
"Uhuk-uhuk!" Kurasakan tenggorokanku sangat kering. Tanganku meraba-raba di atas nakas, apakah ada air apa tidak. Rupanya tidak ada.
Kuputuskan untuk mengambil air minum di dapur. "Ya Allah!" Baru saja aku berdiri, tapi tubuhku sudah limbung. Membuatku terjerembab ke kasur. Kenapa ini? Mendadak tubuhku sangat lemas, dan juga kepalaku sangat pusing. Seakan-akan yang ada di hadapanku semuanya berputar. Dengan tertatih-tatih dan berpegangan pada dinding, aku mencoba untuk ke dapur.
Lama memang, ditambah dengan kamarku yang berada di lantai dua. Membuatku harus berusaha lebih keras untuk menuruni anak-anak tangga. Tapi akhirnya sampai juga langkah kakiku ke dapur. Kemudian kuambil gelas dan mengambil air dari dispenser.
Tarr!!!
Entah mengapa tanganku terasa begitu lemas, hingga gelas yang kupegang mendadak jatuh dan terpecah belah.
"Astaghfirulloh!" Kupegang kepalaku yang terasa nyut-nyutan. Rasa pusing ini kian menjadi ketika aku memaksakan untuk berdiri. Alhasil, aku hanya bisa terduduk lemas di samping pantry.
"Ya Allah Nala!" Suara teriakan Mas Alif menyadarkanku. Kurasakan tubuhku terangkat dan berada dalam gendongannya. Tidak banyak yang bisa kulakukan dengan tubuhku yang sudah sangat lemah ini. Aku hanya bisa mengalungkan kedua tanganku ke lehernya dan menelusupkan kepalaku di dada bidangnya.
Sesaat kemudian aku sudah merasakan tubuhku diturunkan perlahan di atas tempat tidur. Kemudian Mas Alif meletakkan telapak tangannya di dahiku, raut mukanya kini tampak lebih khawatir. "Badan kamu panas banget Sayang. Kita ke rumah sakit ya?" tawarnya. Tapi kubalas dengan gelengan kepala lemah.
"Atau aku panggilkan aja dokter buat ke sini?" gumamnya, tapi aku masih bisa mendengar itu.
"Enggak usah Mas. Aku enggak kenapa-napa kok. Cuma demam biasa aja gara-gara kecapekan."
"Kamu yakin?" tanyanya sekali lagi dan kujawab dengan anggukan kepala.
Kulihat dia beranjak berdiri dan mengeluarkan ponsel dari saku di balik jasnya. Sepertinya akan menelpon seseorang. Tingkahnya yang seperti cacing kepanasan, berjalan mondar-mandir sambil beberapa kali mengecek ponselnya membuatku sedikit tersenyum. Andai saja aku dalam kondisi sehat, pastilah aku akan menertawainya. Tapi sekarang? Jangankan untuk tertawa, untuk duduk saja aku rasa masih memerlukan bantuan.
"Assalamu'alaikum Ma. Ini Nala lagi demam, gimana nanganinya?" Rupanya Mas Alif menelpon mamanya. Gayanya yang mengiyakan, lalu mengangguk-angguk sepertinya sudah paham dengan apa yang dikatakan oleh mama.
Tidak lama setelah itu dia menutup telponnya, lalu kembali berjalan ke arahku. "Kamu tunggu di sini bentar ya!" Dia langsung meluncur keluar kamar. Entah apa yang akan dia lakukan. Aku pasrah saja.
Selang beberapa menit dia sudah kembali dengan tangan yang membawa sebuah nampan yang berisi sebaskom air, handuk kecil, air putih, bubur, dan beberapa obat-obatan. Dengan telaten dia mengompresku dahiku dengan air hangat. Setelah itu dia mendudukkanku dan berniat untuk menyuapiku semangkuk bubur.
"Sini buka mulutnya, aaaa!"
"Aku makan sendiri aja lah Mas." Aku berusaha meraih sendok itu, tapi Mas Alif lebih cekatan dariku. Dia menaikkan sendok itu tinggi-tinggi, membuatku tidak bisa meraihnya.
"Enggak boleh. Kamu kan lagi sakit. Biar aku yang manjain kamu," katanya tidak bisa dibantah.
"Iya, iya."
"Nah gitu dong, ayo sekarang aaa!" Akhirnya aku menerima suapan demi suapan yang diberikan Mas Alif. Asupan dari bubur dan kompresan dari Mas Alif membuat tubuhku terasa lebih baik dari tadi.
"Wahh sudah habis! Istri siapa sih ini? Pintar banget!" katanya sambil mengacak-acak puncak rambutku.
"Ish Mas! Aku bukan anak kecil tahu!"
"Iya. Habisnya kamu imut dan menggemaskan sih!" Aku anggap ini sebagai pujian. "Nah, sekarang minum obatnya." Dia mulai mengambil beberapa obat.
Dari baunya saja sudah membuatku mual. "Enggak ada yang sirup ya Mas?" pintaku dengan menampilkan muka memelas terbaikku.
"Katanya bukan anak kecil. Kok masih nanyain sirup?" Hmm... membalikkan kata-kataku tadi rupanya.
"Ya sudah. Pokoknya aku enggak mau minum obat itu," kataku sambil menutup mulutku.
"Minum dong Sayang, kan biar sembuh." Meski pun Mas Alif membujukku dengan berbagai cara, keputusanku tetap menggeleng sambil menutup mulutku.
"Kenapa sih Na? Jangan bandel lah! Biar kamu cepat sembuh ini."
"Aku enggak bisa minum tablet Mas!" Akhirnya aku jujur.
Ini adalah salah satu rahasia yang kujaga serapi mungkin. Hanya keluargaku saja yang tahu. Jangan sampai ada orang lain yang tahu, bisa ditertawakan habis-habisan aku. Jadi sebenarnya aku itu tidak bisa meminum obat yang berbentuk tablet, selalu cair. Entah itu sirup atau pun tablet yang dihancurkan terlebih dahulu.
"Terus biasanya gimana minumnya?" Aku tahu, dalam hati pasti Mas Alif menertawaiku. Lihat saja sudut bibirnya yang berkedut itu. Sangat terlihat jika dia menahan tawanya.
"Dihancurin dulu, terus taruh di sendok. Habis itu dikasih air sedikit."
"Iya."
Mas Alif pun turun ke dapur untuk memenuhi permintaanku itu. Lalu kembali dengan obat yang sudah sesuai dengan apa yang kuminta. Dengan cepat aku meminum obat itu agat tidak terasa pahit, lalu meminum segelas air putih sampai tandas.
Mas Alif kemudian memegan jari-jari tanganku lalu menggenggamnya erat. Dikecupnya punggung telapak tanganku penuh cinta. Membuatku mengernyitkan dahi karena bingung dengan sikapnya ini. "Kenapa Mas?"
"Kamu kok bisa drop begini sih Sayang?" tanyanya dengan tatapan sendu yang diarahkan padaku.
"Seminggu tanpa kamu, aku cuma bisa menghibur diri dengan terus bekerja dan melaksanakan berbagai kegiatan. Enggak tahu kalau ternyata sampai kecapekan seperti ini." Ditambah lagi tadi habis hujan-hujanan. Tentu saja itu terucap dalam hati, tidak mau menambah omelan Mas Alif jika mendengar alasan yang satu itu.
"Lain kali jangan begitu. Kalau capek istirahat, jangan terlalu memaksakan diri kalau kamu sudah enggak sanggup. Jangan buat aku khawatir!"
Jangan buat aku khawatir. Kalimat sama yang terucap dari bibirnya sejak tiga tahun lalu. Kalimat sederhana yang membuat hatiku menghangat. Kalimat sederhana yang menunjukkan betapa perhatiannya dirinya kepadaku.
"Hmm." Mataku tidak sengaja melihat sebuah kotak yang teronggok di atas meja riasku. Sebuah kotak yang berisi gaun pemberian Mas Alif. "Mas, maaf ya! Aku enggak bisa nemenin kamu nanti.
"Udah kamu enggak perlu mikirin itu. Yang penting kamu sekarang istirahat supaya cepat sembuh." Senyumnya tidak selaras dengan sorot matanya yang menyiratkan kesedihan.
"Ya sudah, kamu siap-siap gih buat sholat maghrib. Habis itu berangkat ke acara pestanya," titahku setelah melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah enam sore.
"Tahu enggak Sayang? Tanpa kamu, kayanya aku enggak ada semangat lagi buat berangkat ke pestanya." Dia mencium sekali lagi punggung telapak tanganku.
Dengan tenaga yang tersisa, aku memukul lengannya. "Jangan gitu dong Mas! Itu kan acara penting buat kamu."
"Tapi kamu masih sakit kaya gini, mana tega aku mau ninggalin kamu."
Sebelah tanganku mengusap pipinya dengan sayang. "Lihat! Aku sudah enggak apa-apa kok. Berkat tangan kamu yang sudah merawatku," kataku berusaha meyakinkannya.
"Udah. Aku udah mendingan kok. Kamu cepat siap-siap sana!"
Tampak Mas Alif menghembuskan napas lelah dan berjalan gontai ke kamar mandi. Dengan berat hati dia meninggalkanku untuk pergi ke acara pesta pelantikannya. Sebelum itu dia kembali menghampiriku untuk pamit.
"Sayang sekali, karyawan-karyawanku enggak tahu betapa cantiknya bu bos mereka," kelakarnya mencoba menghiburku.
"Bisa aja kamu Mas! Udah, berangkat sana! Nanti telat lagi. Apa kata pegawainya kalau tahu pimpinannya tidak disiplin waktu."
"Iya istriku yang cantik dan bawel!" Sekali lagi dia mengacak puncak rambutku. Membuatku memutar bola mata malas.
"Aku sudah telpon mama buat nemenin kamu di sini."
"Iya." Aku sudah tahu karena mendengar percakapannya tadi di telepon.
"Jangan lupa istirahat!"
"Iya."
"Kalau ada apa-apa jangan sungkan bilang ke mama."
"Iya."
"Ya sudah, kalau gitu aku berangkat dulu ya!" pamitnya sembari mengecup keningku. "Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam!" jawabku. Setelah itu tubuh Mas Alif sudah menghilang di balik pintu kamar yang perlahan menutup. Membuatku memilih untuk tidur lagi sebelum menunggu mama mertuaku datang.
*******
Aku terbangun di pagi hari yang cerah ini. Sinar mentari yang mengintipku di balik jendela yang terbuka membuatku mengernyitkan dahi dan mata untuk menyesuaikan cahaya yang masuk di mataku. Semalam mama dan Mas Alif merawatku dengan sangat baik. Meski pun ada sedikit perselisihan di antara mereka untuk memutuskan siapa yang tidur denganku, pastilah mama yang menang. Dan Mas Alif berakhir tidur di kamar tamu.
Aroma lezatnya makanan memenuhi indra penciumanku. Menggodaku untuk menghampiri asal bau. Dengan perlahan tapi pasti, aku berjalan merambat ke dinding. Sudah lumayan bertenaga, tidak selemah kemarin sore. Setelah sampai di dapur aku melihat Mama dan Mas Alif sedang berkutat di dapur. Pelan-pelan aku mendekati mereka.
"Ma, ini airnya enggak kebanyakan ya?" Mas Alif tampak sedang mengaduk-aduk sesuatu di dalam panci.
"Memang segitu Lif. Kalau sedikit nanti jadinya nasi, bukan bubur!" Mama yang tengah menumis masakannya sedikit geregetan dengan pertanyaan Mas Alif.
Rupaya dua ibu dan anak itu sedang memasak bersama. Dan kupikir, Mas Alif tengah membuatkanku bubur. Tampak dari dia yang dari tadi sibuk mengaduk panci. Berbeda dengan ibu yang sibuk sana-sana untuk membuat sarapan. Dari tadi aku melihat dari ruang makan tidak ada yang menyadari sama sekali.
"Rasanya pas!" kata Mas Alif setelah mencicipi bubur buatannya.
Mama yang semula tengah menggoreng tertarik dengan bubur buatan Mas Alif. Sambil membawa sendok beliau menghampiri Mas Alif. "Masa? Sini mama coba." Setika raut muka mama berubah masam.
Sendok yang semula untuk mencicipi buburnya sekarang beralih fungsi untuk mengetuk dahi Mas Alif. "Pas apanya! Keasinan ini! Kamu mau nikah lagi emangnya?"
Raut muka MasĀ Alif yang kesakitan membuatku ingin tertawa. Dan rupanya tawa lirihku itu mengundang perhatian mama dan Mas Alif. Sontak saja mereka berdua menghampiriku.
"Loh Nala? Kamu kok turun?" tanya Mama.
"Iya Sayang. Kamu istirahat aja di atas." Aku menolak uluran tangan Mas Alif untuk membawaku ke kamar lagi. Rasanya bosan jika seharian terkurung di kamar.
"Enggak Mas. Aku bosan di kamar. Mau di sini aja lihat kamu sama Mama lagi masak."
"Jangan Nak! Kamu istirahat aja. Nanti kalau sudah beneran sembuh baru boleh jalan-jalan lagi," kata mama sambil mengelus bahuku. Beruntung aku punya mertua sebaik mama. Tidak jahat apalagi sinis semacam mama mertua di sinetron-sinetron hidayah yang biasa mamaku tonton.
"Hmm.. iya Ma." Aku pun akhirnya menerima uluran tangan Mas Alif untuk pergi lagi ke kamar.
"Kamu tunggu di sini ya! Nanti aku bawakan bubur rasa cinta buatan suamiku kamu ini," katanya penuh bangga sambil menepuk-nepuk dadanya ketika kami sudah memasuki kamar.
"Bubur keasinan maksud kamu?" Wajah yang semula ceria itu mendadak pias mendengar ejekanku.
Dia langsung mencubit hidungku tanpa aba-aba. "Kamu meledek ya!"
"Kan kenyataannya memang begitu." Suaraku terdengar sengau karena hidungku yang masih dipencet oleh tangannya.
"Oh gitu ya. Berani meledek suami ya?" Langkahku mundur perlahan-lahan saat tahu muka Mas Alif seperti orang yang mendapat suatu ide di otaknya. Aku tebak jika ide yang terpikirkan olehnya adalah untuk menjahiliku.
"Nah rasakan!"
"Bwhahaaha! Aduh! Ampun Mas! Hahaahaa, geli tau Mas! Hhahaha!" Benar saja. Dia menggelitikku habis-habisan.
Aku yang kegelian hanya bisa tertawa sambil berusaha mengelak dari kurungan lengan kekar Mas Alif yang masih menggelitikiku. Tidak sadar jika di belakangku sudah ada tempat duduk. Alhasil, kakiku menabrak ranjang dan membuat kita berdua terjerembab di atas kasur. Tubuh Mas Alif tepat berada di atasku. Tangannya berada di samping kiri dan kanan kepalaku, menahan tubuhnya agar tidak menimpaku. Jarak muka kita yang sangat dekat membuat jantungku berpacu kian cepat. Hembusan napas kita beradu karena masih terengah-engah.
"Ya ampun kalian berdua ngapain?!" Suara teriakan mama menyadarkanku dan Mas Alif. Sontak aku mendorong dadanya agar bangkit dari atas tubuhku.
Mama yang berdiri di samping pintu sambil membawa nampan yang berisi bubur dan obat pun segera masuk. Lalu meletakkan nampan itu di atas nakas.
"Kamu itu nakal ya Alif!" kata ibu sambil memukul badannya Mas Alif. "Sudah tahu istrinya sakit, malah mau diajak begituan!"
Ups! Salah paham pun terjadi.
"Enggak kok Ma! Tadi itu tidak seperti yang Mama pikirkan!" Mau alasana apa pun yang Mas Alif beri, mama tetap saja memukul badannya.
"Enggak apanya! Orang sudah jelas tadi! Mama lihat dengan mata kepala mama sendiri!"
"Mama salah paham tadi. Coba tanya sendiri ke Nala."
Mendengar namaku disebut-sebut, aku pun memilih mengurung tubuhku di bawah selimut. Pura-pura tidak melihat pertikaian antara ibu dan anak itu. Selain untuk menormalkan degup jantung juga rona mukaku, itu juga untuk perhitungan ke Mas Alif karena tadi sudah menggelitikiku. Biar saja dia dimarahi sama mama.
Biar tahu rasa!