TWENTY

TWENTY
SIDE STORY ~ RANGGA



Perkenalkan namanya Rangga. Pemiliki mata tajam dan tatapan dingin sedingin es di kutub selatan. Kalau ada teman baru pertama mengenalnya pasti mengira kalau Rangga adalah pribadi yang sombong berkat raut muka juga irit bicaranya. Padahal kenyataannya tidak. Dia bisa diajak bercanda dan berdiskusi. Tapi Rangga lebih senang untuk diam. Dia memilih menjadi pendengar daripada pembicara.


Rangga merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Di antara kakak-kakaknya, dia yang paling pendiam. Padahal kakak-kakaknya itu orang yang hiperaktif dan jahil sana-sini. Sampai kedua orang tuanya bingung sendiri dengan sifat Rangga yang entah menurun dari siapa.


Sepanjang masa sekolahnya dia lakukan seperti anak biasa. Berangkat sekolah, belajar, bermain dengan teman sebayanya, dan banyak hal yang dilakukan seperti remaja kebanyakan. Tapi ada satu yang berbeda. Bedanya dia selalu menjadi pusat perhatian di manapun berada. Membuat Rangga jadi risih sendiri ketika sering ditatap juga kadang diikuti oleh beberapa siswi.


Kepopuleran Rangga ini bukan karena dia anak nakal. Bukan karena seorang ketua OSIS ataupun ketua basket. Bukan pula karena anak jenius yang sering menang OSN. Dia menjadi primadona karena sikap dinginnya. Dan sifat dinginnya itulah yang membuat banyak siswi penasaran dan merasa tertantang untuk menaklukkan hatinya. Wajah yang lumayan rupawan menjadi poin plus tersendiri.


Sebenarnya bukan hanya Rangga saja yang merasa risih. Kakak keduanya sendiri yang hanya terpaut dua tahun di atasnya juga ikut-ikutan merasa sebal. Pasalnya teman perempuan seangkatannya selalu saja menjadikannya kurir. Entah untuk mengirimkan surat, bunga, cokelat, atau beberapa benda lain untuk mengungkapkan rasa suka pada adiknya.


"Nih! Cokelat lagi dari fans kamu!" Raka, kakak kedua dari Rangga melemparkan satu kresek penuh berisi cokelat di atas kasur adiknya.


"Kenapa dikasih ke aku?" tanya Rangga. Pasalnya tiap makanan yang diperuntukkan bagi Rangga akan dimakan langsung oleh kakaknya. Rangga ikhlas-ikhlas saja. Toh memang dia tidak ingin menerimanya juga tak suka dengan cokelat.


"Bisa sakit gigiku kalau makan cokelat terus tiap hari."


"Ya udah, taruh aja di kulkas."


Kemudian Raka merebahkan dirinya di tas kasur milik Rangga. Tangannya dia pakai sebagai tumpuan lalu menatap langit-langit kamar yang berhiaskan dekorasi galaxy, kesukaan Rangga. Sedangkan Rangga yang tengah membaca komik Naruto kesukaannya merasa sebal. Karena dia lebih senang melakoni hobinya dalam ketenangan. Dan kalau ada kakaknya maka Rangga tak menjamin kalau ketenangan itu akan bertahan lama.


"Hadehh! Heran deh! Perasaan aku juga gak kalah ganteng. Tapi kok mereka enggak lihat aku ya? Malah liatnya ke kamu yang anak kemarin sore yang baru bisa buang ingus juga masih bau kencur."


Rangga menatap kakaknya dengan malas. Raka melirik sebentar dan membaca mimik Rangga yang sekaan mengatakan "Udah puas ngehujatnya?"


Hidup berdampingan sudah berbelasan tahun membuat Raka juga anggota keluarga lainnya tahu apa yang akan dikatakan Rangga meski hanya melalui tatapannya. Berada seperti keluarga cenayang saja. Tidak perlu bicara sudah tahu maksud dab tujuannya.


"Belum. Lagian kamu pake pelet apa sih? Bisa-bisanya cewek-cewek pada langsung kecantol. Bahkan cewek secantik Sarah pun bisa klepek-klepek sama kamu. Heran!"


"Terima aja takdirnya," ucap Rangga dengan santainya. Malah membuat Raka mendengus kesal.


Sekedar informasi, Sarah adalah perempuan yang disukai Raka sejak duduk bangku SMP. Bahkan sampai mereka sekarang SMA pun rasa itu masih tetap sama. Naasnya Sarah tidak pernah menangkap rasa yang Raka berikan untuknya. Hanya menganggap sekedar teman, tidak lebih. Kemudian ketika adiknya masuk di SMA yang sama dengannya dan menjadi murid baru, tiba-tiba saja mendekatinya hanya untuk lebih dekat dengan Rangga. Kalau begitu bukankah Raka berhak untuk merasa kesal?


"Apa aku rubah sifatku aja ya? Jadi pendiam dan kaya kulkas gitu. Siapa tahu Sarah bisa suka sama aku."


"Gak usah. Percuma juga kalau sampai Sarah suka sama kamu. Berarti dia sukanya kan sama kepura-puraan kamu, bukan sifat aslinya kamu. Dan memangnya kamu bisa menjamin enggak lelah buat pura-pura? Hubungan yang diawali oleh kebohongan tidak akan membahagiakanmu. Hanya mendapat cinta palsu saja."


Raka tak heran kalau Rangga tiba-tiba banyak bicara seperti ini. Karena begitu tandanya Rangga sedang serius menasihati orang tersayangnya. Dan banyak bicaranya Rangga ini sesuatu yang langka, hanya dikeluarkan di saat-saat tertentu saja.


Raka kemudian duduk dan menatap lekat wajah adiknya itu. Lalu memberikan ekspresi seimut mungkin. "Emm, jadi sayang! Peluk boleh?"


"Gak!" Rangga bergidik ngeri melihatnya. Sontak dia melemparkan bantalnya dan tepat mengenai muka Raka. "Jijik Bang!"


"Kurang ajar! Muka abangnya sendiri ditumpuk pakai bantal! Untung muka gantengku enggak berkurang," ujar Raka sambil memeriksa wajahnya.


"Untung gak pake sepatu," celetuk Rangga kemudian menaruh komiknya di atas nakas.


"Tega emang?"


"Why not?" ucap Rangga enteng yang membuat Raka balik melemparkan bantal yang sama ke muka Rangga. Bedanya Rangga bisa cepat menangkapnya.


Posisi Raka kemudian menyamakan dengan Rangga yang duduk bersandar di kepala ranjang. "Hadehh! Sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan." Raka mengelus-elus dadanya sok dramatis.


"Emang." Jawaban dari Rangga ini sukses membuat Raka terkejut. Dia bahkan sampai menolehkan kepalanya hanya untuk memastikan muka Rangga bercanda atau tidak.


"Kamu pernah kaya gitu juga?"


"Pernah."


"Sama siapa?"


"Cewek."


"Ya jelaslah Paijo! Kalau sama cowok berarti konslet otak kamu!" Rasanya Raka ingin menenggelamkan Rangga saja. Ditanya baik-baik malah membuatnya sebal. Sebenarnya jawabannya benar, tapi tidak tepat. Bukan itu yang dimaksudkan Raka.


"Ada dulu. Temen pas SMP." Tentu saja Rangga dulu pernah merasakan cinta meski hanyalah cinta monyet. Ingat, meski dingin hatinya tidak terbuat dari batu. Jadi wajar kalau dia pernah menyukai perempuan meski hanya beberapa bulan saja karena tahu perempuan itu sudah punya pacar.


"Siapa?"


"Ada pokoknya."


Hah, sudahlah. Raka tidak mau bertanya lebih lanjut. Dia kemudian mengalihkan topik dari yang membicarakan masa lalu menjadi membicarakan masa sekarang.


"Terus sekarang ada cewek yang kamu cinta gak?"


"Ada."


"Siapa?"


"Bunda," jawab Rangga cepat tanpa berpikir dua kali. Sudah tentu kan dia mencintai perempuan yang mati-matian mempertaruhkan nyawanya demi lahirnya seorang Rangga?


"Haishhhh! Bunuh adik sendiri dosa gak sih?" Raka mencak-mencak sendiri mendengar jawaban dari Rangga


"Dosa," jawab Rangga singkat.


"Udahlah! Aku mau balik ke kamar. Bawaannya makan hati terus kalau di sini. Bisa kena darah tinggi lama-lama." Raka berdiri dan mengemas cokelat yang keluar dari kantong kresek.


"Dari tadi kek," gumam Rangga.


"Ngomong apa tadi?"


"Gak."


"Ya udah. Aku pergi! Bye!" Raka keluar kamar Rangga membawa serta cokelatnya. Eh, ralat. Cokelat milik Rangga yang dia ambil alih kepemilikannya.


Bicara tentang perempuan yang disukai memanglah tidak tepat ditanyakan untuk Rangga saat ini. Entahlah, dari sekian ratus perempuan yang ada di SMA nya tidak ada satupun yang menarik hatinya. Mungkin karena kebanyakan mereka mendekati Rangga hanya berdasarkan rasa penasaran saja dan merasa tertantang untuk menaklukkannya. Tidak ada yang tulus mencintainya.


****


Waktu berjalan cepat dan tak terasa. Tiba-tiba saja Raka sudah lulus dan sekarang berkuliah. Rangga yang kemudian duduk di bangku kelas tiga. Mengikuti bimbel sana-sini hanya untuk mempersiapkan Ujian Nasional, kemudian ujian dan berhasil meraih nilai bagus. Lanjut bimbel lagi untuk mengikuti tas masuk PTN, dan beruntung mendapatkan nilai bagus lagi sehingga ia sekarang kuliah di PTN impiannya.


"Yakin nih ambil jurusan pendidikan bahasa?" tanya ayahnya Rangga ketika ia memberitahu bahwa sudah diterima di PTN tujuannya.


"Iya yah."


"SMA nya IPA pas kuliah daftarnya sastra. Enggak kasihan sama anak bahasa emang semuanya diembat sama anak IPA!" celetuk Raka sambil makan kue putu yang barusan dibelinya.


"Dulu yang nyuruh masuk IPA siapa?" tanya Rangga agar menyadarkan Raka siapa dalang yang membuat Rangga musik jurusan IPA waktu SMA padahal niat awalnya ingin masuk jurusan bahasa. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Raka si kakak tercinta yang membujuk Rangga masuk IPA hanya gara-gara kalau ada soal yang sulit bisa langsung tanya ke Rangga. Padahal jelas-jelas mereka berbeda tingkatan. Pasti beda pula materinya. Dan Rangga yang saat itu tengah labil dengan pilihannya mau saja dibujuk oleh Raka.


"Hehehe, sorry!" ucap Raka dengan tampang yang tak berdosa.


"Kalau bunda sih setuju-setuju saja kamu mau ambil jurusan apa aja. Yang penting kamu suka dan sesuai minat kamu. Kalau suka kan bakalan ikhlas ngejalaninnya dan tidak putus di tengah jalan." Meski terdengar sebuah persetujuan tapi kalimat bunda juga mengandung sindiran yang ditujukan untuk Raka yang sok-sokan mengambil jurusan hukum hanya agar terlihat keren. Dan ketika tahu apa saja yang dipelajari membuat Raka langsung angkat bendera putih di tahun pertamanya. Dan kini dia tengah mengambil jurusan teknik yang lumayan ia sukainya.


"Ekhm! Nyindir Bun?" tanya Raka sambil makan kue putu yang beruntung tidak membuatnya tersedak setelah mendengar sindiran halus bundanya.


"Ya kalau merasa tersindir bagus! Niat belajar itu yang sungguh-sungguh. Jangan dijadikan mainan. Ayah tidak mau kalau ilmu yang kalian coba cari tidak meresap ke otak hanya karena dibuat main-main." Petuah ayah yang ditujukan tidak hanya untuk Raka tapi juga untuk Rangga yang ia jadikan sebagai nasihat.


"Iya Yah," jawab Rangga dan Raka serempak.


*****


Enam semester sudah Rangga lalui dengan banyak cerita dan pengalaman juga ilmu yang sangat berguna. Masuk ke semester tujuh tiba saatnya dia mengaplikasikan ilmunya ke masyarakat guna menerapkan tri dharma pendidikan. Di mana dia akan mengukur seberapa dalam ilmu yang telah ia peroleh.


Hingga tiba hari di mana ia akan bertemu dengan orang-orang yang akan menjadi rekan sekelompoknya. Yang akan menjadi rekan senang dan susahnya satu bukan ke depan. Rangga termasuk orang yang disiplin, jadi dia termasuk orang-orang yang awal datang di aula. Bukan seperti Nala, temannya yang hobi sekali dengan terlambat. Jadi ketika dia masuk dan tidak mendapati teman sekelasnya itu Rangga merasa biasa saja.


Kemudian pandangannya terarah pada gadis yang duduk di belakang sambil membaca sesuatu seperti buku di tangannya. Terlihat karena dia menunduk dan arah matanya yang bergerak ke kanan dan ke kiri. Di saat teman samping kiri kanan, sibuk mengakrabkan diri dia masih sempat-sempatnya sibuk dengan dunianya sendiri. Merasa ditatap, perempuan itu mendongakkan kepalanya dan langsung bertatapan dengan mata tajam milik Rangga. Buru-buru Rangga mengalihkan pandangannya dengan pura-pura mengikuti pembicaraan teman di sampingnya.


"Hai!"


"Hai! Kenapa?"


"Enggak. Cuma mau ngajak kenalan aja. Kenalin, Rangga," ujar Rangga sambil memberikan uluran tangannya. Hanya sekedar basa-basi padahal tadi sudah ada sesi perkenalan.


"Ohh, Astri." Perempuan yang bernama Astri itu membalas jabatan tangan Rangga.


"Kamu mau langsung pulang?"


"Ke kantin dulu. Lapar."


"Aku boleh gabung?"


"Boleh aja." Bagai gayung bersambut, Rangga dengan semangat menyamakan langkah dengan Astri.


Entah ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama atau bagaimana Rangga belum tahu pasti. Yang pasti dia sangat senang ketika berada di dekat Astri meski baru beberapa jam bertemu. Saat mereka akan berbelok menuju kantin, tak sengaja ada seseorang yang menabrak Astri dan membuatnya terjatuh.


"Hey! Hati-hati dong!" seru Rangga menatap sengit ke mahasiswa yang tidak sengaja menabrak Astri.


"Maaf! Gak liat tadi. Lagi buru-buru," ujar pria yang menabrak Astri tadi sambil menyatukan kedua telapak tangannya sebagai tanda maaf. Lalu pergi dengan langkah tergesa-gesa.


Rangga kemudian membantu Astri memasukkan kembali buku-bukunya dalam tote bag yang sempat berceceran tadi. Ketika membantu Astri, Rangga melihat ada sebuah buku yang sangat familiar baginya. Buku kecil dengan kertas agak buram berisikan beberapa gambar yang disertai dialog percakapan.


"Suka komik Naruto?"


"Iya. Kenapa?" jawab Astri sambil memasukkan komiknya yang dipegang Rangga.


"Enggak nyangka aja kita punya kesukaan sama." Mereka berdua kemudian berdiri dan melanjutkan langkah ke kantin.


"Waah! Beneran?"


"Iya. Aku punya banyak di kamar."


"Edisi baru ada?"


"Ada. Baru beli kemarin, belum sempet aku baca."


"Kapan-kapan aku pinjam boleh?"


"Boleh, main aja ke rumah. Nanti biar aku tunjukin koleksiku."


"Oke deh."


Mereka berdua pun makan sore bersama diringi beberapa topik pembahasan. Kebanyakan mereka membahas topik yang ternyata sama-sama mereka sukai. Arah pembicaraan yang satu frekuensi membuat mereka betah bicara banyak padahal aslinya mereka berdua sama-sama pendiam. Hingga tak terasa hari mulai gelap dan Rangga memilih mengantar Astri pulang ke rumahnya. Tidak membonceng, melainkan hanya mengikutinya dari belakang. Sekadar memberi rasa aman.


*****


Tidak menyangka hanya butuh waktu dua bulan untuk Rangga menyadari bahwa ia mencintai seorang Astri. Benar-benar cinta, bukan cinta monyet yang ia alami dulu sewaktu SMP. Dia bahkan berniat untuk mengikat Astri dengan janji suci di depan para saksi seusai mereka lulus kuliah nanti.


Rencananya ia mulai ketika hari KKN mereka memasuki Minggu terakhir. Bersama Nala dan teman-teman yang lain ia menyiapkan rencana yang sempurna untuk melamar Astri. Suasana sudah sempurna dan sangat romantis, waktu pun sudah tepat, tapi mungkin takdir yang belum merestui. Bukan, bukan Astri yang menolak. Tapi sebuah kenyataan yang cukup memberi tamparan keras bagi Rangga.


Astri hamil.


Iya. Hamil. Sebuah nyawa hidup dalam perut Astri. Dan itu yang membuat Rangga sangat terpukul. Dia terkejut, tentu saja. Niat hati ingin memberi kejutan kepada Astri malah dia yang dibuat terkejut sendiri. Dan yang membuatnya tak habis pikir adalah Astri yang menyembunyikan semua ini. Selama ini berarti Astri hanya membuat topeng bahagia di balik penderitaannya. Ada sedikit kekecewaan menghampiri Rangga. Mengapa Astri tidak jujur padanya?


Di tengah kekalutan hatinya, beruntung ada Alif yang memenangkan dirinya. Mencegahnya bertindak sesuatu yang bodoh. Contohnya pergi ke jalan raya hanya untuk mencari angkot dan mencari mantan Astri yang entah ada di mana.


"Coba kamu tenang dulu Ngga. Wudlu dulu gih biar lebih tenang." Rangga pun mengikuti saran Alif dan berwudhu di mushola puskesmas. Setelah itu barulah dia menemu Alif lagi dan meminta saran.


"Kenapa ya Lif? Kenapa Astri selama ini nutupin hal besar ini ke aku? Apa dia masih belum menaruh kepercayaan ke aku?"


"Gini Ngga, coba kamu bayangin kamu yang ada di posisi Astri. Kurasa bahkan untuk memberitahu orang tuanya saja sangat sulit. Apalagi memberitahu orang lain yang notabenenya masih baru dia kenal."


"Mungkin dia ingin berkata jujur ke kamu, tapi waktunya aja yang belum tepat. Mungkin juga karena banyak hal yang ia pertimbangkan. Salah satunya takut kamu campakkan."


"Hmm, thanks buat jawabannya. Aku tahu ini pasti berat buat dia ngejalaninnya."


"Jadi, mau berhenti sampai sini atau lanjut?"


Pertanyaan dari Alif ini terus terngiang-ngiang di telinga Rangga. Dia tahu dia cinta dengan Astri. Sangat. Oleh karena itu tidak perlu waktu lama untuk memutuskan bahwa ia tetap akan menjadikan Astri sebagai pendamping hidupnya. Untuk apa pun yang terjadi, hal itu tidak mengubah rasa cintanya untuk Astri. Malah sepatutnya dia bahagia karena anak Astri yang akan hadir di tengah-tengah mereka. Sebuah anugerah yang Rangga yakin memang ditakdirkan untuknya.


"Dari wajah kamu yang senyam-senyum sumringah gitu aku udah tau apa jawabannya." Alif kemudian mengajak Rangga kembali ke ruangan Astri untuk menuntaskan apa yang sebelumnya belum selesai.


*****


Ketika persetujuan Rangga dapatkan dari Astri, kini dia harus menyiapkan diri meminta persetujuan ke orang tuanya. Mental yang sebelumnya sangat percaya diri menjadi agak ragu setelah tahu bagaimana kondisi Astri saat ini. Tidak munafik, Rangga tentu takut jika orang tuanya tidak merestui. Ayolah! Pastilah sangat sulit meminta restu seperti ini ke orang tua manapun. Bahkan Rangga tak henti-hentinya berdoa agar orang tuanya dapat memahaminya.


"Rangga?"


"Eh, iya Bun?"


"Katanya tadi mau ngomong? Mau ngomong apa? Dari tadi bunda sama ayah nungguin loh." Akibat terlalu banyak melamun dan banyak berpikir membuat Rangga lupa kalau di depannya ada orang tuanya yang sedang menunggunya.


"Begini, Rangga mau bilang sesuatu sama ayah dan bunda."


"Iya, mau bilang apa? Dari tadi ngomong gitu tapi enggak ngomong-ngomong maksudnya apa. Ada apa sih ngga?" tanya ayah Rangga yang mulai agak kesal melihat anaknya yang tak kunjung menyampaikan maksudnya.


"Rangga mau minta sesuatu, Rangga mau minta Restu ayah sama bunda untuk melamar seseorang. Namanya Astri."


"Apa?!" Tentu saja orang tua Rangga terkejut. Pulang-pulang dari tugas KKN malah tiba-tiba pengen dilamarkan dengan seorang perempuan. Apa mungkin anaknya kecantol bunga desa di sana? Itu yang pertama kali orang tua Rangga pikirkan.


"Ayah sama bunda enggak ngizinin?" tanya Rangga dengan penuh ketar-ketir. Takut jika memang benar ia tidak direstui.


"Kamu ngomong apa sih Ngga? Ya jelas bunda restuin lah. Bunda tadi cuma kaget aja, kamu yang enggak pernah sekalipun membahas perempuan juga tidak pernah membawa ke rumah tiba-tiba bilang minta restu."


"Sebenarnya Rangga juga baru kenal Bun, Yah. Sudah dua bulan ini Rangga bersama Astri, dan kita saling mengenal. Tapi Rangga yakin kalau Rangga benar-benar mencintai dia. Rangga ingin hanya dia yang menjadi menjadi pendamping hidup Rangga." Rangga memberikan tatapan serius agar orang tuanya percaya dia tidak sedang main-main.


"Ayah sih juga sama kaya bunda. Kalau kamu yakin, kamu juga bahagia, ayah akan merestui kamu."


Untuk sesaat Rangga dapat bernapas lega. Tapi sedetik kemudian rautnya menjadi risau untuk suatu hal. "Yah, Bun, sebenarnya ada satu hal lagi."


Melihat anaknya yang bergerak gelisah membuat bunda duduk mendekat dan mengusap punggung anaknya perlahan, berniat memberi ketenangan. "Ada apa?"


"Sebenarnya Astri.., dia sudah hamil."


"Hah?!" Mendengar itu ayah langsung berdiri dan memukul Rangga hingga tersungkur dari duduknya. Salah paham jika anaknya telah berbuat suatu hal melenceng.


"ANAK KURANG AJAR! APA BEGINI DIDIKAN AYAH PADAMU HA?!!" Urat-urat di leher ayah jelas terlihat. Menunjukkan betapa marahnya ia saat ini.


"Bukan! Bukan Rangga yang ngelakuin yah!" Rangga mencoba bangkit dan menahan lengan ayahnya yang hendak memukulnya lagi. Bunda juga begitu, memeluk suaminya agar tidak dikendalikan amarah.


"Lalu siapa?" tanya ayah yang kini sudah agak tenang berkat pelukan dari bunda.


"Dia korban dari mantan pacarnya. Dan aku tidak menyalahkannya. Itu semua di luar kehendaknya. Dan dia wanita hebat karena mempertahankan bayiku. Rangga tidak peduli apa pun itu. Rangga tak peduli. Dan Rangga akan tetap mencintainya."


"Ya Allah nak!" Bunda yang mendengar penuturan Rangga hanya bisa menangis. Di satu sisi dia prihatin dengan anaknya, di satu sisi dia sedih juga bangga terhadap Astri. Sesama perempuan pasti tahu betapa beratnya yang dialami Astri. Dan mungkin anaknya lah yang akan menjadi sumber kebahagiaannya setelah penderitaan yang begitu panjang ia alami.


"Bunda restui Nak. Bunda restui kamu bersama wanita pilihanmu. Dan Astri, dia juga layak untuk bahagia." Mendengar penuturan dari bundanya membuatnya sangat senang dan langsung memeluknya. Kemudian tatapannya beralih ke ayahnya meminta jawaban.


Hanya diam. Ayahnya diam tapi tidak menolak. Dan diamnya ayah, Rangga anggap sebagai persetujuan. Senyum terus terpatri di wajah Rangga. Sembari memeluk ibunya dia bersyukur bahwa jalannya untuk memiliki Astri direstui. Tinggal selangkah lagi. Iya, selangkah lagi dia dan Astri akan resmi menjadi suami istri.


Jodoh memang tidak ada yang tahu. Cinta pertama bukan berarti akan berakhir bersama. Hubungan lama tidak menjamin kelanggengannya. Siapa yang menyangka hanya dengan waktu dua bulan bisa dipertemukan dengan jodoh yang sebenarnya?