
Suara berisik dari kamar mandi membuatku terbangun. Kulihat jam dinding sekilas, masih jam dua dini hari. Mungkin itu Mas Alif yang berwudhu mau sholat tahajud. Kembali aku menggeliatkan badan untuk meraih posisi yang nyaman. Sambil memeluk boneka panda kesayanganku, aku pun siap kembali berlayar di pulau mimpi.
Tapi sepertinya ada yang aneh. Bukan hanya suara keran air saja yang terdengar, melainkan juga suara orang yang muntah. Aku pun segera beranjak dari tempat tidur dan bergegas untuk ke kamar mandi. Benar saja, kulihat dia tengah membungkukkan badannya di depan closet. Aku pun segera mendekatinya dan memijat-mijat tengkuknya agar dia merasa lebih baik. Kurasa Mas Alif masuk angin akibat kedinginan tidur di lantai.
"Kamu baik-baik aja kan Mas?"
"Hmm." Dia hanya bisa bergumam setelah menekan flush closet lalu membersihkan mulutnya di wastafel.
Aku juga membantunya untuk kembali ke kasur. Tidak lagi kubiarkan untuk tidur di lantai. Wajahnya yang lemah itu membuatku tidak tega. Akhirnya aku turun ke dapur untuk membuatkannya minuman herbal untuk menyembuhkan masuk anginnya. Kalau begini caranya, acara untuk terus mendiamkannya pasti gagal. Tapi ya sudahlah, sekarang yang yang terpenting adalah kesehatannya.
Setelah membuat minuman herbal, aku juga mencari kotak P3K untuk mengambil minyak kayu putih untuk menghangatkan perutnya. Setelah mendapat apa yang kucari, aku pun segera pergi ke lantai atas. Tampak dia tengah berbaring lemah di atas kasur.
"Mas! Bangun!" perintahku sambil membantunya duduk. "Ayo diminum dulu!" Kuserahkan minuman herbal itu ke arahnya.
Sedikit demi sedikit dia teguk minuman itu hingga akhirnya tandas tak bersisa. "Sini, buka dulu bajunya."
"Kamu mau apa?"
Karena tidak langsung menuruti perkataanku, akhirnya aku sendiri yang menyibakkan bajunya. Memperlihatkan perutnya yang six pack seperti roti sobek itu.
Eh?
Astaghfirulloh Na!
Sadar! Malah fokusnya jadi ke perut Mas Alif sih? Kan niatnya mau ngobatin.
Cepat-cepat aku mengembalikan kesadaranku. Setelah itu mengoleskan minyak kayu putih ke perutnya yang kotak-kotak itu. Seketika gerakan tanganku terhenti ketika Mas Alif tiba-tiba memegang tanganku.
"Kamu masih marah ya?" tanyanya sambil menatapku sendu. Haduh! Jadi enggak tega begini kan.
"Udah, enggak usah pikirin itu dulu! Yang penting sekarang kamu istirahat," kataku.
"Tapi jawaban kamu itu penting? Mana bisa aku tidur nyenyak sementara istriku masih marah?"
Huft!
"Iya. Aku udah enggak marah lagi sama Mas Alif."
"Terima kasih sayang!" Mukanya langsung berubah seratus delapan puluh derajat begitu. Yang semula sendu hadi tersenyum penuh bahagia.
"Hmm. Ya sudah, kamu cepet istirahat!" Aku membantunya untuk tidur kembali. Lalu mengembalikan cangkir yang sudah tidak ada isinya itu ke dapur.
Sekembalinya ke dapur aku ikut berbaring di sebelah Mas Alif yang sudah memejamkan matanya. Masih memunggunginya tentu saja. Dan tidak lupa juga lampu kamar kumatikan.
"Sayang. Sudah tidur apa belum?" Loh. Dia belum tidur rupanya
"Hmm."
"Aku kedinginan," katanya. Mendengar hal itu aku segera duduk dan membenarkan letak selimut hingga menutupi dadanya. Setelah itu aku berbaring kembali.
"Masih dingin Sayang!"
"Terus gimana?" Aku pun membalikkan badanku untuk menghadapnya. "Mau diambilin selimut lagi?" tanyaku.
Tapi dia langsung menggeleng cepat. "Aku butuh hangatnya pelukan kamu. Bukannya selimut." Dia berujar manja sambil menghadapkan tubuhnya ke arahku.
"Dasar!" Yah, meskipun begitu aku tetap memeluknya. Dan seperti malam-malam sebelumnya, aku tidur dalam dekapannya.
*****
Mas Alif rupanya sudah agak baikan setelah bangun tidur. Jadi dia memilih untuk tetap bekerja. Aku pun begitu, menjalani kegiatan belajar mengajar seperti biasa. Saat sedang istirahat, aku menyempatkan waktu untuk curhat ke Iren melalui pesan WahtsApp.
Ren!
Apaan?
Aku galau nih.
Galau kenapa?
Kemarin aku lihat Mas Alif sama perempuan lagi makan di restoran. Aku enggak tahu itu Nita yang kamu maksud apa bukan. Mau curiga, tapi aku kan harusnya percaya sama suamiku sendiri!
Bentar-bentar.
Kemudian Iren mengirim sebuah gambar. Meski agak blur, tapi aku tahu bahwa foto ini berisi seorang wanita sangat cantik tengah menyapa karyawan lainnya. Sepertinya foto ini diambil diam-diam.
Ini enggak ceweknya? Barusan lewat. Jadi langsung aku foto diam-diam.
Iya. Bener.
Berarti kemarin kamu udah lihat Nita.
Terus gimana dong Ren? Aku enggak rela kalau Mas Alif direbut wanita lain.
Kalau Nita beneran suka sama Alif, maka besar kemungkinan akan muncul bibit-bibit pelakor.
Terus aku harus gimana?
Ya lawan dong! Jangan biarkan ada celah buat cewek lain masuk di antara kalian. Tunjukkan siapa yang jelas-jelas menjadi penghuni hati Alif!
Caranya? Ngebrak dia?
No! Big no! Enggak berkelas banget sih pakai acara labrakan.
Ya terus gimana dong?!!!
Dateng aja langsung ke kantor. Terus kalau bisa romantis-romantisan sama Alif pas ada dia. Biar sadar kalau sudah enggak mungkin lagi ada tempat di hati Alif buat orang lain.
Saran dari Iren ini terus terngiang di otakku. Tapi jika dipikir-pikir masuk akal juga apa yang dia sarankan. Bersamaan dengan itu bel masuk pun terdengar. Aku yang memiliki jam pelajaran setelah istirahat pun segera bersiap untuk mengajar di kelas.
*******
Jum'at siang setelah pulang mengajar aku berniat untuk mengunjungi Mas Alif di kantornya. Teringat akan saran Iren tempo hari. Jadi sekarang aku sedang mempersiapkan bekal untuknya makan siang. Kedatanganku siang ini tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Ingin memberi kejutan pikirku. Jadi hanya Iren yang kuhubungi.
Kini kakiku sudah sampai di perusahaan milik ayah mertuaku ini. Bangunan yang sebagian besar dari kaca ini begitu menjulang tinggi. Kuperkirakan ada sepuluh lebih lantai di gedung ini. Baru cabang saja megahnya sudah seperti ini, bagaimana dengan pusatnya yang ada di Australia?
Masuk ke dalam aku sudah disambut oleh lalu lalang orang-orang yang sibuk. Entah sibuk dengan rekannya, dokumen yanh dia bawa, atau juga dengan ponsel yang didekatkan di telinga. Segera aku mendekati front desk untuk bertanya pada respsionis. Seorang wanita dengan senyum manis menyambutku dengan sapaan.
"Selamat siang Bu! Ada yang bisa kami bantu?"
"Saya mau tanya. Kantornya Mas Alif letaknya di mana ya?"
"Maksud anda bapak Alif Muhammad?"
"Iya."
"Kantor pimpinan terletak di lantai dua belas Bu."
"Oh iya. Terima kasih ya!"
Segera aku menuju lift dan naik ke lantai di mana Mas Alif berada. Selama di dalam lift, ada banyak pasang mata yang menatapku heran. Kebanyakan dari mereka sih perempuan. Diam-diam melirik dan meneliti penampilanku dari atas ke bawah. Apa ada yang salah dengan penampilanku? Hanya gamis merah muda juga pashmina berwarna maroon yang melilit di kepalaku. Bukankah itu normal?
"Mbak ini pegawai baru ya?" tanya salah seorang pegawai wanita yang mengenakan celana jeans ketat dan juga kemeja berwarna hijau toska. Tidak lupa juga mukanya dipoles dengan make up menor.
"Bukan Mbak," jawabku sopan.
"Oh, kalau gitu pasti pegawai baru ya? Pantes!" Tampak dari mukanya yang menatapku sinis.
Hello?!
Orang-orang ini kenapa sih?
"Ruangan HRD ada di lantai bawah. Lantai atas itu tempatnya kantor manajer senior dan pimpinan," imbuhnya lagi.
"Iya. Terima kasih Mbak," kataku masih meladeninya.
Sesaat kemudian lift berdenting, dan pintu pun terbuka. Masih di lantai tujuh, dan mereka semua keluar dari lift. Wanita yang mengajakku berbicara tadi keluar terakhir. Dan masih sempat-sempatnya memberi pesan terakhir kepadaku.
"Saya sudah bilang ya Mbak. Nanti kalau di atas Mbaknya tiba-tiba diusir, jangan salahkan saya." Mulut yang diwarna lipstik merah menyala yang seperti habis makan ayam mentah itu lancar berbicara.
"Iya." Huh! Rasanya ingin kuteriakkan identitasku di depan mukanya. Tapi tentu saja kutahan. Demi citra suamiku yang menjadi pimpinan di sini.
Maklum saja jika mereka tidak mengenaliku karena memang aku belum pernah menginjakkan kaki di sini. Tapi, apakah mereka memperlakukan orang baru seperti ini? Dengan tatapan sinis yang tidak ramah sama sekali. Sibuk kesal dengan wanita tadi membuatku tidak terasa jika lift sudah sampai di lantai paling atas, lantai tujuanku.
Segera aku keluar dan menuju ruangan yang paling mencolok dengan pintu paling besar dan juga dua meja sekretaris di depannya. Ada satu kursi yang kosong, dan kupikir itu adalah kursi si Nita itu. Sedangkan sekretaris yang lain menyapaku.
Sama seperti resepsionis tadi, sekretaris ini menanyakan perihal keperluanku di sini. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau bertemu dengan Mas Alif."
"Apa ibu sudah membuat janji temu dengan Bapak Alif sebelumnya?"
Ha? Harus pakai janji segala?
Sontak saja aku menggeleng. Tidak tahu kalau harus membuat janji terlebih dahulu. Eh, tapi kan aku istri pimpinan. Apakah tidak ada pengecualian?
"Kalau begitu biar saya jadwalkan waktu untuk bertemu. Kalau boleh tahu dengan ibu siapa?"
"Nala. Nala Ayu Kinanti," kataku sambil agak berbangga diri. Kalau pegawai tadi boleh saja tidak mengenaliku, tapi kalau sekretaris pimpinam. Mana mungkin tidak tahu istri pimpinannya.
"Oh, maaf! Apakah anda Bu Nala istri dari Pak Alif?"
Benar kan! Pasti dia menyadarinya. "Ya begitulah."
Tampak matanya membulat mendengar penuturanku. "Oh. Apa yang sudah saya katakan tadi? Mohon maaf atas ketidaksopanan saya!" katanya sambil setengah menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa kok. Maklum enggak ada yang kenal saya."
"Ya sudah. Ibu bisa langsung masuk ke ruangan bapak." Dia kemudian keluar dari mejanya dan mengantarkanku sampai di depan pintu. "Pintu ini selalu terbuka Ibu."
"Oh iya terima kasih ya!"
"Tapi bapak sedang ada urusan di luar kantor sekarang. Bu Nala bisa menunggu di dalam."
"Oh begitu. Kira-kira masih berapa lama?"
"Sekitar satu jam lagi Bu," jawabnya lagi sopan.
"Oohh. Baiklah." Aku mengangguk-anggukkan kepala.
Tapi sebelum memasuki ruangan Mas Alif, langkahku terhenti dan berbalik arah. "Oh iya satu lagi. Lain kali jangan panggil saya "bu". Panggil saja Nala," akhiriku dengan senyuman lalu masuk ke kantor Mas Alif.
Ruangan yang sangat rapi dengan dominasi warna monokrom. Terdapat rak-rak yang berisi buku-buku dan juga banyak dokumen. Sofa berbahan kulit berwarna cokelat. Juga sepasang meja dan kursi yang menjadi inti dari ruangan ini. Singgasana sang pemimpin. Tempat di mana Mas Alif menghabiskan sebagian besar waktu bekerjanya.
Pandanganku pun kini beralih pada dinding yang berbahan kaca. Kudekati dinding kaca itu, dan tampaklah pemandangan Kota Malang dari atas yang sangat cantik. Jika menengok ke bawah, maka akan tersaji pemandangan jalan raya yang tidak pernah sepi kendaraan.
Lalu mataku tidak sengaja melihat sebuah pintu di ruangan ini. Ketika kubuka, ternyata ini adalah ruang tidur yang lengkap dengan toiletnya. Baguslah kalau begitu. Setidaknya Mas Alif dapat beristirahat dengan nyaman jika lelah bekerja.
Setelah puas melihat-lihat, aku pun memilih duduk di sofa. Menunggunya sambil bermain game di ponsel untuk membunuh kebosanan. Tapi tidak sampai dua puluh menit, aku sudah bosan duluan. Selain karena malas menunggu, game yang kumainkan ini juga sering membuatku kalah. Jadi tidak seru lagi permainannya. Akhirnya kuputuskan untuk menemui Iren saja.
Rupanya sekarang sudah memasuki jam makan siang. Banyak pegawai yang berduyun-duyun pergi ke kafetaria atau ke luar untuk mengisi kekosongan perut mereka. Aku yang melihat posisi duduk Iren segera menghampirinya. Jangan lupakan untuk saling berpelukan dan cipika-cipiki ketika bertemu. Ya meski agak malu karena menjadi pusat perhatian beberapa orang di sekitar, tapi kita tetap saja berpelukan.
"Kenapa enggak bilang kalau sudah datang!" Iren yang semula memelukku kini beralih memukul lenganku.
"Ya kan niatnya mau langsung ketemu sama Mas Alif. Enggak tahunya malah dia lagi ada urusan di luar," kataku sambil cemberut.
"Salah siapa mau dateng gak omong-omong. Padahal udah tahu pimpinan itu jadwalnya padat merayap."
"Hmm," imbuhku dengan lesu. "Ren. Pesenin makan dong!"
"Lah, itu yang kamu bawa apaan coba?" Tatapan Iren menuju ke tas kecil yang sedari tadi ku bawa.
"Bekal buat Mas Alif."
"Hmm, kalau keluar gini pasti dia makan siangnya di sana juga. Sini, biar aku yang makan biar enggak mubadzir!" Tangan Iren yang hendak mengambil bekal itu kutepis kasar.
"Ish! Enggak boleh!"
"Pelit!" katanya sambil berdiri untuk memesankan makanan lagi.
"Biarin!" balasku lagi.
Sepeninggal Iren, aku melihat ada seseorang yang berjalan mendekatiku. Huft! Rupanya wanita yang di lift tadi. Dengan membawa nampan yang berisi makanan, dengan santainya dia duduk di depanku. "Halo! Kita ketemu lagi rupanya," katanya dengan muka yang dibuat sok manis.
"Eh, iya."
"Gimana tadi? Dibolehin ke lantai atas?"
Sebelum aku menjawab, Iren sudah lebih dahulu datang. "Loh, Sel? Kamu ngapain di sini?"
"Ini lho Ren. Aku lihat ada cewek yang sendirian. Karena kasihan, ya aku temenin deh."
"Sendirian apanya? Dia itu temenku."
"Ohh, jadi dia temenmu. Pasti dari tadi dia nyari kamu, sampai mau nyari di lantai atas segala," mulut wanita benar-benar ya! Ingin kuulek pakai sambel ayam geprek di depanku.
"Enggak juga sih. Dia emang tujuannya ke sini buat bertemu sama seseorang di lantai atas. Dia kan istrinya Pak C.E.O. kita!" Mungkin Iren tahu kalau aku sedikit terganggu dengan perempuan ini, jadi dia sengaja menekankan kata CEO untuk membuat dia sadar dengan siapa dia bicara seenaknya seperti itu.
Tampak matanya melotot dan disusul oleh tenggorokannya yang tersedak nasi goreng. Muka kagetnya membuat siapa pun pasti tertawa. "Maaf! Maaf! Saya tidak tahu kalau anda adalah istrinya Pak Alif. Sekali lagi saya minta maaf!" tangannya memegang tanganku yang ada di atas meja dengan muka memelas.
"Iya. Enggak apa-apa kok. Maklum pegawai di sini kan belum pernah melihat istri pimpinannya. Tapi lain kali jangan bersikap seperti itu pada orang baru. Bisa jadi itu malah membuat citra perusahaan menjadi buruk."
"I-iya. Kalau begitu saya pamit dulu."
"Kenapa? Makan di sini aja," ajakku.
"Ah, tidak! Terima kasih tawarannya." Dengan canggung dia menarik lagi nampannya dan berjalan pergi dari meja tempatku dan Iren berada.