TWENTY

TWENTY
Akhir yang Bahagia?



Hari ini adalah hari terakhir aku mengabdikan diri di Sekolah Dasar ini. Sebagai hari perpisahan, hari ini kita berempat tidak mengajar. Melainkan menghabiskan waktu bersenang-senang dengan mereka selama satu hari ini. Dengan mengenakan seragam olahraga, nanti kita akan bermain berbagai macam permainan seru yang telah kita persiapkan.


Tidak hanya berempat, aku juga mengajak teman-teman yang lain untuk ikut berpartisipasi. Jadi acara hari ini akan sangat meriah.


Diawali dengan senam bersama di tengah lapangan. Gea, Sita, Abdul, dan Rend menjadi instruktur senam. Sedangkan aku juga teman-teman yang lain senam di belakang bersama guru-guru. Kalau Indra jangan ditanya lagi, pasti dia bagian dokumentasi.


Setelah itu, permainan seru pun dimulai. Per kelas mengeluarkan masing-masing perwakilan, dan yang lain bisa duduk-duduk di pinggir lapangan untuk mendukung teman satu kelasnya.


Setiap lomba akan didemokan terlebih dahulu oleh kita. Lomba pertama adalah tarik tambang. Dari kubu pertama ada aku di bagian depan, kemudian Sita, Puput, Rere, dan Iren yang menjadi senjata utama kita. Lalu dari kubu lawan ada Rendi yang berhadapan langsung denganku, disusul oleh Ucup, Nopal, Fahmi, dan  Wahyu.


"Satu, dua, tiga!" Alif sebagai wasit mulai mengaba-aba.


Priiittt!!!


Suara peluit panjang menjadi tanda dimulainya pertandingan.


"Satu! Dua! Tarik!!!" Kita kompak menyerukan aba-aba.


"Aaa!!! Aaa!!" Sedangkan anak-anak cowok lebih ke teriak-teriak yang mengobarkan semangat.


Murid-murid yang menonton sepertinya sangat menikmati. Mereka juga heboh berteriak memberi dukungan. Para siswi yang mendukung kelompokku, dan siswa-siswa yang mendukung kelompok lawan.


"Hiyaaa!!" Dari belakang aku mendengar Iren berteriak lantang. Sepertinya dia mengeluarkan tenaga ekstra.


Gubrakk!!!


"Yey! Menang! Kita menang!!!" Kita berlima berpelukan. Tidak menyangka kalau tarikan ekstra dari Iren tadi membuat kita menang.


Pertandingan pun dilanjutkan oleh murid-murid. Permainan demi permainan kita laksanakan. Mulai dari tarik tambang, memasukkan paku dalam botol, lomba lari dengan mulut yang menggigit sendok dengan kelereng di atasnya, estafet tepung, dan banyak lagi permainan seru.


"Sal! Aku istirahat dulu!" Pamitku ke Salma yang tengah mengawasi pertandingan estafet tepung.


Aku menghampiri Astri yang tengah duduk di teras kelas. Dia tidak kita perbolehkan mengikuti permainan, terlalu berbahaya untuk janinnya. Jadi dia hanya kita perbolehkan mengikuti senam tadi pagi.


"Capek Na?"


"Capek As! Tapi seru!"


Kemudian kita berbincang sebentar, membahas hal-hal tak penting yang akhirnya membahas Rangga.


"Na, menurut kamu Rangga itu gimana sih?"


"Mau jawaban jujur apa bohong nih?"


"Jujur lah!"


"Oke. Jadi di mataku Rangga itu muka datar, dingin, jarang senyum, kadang nyebelin, enggak tahu terima kasih--


.."


"Kok jelek semua sih Na?!" Astri yang tidak terima memotong ucapanku.


"Aku belum selesai ngomong nih As. Tapi di balik itu semua, Rangga itu sosok teman yang bisa diandalkan. Dia juga akan menjadi sosok yang hangat dan ceria ketika berhadapan dengan anak-anak. Aku yakin, dia pasti menyayangi anak ini" kataku tulus sambil mengusap perutnya.


"Berarti aku benar dengan menerima lamarannya"


"Ya Allah As! Kamu masih ragu sama Rangga?" Tanyaku tidak percaya.


"Bukannya gitu Na! Aku cuma masih sedikit takut. Apa kata keluarganya nanti jika punya menantu seperti aku" dia menundukkan kepalanya.


"Enggak kok As! Aku mengenal orang tuanya Rangga. Mereka orang yang baik kok!. Rangga membuat keputusan sebesar ini juga pasti sudah meminta restu orang tuanya" aku menggenggam jemarinya, ingin memberinya sedikit ketenangan.


"Iya Na. Aku percaya"


"Nih minum dulu!" Baru saja kita bicarakan, orangnya sudah datang.


Rangga memberikan sebotol air mineral untuk Astri, dengan beberapa roti juga.


"Capek enggak?" Tanyanya ke Astri.


"Enggak. Cuma duduk diam apanya yang capek? Bosan baru iya"


"Sabar ya! Kan biar dedek bayinya enggak kenapa-kenapa" Rangga gemas sendiri dengan Astri, jadi dia mengacak-acak rambut milik Astri.


Jadi kalau mereka bertemu, sifat asli mereka keluar ya?


Enggak dingin dan kaku. Berbeda jauh ketika berhadapan dengan orang lain.


"Ekhm! Berasa obat nyamuk nih!" Sindirku.


"Ada orang iri ternyata! Kita ke kantin aja yuk!" Tanpa basa-basi Rangga mengajak Astri ke kantin.


Ninggalin aku sendiri!!!


Dasar Rangga kampret!!!


Tidak terasa hari sudah beranjak siang. Murid-murid dibariskan di lapangan untuk persiapan pulang dan pengumuman pemenang lomba. Dan untuk bagian terakhir yaitu acara perpisahan, dimana aku, Salma, Abdul dan Rangga mengucapkan pidato perpisahan ke mereka. Bagian yang paling haru adalah ketika mereka menyalimi tangan kita. Bahkan ada yang menangis, membuat kita juga ikut terharu.


"Mbak, kita minta maaf ya kalau selama ini kita berbuat salah. Atau membuat Mbak Ida sakit hati baik kita sengaja atau tidak!" Kataku sambil berpelukan dengan Mbak Ida.


Acara mewek pun tidak dapat terelakkan.


"Iya Na! Mbak juga minta maaf! Tapi meskipun kalian sudah tidak di sini, kita jangan sampai putus hubungan ya? Telpon sekali-kali!"


"Iya mbak!" Salma rupanya ikut mengahamburkan diri ke aku dan Mbak Ida.


Acara berlanjut dengan bersalaman ke guru-guru yang lain. Mengucapkan kata maaf dan terima kasih atas ilmu dan pengalaman yang mereka berikan.


"Kakak cantik! Habis ini mau ninggalin Ara ya?" Ara yang entah dari mana tiba-tiba memelukku.


"Iya. Kakak kan harus pulang sayang" aku mencoba memberi pengertian ke dia.


Eh, enggak tahunya malah dia nangis.


Dan bersamaan dengan itu Mas Pandu datang seperti biasa untuk menjemput Ara.


"Loh, Ara kenapa nangis?" Mas Pandu mensejajarkan tubuhnya dengan Ara.


"Kakak cantik! Hiks! Mau ninggalin Ara!" Mendengar penuturan dari Ara, mata Mas Pandu seperti meminta pe penjelasan.


"Hari ini adalah hari terakhir aku ngajar di sini, sekitar satu minggu lagi aku dan  teman-temanku sudah kembali ke kampus" rupanya Mas Pandu juga terlihat kaget.


"Saya pikir kalian masih lama di sini, enggak tahunya sebentar lagi mau pulang"


"Hehehe... iya mas!"


"Kamu ikut saya dan Ara pulang gimana Na? Ada sesuatu yang mau saya bicarakan"


Mau bicara apa kira-kira Mas Pandu ini?


Sebelum memutuskan, aku meminta pendapat dulu ke Salma. Dan dia setuju saja. Dengan syarat Mas Pandu yang mengantarku pulang ke rumah.


"Boleh mas, tapi nanti pulangnya aku diantar kan?" Bukannya menjawab, Mas Pandu malah tertawa.


"Kok ketawa?"


"Ya jelaslah Na kamu saya antar pulang!" Kita pun masuk ke mobil. Menyusul Ara yang sudah masuk duluan.


Ketika aku membuka pintu belakang, Mas Pandu menginterupsiku.


"Duduk di depan aja Na"


"Iya mas"


Di dalam mobil, jika biasanya Ara selalu berisik kini keadaan menjadi hening. Dia tertidur rupanya. Pasti lelah setelah berkegiatan tadi. Keadaan pun menjadi canggung antara aku dan Mas Pandu.


"Na!"


"Iya?"


"Duh. Gimana ngomongnya ya? Saya bingung mau mulai dari mana" lah. Anda bingung, apalagi saya?


"Langsung intinya aja mas" saranku.


Deg.


Ini benar Mas Pandu cinta sama aku?


"Mas Pandu enggak bercanda kan?"


"Saya serius Na. Saking seriusnya, malah saya berencana mau melamar kamu. Di depan orang tua kamu secara langsung"


"Apa?!!" Aku langsung menutup mulutku rapat-rapat, takut jika Ara terbangun.


"Tapi, terlebih dahulu saya menanyakan pendapat kamu sekarang. Saya bukan mencari pacar Na, saya mencari pendamping hidup. Istri yang akan menemani saya sehidup semati. Maukah kamu Na?"


Aku masih diam.


Mencerna kata demi kata yang Mas Pandu katakan. Aku masih terhenyak. Antara ini mimpi atau nyata.


"Maaf kalau saya melamar kamu di mobil. Saya juga belum menyiapkan cincin. Tapi jika kamu menerima, saya akan siapkan lamaran resminya" hmm.. Mas Pandu seriu banget sama perkataannya.


"Maaf mas! Aku enggak bisa"


"Kenapa Na?"


"Aku belum siap mas! Lagi pun, ada nama yang sudah ada di hatiku. Dan perasaanku ke Mas Pandu itu cuma sebatas kakak dan adik, tidak lebih" kali ini aku berkata jujur tentang perasaanku.


Meski menyakitkan, Mas Pandu tetap menerima penolakanku dengan lapang dada. Buktinya sekarang aku masih di dalam mobil ini. Tidak ditendang keluar.


Suara dering ponsel memecah kecanggungan yang tercipta. Sambil menyetir, sebelah tangan Mas Pandu mengangkat telepon. Berhubung hal itu tidak sesuai dengan prosedur keselamatan, akhinya aku yang memegang ponsel itu sambil mengeraskan volumenya.


"Halo?"


"Halo Pandu! Kamu cepat pulang nak! Bapak kamu kambuh lagi, sekarang di rumah sakit!"


"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un" lirihku.


"Iya bu. Ini Pandu lagi di jalan, bentar lagi sampai ke sana" setelah itu Mas Pandu mengucapkan salam, dan sambungannya terputus.


"Aku turun di sini aja mas, kelamaan nanti kalau mengantarku pulang dulu"


"Enggak lah Na, kamu saya antar pulang dulu!" Mas Pandu masih teguh dengan pendapatnya.


"Enggak perlu mas! Aku bisa pulang sendiri kok, nanti aku telpon temanku buat jemput"


Mas Pandu tampak menimbang perkataanku. Kemudian laju mobil mulai berjalan pelan dan akhirnya berhenti.


"Maaf ya Na!"


"Iya mas! Titip salam juga buat ibu nanti, semoga bapak cepat sembuh"


"Iya"


Aku mulai turun dari mobil, tapi Mas Pandu memanggil namaku yang membuatku membalikkan badan lagi.


"Apa mas?"


"Tolong kamu pikirkan lagi lamaran saya Na" duh. Jadi makin bersalah gini sama Mas Pandu. Sudah lamarannya kutolak, habis itu dapat kabar buruk dari orang tuanya.


Semoga dia dilapangkan dadanya.


"Iya mas" kemudian mobil hitam itu mulai meninggalkanku sendiri.


Ternyata ini masih di area desa. Belum sampai ke jalan besar. Di depanku terhampar luas persawahan berwarna hijau. Membentang luas seperti karpet raksasa yang menyejukkan mata.


Aku duduk dibawah pepohonan, menikmati semilir angin yang menerpa. Sambil tanganku mengetik pesan ke Salma untuk menjemputku di sini. Kakiku masih lelah untuk berjalan pulang sejauh ini.


Kring! Kring!


Suara bel sepeda membuatku mengalihkan pandangan.


Loh.


"Alif?"


"Iya" jawabnya singkat sambil memarkirkan sepeda ontelnya


"Kok di sini?"


"Buat jemput kamu"


"Loh? Salma emang ke mana? "


"Kasihan, dia kelihatannya capek banget"


Nah ini.


Kalau saja aku belum tahu kalau kamu itu sahabatan sama Salma. Pasti sekarang aku sudah cemburu Lif!


Kemudian dia duduk di sampingku. Tentunya dengan jarak aman yang masih tercipta.


"Nala!"


"Iya? Kenapa Lif?" Masang muka sok tenang padahal jantungku dari tadi dag dig dug enggak karuan.


"Dulu pas hari pertama MOS di kampus, enggak sengaja aku lihat cewek dengan tas punggung berwarna pink mencolok. Kontras dengan baju yang dipakai yang berwarna hitam dan putih. Waktu itu aku melihat dia tengah menyelamatkan kucing yang habis tertabrak sepeda motor, dia gendong kucing sambil menangis. Jujur, aku mulai tertarik dengan cewek itu. Dan mulai penasaran, ingin tahu siapa namanya"


Tunggu! Tunggu!


Cewek dalam cerita Alif barusan sepertinya itu aku. Aku masih ingat betul kejadian itu, hari di mana aku menyelamatkan Jimmy. Melihat kucing itu tergeletak lemah di aspal membuat hatiku iba sampai menangis, dan akhirnya aku memutuskan untuk membawa pulang kucing itu dan merawatnya.


"Setelah hari itu aku sudah tidak melihatnya lagi. Dari situ aku berpikir mungkin dia tidak satu fakultas denganku. Tapi ketika aku mengunjungi Salma, aku melihat cewek itu di kantin. Rupanya cewek itu satu fakultas dengan Salma"


Nah. Satu fakultas dengan Salma.


Makin ke sini aku semakin GR. Berharap kalau cewek itu aku.


"Dan cewek yang diam-diam mencuri perhatianku itu kamu Na. Cewek itu bernama Nala Ayu Kinanti"


Benar! Itu aku!


Jadi selama ini Alif sudah memperhatikanku? Dan aku selama ini tidak tahu!


"Na. Aku tidak seperti Mas Pandu yang bisa menyanyikan kamu lagu romantis, atau Radit yang membawakan kamu bunga dan cokelat, apalagi seperti Rangga yang berani melamar wanita yang dicintainya. Aku hanya bisa bilang Na, kalau aku sudah jatuh dalam cintamu. Aku hanya ingin mengatakan itu, tidak perlu kamu jawab Na"


Tes!


Ternyata Alif punya perasaan yang sama denganku.


Cintaku terbalaskan!


Perhatian yang selama ini dia berikan ternyata beralasan.


Aku masih tidak menyangka. Tapi sebelum Alif tahu, buru-buru aku menghapus air mata bahagia ini.


"Na, setelah wisuda nanti aku akan pergi. Selama dua tahun akan fokus mengurus usaha ayahku yang ada di Australia. Tapi setelah itu, Insya Allah jika aku masih diberi kesempatan. Aku akan meminangmu"


Tes!


Tes!


Tes!


Air mata yang sudah kuhapus kini keluar lagi. Aku bingung. Ini air mata bahagia ataukah sedih?


Bahagia mengetahui Alif akan meminangku, dan sedih ketika tahu kita akan terpisah jarak dan waktu.


"Sudah jangan menangis! Ayo pulang!"


Dalam kesunyian kita pulang. Aku diam karena masih terlalu terkejut dengan pernyataan Alif, dan dia diam dengan pikirannya.


Apakah ini akhirnya?