
Seperti yang sudah kujanjikan kepada kelas sembilan E bahwa pertemuan selanjutnya adalah ulangan. Untuk mengurangi kemungkinan mencontek, kubagi kelas menjadi dua sesi. Absen genap di dalam, dan absen ganjil di luar. Dan entah ini akal-akalan mereka atau bukan, tapi tempat duduk mereka tiba-tiba berubah. Kevin yang semula duduk di bangku belakang jadi duduk di bagian tengah. Lalu Doni duduk di belakangnya.
"Semua benda-benda di atas meja bisa taruh di laci, sisakan pulpen dan selembar kertas."
"Bu!" Doni mengacungkan tangan.
"Apa Don?"
"Pakai pensil boleh enggak?"
"Boleh," jawabku.
"Kertasnya dua lembar enggak apa-apa kan Bu?" tanyanya lagi. Memang sengaja ingin mengerjaiku nih bocah.
"Iya boleh. Ada yang mau ditanyakan lagi sebelum saya bagikan soal ulangannya?" tanyaku setengah sabar.
"Hehehe. Enggak Bu." Malah cengar-cengir lagi.
Sambil berkeliling membagikan soal, aku mengecek apakah di laci mereka terdapat contekan apa bukan. Aku adalah orang yang memegang prinsip jujur. Lebih baik nilai jelek hasil kerja keras sendiri daripada nilai bagus tapi hasil mencontek.
"Waktunya empat puluh lima menit. Dimulai dari sekarang!"
Sepuluh menit pertama tidak ada pergerakan yang mencurigakan dari mereka. Tapi mataku kemudian menangkap keanehan ketika Doni dari tadi melirik ke bawah terus. Pelan-pelan aku melangkah ke arahnya. Ikut melihat apa yang dia lihat di bawah.
"Wah Doni, tato kamu di kaki bagus juga ya?"
"Eh? Bu!" Dia langsung melotot kaget melihatku yang tiba-tiba ada di sampingnya. Membuat suasana semula hening menjadi gaduh karena semua tertawa.
"Cepat ke toilet! Kakinya dibersihkan!" Tidak habis pikir dengan caranya mencontek. Merelakan betisnya sebagai tempat untuk menulis contekan.
"Ada lagi di sini yang mencontek?" Semuanya diam. Saling melihat satu sama lain. "Dengar semuanya, Ibu enggak masalah kalian mau dapat nilai berapa pun. Ibu akan hargai itu, karena nilai itu hasil jerih payah kalian. Ibu paling enggak suka kalau ada yang mencontek. Sampai ada yang ketahuan mencontek lagi, Ibu enggak segan-segan ngasih nilai nol. Paham?"
"Paham Bu!" jawab mereka semua kompak. Tidak lama setelah itu Doni masuk kelas lagi, dan duduk mengerjakan soalnya.
Sampai dua jam pelajaran sudah terlewati dan semua lembar jawaban sudah berada di tanganku. "Baik. Ibu akhiri sampai di sini, jangan lupa untuk belajar di rumah. Dan nilai ulangan ibu kasih besok. Ketua kelas jangan lupa ambil kertasnya di meja Ibu besok."
"Siap Bu!" Doni berseru keras.
"Sekian dari Ibu, Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!"
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!"
Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Semua siswa-siswi dengan semangat keluar kelas dan menuju parkiran. Muka-muka lelah di wajah mereka terganti dengan muka cerah seketika. Memang, bel pulang adalah sebuah hal istimewa yang dinanti-nanti para murid. Mendengarnya saja segala beban pelajaran yang seharian mereka rasakan langsung menguap seketika.
Sebenarnya bukan hanya para murid, guru-guru pun sama halnya. Juga menantikan bel pulang. Tidak sabar kembali ke rumah dan mengistirahatkan diri. Apalagi untuk yang sudah berkeluarga, langsung semangat pulang mengingat ada yang menunggunya di rumah. Bel pulang adalah angin segar bagi kita semua.
Tapi kali ini aku tidak pulang bersama yang lain. Aku memilih untuk segera mengoreksi nilai ulangan anak-anak. Lebih baik kukerjakan di sekolah daripada dibawa pulang ke rumah. Seperti yang sudah kuduga, ada yang menjawabnya serius karena sudah belajar, menjawabnya seperti rel kereta agar penuh kertasnya padahal jawabannya salah, ada juga yang singkat, padat, dan jelas. Selesai mengoreksi, kutaruh lembar jawaban itu di bagian paling atas mejaku, agar Doni mudah mengambilnya besok.
Aku sudah keluar dari parkiran sekolah. Tapi cuaca yang sangat panas membuatku sangat malas untuk berkendara. Alhasil aku memilih untuk berhenti di warung depan sekolah. Memesan es kelapa muda untuk penyejuk dahaga.
"Eh Neng Nala, mau pesan apa?"
"Biasa Buk!" seruku.
"Oke. Es kelapa muda dengan sedikit gula dan banyak perasan jeruk nipisnya. Betul?"
"Betul banget!" Maklum jika ibu pemilik warung ini hapal banget dengan pesananku. Selama satu tahun mengajar di sini, hampir setiap hari aku mengunjungi warung ini. Jadi ya bisa dikatakan kalau aku adalah pelanggan setia.
"Ini Neng es kelapa mudanya," kata si ibu sambil meletakkan sebuah kelapa muda di hadapanku.
Hmm... kelihatannya segar banget! Tanpa menunggu lama, langsung hajar!
"Alhamdulillah!" Tenggokanku yang semula kering kerontang langsung merasa lega setelah dialiri air kelapa muda ini.
Di tengah-tengah enaknya menyeruput es kelapa muda, aku merasakan ada sesuatu yang menyentuh kakiku. Sontak saja hal itu membuatku kaget dan langsung mengangkat kakiku. Setelah kuperiksa di bawah, ternyata bukanlah sesuatu yang menakutkan.
"Rupanya kamu cing." Ternyata itu hanyalah seekor kucing yang mengusap-usapkan tubuhnya di kakiku. Seekor kucing oren yang suka berkeliaran di sekolah.
"Lagi nyari makan ya?" Aku mengambil kerupuk yang disediakan di meja, lalu membuka bungkusnya dan memberikannya ke kucing oren ini.
Kucing itu tampak senang menikmati kerupuk ikan tenggiri yang kubagi. Gemas, aku pun mengelus-elus kepalanya. Sebagai pecinta kucing aku tidak terlalu pemilih. Mau itu kucing anggora, persia, kampung, bahkan kucing jalanan pun tetap kusuka.
"Loh cing? Kamu mau ke mana?" Kucing itu tiba-tiba pergi dan berjalan ke arah jalan raya.
Sontak saja melihat itu aku segera menyusulnya. Mengingat bahwa jalan raya sangat berbahaya dan bisa saja dia mati tertabrak kendaraan. Aku tidak mau melihatnya seperti Jimmy, kucing kesayanganku yang dulu pernah tertabrak juga.
"Nah dapat!" Akhirnya tubuh kucing itu dapat kuraih. Bersamaan dengan itu aku mendengar suara klakson mobil dari belakang yang berbunyi sangat kencang. Ketika aku menoleh ke belakang, sebuah sedan hitam melaju ke arahku.
"Aaaaaaa!!!" Rasanya kakiku kaku untuk digerakkan dari tempat, kurasa juga terlambat untukku menghindar. Alhasil aku hanya bisa berjongkok merunduk dengan mendekap kucing oren itu.
Ckiiittt!
Suara ban mobil yang bergesekan dengan aspal jalanan membuatku sangat takut. Ditambah aku mendengar suara orang di tepi jalan saling berteriak. Dan semua ini berjalan dengan waktu yang seolah-olah melambat.
"Neng Nala!" suara ibu pemilik warung membuyarkan lamunanku.
Eh?
Aku masih hidup?
Buru-buru aku mengecek keadaanku. Masih jongkok, kucingnya masih kupeluk, dan tubuhku juga masih utuh tanpa lupa sedikit pun. "Alhamdulillah!". Tidak berhenti-hentinya aku bersyukur dalam hati.
Kulihat jarakku dengan mobil itu sangat dekat. Andai kata rem mobil itu terlambat sedikit saja. Entahlah, apa yang akan terjadi padaku. Mungkin karena masih syok, tubuhku jadi kaku begini. Mau berdiri masih gemetaran dan susah.
"Mbaknya enggak kenapa-napa?" Seseorang turun dari dalam mobil hitam itu.
Seorang laki-laki berbadan tegap tinggi dengan mengenakan pakaian santai dan wajah yang rupawan. Dia mengulurkan tangannya ke arahku. Tapi tunggu dulu! Sepertinya aku pernah mengenal laki-laki ini, untuk sesaat aku diam berpikir. Dan tampaknya laki-laki itu juga berpikiran yang sama denganku. Seolah sedang mengingat-ingat sesuatu.
Dia bukannya...
"Kak Rio!"
Kita berdua berujar bersamaan dengan tangan saling menunjuk. Aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat. Dia Rio Dewantoro. Kakak kelasku ketika SMA. Dan, dia adalah mantan pacarku. Kita berpisah karena saat itu Kak Rio harus kuliah di luar negeri, dan katanya dia tidak sanggup untuk menjalani hubungan jarak jauh. Jadilah kita memilih untuk berpisah. Berpisah dengannya saat itu tidak terlalu berpengaruh pada hatiku, mungkin saat itu hanya cinta monyet biasa. Beda cerita ketika aku harus berpisah dengan Mas Alif, yang mana memang cintaku.
Lalu suara klakson yang berbunyi bersamaan dari belakang mobil yang hampir menabrakku ini membuyarkan aksi saling kaget kita. Lalu Kak Rio meraih tanganku dan mencoba untuk membantuku berdiri, menuntunku untuk berjalan ke arah warung tadi dan duduk di bangku yang sama seperti tadi. Dan dia kembali masuk ke mobilnya, menjalankannya untuk ditepikan di pinggir jalan. Kucing oren yang semula berada di pangkuanku langsung turun dan duduk-duduk di bawah sana.
"Ya ampun Neng! Kamu buat Ibu deg-degan aja! Tadi Ibu sudah berpikir kalau kamu." Si Ibu kemudian diam, tidak mau melanjutkan lagi kata-katanya.
"Ah pokoknya Alhamdulillah kamu teh selamat, lain kali hati-hati atuh!" Mulai keluar nih logat Sundanya si Ibu.
"Iya Bu." Si Ibu memberiku segelas air putih, dan kuminum itu sampai tandas.
"Kamu enggak kenapa-napa Nala?" Kak Rio sudah selesai menepikan mobilnya, dan kini dia sudah duduk di sampingku.
"Iya Kak, enggak kenapa-napa. Cuma masih gemetaran aja, nih lihat!" tunjukku pada jari-jari tanganku yang masih gemetaran, belum mau berhenti.
"Ck ck ck. Kamu ini dari dulu kok masih belum berubah, selalu ceroboh!" katanya sambil mengusap pucuk kepalaku. Sontak saja aku menurunkan tangannya dari sana. "Ah maaf!"
"Iya."
"Mungkin kalimatku tadi bisa kuralat. Ada dari kamu yang berubah." Dia melihatku dari atas ke bawah. "Kamu tambah cantik memakai jilbab itu."
"Eh?" Aku tiba-tiba merasa ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokanku. "Ekhem! K-kak Rio bisa aja." Lama tidak jumpa, Kak Rio juga tambah ganteng.
Istighfar Nala! Ingat suami kamu!
"Enggak, ini beneran kok. Enggak bohong."
"Iya, iya. Aku percaya kalau aku cantik." Dengan santai aku kembali meminum es kelapa mudaku yang masih sisa separuh.
Tampak dari sudut mataku kalau Kak Rio tersenyum. "Bu! Es kelapa mudanya satu!" katanya memesan minuman yang sama denganku.
Ibu datang sambil meletakkan minumannya Kak Rio. Si ibu juga tampak senyum-senyum sendiri. "Aden ini siapa Neng? Kasep pisan!"
"Kasep?" Kuulangi lagi kata Si Ibu. Kalau dalam bahasa Jawa kan kata "kasep" berarti terlambat. Tapi Si Ibu kan dari Bogor, pasti maksudnya beda.
"Ganteng maksudnya," ralat si Ibu. Membuat Kak Rio yang ada di sampingku terbatuk mendengar pujian yang dilontarkan untuknya.
"Oohh!" Benar kan, kata yang sama bisa berlainan arti di beda daerah.
"Makasih Bu," kata Kak Rio sambil tersenyum samar.
"Ini temennya Nala Bu. Namanya Kak Rio."
"Ooh, gitu. Ya sudah Ibu tinggal dulu ya! Mau melayani pesanan yang lain," pamit si Ibu, meninggalkan kita berdua.
Sepeninggal si Ibu, baik aku maupun Kak Rio sama-sama diam. Kalau aku karena menikmati minumanku, dan kalau dia aku enggak tahu apa yang sedang dia pikirkan. Suara lalu lalang kendaraan dan juga orang-orang di trotoar adalah latar belakang keheningan ini.
"Lama tidak bertemu ya Na," katanya memecah keheningan.
"Iya. Kak Rio kapan pulang?"
"Sudah satu tahun yang lalu. Tapi tidak langsung ke sini, ke Yogyakarta dulu. Meneruskan bisnis keluarga di sana."
"Ooh gitu." Aku manggut-manggut mendengar penuturannya.
"Kamu enggak senang melihatku di sini Na?"
"Eh? Senang kok. Kenapa mikirnya gitu?"
"Ya karena kamu kelihatannya biasa-biasa saja. Enggak antusias sama sekali."
Dia mau aku salto sambil guling-guling di trotoar kali ya?
"Ah! Itu... itu mungkin gara-gara pertemuan kita yang enggak enak kaya tadi. Hehehe."
"Ooh begitu." Matanya menerawang ke depan. Jalanan Kota Malang yang tidak pernah tidur.
"Aku lihat kamu sekarang sudah menggapai cita-citamu." Sudah pasti dia tahu dengan melihat seragam yang kupakai. Ciri khas hampir seluruh guru di Indonesia. Dan juga keberadaanku di depan sekolah ini.
"Alhamdulillah. Kalau Kak Rio gimana? Sudah jadi dokter kah sekarang?"
Mendengar pertanyaanku membuatnya tertawa hambar. Jari-jarinya saling bertautan di atas meja, seolah-olah saling menguatkan satu sama lain. "Enggak. Aku sudah mengubur dalam-dalam impian itu."
"Kenapa?"
"Biasa. Keluargaku yang terlalu mendikteku untuk meneruskan bisnis kuliner mereka. Jadi ya beginilah sekarang! Menjadi seorang usahawan."
"Aku turut sedih mendengarnya. Tapi Kak Rio tenang aja, menjadi usahawan juga keren kok! Bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain, tidak terikat jam kerja, dan lagi banyak pengalaman baru yang didapat." Setidaknya karena aku sudah mengingatkan tentang kesedihannya, aku juga harus berusaha menghiburnya.
"Terima kasih ya! Kamu masih Nala seperti dulu. Selalu ceria dan menularkan energi positif ke orang lain."
"Eh? Gitu ya?"
"Hmm." Kak Rio mengaduk-aduk minumannya. "Kamu masih ingat enggak Na tentang perjanjian kita di belakang sekolah?"
Kenapa tiba-tiba jadi mengungkit masa lalu begini? Apalagi dalam rentang waktu yang begitu lama. Selama bertahun-tahun aku sudah banyak mengalami kejadian dan berproses dalam hidup ini. Apa iya aku masih ingat memori enam tahun silam itu? Pasti sudah lupa lah. Tapi mau bilang begitu secara langsung kok rasanya enggak enak juga ya.
Mungkin melihat diamku membuat Kak Rio sudah merasa tahu. "Kamu lupa ternyata."
"Maaf Kak."
"Enggak apa-apa. Kalau kamu lupa, biar aku ingatkan. Dulu setelah acara perpisahan sekolah usai, aku mengajakmu pergi ke taman belakang sekolah. Di sana aku memberitahumu bahwa aku harus pergi jauh, dan kita terpaksa untuk berpisah. Saat itu aku masih ingat kamu menangis dan menarik-narik jasku agar aku tidak pergi-,"
Ah, masa sih aku dulu begitu?
"Tapi saat itu aku bilang kalau perpisahan kita hanya tentang waktu. Aku memintamu untuk menungguku, dan bila saatnya tiba aku akan menemuimu kembali dan melamarmu. Aku juga masih ingat kalau kamu saat itu langsung lompat-lompat senang sekali. Kita berdua berjanji untuk saling menunggu."
Kemudian dia menatapku lekat. Tangannya dia taruh di atas tanganku, menggenggamnya. "Setelah enam tahun berlalu rasa itu masih tetap sama. Aku masih mencintai kamu Nala. Dan sekarang, aku ingin menagih janji itu."
Deg.