
Hari ini adalah hari bahagianya Salma dan Rendi. Karena hari ini merekan akan meresmikan cinta mereka di atas nama ikatan suci sebuah pernikahan. Langit yang berwarna biru cerah juga mentari yang bersianar begitu hangatnya mengawali pagi hari yang bahagia ini. Kicauan burung juga menemani kedatangan mobil-mobil dari pihak mempelai pria. Sedangkan alam di sana menyambut dengan suka cita, mempelai wanita di kamarnya tengah berjalan mondar-mandir.
"Diem Sal! Nanti kecapekan loh!" peringatkanku.
"Enggak bisa Na! Aku gugup banget nih! Lihat!" Benar. Dia sangat gugup rupanya. Tampak dari jari-jarinya yang bergetar dan diperlihatkan padaku.
"Tapi kalau kamu mondar-mandir gitu malah buang-buang tenaga. Haish!" Aku pun meraih tangan Salma dan memaksanya untuk duduk.
Lalu mengajarkan kepadanya untuk merileksasikan badan. "Coba sekarang ambil napas dalam-dalam!" Salma mengangguk menuruti perintahku.
"Terus keluarkan perlahan-lahan."
"Fyuuuhh!"
"Sekarang ambil napas lagi. Terus keluarkan!" Begitu seterusnya sampai suara mikrofon dari bawah mengintrupsi kegiatan kami.
Rupanya acara akan dimulai. Umi sekarang sudah masuk di kamar Salma. Ada Nita juga yang berjalan di belakang umi. Setelah meluruskan kesalahpahaman yang terjadi kemarin ke Mas Alif, akhirnya aku bisa menerima Nita. Rupanya dia pribadi yang baik dan ramah. Dan enak untuk diajak bercanda. Tahu begitu aku segera menenyakan tentangnya ke Mas Alif agar tidak terjadi salah paham. Tapi ya sudah lah. Nasi sudah menjadi bubur. Dan kejadian kali ini dapat kuambil pelajaran berharganya.
"Umi..." Salma memeluk manja uminya.
"Sayang. Sebentar lagi status kamu akan bertambah. Yang semula putri Abah dan Umi, sekarang akan menjadi seorang istri. Dan surgamu juga akan berganti. Yang semula di kaki Umi, maka sebentar lagi surgamu akan berpindah di kaki suamimu. Jadi hormatilah suami, berbaktilah padanya seperti kamu berbakti pada Ubah dan Umi. Jaga baik namanya. Jangan membantah perkataan. Mengerti Sayang?" Umi begitu lembut memberi wejangan-wejangan ke Salma.
Salma hanya bisa memeluk Umi dengan perasaan penuh haru.
Suara abah yang memulai mengucap ijab di bawah sana membuat kita bertiga di atas sini saling menggenggam tangan. Menyalurkan kekuatan satu sama lain. Dan setelah Rendi mengucap qabul dengan lancar, maka kita bertiga serempak menghembuskan napas lega. Lalu disusul oleh air mata yang bercucuran. Tidak ada momen yang lebih mengharukan daripada momen sang ibu yang melepaskan anaknya untuk diserahkan ke suaminya. Umi terus memeluk Salma dan mengecup puncak kepalanya. Sampai suara pintu diketuk, kita semua menghapus air mata.
Kita memperbaiki penampilan Salma agar terlihat lebih cantik dan rapi seperti semula. Lalu umi menggenggam tangan Sala untuk membukakan pintu. Sedangkan aku dan Nita berjalan mengikuti di belakang.
Ketika pintu di buka, sudah nampak Rendi yang sangat gagah dab rupawan dengan setelan pengantinnya. Digenggamnya tangan Salma setelah umi melepaskannya. Lalu dua sejoli yang tengah berbahagia ini turun ke pelaminan. Dan dibelakangnya, aku dan Nita berjalan di samping kiri dan kanan umi sambil menggenggam tangannya.
Sampai di bawah aku segera menghampiri Mas Alif yang tampak berbincang-bincang dengan teman-teman yang sudah datang. Di pernikahan Salma ini semua dapat datang untuk menyemangati Rendi. Melihat teman-teman, buru-buru aku menyapa mereka. Dan untuk yang perempuan sudah pasti akan berpelukan heboh. Euforia kita semua berbanding terbalik dengan muka Iren yang melihat kehadiran Nita di belakangku.
"Oh ya temen-temen, kenalin ini Nita. Se.pu.pu.nya Mas Alif." Sengaja kutekankan kata sepupu agar membuat Iren sadar. Sontak saja dia tertawa dan ikut menyalami Nita seperti yang lain. Aku tahu pasti dia menertawakan aku dan dirinya sendiri karena sudah terjebak dalam salah paham ini.
Melihat keberadaanku, Mas Alif segera menyambutku dan merengkuh tubuhku di sampingnya. "Enggak laper?" tanyanya.
"Laper Mas. Dari tadi pagi belum sarapan," kataku sambil mengusap-usap perutku.
"Ya sudah, ayo makan!" Mas Alif menarik tanganku untuk pergi ke prasmanan dan mengambil makanan. Lalu mencari tempat duduk yang menghadap langsung ke pelaminan tempat pengantin baru itu berdiri.
Di sela-sela kegiatan makanku, Mas Alif menyenggol lengan kiriku. "Kenapa Mas?"
"Lihat deh mereka berdua!" Dagu Mas Alif menunjuk Salma dan Rendi. "Terlihat sangat bahagia."
"Iya. Setelah sekian lama akhirnya bisa meresmikan hubungan mereka."
"Melihat bahagianya mereka berdua, aku pengen jadi pengantin lagi."
Sontak saja mendengar penuturan Mas Alif yang tidak masuk akal itu membuatku tersedak kuah rawon. Segera kucubit pinggangnya untuk menyadarkannya bahwa dia sudah punya istri di sampingnya. "Maksud Mas? Kamu mau nikah lagi?"
"Ish bukan!" Mas Alif lalu membalas dengan mencubit hidungku. "Aku kangen jadi sepasang pengantin dengan kamu. Bukan sama yang lain."
"Ooh." Aku mengangguk paham.
Dari tempatku duduk juga dapat melihat teman-teman yang satu per satu mulai menaiki pelaminan. Menyalami Salma dan Rendi. Tampak juga di sana Abdul yang berdiri tegar menunggu antrian. Di sampingnya ada Wahyu dan Bayu yang menyemangati dirinya.
"Lihat deh Mas. Kasihan ya Abdul. Pasti hatinya hancur berkeping-keping itu." Tidak bisa kupungkiri bahwa aku turut bersedih melihat Abdul. Mengingat dia juga teman baikku.
"Namanya juga hati. Enggak bisa dipaksakan. Kalau Salma lebih memilih Rendi mau bagaimana lagi? Satu-satunya jalan keluar ya Abdul harus ikhlas merelakan. Kan cinta tidak harus memiliki." Aku membenarkan apa yang dikatakan Mas Alif.
Teman-teman setelah memberi selamat dan bersalaman dengan Salma dan Rendi menyusul aku dan Mas Alif untuk makan. Abdul mengambil duduk di belakangku. Kadang-kadang aku mencuri lirik ke arahnya. Kasihan, raut muka sedihnya itu tidak bisa disembunyikan.
"Hadehhh! Gini amat rasanya patah hati. Makan enggak nafsu, tidur enggak nyenyak, kerja juga enggak konsen." Abdul tiba-tiba curhat sambil makan sotonya. Membuat aku dan yang lain yang berada di depannya menoleh ke belakang.
"Move on lah Dul! Banyak kok cewek diluar sana yang mau nerima kamu," ujar Rere memberi saran.
"Cewek mana coba?" Abdul kelihatannya galau berat. Sampai makanan di piringnya cuma diaduk-aduk tanpa dimakan.
"Kenapa enggak kamu sama Tika aja noh! Sama-sama jomblo kan." Ucapan dari Sita langsung disoraki oleh teman-teman yang lain.
"Iya tuh. Kalian kan dari dulu sering banget berantem. Cocok tuh, kaya cerita di ftv-ftv. Benci jadi cinta," kataku.
"Enggak!" Tika dan Abdul yang menjadi bahan pembicaraan kompak berkata tidak.
"Ciiee! Barengan!" Kita juga enggak kalah kompak buat menyudutkan mereka berdua.
"Idih. Ogah deh sama Abdul dudul. Mending cari yang lain." Tika berkata demikian.
"Emang situ doang yang enggak mau? Aku juga milih-milih kali biar pu jelek-jelek gini." Abdul tidak mau kalah untuk membalas.
"Udah jadian aja! Cocok tuh!" Kita terus-terusan menjodoh-jodohkan mereka berdua.
"Enggak!"
"Idih. Ogah ya!"
"Mumpung penghulunya masih di sini, mau langsung nikah juga oke-oke aja." Ucapan Wahyu dipelototi oleh Abdul dab Tika. Mereka berdua juga kompak memukul lengan Wahyu agar diam.
Begitulah jika kita sudah bertemu. Pasti ramai sendiri. Dunia serasa milik kita sendiri. Oh iya, di samping Abdul yang patah hati. Ada hati baru yang mulai diperbaiki. Iya, ada Radit sama Gea yang kurasa tengah dilanda kasmaran. Tampaknya Radit sudah mengungkapkan perasaannya. Dari tadi mereka berdua juga kelihatan lengket. Urusan jodoh tidak ada yang tahu. Selamanya menjadi rahasia sang pemilik hatu. Aku hanya bisa berdoa agar teman-temanku mendapatkan pasangan terbaik mereka.
Acara sudah selesai. Teman-teman yang lain sudah pulang dan kembali dengan kesibukan mereka masing-masing. Sedangkan aku dan Mas Alif masih bertahan di sini untuk bantu beres-beres.
"Sayang. Gih kamu ambil baju kamu!"
"Loh kenapa?"
"Memangnya kamu mau jadi obat nyamuknya Salma dan Rendi?"
"Oh iya!" Aku menepuk dahiku pelan. Lupa kalau Salma dan Rendi pastilah akan memakai kamar bersama.
Segera aku menuruti perkataan Mas Alif dan pergi ke dalam untuk mengambil koperku. Tapi sebelum itu aku mencari Salma dan Rendi dulu, takutnya mereka sudah di kamar. Kan garing banget kalau tiba-tiba aku nyelonong masuk dan ganggu mereka yang lagi...... entah ngapain.
Beruntung aku melihat pasangan pengantin itu sedang makan di ruang makan. Jadi aku bisa masuk ke kamar dan cepat membereskan barangku lalu pergi. Salma yang melihatku keluar dari kamar sambil membawa koper tersenyum meledek ke arahku.
"Ciieee! Udah baikan nih ceritanya?"
"Iya dong. Ternyata enggak betah mau lama-lama ngambek sama suami tercinta."
"Iya deh paham."
Aku pun memeluk Salma dan berpamitan untuk pulang. Sedangkan untuk Rendi aku menonjok lengannya hingga membuatnya terjengkit kaget karena masih makan. "Et dah nih bocah! Kalau nanti aku keselek gimana?!"
"Ya minta sama istrinya buat ambilin air minum dong!" godaku ke Salma sambil mengedipkan sebelah mataku ke arahnya.
"Ya sudah sana pulang! Mau pamit kan?"
"Ish! Rendi mah jahat! Enggak ada sayang-sayangnya sama sahabat sendiri!"
"Entar kalau sayang, si Alif marah lagi."
Bersamaan dengan itu Mas Alif datang. "Ada apa nih nyebut-nyebut?"
"Tuh istrinya mau cepet-cepet pulang. Enggak sabar mau kelonan katanya." Aku melotot ke arah Rendi yang sudah asal bicara.
"Eh enggak ya! Kapan aku ngomong gitu?!"
"Kalau mau cepat-cepat pulang enggak apa-apa juga kok Sayang." Ini juga Mas Alif ikut-ikutan sama Rendi. Malah mereka saling ngedipin mata gitu. Apa maksudnya coba?
"Ya sudah. Kita pamit pulang dulu ya!" Mas Alif mewakiliku untuk pamit ke Salma dan Rendi. Lalu kita juga berpamitan dengan abah dan umi.
Sesampainya di pekarangan rumah, aku tidak melihat ada mobilnya Mas Alif. Hanya ada beberapa mobil milik kerabat Salma. "Loh Mas. Mana mobil kamu? Katanya mau pulang."
"Iya pulang. Pulang ke rumah mama sama papa maksudnya."
"Kenapa?"
"Sudah malam Sayang!" Mas Alif menoel pipi tembemku. "Lagian juga udah capek. Memangnya kamu enggak capek?"
"Capek juga sih."
"Ya sudah, ayo pulang." Mas Alif menggenggam tanganku menuju ke kediaman mama dan papa.
Hanya berjalan kaki sebentar kita sudah sampai. Sama halnya dengan aku dan Rendi yang bersahabat sejak kecil dan bertetangga, Mas Alif dan Salma juga begitu. Jadi mereka bertetangga. Malah tetangga sangat dekat karena rumah mereka tepat bersebelahan. Jadi kemarin setelah sampai di rumah Salma, aku juga mengunjungi rumah mertuaku.
"Assalamu'alaikum!" ucap kita berdua.
Tidak lama kemudian pintu sudah terbuka dan menampilkan sosok Mia, adik perempuan Mas Alif yang saat ini memasuki bangku SMA.
"Eh, Mas. Mbak. Ayo masuk!" Dia menyalami tanganku dan Mas Alif sebagai bentuk perghormatan.
"Mama mana Dek?"
"Udah di kamar sama Papa."
"Ohh, ya sudah. Kalau gitu Mas sama Mbak ke kamar dulu. Jangan lupa kunci pintunya," titah Mas Alif ke Mia.
"Iya Mas!"
Masuk di kamar Mas Alif aku sudah disuguhkan dengan suasana kamar yang didominasi warna monokrom. Sama seperti dengan ruang kerjanya yang ada di kantor. Di sini juga ada kabinet besar yang berisi penuh buku. Jika kulihat-lihat lagi, hampir semua bukunya tentang ilmu pengetahuan, self reminder, agama, dan sejarah. Beda sekali dengan koleksi bukuku yang semuanya adalah novel.
Di beberapa bagian kabinet ini juga Terdapat beberapa foto yang terpajang. Kuamati satu per satu foto itu. Ada foto masa SMA, foto ketika wisuda, ada juga fotonya dengan Mia. Tapi mataku tertarik dengan salah satu foto yang menampilkan potretnya ketika masih kecil. Sangat lucu. Wajah bulat, mata yang sipit, dan mulut yang tertawa menampakkan giginya yang baru tumbuh dua.
"Imut banget," gumamku sambil mengusap foto itu.
"Jelas dong aku imut."
"Eh! Ya Allah!!!"
Jelas saja aku terkejut karena Mas Alif tiba-tiba berdiri di belakangku dan berkata tepat di samping telingaku. Apalagi dia dengan tampang biasa-biasa saja tampil shirtless di depanku!
"Mas! Itu kenapa enggak pakai baju?!"
"Mau ganti baju."
"Yaudah cepet sana!" Haduh! Hobi banget buat pipi orang panas.
Tapi bukannya ke lemari buat ganti baju seperti yang dikatakan tadi, Mas Alif malah mengurung tubuhku dengan dua tangannya yang ditaruh di kabinet.
"M-mas?" Sumpah! Gugup banget aku tuh. Apalagi mata Mas Alif udah mulai sayu gitu.
"Ganti bajunya nanti aja ya." Dia berkata demikian setelah mencium bibirku sekilas. "Sayang."
Haduh! Kenapa ngomongnya jadi lembut begini nih?
Jantung mana jantung?! Jangan-jangan udah lari dari tempatnya nih.
"Aku kangen banget sama kamu," katanya sambil mengusap pipiku dengan lembut. Lalu sebelah tangannya yang lain melepaskan jilbabku perlahan-lahan. "Malam ini boleh ya?"
Tahu deh dengan yang dimaksud oleh suamiku ini. Aku juga tidak berhak untuk menolak karena memang aku sudah tidak lagi berhalangan. Dengan malu-malu aku menganggukkan kepala. Jadilah malam ini menjadi malam yang hangat untuk kita berdua.