
"Gawat! Gawat gawa gawat! Gimana nih?!"
"Tenang dong Na! Ada apa sih? Dari semalam kok kaya orang bingung gitu!"
"Iihh Salma. Ingat nggak nanti sore kita mau ke mana?" Tanyaku agak teka-teki. Mengetes apakah dia ingat apa tidak. Soalnya, dari kemarin-kemarin Salma itu masih santai banget dan belum menyinggung mengenai kado.
"Nanti sore? Ya kaya biasanya kita di rumah" tuh kan! Salma aja lupa!
Kemudian aku beranjak ke dari kasur untuk mencari tasku. Dari dalam tas itu aku mengambil sebuah kertas berwarna pink mencolok yang tak lain dan tak bukan adalah undangan pesta ulang tahun Tiara.
"Ya Allah! Aku lupa"
"Pantes kamu santai-santai aja dari kemarin, ternyata lupa" ketusku.
"Hehehe. Maaf deh Na! Maaf! Namanya juga lupa. Kan manusia itu tempatnya salah dan lupa" ngelesnya pintar banget ya Sal? Sampai pakai dalil.
"Iya bu ustadzah. Terus kapan kita mau beli kadonya?"
"Nanti siang aja, sekitar jam sembilan gimana?"
"Iya deh, aku beri tahu yang cowok-cowok dulu ya!" Pamitku pada dia.
Ketika kenop pintu akan kutarik ke dalam, dia lebih dulu bergerak seperti terdorong ke arahku. Aku yang tidak tahu bahwa pintu itu akan terbuka oleh orang dari luar tidak sempat mengelak.
Duk!
"Aww!" Akhirnya dahiku terkena pintu yang terbuat dari kayu itu.
Duh. Kok perih plus nyut-nyut an ya?
"Aduh! Nala! Maaf-maaf! Aku enggak tahu kamu mau keluar!" Iren yang juga sama tidak menyangkanya meminta maaf padaku.
"Iya enggak apa-apa. Yaudah aku keluar dulu ya!" Pamitku pada mereka.
"Nala tunggu!" Heh? Tumben mereka kompak.
"Ada apa?"
"Itu! Dahi kamu berdarah!"
"Masa sih Ren?" Berkat omongan Iren aku meraba-raba daerah dahiku yang terantuk pintu.
Sst! Perih. Dan sebuah cairan berwarna merah menempel di jari-jariku. Enggak nyangka, cuma kepentok sama pintu bisa mengakibatkan insiden berdarah gini ya?
"Sini Na, aku obatin dulu" Salma menarikku untuk duduk kembali.
Dengan telaten dia mengobati luka di dahiku. Kadang, kalau aku mringis dia juga ikutan. Sampai dari tadi aku bosan mendengar dua kata maaf. Yang pertama dari Iren karena rasa bersalahnya, dan kedua dari Salma karena takut kesakitan ketika diobati.
Dan rencana awal untuk menemui Rangga dan Abdul akhirnya kuubah dengan menelponnya saja. Meninimalisir ejekan dan pertanyaan-pertanyaan tentang luka di dahiku ini.
Tuttt! Tuuuttt!
Oke. Panggilan masih tersambung.
"Halo Na?"
"Halu Dul, nanti siang kita keluar ya!"
"Kamu ngajak kencan nih? Sorry Na, aku enggak bisa. Ada hati lain yang masih kukejar" iya tahu, hatinya Salma kan?
Jadi Salma enak banget ya? Bisa dicintai tiga cowok sekaligus. Mana mereka cowok baik-baik lagi. Yang pertama Alif, sudah pasti baiknya. Terus Rendi, meskipun menyebalkan tapi kalau dia sudah sayang care-nya enggak ketulungan. Terus yang terakhir sama si Abdul nih, yang sifatnya sebelas dua belas sama Rendi.
"Dih, PD! Mimpi apa aku semalam mau ngajak kencan situ?"
"Lha tadi katanya mau ngajak keluar?" Oh, jadi tadi kalimatku masih ambigu.
"Maksudnya keluar bareng Salma sama Rangga, nanti kita beli kado buat Tiara" perjelasku.
"Ohh.. oke deh. Cuma itu?"
"Iya"
"Yaelah Na. Cuma mau ngomong itu doang pakai nelpon segala, padahal tinggal keluar kamar. Malas banget jadi cewek!" Kumat kan nyebelinnya.
"Maaf-maaf nih ya, pulsaku itu terlalu banyak. Mubadzir dong kalau enggak dipake?" Sombong sedikit enggak apa-apa lah. Hehehe.
"Cih! Belagu! Padahal pulsa juga dari siapa" loh, kok suaranya jadi ganti?
"Hehehe. Iya-iya Ren, pulsanya dari kamu"
Oh iya, selama sahabatan sama Rendi itu enggak pernah yang namanya beli pulsa atau beli paket data. Rendi dengan baik hati selalu mengisinya. Aku enggak minta lho ya, dia yang ngeyel. Katanya mau sedekah. Enggak apa-apa lah, lagian dia juga terlalu kaya. Uangnya buat ngisi pulsa aku yang enggak seberapa enggak bakal buat dia bangkrut.
"Makasih banget Rendi! Makin sayaaaaaaaang deh sama kamu"
"Dih. Jijik Na!" Setelah berkata itu sambungan terputus.
Sesuai dengan rencana awal, kita keluar pada jam sembilan. Berhubung semenjak insiden berdarah tadi aku belum keluar kamar, sekalinya keluar langsung diwawancarai beruntun.
"Habis atraksi dari mana Na?"
"Kok bisa kaya gitu?"
"Tolong jelaskan bagaimana rangkaian kejadiaanya?"
Dan segala macam pertanyaan lainnya. Dengan singkat aku jawab "kepentok pintu" setelah itu aku langsung keluar rumah. Peduli amat sama mereka yang tertawa puas.
Teman emang selalu gini ya? Temannya kena musibah diketawain dulu baru prihatin.
"Mau ke mana dulu nih?"
"Ke pasar aja gimana?" Usulku. Selain di sana murah, jaraknya juga lumayan dekat. Daripada di mall yang adanya di kota, kan jauh.
"Oke cus!" Kali ini kita mengendarai sepeda motor hasil meminjam di Pak Karto dan tetangga sebelah rumah.
Sampai di pasar, tujuan pertama kita di kios boneka. Apalagi hadiah untuk anak kecil kalau bukan boneka?
Padahal tinggal memilih lalu membeli, tapi selalu ada saja hal yang diributkan. Seperti Abdul dan Rangga yang meributkan warna kesukaan Tiara.
"Anak perempuan itu sukanya warna pink Ga!"
"Biru"
"Dibilangin ngeyel banget dah! Pink Ga!"
"Biru!"
"Na, coba menurutmu warna apa yang disukai Tiara?" Aku yang sedang melihat-lihat boneka panda merasa terpanggil.
"Kalau dari warna undangan yang pink ngejreng gitu kayanya Tiara suka pink" kataku.
Dan Abdul dengan PD nya menepuk-nepuk dadanya ke arah Rangga. Berniat mengejek.
"Tapi, hampir semua barang-barang di sekolah seperti tas, buku, sama kotak pensilnya warna biru. Mungkin dia juga suka warna biru" lanjutku lagi yang membuat senyum kemenangan Abdul memudar.
"Dengerin tuh!" Kini giliran Rangga yang tersenyum angkuh di balik muka datarnya.
"Kalian ribet banget sih? Tinggal ambil saja masing-masing satu. Abdul beli yang warna pink, terus Rangga yang warna biru. Pasti diterima semua kok sama Tiara" ini yang kusuka dari Salma, selalu bisa diandalkan dalam situasi seperti ini. Menjadi penengah seolah keahliannya.
"Aku setuju sama Salma" mereka berdua menuruti apa kata Salma. Sementara mereka membayar, aku melihat-lihat lagi deretan boneka panda.
"Mau beli yang itu Na?"
"Eh? Enggak Sal, cuma lihat-lihat aja. Lucu bonekanya"
Nah ini, masih belum kepikiran sampai sekarang.
"Belum tau Sal. Kalau kamu?"
"Mau beli alat tulis aja, nanti sama sekalian beli kertas kadonya" ooh begitu. Aku mengangguk paham.
Sesaat kemudian Rangga dan Abdul memanggil. Rupanya mereka sudah selesai, dan kita sekarang pergi ke kios yang menjual aneka ragam peralatan sekolah. Kulihat Salma membeli buku gambat, pensil warna, juga beberapa pensil. Mungkin itu hadiahnya. Sedangkan yang cowok memilih kertas kadonya.
"Masih belum nemu hadiah yang pas?"
"Belum Sal, mungkin di perjalanan pulang nanti ketemu" kataku pasrah.
Di perjalanan pulang yang panas ini, maklum sudah jam sebelas siang. Diantara deretan ruko yang menjual berbagai macam benda, ada satu ruko yang menjual hewan peliharaan yaitu kelinci. Ide bagus langsung hinggap di kepalaku.
"Salma! Sal! Berhenti!" Salma yang fokus menyetir langsung mengerem sepeda motornya. Beruntung di belakang tidak ada kendaraan lain.
"Ada apa Na?" Tanya Salma panik.
"Hehehe.. belok kanan yuk? Mampir ke toko kelinci" melihat wajah cengengesanku, aku tahu kalau Salma menahan diri untuk tidak memakanku. Dalam hati pasti udah istighfar terus itu.
Hehehe. Maaf ya Sal!
Akhirnya sepeda motor yang kita tumpangi sudah terparkir di depan toko. Aku menyuruh Salma untuk tetap duduk di sepeda motor, agar tidak dikenai biaya parkir tentunya. Wkwkwk.
Ilmu baru dari anak Akuntansi yang super hemat, sampai biaya parkir pun diirit.
Masuk di dalam banyak sekali kelinci yang berjejeran di dalam kotak dengan berbagai warna dan ukuran. Kemudian pilihanku jatuh pada dua ekor kelinci yang berukuran sedang dengan rambut berwarna putih bersih. Dengan ini aku berharap Tiara tidak selalu menghabiskan waktunya dengan gadget. Dia juga bisa memanfaatkan waktu luangnya untuk merawat hewan peliharaan ini. Dengan begitu, dia terbiasa untuk bertanggung jawab sedari kecil.
"Nih Sal kelinci pilihanku, lucu enggak?"
"Ihh.. lucu-lucu banget!" Pujinya.
"Jadi ini hadiah buat Tiara?" Lanjutnya lagi.
"Iya, mudah-mudahan dia suka"
"Pasti sukalah, kan dari kakak cantiknya"
"Ish! Bisa aja kamu Sal!" Jadi malu gini kan.
Sore harinya, tepat pada jam yang telah ditentukan kita berempat sudah sampai di rumah pak KaDes. Aku mengenakan tunik lengan panjang bermotif bunga sakura, sedangkan Salma istiqomah dengan gamis yang dipakainya. Untuk Rangga dan Abdul mereka kompak mengenakan kemeja kotak-kotak dengan celana jeans warna biru laut.
"Selamat ulang tahun Tiara!" Kataku sambil memeluknya yang berdiri menyambut kita berempat di teras rumahnya.
"Kakak cantik!!!" Seperti tidak bertemu selama bertahun-tahun, Tiara memelukku erat.
"Kakak cantik kenapa?" Dia mengelus dahiku yang terdapat plester.
"Enggak kenapa-kenapa kok, cuma jatuh aja. Jadi di plester deh dahinya"
"Oohh gitu"
"Iya, kakak cantikmu itu ceroboh Tiara. Kamu jangan mencontohnya ya!" Apaan sih Abdul! Minta kutendang tulang keringnya!.
"Iya!" Mana Tiara nurut aja sama omongannua Abdul.
"Oh iya, selamat ulang tahun ya Tiara!" Mereka mengucapkan selamat secara bergantian lalu menyerahkan hadiahnya.
"Kakak cantik enggak ngasih Tiara hadiah?"
"Ngasih dong sayang!" Aku mencubit gemas pipinya lalu kembali ke sepeda motor untuk mengambil kado yang telah kusiapkan.
Berhubung enggak mungkin juga kelincinya aku bungkus dengan kertas kado, jadilah hanya kandangnya yang kuberi pita besar berwarna merah.
"Hadiah spesial untuk Tiara!" Kuberikan itu padanya, dan tampaknya dia sangat senang sampai dibawa loncat-loncat gitu.
"Hati-hati dong dek!" Aku mendengar suara Mas Pandu dari dalam.
"Eh, kalian sudah datang rupanya. Ayo masuk!" Mas Pandu mempersilakan kita masuk setelah mengetahui keberadaan kita di luar.
Dari sorot matanya aku tahu dia menanyakan tentang dahiku ini.
"Habis kepentok pintu" jawabku lirih.
"Lain kali hati-hati!" Dia membalasnya dengan lirih juga. Aku membalasnya dengan senyum.
Di dalam rumah sudah ada teman-teman sekelas Tiara, juga ayah dan ibunya yang tak lain adalah Pak Kades dan istrinya. Di sana juga ada adik pertama Mas Pandu, Nita namanya. Dia seumuran denganku dan dia juga sudah menikah, jadi ceritanya melompati kakaknya begitu. Kompak kita berempat menyalami mereka.
Ruang tengah sudah dihias dengan pernak-pernik khas ulang tahun yang sedemikian rupa,dan di tengah-tengah meja terdapat kue ulang tahun bertema doraemon yang berukuran besar dengan tiga tingkatan. Kita semua berdiri mengelilinginya, sembari mengucapkan lagu selamat ulang tahun dengan penuh suka cita.
"Selamat ulang tahun, kami ucapkan. Selamat panjang umur, kita 'kan doakan. Selamat sejahtera, sehat sentosa!! Selamat panjang umur
dan bahagia!"
"Tiup lilinnya!, tiup lilinnya!, tiup lilinnya sekarang juga!, sekarang juga!, se-ka-rang ju-ga!" Sebelum meniupnya, Tiara memejamkan mata untuk mengucapkan permintaan.
Lalu setelah itu dengan semangat dia meniup satu per satu lilin hingga padam semua. Dan pada bagian selanjutnya, adalah hal yang paling ditunggu-tunggu yaitu pemotongan kue.
"Potong kuenya!, potong kuenya!, potong kuenya sekarang jug!, sekarang juga! Se-ka-rang ju-ga!"
Dibantu oleh Pak KaDes juga istrinya, Tiara dengan perlahan memotong kuenya. Lalu memberikan potongan-potongan itu ke kedua orang tuanya, lalu Mas Pandu, kemudia ke Nita dan suaminya. Setelah itu dia memberikan potongan selanjutnya kepadaku.
"Terima kasih Tiara!" Tentu saja sebelum aku memakannya kusuapkan dulu kue itu ke Tiara.
Baru setelah itu kita semua dapat menikmati kue tersebut bersama-sama.
"Kakak cantik, aku tadi berdoa semoga kakak cantik menjadi kakakku lho"
"Uhukk! Uhukk!" Aduh, keselek kue lagi. Beruntung Salma dengan sigap menyerahkan segelas jus jeruk untuk melegakan tenggorokanku.
"Makasih Sal!"
Keinginan Tiara kok ambigu begini sih? Dan kakak seperti apa yang dia maksud coba. Kulirik Abdul dan Rangga yang sepertinya sudah cengengesan dan senyum-senyum enggak jelas.
"Oohh gitu ya? Yasudah sekarang Kak Nala jadi kakaknya Tiara" kataku padanya.
"Asiikk! Berarti tidurnya di sini dong?" Nah kan, kakak seperti apa yang dimaksud anak ini?
"Eh? Ya enggak gitu juga sayang, maksudnya itu anggap saja Kak Nala ini sebagai Kakaknya Tiara"
"Yaahhh, aku pikir kakak cantik jadi kakaknya Tiara beneran. Kaya Kak Zaki"
Nah kan! Zaki kan nama suaminya Nita. Berarti yang Tiara maksud aku jadi kakaknya dengan menikah sama Mas Pandu gitu? Hal ini membuatku tersenyum ketir.
Ada-ada saja.
"Tiara, ngomong apa sih kamu? Lain kali jangan ngomong seperti itu ya?" Mas Pandu entah datang dari mana, tiba-tiba dia menggendong Tiara dan memberinya petuah dadakan.
Dengan polos Tiara mengangguk, lalu pergi untuk bergabung bersama teman-temannya.
"Maaf ya! Jangan anggap serius omongannya Tiara tadi"
"Hehehe iya mas"
Acara selesai sekitar pukul lima sore. Kita semua pun pamit mengundurkan diri. Ternyata waktu pulang kita diberi masing-masing dua kotak. Yang satu isinya nasi dan teman-temannya, sedangkan yang satunya berisi aneka macam jajanan. Alamat perut kenyang sampai nanti malam ini.
"Tiara, kakak mau pulanh dulu ya. Ingat! Kelincinya harus dijaga! Kalau ada yang sakit nanti Kak Nala sedih" ucapku dengan ekspresi dibuat sok sedih gitu.
"Siap kakak cantik! Nanti bakal Tiara jaga hadiah dari kakak cantik" iihh gemasnya! Sebelum pergi kucubit dua pipi gembulnya enggak apa-apa lah ya.
"Assalamu'alaikum!" Setelah itu kita pulang dengan hati yang senang, perut pun kenyang.