


"Opor ayam."


Deg.


Itu kan makanan favoritnya Mas Alif. Sekarang dia sudah makan apa belum ya? Nanti kalau telat makan bisa-bisa maag-nya kambuh.


Eh! Nala stop!


Baru satu jam pisah masa udah kepikiran sih?!


Biarin aja dia. Toh udah besar juga. Pasti bisa masak sendiri walaupun cuma telur ceplok.


Eh? Tapi kan Mas Alif alergi telur!


Enggak apa-apa lah. Nanti kalau lapar dan malas masak dia juga bisa pergi keluar cari makan. Kalau enggak gitu pesan makanan langsung ke rumah. Beres kan!


"Nala!"


"Iya Ma?" Perang batinku ini membuatku tidak fokus saja.


"Kamu tuh ngelamunin apa sih? Mama panggil dari tadi enggak nyahut-nyahut!"


"Enggak kok Ma. Hehehe. Mama tadi bilang apa?"


"Tolong kamu siapin piring di meja makan. Masakannya sudah siap," kata mama mengulangi instruksinya yang tidak kudengarkan tadi.


"Oh. Iya Ma."


Seperti yang dikatakan mama, aku segera menata piring-piring. Sendok dan juga garpu. Lalu mama menyusul membawa menu makan malam.


"Loh Na? Ini kok yang disiapin cuma dua piring? Buat papa kamu mama?"


Loh? Emang iya?


Kulihat meja makan itu lagi. Benar. Aku hanya menyiapkan piring untuk dua orang saja. Mungkin tanganku sudah terbiasa menyiapkan makan untukku dan Mas Alif. Jadi tanpa disuruh pun otomatis sudah begitu.


"Yaudah kalau gitu Nala ambil piringnya satu lagi."


Setelah menyiapkan untuk makan malam, aku dan mama pergi ke kamar masing-masing untuk menunaikan ibadah sholat maghrib. Setelah itu kembali lagi ke ruang makan untuk menunggu kembalinya papa dari masjid. Tidak perlu menunggu lama, papa sudah datang. Kita pun akhirnya makan malam bersama. Lama tidak berkumpul seperti ini, membuatku semangat untuk membahas hal-hal di meja makan.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan. Aku, mama, dan papa sedang asyik menonton televisi bersama. Dengan mama dan papa yang duduk di sofa, aku memilih selonjoran di karpet dan menjadikan paha mama sebagai bantalan kepala.


"Kamu pulangnya kapan Na?" tanya papa.


"Papa kenapa nanya gitu? Pengen Nala cepat-cepat pulang ya?"


"Ikut! Pasti ikut dong! Nala kangen juga sama ibu-ibu yang jaga warung di sana."


"Ya soalnya mereka suka kasih jajan gratis kan?" kata Papa.


"Tepat sekali!" Jawabku yang membuat papa gemas sendiri sampai mengacak-acak rambutku. Yah! Persis genderuwo dah ini.


"Ish Papa! Jangan dong!" larangku sambil membenarkan kembali rambutku yang berantakan.


Ngomong-ngomong, mama dari tadi kok cuma diam aja? Biasanya kan suka menyahuti aku sama papa. "Pa. Mama kok diam aja sih?" tanyaku tapi masih fokus menonton tv.


Dari sudut mataku sedikit terlihat pergerakan papa yang semula menghadap ke tv sama sepertiku, kini menghadap mama. "Pantas saja Mama kamu diam Na! Orang udah tidur duluan."


Aku pun mendongakkan kepala. Melihat mama. Benar mama sudah tidur. Papa segera beranjak dari duduknya. Lalu dengan isyarat tangan menyuruhku untuk minggir dari kaki mama. Dengan gentle papa langsung menggendong mama ala bridal style.


Duh! Buat anaknya iri aja.


"Papa mau ke kamar dulu. Udah ngantuk. Kamu kalau sudah selesai jangan lupa dimatikan tv-nya."


"Hmm. Iya," sahutku malas-malasan.


"Kenapa kaya gitu? Iri ya lihat romantisnya mama sama papa?" Ish! Apaan sih papa inim kalau nebak kok suka benar.


"Kalau iri ya suruh Alif ke sini buat gendong kamu," kata papa sebelum papa berlalu dari hadapanku. Kalau saja aku tidak ingat kalau mama sudah tidur, pasti aku sudah meneriaki papa sekarang.


Sebal, aku pun mematikan tv dan ikut-ikutan ke kamar juga. Meski pun sudah di atas kasur, di bawah selimut tebal, juga dikelilingi boneka-boneka yang hangat, tapi mataku belum bisa diajak untuk terpejam. Membuatku kesal saja. Otakku ini terus kepikiran sama Mas Alif di rumah. Dia sudah makan makam belum? Dia sudah tidur belum? Apa dia masih bekerja?


Sampai-sampai tanganku juga ikut-ikutan bertindak. Mengambil ponsel dan mengetikkan pesan dengan nomor tujuan milik Mas Alif.


Mas, sudah tidur apa belum?


Kirim? Hapus? Kirim? Hapus?


Akh!!! Akhirnya aku hanya bisa memencet keyboard hapus. Ponselku itu kubanting asal di atas kasur. Akhirnya aku memilih untuk berdiri di balkon kamar. Angin malam yang dingin menerpa wajahku. Tapi tak kupedulikan rasa dingin ini. Masih mau berlama-lama berdiri di sini, larut dalam pikrian sendiri.


"Na." Suara halus memanggilku dari belakang.


"Eh? Ma? Bukannya tadi udah tidur." Pasalnya mama tiba-tiba ada di kamarku dan ikut berdiri di balkon denganku.


"Iya. Tapi mama kebangun gara-gara haus. Pas lewat kamar kamu, ternyata lampunya masih nyala," perjelasnya.


"Aku masih belum ngantuk Ma," alibiku.


"Na. Kamu tuh sudah Mama rawat dan besarkan selama dua puluh empat tahun. Mama sudah hapal betul dengan kamu. Meski pun mulut kamu bilang tidak apa-apa, tapi mata kamu enggak bisa bohongi Mama. Mama tahu kalau kamu ada masalah sama Alif. Tapi apa pun masalah kalian, hadapi dengan kepala dingin. Perbedaan dan kesalahpahaman itu biasa terjadu dalam pernikahan, apalagi umur pernikahan kalian masih sebentar. Jadikan setiap masalah rumah tangga kamu sebagai batu loncatan untuk menjalani hidup lebih baik ke depannya."


"Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Jadi Mama harap kamu bisa segera menyelesaikan masalah kalian." Mama memberiku banyak petuah malam ini. Tentu saja petuah itu sangat berguna untukku. Dan Insya Allah akan kujalani juga.


"Tapi Ma. Nala masih mau di sini. Setidaknya sampai seminggu. Aku masih sama rumah ini."


"Tapi suami kamu juga ajak menginap di sini. Kamu enggak kasihan apa dia di rumah sendirian? Enggak ada yang ngerawat, enggak ada yang ngurusin juga."


"Hmm. Mungki besok aku mau bicara sama Mas Alif."


"Pinter! Begitu baru namanya anaknya Mama," kata mama sambil mengelus puncak rambutku. "Ya udah, Mama mau ambil minum dulu. Kamu jangan lama-lama di luar! Nanti masuk angin."


"Iya Ma. Bentar lagi juga aku mau tidur."


Mama kemudian pergi dari hadapanku. Meninggalkanku sendiri dan merenungi kesalahanku. Benar juga apa kata mama. Masalah itu harus diselesaikan dengan kepala dingin. Kalau api melawan api, bukannya padam tapi malah berkobar semakin besar. Harusnya api dilawan dengan air, maka cepat atau lambat akan padam juga. Jika Mas Alif masih marah padaku, setidaknya aku yang harus bersikap lebih sabar. Meminta maaf terlebih dahulu bukanlah sebuah kelemahan. Tapi kekuatan yang menunjukkan kelapangan hati kita untuk meminta maaf. Maka kuputuskan besok untuk membicarakan masalah ini dengan Mas Alif.


*******


Keesokan hari aku ikut membantu mama memasak di dapur. Jadi menu pagi ini lalapan sama ayam goreng. Anehnya, ketika membuat sambel dan maa menggoreng terasi, bau terasi yang biasanya sangat aku suka jadi mendadak menyengat di hidungku. Malah rasanya aku mau muntah. Tapi kutahan saja mual ini, aku masih meneruskan mencuci sayuran. Tapi makin lama malah baunya membuatku jadi pusing, dan mualnya sudah tidak dapat kutahan. Akhirnya aku berlari ke toilet yang letaknya di samping dapur.


"Huek! Huekk!!" Kumuntahkan semuanya sampai lega.


"Kamu kenapa Na?" Mama datang tergopoh-gopoh sambil memijat tengkukku.


"Huekk!" Setelah semuanya keluar, aku segera berkumur dan menyiram toilet. "Enggak tahu Ma. Tadi gara-gara bau terasinya nyengat banget! Nala enggak suka."


Muka mama yang semuka khawatir berubah seratus delapan puluh derajat, jadi girang banget. Malah mama menuntunku sampai kamar dan membaringkanku.


"Kamu tunggu di sini ya! Mama mau ke apotek dulu. Kamu jangan ke mana-mana! Jangan banyak gerak!"


"Kenapa sih Ma? Orang aku cuma masuk angin doang. Enggak perlu ke apotek segala. Tinggal beli obat masuk angin di toko." Aku yang hendak beranjak langsung ditahan oleh mama.


"Kamu turutin aja kata Mama! Paham?" Mama kalau sudah ngomong sambil melotot begitu berarti tidak mau ada bantahan lagi. Aku pun mengangguk paham.


Setelah agak lama menunggu, akhirnya mama sudah kembali dengan tangab yang membawa sebuah kantong kresek. Diberikannya itu padaku dan langsung kubuka. Isinya membuatku melotot terkejut. Kupikir mama akan membelikanku obat, tapi rupanya membelikanku alat tes kehamilan. Tidak tanggung-tanggug, mama membelikanku lima alat sekaligus dengan berbagai merek yang berbeda.


"Ma? Maksudnya apa ini?"


"Masih tanya lagi, masa kamu enggak tahu itu sih?"


"Iya tahu. Tapi buat apa Mama beli ini?"


"Ya karena Mama pikir kamu sedang hamil. Tadi muntah-muntah gitu padahal cuma bau terasi."


"Nala cuma masuk angin Ma," kilahku.


"Coba Mama tanya. Kamu sekarang telat datang bulan apa nggak?"


Eh. Pertanyaan Mama membuatku kembali berpikir. Iya juga ya? Aku sudah lama tidak datang bulan. "Kayanya aku udah telat dua minggu deh Ma."


"Nah!" Mama beeteriak kencang sekali. Membuat telingaku agak pengang.


"Mama ih! Jangan teriak di samping telinga Nala dong."


"Habisnya Mama kelewat senang. Pasti dugaan Mama benar. Ayo cepat dicek sana!" Mama mendorong tubuhku untuk masuk ke dalam toilet.


Tapi sebelum menutup pintu, kusembulkan lagi kepalaku. "Ma, tapi aku takut nanti hasilnya mengecewakan."


"Udah enggak apa-apa. Yang penting dicek dulu. Biar Mama enggak penasaran lagi."


Aku pun menuruti perkataan Mama. Masuk ke dalam toilet dan mengeceknya. Setelah beberapa saat menunggu, lalu muncul tanda yang sama di semua alat. Aku pun keluar dari kamar mandi dan menemui mama.


"Bagaimana hasilnya?" Melihat muka mama yang sangat antusias itu membuatku tidak tega.


"Ma. Tadi kan aku udah bilang kalau Mama jangan kecewa sama hasilnya." Aku menghelas napas. Dan menatap mama lekat.